Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 24- Singel mom
Ep. 24- Singel mom
Minggu berganti bulan dengan cepat, merajut waktu menjadi lembaran-lembaran hari yang baru di kediaman asri Kirana. Kehidupan lnya berjalan dalam ritme yang lebih teratur dan tenang.
Dengan perlahan Kirana berhasil menata kembali puing-puing kehidupannya yang sempat hancur. Kini, ia sepenuhnya mengemban peran sebagai seorang single parent, seorang ibu tunggal yang berdiri tegar menopang kehidupan rumah tangganya.
Meski di mata hukum dan di dalam rumah itu ia hidup bersama dua orang anak, tak bisa dipungkiri bahwa perhatian dan kasih sayangnya terbagi dalam porsi yang amat bertolak belakang.
Keisya tetaplah inti dari semesta Kirana, pusat dari segala kehangatan, perlindungan, dan cintanya. Sementara Aura, yang kini tumbuh semakin aktif dan menggemaskan di usianya yang menginjak tiga tahun, tetap berada di balik batas dingin yang diciptakan Kirana.
Kirana membiarkan Aura tumbuh sehat, mencukupi seluruh kebutuhan fisiknya melalui para ART, namun menyegel rapat pintu hatinya untuk memberikan kasih sayang seorang ibu secara utuh pada balita itu.
Untuk menopang kebutuhan finansial keluarga sekaligus menjaga stabilitas mentalnya, Kirana memilih memfokuskan energinya pada karir dan bisnis mandiri.
Mengandalkan latar belakang pendidikannya di bidang desain dan manajemen, Kirana mengembangkan bisnis agensi desain kreatif dan konsultasi merek secara independen.
Keputusan terbesarnya adalah menjalankan hampir seluruh operasional bisnis tersebut dari rumah (work from home).
Kirana menyulap salah satu ruangan berukuran lapang di lantai dua yang menghadap langsung ke perbukitan menjadi studio kerja yang nyaman dan elegan.
Dengan peralatan komputer spesifikasi tinggi, papan ide, dan area sofa santai, ia mengendalikan klien, memantau tim kreatifnya secara daring, dan menyelesaikan proyek-proyek besar tanpa harus mengorbankan waktunya untuk anak-anak.
Alasan utamanya sederhana, Kirana ingin selalu ada di samping Keisya. Ia tidak ingin melewatkan satu milimeter pun dari tumbuh kembang putri tunggalnya itu.
**
Pagi yang cerah di awal semester baru. Udara dingin pegunungan menyapu halaman depan rumah. Sunyi pagi dibiaskan oleh aroma roti panggang coklat dan susu hangat dari arah dapur.
Hari ini adalah momen yang sangat penting bagi Kirana. Keisya kini resmi menginjak bangku Taman Kanak-Kanak (TK) di sebuah sekolah swasta favorit yang berjarak sekitar lima belas menit dari perumahan mereka.
"Mama! Lihat! Baju seragam Keisya ada gambar pita birunya!" seru Keisya bersemangat seraya berlari menuruni anak tangga.
Gadis kecil itu tampak sangat menggemaskan dalam balutan seragam TK bernuansa biru muda dan putih, lengkap dengan kaos kaki putih bersih dan sepatu kets hitam berlampu. Rambut panjangnya yang halus dikuncir dua dengan pita senada oleh Kirana tadi pagi.
Kirana yang sedang menyesap kopi hangat di meja makan langsung menyunggingkan senyumannya yang paling hangat. Ia meletakkan cangkirnya, lalu berdiri menyambut putrinya.
"Wah... cantiknya anak Mama!" puji Kirana, seraya berlutut dan merapikan kerah seragam Keisya. "Sudah siap masuk sekolah baru hari ini?"
"Siap, Mama! Keisya mau punya banyak teman baru, mau melipat kertas origamii!" sahut Keisya gembira sambil melompat-lompat kecil.
Di sudut area pantry, Mbok Darmi sedang menyuapi Aura bubur gandum manis. Aura yang mengenakan celana kodok kain warna jingga menatap Keisya dengan mata bulatnya yang jernih.
Mulut mungilnya yang masih penuh makanan bergumam heboh seraya menunjuk tas punggung baru Keisya yang bergambar putri duyung.
"Kakaaa... taaas baguuus! Aula mauuu sekolah!" cicit Aura cadel seraya menepuk-nepuk tangannya.
Keisya menoleh dan tertawa renyah. Ia menghampiri Aura lalu memegang tas punggungnya dengan bangga. "Aura belum boleh sekolah, Aura masih kecil! Nanti kalau Aura sudah besar baru boleh ikut Kakak!"
"Besaaal... Aula besaal!" sahut Aura tak mau kalah, sambil mengangkat kedua lengan gempalnya tinggi-tinggi ke udara, hingga membuat Mbok Darmi dan Mbak Yem terkekeh geli.
"Ssssh... makan dulu buburnya, Dek Aura," bisik Mbok Darmi seraya menyapukan usapan tisu di sudut bibir Aura.
Kirana menyaksikan interaksi kecil itu dari meja makan. Wajahnya tetap datar dan tak mengomentari tingkah ceria Aura. Kirana lalu melirik jam tangan peraknya yang menunjukkan pukul 06.45 pagi.
"Pak, tas paspor dan dokumen bisnis saya sudah dimasukkan ke mobil?" tanya Kirana pada Pak Jaka, sopir baru berusia empat puluhan yang baru dua minggu lalu ia pekerjakan untuk membantu mobilitas rumah tangga.
Pak Jaka yang berdiri kaku di dekat pintu dapur langsung membungkuk dengan hormat. "Sudah siap semua di mobil, Bu Kirana. Mesin mobil juga sudah saya panaskan sejak jam enam tadi."
Meskipun Kirana sengaja mempekerjakan Pak Jaka serta beberapa ART baru untuk memperlancar urusan rumah tangga, Kirana tidak serta-merta mempercayakan semua urusan pada ART atau sopir baru tersebut, terutama jika menyangkut Keisya.
Kirana memiliki naluri protektif yang amat tinggi pascamusibah yang menimpa suaminya. Ia tidak sudi membiarkan Keisya diantar atau dijemput sendirian oleh orang asing tanpa pengawasan langsung darinya.
Jika tidak ada rapat online dengan klien yang benar-benar tidak bisa ditinggalkan, Kirana akan selalu mengantar dan menjemput Keisya sendiri ke sekolah.
"Bagus, Pak Jaka. Bapak yang setir, tapi saya ikut di dalam mobil," tegas Kirana seraya meraih tas tangannya dan menuntun jemari Keisya. "Ayo, Sayang. Kita berangkat sekarang biar tidak terlambat."
"Horeee! Berangkat!" seru Keisya riang.
Aura melambaikan tangan kecilnya dari kursi makan. "Daaadaaa Kakaaa... Daaadaa Maaa..."
Kirana melangkah keluar teras tanpa menoleh pada Aura sambil menuntun Keisya menuju mobil SUV hitam yang sudah bersih mengkilap di garasi.
_____
__________
Beberapa menit kemudian...
Atmosfer di depan gerbang TK Permata Hati pagi itu tampak sangat ramai dan semarak. Deretan mobil orang tua murid terparkir rapi di sepanjang area drop-off. Balon-balon warna-warni dan musik anak-anak bergema ramah menyambut para siswa baru.
Pak Jaka membukakan pintu mobil dengan sigap begitu kendaraan mereka berhenti tepat di depan gerbang utama. Kirana turun terlebih dahulu dengan anggun, lalu mengulurkan tangannya membantu Keisya turun.
"Selamat pagi, Keisya!" sapa seorang guru wanita berseragam merah muda yang berdiri di depan pintu gerbang bersama kepala sekolah.
"Selamat pagi, Ibu Guru!" jawab Keisya lancar, lalu mencium tangan sang guru dengan sopan.
Kirana tersenyum bangga melihat ketenangan dan kesopanan putrinya. Ia berlutut di depan Keisya dan memegang kedua bahu mungil itu dengan tatapan penuh kasih sayang.
"Ingat pesan Mama ya, Sayang... Dengarkan kata Ibu Guru, jangan jajan sembarangan, dan kalau ada apa-apa langsung panggil guru," tutur Kirana.
"Iya, Mama! Nanti Mama yang jemput Keisya kan?" tanya Keisya memastikan, matanya menatap Kirana dengan penuh harap.
"Tentu saja, Sayang. Nanti siang jam sebelas tepat, Mama sudah berdiri di depan gerbang ini menunggu Keisya," jawab Kirana pasti. Ia lalu mengecup dahi Keisya dengan penuh kehangatan. "Selamat belajar, Anak Pintar."
Keisya melambaikan tangannya gembira lalu berjalan masuk mengekor di belakang gurunya menuju area kelas yang dipenuhi mainan edukatif.
Sementara itu Kirana berdiri mematung di luar pagar selama beberapa menit dan mengawasi sosok Keisya hingga bayangan putrinya benar-benar masuk ke dalam ruang kelas. Sedangkan Pak Jaka berdiri dengan jarak yang aman di belakangnya, seraya memperhatikan ketatnya penjagaan majikannya terhadap sang anak.
"Bu Kirana," panggil Pak Jaka pelan. "Apakah kita langsung pulang ke rumah atau ada agenda lain?"
Kirana membetulkan posisi kacamata hitamnya, lalu membalikkan badan dengan anggun. "Kita pulang ke rumah, Pak Jaka. Jam sepuluh nanti saya ada jadwal video call dengan klien dari Jakarta, lalu jam setengah sebelas kita harus kembali lagi ke sini untuk jemput Keisya."
"Baik, Bu," sahut Pak Jaka patuh.
Setibanya kembali di rumah, Kirana langsung naik ke lantai dua menuju ruang kerjanya. Sementara di lantai bawah, Aura sedang asyik bermain pasak kayu bersama Mpok Yem di area ruang keluarga, dan Mbok Darmi sibuk merapikan kamar-kamar.
Kini
Kirana duduk di depan layar monitor ganda computer desktop-nya. Dengan cekatan, jemarinya menari di atas papan ketik, menyunting berkas desain portofolio untuk proyek peluncuran produk kosmetik klien utamanya.
Ting!
Sebuah notifikasi panggilan video masuk dari direktur pemasaran klien Jakarta. Kirana dengan cepat memasang headset, menyesuaikan tatanan bajunya, dan memasang raut profesional seorang pimpinan agensi.
"Selamat pagi, Pak Hendro," sapa Kirana dengan suara yang lugas, percaya diri, dan sangat berwibawa melalui mikrofon.
"Selamat pagi, Bu Kirana. Wah, konsep desain branding yang Ibu kirimkan semalam sangat luar biasa! Tim kami di Jakarta sangat puas dengan eksekusi visualnya..."
Di tengah diskusi bisnis yang padat dan profesional itu, Kirana menunjukkan kapasitasnya sebagai wanita karir yang tangguh dan cerdas.
Meski menyadari statusnya sebagai single parent, ia tak pernah menjadikan urusan domestik sebagai alasan untuk bekerja secara setengah-setengah.
Bisnis kreatif yang ia bangun dari rumah ini berkembang pesat, mendatangkan pemasukan finansial yang lebih dari cukup untuk menjamin masa depan Keisya hingga jenjang perguruan tinggi kelak.
Tepat pukul 10.30 WIB, Kirana menyelesaikan panggilannya. Tanpa menunda waktu semenit pun, ia mematikan monitor komputer, meraih tasnya, dan bergegas turun ke lantai bawah.
Pukul 10.50 WIB, mobil SUV Kirana sudah terparkir kembali di area drop-off TK Permata Hati. Kirana turun dari mobil dan berdiri anggun di barisan depan para orang tua murid yang sedang menantikan anak-anak mereka keluar kelas.
Beberapa ibu-ibu muda sesama orang tua murid TK menyapa Kirana dengan ramah.
"Mbak Kirana ya? Ibunya Keisya?" sapa seorang wanita bergaun hijau yang berdiri di sampingnya. "Keisya di kelas pintar sekali lho Mbak, tadi pas sesi perkenalan suaranya paling nyaring dan percaya diri."
Kirana menyunggingkan senyuman hangat dengan tulus. "Terima kasih, Mbak. Keisya memang dari kemarin sudah sangat antusias mau sekolah."
TET! TET! TET!
Akhirnya suara bel tanda usai sekolah bergema. Pintu-pintu kelas terbuka, dan puluhan anak-anak TK berlarian keluar dengan tawa riang menyambut orang tua mereka.
Dari tengah kerumunan anak-anak, Keisya berlari kecil membawa sebuah hasil karya melipat kertas berbentuk burung merak. Wajahnya berbinar-binar saat melihat sosok Kirana yang berdiri paling depan menunggunya.
"Mamaaaa!" jerit Keisya gembira.
Gadis kecil itu langsung menghambur ke dalam pelukan Kirana. Kirana berlutut dan merengkuh tubuh mungil itu dengan erat, mencium kedua pipinya dengan kehangatan yang meluap-luap.
"Gimana sekolahnya hari ini, Sayang?" tanya Kirana.
"Seru bangett, Ma! Lihat! Keisya bikin burung merak dari kertas lipat! Ibu Guru bilang punya Keisya paling rapi!" pamer Keisya bangga seraya menyodorkan hasil karyanya.
Kirana memeluk Keisya makin erat dan mengusap kepalanya dengan rasa bangga dan haru. "Anak Mama hebat sekali! Ayo kita pulang, Mama sudah siapkan es krim buah kesukaan Keisya di rumah."
"Horeee! Makan es krim!" seru Keisya riang, lalu menggandeng erat jemari Kirana menuju mobil.
Di dalam perjalanan pulang, Kirana mendengarkan setiap patah kata celotehan Keisya tentang teman-teman barunya dengan penuh kesabaran dan perhatian.
Bagi Kirana, lelahnya mengurus bisnis dan kepenatan hidup seketika sirna setiap kali ia melihat sunggingan senyum gembira di paras putri tunggalnya itu.
Setibanya di rumah, Keisya berlari masuk ke dalam ruang keluarga. Aura yang sedang duduk di karpet bermain langsung bangkit berdiri begitu melihat kehadiran kakaknya.
"Kakaaa pulangg! Kakaaa!" jerit Aura ceria, sambil berlari dengan langkah gempalnya menghampiri Keisya.
"Aura! Lihat, Kakak bikin burung merak dari kertas!" pamer Keisya seraya menunjukkan kertas origami warna-warni itu di depan wajah adiknya.
Aura bertepuk tangan heboh, matanya yang bulat berbinar mengagumi kertas lipat itu. "Waaah... bulung! Baguuus! Aula mauuu!"
"Boleh... tapi Aura jangan sampai merobeknya ya!" pesan Keisya, lalu mendudukkan diri di samping Aura di atas karpet untuk bermain bersama.
Kirana melangkah masuk melewati mereka, lalu menyerahkan tas sekolah Keisya pada Mbok Darmi. Tatapan matanya sempat tertuju sejenak pada kedua bocah yang sedang duduk berdampingan di atas karpet itu.
Aura tertawa lepas saat Keisya mengepak-ngepakkan kertas lipat berbentuk burung merak di udara, sementara Keisya tampak begitu bahagia memiliki teman berbagi cerita di rumah.
Kirana menghela napas, tapi ia memilih tidak mengganggu momen kedua anak itu, lalu melangkah perlahan menaiki anak tangga menuju ruang kerjanya di lantai dua untuk kembali melanjutkan tugas-tugas karirnya.
Bersambung...
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗