Alistair Thorne, bos mafia London yang kaku dan perfeksionis, bertemu dengan Sloane Sterling, gadis jalanan galak yang ahli bersih-bersih tapi ceroboh luar biasa. Pertemuan mereka terjadi di tengah baku tembak, di mana Sloane justru memarahi Alistair karena mengotori lantai yang baru ia pel.
Terpikat oleh keberaniannya, Alistair membawa Sloane pulang sebagai asisten rumah tangga. Hidup sang bos dingin pun berubah jadi kacau: ia terus diteriaki karena menaruh jaket sembarangan dan terpaksa turun tangan ke dapur setiap kali Sloane hampir membakar rumah saat memasak. Di antara desingan peluru dan omelan sehari-hari, dimulailah kisah cinta yang lucu, kaku, dan penuh aksi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chi Chi chantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Protokol Seragam dan Rahasia di Balik Lemari
Sinar matahari pagi London yang pucat menembus jendela kaca patri di ruang makan mansion Thorne. Alistair sudah duduk di sana sejak pukul enam pagi, lengkap dengan kemeja putih yang disetrika tanpa cela dan koran Financial Times di tangannya. Suasana seharusnya sunyi, seperti pagi-pagi sebelumnya selama sepuluh tahun terakhir.
Namun, kedamaian itu pecah oleh suara jedug-jedug yang ritmis dari lantai atas.
Jedug... BRAK... "Aduh!"... Jedug...
Alistair menurunkan korannya perlahan. Alisnya bertaut. Berdasarkan analisis akustiknya, itu adalah suara seseorang yang sedang mencoba memindahkan furnitur berat sendirian, diselingi dengan suara orang terpeleset.
"Nona Sterling," gumam Alistair. Ia bangkit, melangkah menuju tangga dengan langkah yang sangat terukur.
Di lantai dua, Alistair menemukan pemandangan yang membuat saraf perfeksionisnya berdenyut. Sloane sedang berlutut di lantai lorong, mengenakan kaus kebesaran yang robek di bagian bahu, sambil menggosok ubin marmer dengan semangat yang bisa menghancurkan batu karang. Di sampingnya, sebuah lemari pajangan kecil sudah bergeser sekitar sepuluh sentimeter dari posisi aslinya.
"Apa yang... sedang Anda lakukan pada lemari itu?" tanya Alistair kaku.
Sloane menengadah, rambut cokelatnya yang berantakan diikat ke atas dengan karet gelang murahan. "Aku menemukan debu di baliknya, Tuan Kaku! Debu! Kau tahu berapa banyak bakteri yang bisa berkembang biak dalam ruang sempit sepuluh sentimeter itu? Itu adalah zona merah!"
Alistair menatap lemari itu. "Lemari itu beratnya empat puluh kilogram. Dan ada pengait keamanan di bagian belakangnya yang baru saja Anda patahkan."
Sloane berdiri, mengusap debu di hidungnya hingga meninggalkan coretan hitam yang lucu. "Patah? Ah, itu hanya... penyesuaian teknis! Lagipula, harga diriku sebagai pembersih tidak akan membiarkan debu itu menang. Kau harusnya berterima kasih!"
Alistair menghela napas panjang melalui hidung. "Saya berterima kasih. Namun, saya lebih menghargai jika Anda tidak merusak properti saya dalam prosesnya."
Alistair kemudian memperhatikan pakaian Sloane. Kaus itu tampak tipis, dan celana kainnya sudah memudar warnanya. Sebagai penguasa The Obsidian Order, Alistair merasa ini adalah penghinaan terhadap standar estetikanya—atau setidaknya, itulah alasan logis yang ia berikan pada dirinya sendiri.
"Ikut saya ke ruang tengah," perintah Alistair.
"Mau apa? Aku belum selesai dengan zona merah ini!"
"Ini adalah perintah administratif," jawab Alistair dingin.
Di ruang tengah, sudah tersedia sepuluh kotak besar bermerek mewah dari butik-butik paling mahal di Bond Street. Sloane menatap kotak-kotak itu dengan curiga, tangannya masih memegang botol cairan pembersih.
"Apa ini? Kau mau menyogokku agar aku tidak melaporkanmu ke polisi karena hampir membunuhku kemarin malam?" tanya Sloane galak.
Alistair berdeham, ia merasa sangat kaku. "Ini... bukan sogokan. Berdasarkan kontrak kerja verbal kita, Anda adalah asisten rumah tangga resmi di kediaman ini. Asisten saya harus merepresentasikan citra The Obsidian Order. Pakaian Anda saat ini... tidak memenuhi kriteria logistik."
Sloane mendekati kotak-kotak itu dan membuka salah satunya. Di dalamnya terdapat setelan kerja yang elegan, baju kasual berbahan sutra, hingga sepatu yang harganya mungkin setara dengan gajinya selama setahun di jalanan.
Wajah Sloane berubah serius. Ia menutup kembali kotak itu dengan bunyi brak yang keras. "Ambil kembali semuanya."
Alistair tertegun. "Maaf?"
"Aku sudah bilang, Tuan Bos. Aku punya harga diri," Sloane menatap Alistair dengan tajam, suaranya tidak lagi berisik, tapi sangat tegas. "Aku bekerja untuk uang, bukan untuk belas kasihan. Aku akan memakai baju yang aku beli dengan uangku sendiri. Aku bukan boneka pajanganmu."
Alistair membeku. Ia tidak menyangka reaksinya akan seperti ini. Di dunianya, semua orang akan berlutut untuk mendapatkan satu saja dari kotak-kotak itu. Tapi gadis ini... ia menolaknya karena harga diri.
"Ini bukan belas kasihan," Alistair mencoba menyusun kalimat yang tidak menyinggung. "Ini... adalah seragam. Perlengkapan keselamatan kerja. Bahan sutra ini... tahan terhadap debu tertentu." (Itu adalah kebohongan paling tidak logis yang pernah Alistair ucapkan).
Sloane mendengus. "Tahan debu? Kau pikir aku bodoh? Aku tahu sutra itu mahal! Simpan saja untuk pacarmu atau siapa pun itu."
Alistair merasa terjepit. Ia ingin Sloane memiliki hal-hal yang baik, tapi ia tidak tahu cara memberikannya tanpa terlihat seperti "bos yang memerintah".
"Baiklah," Alistair mencoba cara lain. "Jika Anda tidak mau menerimanya sebagai pemberian, maka anggaplah ini sebagai pinjaman operasional yang biayanya akan dipotong dari bonus kinerja Anda di masa depan. Bonus yang... sangat besar."
Sloane menyipitkan mata. "Dipotong dari bonus?"
"Ya. Secara administratif, itu lebih efisien," Alistair berkata dengan wajah datar, padahal ia baru saja membuat aturan itu sedetik yang lalu.
Sloane terdiam, menimbang-nimbang. "Oke. Kalau begitu, aku akan menganggap ini sebagai investasi alat kerja. Tapi jangan harap aku akan berterima kasih setiap pagi!"
"Saya tidak mengharapkannya," jawab Alistair. Namun, jauh di dalam hatinya, ia merasa lega.
Tepat saat itu, ponsel Alistair bergetar. Sebuah pesan masuk dari tangan kanannya, mengabarkan bahwa kelompok The Red Fang mulai bergerak di perbatasan dermaga. Ekspresi Alistair mendadak berubah menjadi sangat dingin dan berbahaya. Kehangatan tipis yang tadi sempat muncul hilang seketika.
"Saya harus pergi untuk urusan bisnis," kata Alistair sambil menyambar jaket jasnya. Dan sekali lagi, tanpa sadar, ia meletakkan jaket itu di atas meja marmer di ruang tamu sebelum memakai jam tangannya.
"TUAN ALISTAIR THORNE!"
Alistair tersentak. Ia menoleh dan melihat Sloane sudah berdiri dengan kemoceng di tangan, menunjuk ke arah jaketnya di atas meja.
"MEJA INI UNTUK MENARUH TEH DAN DOKUMEN! BUKAN UNTUK JASMU YANG PENUH POLUSI ITU! GANTUNG SEKARANG ATAU AKU AKAN MERENDAMNYA DI CAIRAN PEMUTIH!"
Alistair menatap Sloane, lalu menatap jaketnya. Di luar sana, ada perang gangster yang menunggu. Ada keputusan hidup dan mati yang harus diambil. Tapi di sini... ia baru saja dimarahi oleh gadis yang tingginya bahkan tidak sampai ke bahunya.
"Saya... saya akan segera menggantungnya," jawab Alistair. Ia mengambil kembali jasnya dan berjalan menuju gantungan dengan langkah cepat, seolah-olah ia sedang melarikan diri dari medan perang.
Sloane mengangguk puas. "Bagus. Jangan sampai aku harus mendisiplinkanmu lagi setelah pulang!"
Alistair melangkah keluar rumah menuju mobil Rolls-Royce yang sudah menunggunya. Di dalam mobil, anak buahnya menatapnya dengan heran karena sang bos tampak sedikit... terengah-engah.
"Tuan, apakah ada masalah keamanan di dalam mansion?" tanya salah satu pengawalnya dengan waspada.
Alistair memperbaiki posisi kerah jasnya. "Masalah besar," jawabnya datar. "Kita memiliki... ketidakkonsistenan protokol domestik."
Pengawal itu bingung, tapi tidak berani bertanya lebih lanjut. Sementara itu, Alistair menatap keluar jendela, memikirkan Sloane yang mungkin sekarang sedang memarahi patung-patung di lorong karena terlalu berdebu.
Ia menyadari satu hal: dunianya yang gelap kini memiliki satu titik terang yang sangat berisik. Dan ia harus memastikan titik terang itu tidak pernah padam.
To be continued....