"Alea & Adrian" mengisahkan dua pewaris tunggal imperium bisnis terbesar di Kota Valerika, Alea Corisand dan Adrian Hutama. Terikat wasiat mutlak sang kakek, mereka dipaksa menikah demi penyatuan korporasi. Padahal, keduanya telah memiliki kekasih masing-masing dari kalangan elit.
Enggan mengorbankan cinta, Alea mengusulkan ide nekat: pernikahan kontrak di atas kertas selama enam bulan. Setelah meyakinkan pasangan masing-masing, mereka pindah ke sebuah penthouse mewah dan hidup dalam batasan kamar terpisah yang ketat.
Namun, sandiwara profesional ini perlahan retak. Intensitas kebersamaan memicu getaran aneh yang tak terduga di antara keduanya. Di saat garis batas hati mulai kabur, sebuah ancaman misterius dari masa lalu mengintai, memaksa mereka saling bersandar demi bertahan hidup. Siapakah yang akan bertahan hingga akhir kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Garis Batas di Atas Marmer Hitam
Alea terpaku di koridor.
Secarik kertas di tangannya terasa seberat bongkahan es yang mendadak membekukan seluruh sarafnya.
Tulisan hasil ketikan mesin tik itu begitu kontras di atas permukaan kertas putih gading yang kaku, seolah-olah dicetak dengan tinta yang menyimpan dendam lama.
“Mari kita lihat seberapa lama kalian bisa menyembunyikan kebohongan ini.”
"Ada apa, Alea? Kopermu ketinggalan di lobi bawah?"
Suara berat Adrian memecah keheningan yang mencekam itu.
Pria itu baru saja masuk dari pintu lobi utama penthouse, melonggarkan dasi sutranya dengan satu tangan yang tampak lihai, sementara tangan lainnya membawa jaket jas arangnya yang sudah dilepas sejak dari mobil.
Namun, begitu melihat punggung Alea yang menegang seperti tali busur yang siap lepas, langkah kaki Adrian melambat secara otomatis.
Instingnya yang tajam langsung menangkap perubahan radar di dalam ruangan.
Alea tidak segera menjawab.
Dia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan kembali ketenangan profesionalnya yang sempat terkoyak selama beberapa detik.
Dengan gerakan lambat, dia berbalik dan mengulurkan kertas kecil itu ke arah Adrian, membiarkan pria itu melihat sendiri apa yang baru saja mengacaukan ketenangannya.
Adrian menerima kertas tersebut dengan kening yang berkerut dalam.
Matanya bergerak cepat, menyapu baris kalimat pendek yang tertera di sana.
Dalam hitungan detik, ekspresi santai dan sisa-sisa senyuman yang biasanya menghiasi wajah tampan sang pewaris Hutama Industries menguap tanpa bekas.
Rahangnya mengeras seketika, menciptakan garis tegas yang tampak mengintimidasi di bawah temaramnya lampu koridor.
"Dari mana kamu mendapatkan ini?" tanya Adrian. Suaranya mendadak turun satu oktav, memancarkan otoritas dingin yang biasa dia gunakan saat menginterogasi bawahan atau menghadapi lawan bisnis yang culas di ruang rapat dewan direksi.
"Tepat di bawah pintu masuk kita. Begitu aku melangkah ke koridor dalam ini setelah merapikan beberapa koper, kertas ini sudah ada di sana," jawab Alea.
Dia berusaha keras menjaga agar nada suaranya tetap datar, ritmis, dan tenang, meskipun dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa debaran di dadanya kini mulai berpacu tidak beraturan.
"Seseorang tahu, Adrian. Seseorang di luar sana tahu dengan sangat presisi kalau pernikahan kita... hanya sandiwara enam bulan."
Adrian tidak membuang waktu.
Dia langsung berjalan cepat menuju pintu utama penthouse, memutar kunci pengaman ganda dengan bunyi klik yang nyaring, lalu membukanya lebar-lebar.
Dia melongokkan kepalanya ke koridor luar gedung apartemen The Obsidian.
Koridor lantai teratas yang super eksklusif itu tampak sepi, sunyi, dan tenang seperti biasanya.
Lantainya dilapisi karpet tebal bernuansa monokrom yang dirancang khusus untuk meredam setiap suara langkah kaki, sementara lampu-lampu dinding berpendar temaram, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang statis.
Tidak ada tanda-tanda kehidupan, tidak ada aroma parfum asing, tidak ada apa pun.
Tempat ini dikenal memiliki sistem keamanan paling mutakhir dan ketat di seluruh Kota Valerika, tidak sembarang orang bisa naik ke lantai penthouse tanpa kartu akses biometrik khusus yang hanya dimiliki oleh mereka berdua dan pihak manajemen tertinggi.
Adrian menutup pintu kembali, memutar semua tuas kunci rapat-rapat, lalu bersandar pada daun pintu kayu jati yang kokoh.
Dia menatap Alea yang masih berdiri kaku di tengah ruangan luas berlantai marmer hitam tersebut.
"Ini tidak masuk akal secara logika bisnis maupun hukum. Hanya kita yang tahu tentang rencana detail enam bulan ini. Siapa yang menurutmu mengirim ini?"
"Dan pertanyaan yang lebih krusial adalah: bagaimana cara mereka menyelinap masuk ke area privat ini hanya untuk menaruh secarik kertas?" Alea menambahkan, sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada, sebuah gestur pertahanan diri yang tidak disadarinya.
Otak taktisnya yang biasa membedah strategi korporasi kini mulai bekerja memetakan variabel-variabel aneh ini.
"Ada dua kemungkinan yang bisa kita ambil sebagai hipotesis awal. Pertama, salah satu dari orang-orang terdekat yang kita percayai telah membocorkannya demi keuntungan pribadi. Kedua... kita berdua sebenarnya sudah diawasi oleh pihak ketiga sejak hari pertama wasiat itu dibacakan."
Atmosfer di dalam penthouse mewah itu mendadak bergeser secara drastis.
Ruangan luas bernuansa marmer hitam, dinding kaca besar, dan perabotan kustom bergaya modern minimalis yang awalnya terasa megah serta menjanjikan kenyamanan, kini seolah-olah menyusut.
Tempat itu mendadak memancarkan rasa tidak aman yang samar namun pekat, seolah ada sepasang mata tak kasat mata yang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka dari balik kegelapan malam Valerika.
Musuh mereka kali ini tidak berwujud nyata, namun kehadirannya terasa begitu menusuk hanya melalui secarik kertas kecil yang kini berada di genggaman Adrian.
Setelah perdebatan kecil yang cukup alot namun tidak membuahkan hasil konklusif, mereka akhirnya sepakat untuk menyimpan surat itu di tempat tersembunyi.
Mereka memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian ini kepada siapa pun, termasuk kepada orang tua mereka yang sedang asyik dengan skenario perjodohan, ataupun kepada pasangan masing-masing.
Memberi tahu Julian atau Bianca di saat seperti ini hanya akan memicu riak kecurigaan baru, kepanikan massal, dan drama emosional yang justru akan mengacaukan fokus mereka dalam mengamankan posisi saham perusahaan.
Malam pun merayap semakin larut, membawa serta kabut tipis khas Valerika yang mulai menyelimuti dinding-dinding kaca luar The Obsidian.
Jam dinding digital yang tertanam di pilar ruang tengah menunjukkan pukul sebelas lewat empat puluh lima malam.
Ini adalah malam pertama bagi dua orang asing paling berpengaruh di kota ini untuk hidup bersama di bawah satu atap, berbagi ruang yang sama sebagai suami dan istri di atas selembar kertas kontrak resmi.
"Kamarmu berada di koridor sebelah kiri, kan? Sesuai denah yang kita sepakati kelmarin?" Adrian memecah kecanggungan yang mendadak terasa pekat di antara mereka, menunjuk ke arah koridor bagian barat dengan dagunya.
"Ya. Dan kamarmu berada di koridor timur, tepat di seberang sana," sahut Alea pendek.
Dia berjalan perlahan ke arah dapur bersih yang berdesain elegan, membuka kulkas dua pintu berbahan baja antikarat, lalu mengambil sebuah gelas kristal dan mengisinya dengan air putih dingin.
Dia membutuhkan sesuatu yang segar untuk menenangkan saraf-saraf kepalanya yang terasa menegang akibat teror surat misterius tadi.
Saat Alea berbalik setelah meneguk airnya setengah gelas, dia mendapati Adrian ternyata belum beranjak dari tempatnya.
Pria itu kini sedang memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Adrian sudah mengganti setelan jas formalnya dengan pakaian rumah yang jauh lebih santai, sebuah kaus katun polos berwarna hitam yang pas di badannya dan celana olahraga panjang berwarna abu-abu gelap.
Tanpa balutan kemeja kaku dan dasi mahalnya, Adrian terlihat sangat berbeda di mata Alea.
Dia tampak lebih kasual, lebih muda, memiliki kesan santai yang berbahaya, dan entah bagaimana... terlihat jauh lebih tinggi serta tegap di bawah pencahayaan lampu penthouse yang sengaja diatur temaram.
"Apakah ada aturan domestik tambahan yang perlu kita buat malam ini untuk hidup di bawah satu atap ini, Nona Corisand?" tanya Adrian sambil bersandar santai pada konter dapur marmer hitam, menyilangkan kakinya dengan pose rileks.
Jarak di antara mereka kini hanya berkisar dua meter, jarak yang cukup dekat untuk membuat Alea bisa mencium samar aroma parfum kayu cendana mixed dengan maskulin khas milik Adrian.
Alea meletakkan gelas kristalnya di atas meja dengan bunyi ketukan pelan yang konstan.
Dia mendongak, menatap lurus-lurus ke sepasang mata elang Adrian yang berkilat di balik bayangan lampu.
"Kurasa aturan dasar tertulis yang kita tanda tangani kemarin sudah lebih dari cukup jelas. Privasi penuh adalah hukum tertinggi di rumah ini. Kita tidak akan mencampuri urusan domestik maupun jadwal harian masing-masing, kecuali jika ada agenda publik atau makan malam keluarga yang mengharuskan kita tampil sebagai pasangan yang serasi. Dan satu lagi..." Alea menjeda kalimatnya sejenak, memberikan penekanan pada kata-kata berikutnya.
"...tidak ada ketukan di pintu kamar masing-masing setelah jam sepuluh malam, apa pun alasannya."
Adrian terdiam sedetik, lalu sudut bibirnya perlahan terangkat, menyunggingkan sebuah senyuman tipis yang sangat samar namun berhasil memperlihatkan lesung pipinya yang menawan di sisi kanan wajahnya.
"Dimengerti dengan sangat baik, Nona Corisand. Kau tidak perlu khawatir. Aku adalah seorang Hutama, dan kami bukan tipe pria yang suka melanggar batas wilayah orang lain tanpa izin."
"Baguslah kalau begitu, Tuan Hutama," balas Alea dengan nada suara yang tak kalah formal dan dingin, meskipun dia harus mengakui ada sekelebat getaran aneh yang mendadak menyelinap di ulu hatinya saat melihat lesung pipi pria itu terpapar cahaya lampu.
Sisi manusiawinya sempat terpana selama sepersekian detik sebelum akal sehatnya kembali mengambil alih.
Alea segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, meraih kembali gelas kristalnya, dan berjalan dengan langkah cepat namun tetap anggun menuju koridor barat, masuk ke dalam kamarnya sendiri tanpa menoleh lagi.
Malam itu, di dalam dua kamar tidur utama yang dipisahkan oleh ruang tamu luas dan hamparan lantai marmer hitam yang dingin, baik Alea maupun Adrian sama-sama tidak bisa memejamkan mata dengan nyenyak.
Keheningan malam di lantai teratas The Obsidian justru terasa bising oleh pikiran mereka masing-masing yang berkecamuk tanpa henti.
Alea berbaring telentang di atas ranjang king size-nya yang dilapisi sprei sutra putih, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan pandangan kosong.
Pikirannya berputar-putar seperti komidi putar yang rusak.
Dia memikirkan Julian, bagaimana pria itu saat ini mungkin sedang menatap langit malam yang sama di sudut kota yang lain sambil memegang janji enam bulan mereka.
Dia juga memikirkan masa depan Corisand Group yang kini investasinya sedang dipertaruhkan di atas altar pernikahan ini.
Namun, di atas semua itu, bayangan tulisan mesin tik pada kertas putih gading tadi terus-menerus muncul di benaknya.
Ada rasa tidak nyaman yang terus menggelitik naluri dasarnya sebagai seorang wanita dan pemimpin perusahaan.
Siapa sebenarnya yang mengirim surat itu? Apakah ini bentuk teror psikologis dari saingan bisnis Hutama Industries, atau justru ada konspirasi internal yang jauh lebih busuk di dalam tubuh Corisand Group sendiri?
Sementara itu, di koridor seberang, Adrian duduk diam di tepi ranjangnya yang bernuansa gelap.
Dia memandangi jendela kaca besar yang menampilkan panorama magis kerlap-kerlip lampu Kota Valerika yang tampak seperti hamparan permata bertebaran di atas kain hitam.
Tangan kanannya memegang ponsel pribadinya yang masih menyala, menampilkan ruang obrolan dengan Bianca.
Dia baru saja mengirimkan sebuah pesan singkat berisi ucapan selamat tidur yang terdengar manis, sebuah rutinitas yang biasa dia lakukan.
Namun, setelah kata 'Terkirim' muncul di layar, perhatian Adrian tidak lagi berada di sana.
Pandangannya perlahan beralih pada kertas putih gading yang kini dia letakkan di atas meja nakas di samping tempat tidurnya.
Adrian adalah tipe pria yang dibesarkan untuk selalu memegang kendali penuh atas setiap aspek di dalam hidupnya.
Dia tidak suka kejutan, dia tidak suka variabel yang tidak bisa diprediksi, dan dia sangat membenci perasaan tidak tahu.
Fakta bahwa ada seseorang di luar sana yang mengetahui rahasia paling intim mengenai pernikahan kontraknya dengan Alea, membuat darahnya berdesir waspada, memicu adrenalin yang biasa muncul saat dia berada di tengah-tengah perang penawaran saham yang sengit.
Musuh ini tahu kapan harus memukul, dan mereka tahu di mana letak titik lemah pertahanan mereka berdua.
Satu hal yang kini disadari oleh Adrian dengan sangat pasti: enam bulan ke depan tidak akan pernah berjalan seringan atau semudah yang mereka bayangkan di atas kertas kontrak kemarin.
Pernikahan kontrak ini telah resmi bergeser dari sebuah transaksi bisnis yang membosankan dan kaku, menjadi sebuah arena permainan petak umpet yang sangat berbahaya dengan musuh yang bergerak di dalam bayang-bayang tanpa wajah.
Dan di tengah-tengah ketegangan misteri yang baru saja dimulai itu, ada satu faktor tidak terduga lainnya yang mulai merayap pelan tanpa bisa mereka kendalikan: fakta bahwa kini mereka harus berbagi oksigen yang sama di bawah satu atap, menghadapi kehadiran satu sama lain yang terlalu dekat, terlalu nyata, dan terlalu intens untuk bisa diabaikan begitu saja.
Garis batas di atas marmer hitam itu sudah ditarik, namun di dalam rumah sesunyi The Obsidian, garis batas sering kali menjadi hal pertama yang kabur saat badai yang sesungguhnya mulai datang menghantam.