Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33.
Yasa melirik dari spion, dia sungguh merasa sangat aneh dengan sikap Romeo dengan lawan jenis.
"Kenapa Tuan Romeo begitu sangat peduli dengan Violet?" Gumam Yasa selama hatinya, penuh kebingungan yang melanda.
Namun, Violet hanya menggigit bibirnya, sebuah tanda bahwa kecemasannya tidak kunjung reda.
Romeo menghela napas, ia tahu betul bahwa Violet memiliki sifat introvert yang membuatnya selalu merasa cemas akan pandangan orang lain, terlebih di sekolah yang kompetitif ini.
Dia menoleh sekali lagi ke arah Violet, mencoba memberikan dukungan.
"Tidak apa-apa memikirkan apa yang orang lain katakan, tapi kamu juga harus ingat, kamu punya hak untuk berada di sini, sama seperti mereka," kata Romeo lembut, tangannya menyentuh bahu Violet, mencoba memberikan kekuatan.
Violet menelan ludah, mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki.
Dengan tatapan yang masih ragu, ia perlahan membuka pintu mobil dan melangkah keluar.
Langkahnya gontai, namun setiap langkah yang ia ambil semakin menguatkan dirinya.
Dari kejauhan, beberapa teman sekelasnya mulai menunjuk dan berbisik, membuat hati Violet semakin berdebar.
Namun, dengan kepala tegak, ia berjalan memasuki gerbang sekolah, meninggalkan pandangan terkejut mereka di belakangnya, dan Romeo yang mengawasinya dari dalam mobil.
Yasa yang merasa heran dengan sikap Romeo, tanpa sadar sedari tadi terus menatap ke arah atasannya.
Romeo yang menyadari jika sedari tadi ditatap Yohan, memilih acuh dan mengambil laptopnya.
"Tuan ... Kita mau kemana? Ke perusahaan utama atau ke cabang?" tanya Yasa hati-hati.
"Disini," sahut Romeo cuek, bahkan ekspresi wajahnya langsung berubah kilat.
Jika sebelumnya dia menatap Violet penuh perhatian, hal yang sebaliknya ditunjukkan olehnya saat menatap ke arah Yasa asisten pribadinya.
"Apa? Diparkiran?" tanya Yasa memastikan.
"Hem."
"Terus rapatnya Tuan?" tanya Yasa lagi sedikit ragu.
"Yasa, kenapa sekarang kau itu jadi asisten banyak tanya. Tinggal lakukan saja, Via zoom kan bisa!" Romeo marah, hal itu membuat tubuh Yasa merinding ketakutan.
"Soalnya setiap dua jam, aku itu butuh untuk menemui Violet," imbuh Romeo.
Yasa sebenarnya ingin bertanya lebih lanjut, namun dia memilih untuk menyimpan rapat-rapat keingintahuannya.
****
Sementara Yohan sendiri, pagi ini bertolak ke luar negeri dengan pesawat pribadinya.
Ia menemani ibunya yang tampak sangat lemah dan ketakutan dalam perjalanan mereka.
Di dalam pesawat, Yohan dengan lembut memegang pergelangan tangan ibunya, menghibur dan mencoba memberikan kekuatan.
"Mah, bertahanlah!" ujarnya dengan suara yang berat dan penuh empati, melihat kondisi ibunya yang terus memburuk, berkeringat dingin dan tubuhnya bergetar hebat.
Yohan mengira, ibunya seperti itu karena ibunya takut akan penyakitnya sendiri.
Padahal faktanya yang terjadi, ibunya masih ketakutan karena mengingat ada seseorang yang baru saja mengancamnya.
Dalam keadaan seperti itu, asisten pribadi Yohan, Mia, mendekat dengan niat untuk menyampaikan sesuatu yang penting.
Mia memiliki Video CCTV Yasa asisten pribadi Romeo yang mengancam ibu Yohan, bosnya.
Namun, melihat Mia mendekat, ekspresi wajah Yohan berubah menjadi dingin, sebuah indikasi bahwa ia tidak ingin ada yang mengganggu saat ini, terutama saat ia fokus untuk menenangkan dan melindungi ibunya di tengah kondisi yang tidak stabil ini.
Yohan memperlihatkan sifatnya yang protektif dan prioritasnya yang kuat terhadap keluarga, terutama dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan dan ancaman.
Mia hanya bisa menghabiskan nafas kasar.
Sejak dia menyatakan cintanya pa
da Yohan beberapa waktu lalu, Yohan memang sangat membencinya.
Jika sebelumnya Yohan sangat mempercayainya, tapi semua ucapan yang keluar dari bibirnya seperti sampah.