Naura Adisty, seorang reporter muda yang ambisius, terjebak dalam kekacauan demonstrasi kampus yang justru mempertemukannya dengan Kaelith Atharrazka, ketua BEM yang angkuh namun karismatik. Pertemuan yang diawali dengan insiden cedera dan perdebatan sengit itu menjadi awal mula Kaelith terus mengusik hari-hari Naura dengan godaan khas "berondong" yang menyebalkan sekaligus menggemaskan.
Namun, di balik layar organisasi BEM yang penuh intrik, Naura tanpa sengaja mengungkap skandal korupsi besar yang menyeret nama ayah Kaelith. Ketika ancaman teror mulai mengincar nyawa Naura, Kaelith pun menanggalkan sifat jahilnya untuk menjadi pelindung utama sang reporter. Kini, di tengah bahaya yang mengintai dan beban moral yang menghimpit, keduanya harus memilih antara mengungkap kebenaran yang pahit atau mempertahankan cinta yang baru saja bersemi di tengah konspirasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 Kesan Pertama
Keesokan paginya, Naura terbangun dengan pergelangan kaki yang masih berdenyut nyeri. Ia menatap langit-langit kamar kostnya, membiarkan ingatan semalam kembali berputar seperti kaset rusak. Sosok Kaelith Atharrazka yang sedang jongkok di depannya, lengkap dengan ekspresi jahil dan suaranya yang bariton, seolah membekas kuat di ingatan.
"Sial," umpatnya pelan, menarik selimut sampai menutupi sebagian wajahnya. "Kenapa harus kepikiran terus?"
Naura memaksakan diri bangun. Hari ini adalah hari besar; ia harus menyerahkan draf berita hasil liputan demo kemarin ke meja redaksi. Jika ia tidak menyerahkannya tepat waktu, posisinya sebagai reporter magang bisa terancam. Ia menyeret kakinya yang dibalut perban menuju meja kerja, membuka laptop, dan mulai menulis.
Namun, setiap kali ia mengetik kata "Kaelith Atharrazka", jarinya seolah berhenti. Ia merasa deskripsi yang ia tulis terlalu subjektif. "Ketua BEM yang arogan dan sok pahlawan," tulisnya di draf awal, lalu dengan kasar ia menghapusnya. "Ketua BEM yang memimpin massa dengan penuh percaya diri," koreksinya.
Ia mendengus. Bahkan di dalam berita, bayang-bayang pria itu terasa mengintimidasi.
Setelah tiga jam bergelut dengan kata-kata, draf berita akhirnya selesai. Naura mengemas tasnya, bersiap berangkat ke kantor. Ia sengaja memilih pakaian yang longgar agar perban di kakinya tidak terlalu terlihat. Ia tidak ingin dikasihani oleh rekan kerjanya di redaksi.
Tepat saat ia hampir mencapai pintu keluar, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
“Mbak Reporter, kakinya sudah mendingan? Jangan lupa kompres es tiap dua jam. Gue nggak mau besok ada berita: ‘Reporter Malah Pingsan Saat Liputan’ gara-gara kaki bengkak.”
Naura membelalakkan mata. Bagaimana bisa Kaelith mendapatkan nomor ponselnya? Apakah Arven yang memberikannya? Rasa jengkel seketika meledak di dada Naura.
“Lo dapet nomor gue dari mana? Dan stop panggil gue Mbak Reporter!” balas Naura dengan nada ketus.
Tak sampai sepuluh detik, balasan muncul. "Dari data registrasi pers waktu lo mau wawancara tapi nggak jadi waktu itu. Semua reporter yang liputan memang ngisi nomor buat koordinasi. Dan buat panggilan, kayaknya itu panggilan paling cocok buat lo. Sampai ketemu nanti siang, gue bakal mampir ke kantor lo buat klarifikasi berita demo.”
Naura menjatuhkan ponselnya ke atas tempat tidur. "Nggak punya sopan santun banget sih!" serunya frustrasi.
Satu jam kemudian, Naura sudah duduk di mejanya di kantor berita. Alyssa, yang duduk di sampingnya, menyenggol lengannya.
"Nau, lo kenapa? Dari tadi mukanya ditekuk terus. Tadi pas dateng juga jalannya pincang banget. Lo nggak apa-apa?" tanya Alyssa khawatir.
"Gue nggak apa-apa, Al. Cuma kesel sama orang," jawab Naura singkat.
"Orang? Siapa? Anak BEM yang nolongin lo kemarin itu?" Alyssa tersenyum penuh arti. "Jangan-jangan lo mikirin dia ya?"
"Apaan sih! Gue cuma kesel dia sok tahu soal kesehatan gue," Naura membela diri, meski pipinya terasa panas.
Tiba-tiba, suasana kantor yang tadinya tenang mendadak riuh. Beberapa staf redaksi perempuan berbisik-bisik, menoleh ke arah pintu masuk kantor. Naura, yang penasaran, ikut menoleh.
Di sana, berdiri Kaelith Atharrazka. Ia tidak memakai almamater BEM-nya, melainkan kemeja putih dengan lengan digulung sampai siku dan celana kain hitam yang membuatnya terlihat sangat dewasa dan karismatik. Ia membawa sebuah kantong plastik berisi obat pereda nyeri dan es batu gel.
"Dia beneran dateng?" batin Naura, merasa jantungnya hampir copot.
Kaelith tidak mempedulikan tatapan mata staf kantor yang terpaku padanya. Ia berjalan dengan percaya diri, matanya langsung tertuju pada meja Naura. Begitu sampai di depan meja Naura, ia meletakkan plastik itu dengan santun.
"Ini buat kaki lo. Gue perhatiin lo nggak jago jaga diri sendiri," kata Kaelith dengan nada santai, seolah-olah ia sudah sering datang ke kantor Naura.
Suasana kantor seketika hening. Dimas Prasetya, jurnalis investigasi senior yang duduk tak jauh dari sana, berdiri dari kursinya. Dimas adalah pria yang dikenal dingin, perfeksionis, dan selama ini diam-diam menaruh perhatian pada Naura. Ia menatap Kaelith dengan tatapan tajam.
"Ada keperluan apa mahasiswa ke sini?" suara Dimas berat dan mengintimidasi.
Kaelith menoleh ke arah Dimas, lalu tersenyum tipis. "Saya Kaelith dari BEM Universitas Nusantara. Saya ke sini untuk memastikan berita yang ditulis oleh salah satu reporter di sini akurat. Saya nggak mau ada disinformasi mengenai demo kemarin."
"Berita akan diterbitkan sesuai fakta, bukan karena tekanan narasumber," balas Dimas dingin.
Kaelith tertawa kecil. "Saya tahu, Mas. Makanya saya datang buat memberikan data tambahan yang mungkin nggak didapat di lapangan kemarin."
Naura merasa terjepit. Ia menatap Dimas yang tampak tidak senang, lalu menatap Kaelith yang tampak tidak peduli.
"Kael, bisa nggak kita bicara di luar saja?" bisik Naura, berusaha agar situasi tidak makin panas.
Kaelith menatap Naura, lalu mengangguk. "Tentu."
Mereka berjalan keluar menuju teras kantor. Begitu pintu tertutup, Naura langsung meluapkan kekesalannya. "Lo gila ya? Ngapain dateng ke kantor gue? Ini tempat kerja profesional, bukan tempat lo buat main-main!"
Kaelith bersandar di pilar, menatap Naura dengan tatapan yang sangat dalam. "Gue cuma mau memastikan lo baik-baik aja. Dan soal berita itu... gue beneran punya data yang bakal berguna buat investigasi lo. Gue tahu, lo sebenernya curiga ada yang nggak beres sama pembangunan gedung baru itu juga, kan?"
Naura terdiam. Bagaimana Kaelith bisa tahu? Memang, saat ia mengambil foto kemarin, ia sempat melihat percakapan mencurigakan antara salah satu staf rektorat dengan seseorang yang berpakaian rapi di belakang panggung.
"Lo... lo tahu apa?" tanya Naura dengan nada merendah.
Kaelith mendekat, suaranya kini berbisik. "Ada orang di belakang demo kemarin yang memicu kerusuhan. Bukan dari pihak BEM. Gue tahu siapa orangnya, dan gue tahu ke mana aliran dana pembangunan gedung baru itu sebenarnya bermuara. Kalau lo mau investigasi, gue bisa kasih buktinya. Tapi ada syaratnya."
"Syarat apa?"
"Jadilah mitra gue," jawab Kaelith. "Jangan cuma jadi reporter yang cari sensasi. Jadilah mitra yang gue percaya buat bongkar skandal ini."
Naura menatap mata Kaelith. Tidak ada kebohongan di sana. Hanya ada tekad yang kuat. Untuk pertama kalinya, Naura tidak melihat Kaelith sebagai "berondong" yang menyebalkan, melainkan sebagai sosok yang memiliki beban yang jauh lebih berat dari yang ia bayangkan.
"Lo tahu risiko kalau kita main-main sama ini, kan?" tanya Naura.
Kaelith tersenyum miring, senyum yang biasanya membuat Naura kesal, namun kini terasa begitu meyakinkan. "Gue ketua BEM, Naura. Gue hidup di antara risiko setiap hari. Dan untuk lo... gue siap ambil risiko apa pun."
Detik itu juga, Naura sadar. Kesan pertamanya tentang Kaelith yang hanya seorang pemuda tengil yang beruntung menjadi ketua BEM, sepenuhnya salah. Kaelith Atharrazka adalah pria yang penuh rahasia, pria yang berbahaya, dan pria yang entah bagaimana, berhasil masuk ke dalam dunianya tanpa izin.
"Oke," jawab Naura pelan. "Kita kerja sama."
Kaelith menjulurkan tangannya, dan Naura menyambutnya. Saat tangan mereka bersentuhan, ada sensasi aneh yang menjalar di sekujur tubuh Naura. Ia tahu, setelah ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dan anehnya, ia tidak merasa takut.
Di balik pintu kaca, Dimas terus memperhatikan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Sebuah konflik baru saja dimulai, tidak hanya di kampus, tapi juga di hati Naura. Dan bagi Kaelith, ini adalah langkah awal untuk membawa Naura lebih dekat ke dunianya—dunia yang penuh dengan kebenaran yang pahit, namun sangat layak untuk diperjuangkan.
"Mulai hari ini," bisik Kaelith di telinga Naura saat ia hendak berpamitan, "lo bukan lagi Mbak Reporter buat gue. Lo rekan kerja gue."
Setelah Kaelith pergi, Naura masih berdiri di teras, menatap tangannya sendiri yang tadi digenggam oleh Kaelith. Ia masih merasa sensasi itu tertinggal. "Sial," gumamnya lagi, tapi kali ini, ia tersenyum.