Sejak bayi, Chelsea tumbuh dalam pelukan keluarga yang memberinya cinta tanpa batas.
Tanpa sadar ... Chelsea mencintai satu orang yang tak seharusnya ia cintai. Sampai sebuah rahasia menghancurkan semuanya.
Sayangnya, orang yang paling ia cintai memilih untuk mempercayai kebohongan. Chelsea pergi dengan hati yang hancur dan berjanji untuk kembali sebagai kebanggaan keluarga.
Dia bangkit dan membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri sendiri. Saat semua kebenaran terungkap
El baru sadar bahwa dia telah kehilangan seseorang yang selalu mencintainya.
Namun di saat yang sama, seseorang datang membawa cinta yang selama ini diam-diam ia simpan, Al. Akankah Chelsea membuka hatinya kembali? Atau memilih meninggalkan semua luka di masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Lima
Malam itu, rumah keluarga Arsaka kembali dipenuhi suasana yang sudah sangat mereka kenal. Suara sendok yang beradu dengan piring, tawa kecil, dan percakapan sederhana yang selalu menjadi alasan kenapa rumah itu terasa begitu hangat.
Namun malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Kalau biasanya Chelsea dan El menjadi dua orang yang paling sering berbicara di meja makan, kali ini keduanya justru lebih banyak diam.
Berbeda dengan Al. Anak bungsu keluarga Arsaka itu justru terlihat sangat bahagia. Wajahnya tidak berhenti tersenyum sejak duduk di meja makan.
“Mom, Daddy tahu nggak? Tadi dosen pembimbing Al bilang kemungkinan besar Al bisa selesai lebih cepat.”
Al menyandarkan tubuhnya sambil tersenyum bangga.
Hana tertawa kecil melihat tingkah putranya. “Kamu dari tadi ngomongin itu terus.”
“Ya karena ini pencapaian besar, Mom. Sebentar lagi Al wisuda.”
“Baru mau wisuda sudah bangga sekali,” goda El.
Biasanya Chelsea akan ikut tertawa mendengar candaan kakaknya itu. Tapi malam ini, ia hanya tersenyum kecil.
“Aku bangga kok sama kamu, Al,” ucap Chelsea.
Al langsung menoleh padanya. “Kak Chelsea kenapa dari tadi kalem banget? Biasanya kalau Al cerita begini Kakak yang paling banyak komentar.”
Chelsea mengangkat bahu sambil tersenyum. “Mungkin aku sudah mulai tua.”
“Lah, usia kita hampir sama,” jawab Al cepat.
Kalimat itu membuat El yang sedang minum langsung diam sebentar. Karena lagi-lagi Chelsea mengingatkan bahwa mereka semua sudah tumbuh dewasa. Tidak ada lagi anak kecil yang harus selalu dijaga.
Makan malam berlanjut seperti biasa. Arsaka dan Hana sesekali bertanya tentang rencana wisuda Al, tentang pekerjaan El, dan tentang kegiatan Chelsea.
Namun setiap kali ditanya, Chelsea selalu menjawab singkat. Tidak seperti dulu. Tidak seperti Chelsea yang selalu punya banyak cerita untuk dibagikan.
Dan entah kenapa, El semakin merasa ada jarak yang perlahan dibuat oleh gadis itu. Setelah makan malam selesai, mereka pindah ke ruang keluarga.
Seperti kebiasaan bertahun-tahun, mereka duduk bersama sambil menonton televisi. Al duduk santai sambil masih bercerita tentang rencana setelah wisuda.
“Kalau Al sudah lulus, mungkin Al mau ambil cuti sebentar. Capek juga selama ini.”
“Kamu baru kuliah sudah merasa capek,” ledek El.
“Abang enak ngomong. Abang kerja, bukan kuliah sambil ngerjain tugas.”
Chelsea yang mendengar itu akhirnya tertawa kecil. Tawa yang membuat El menoleh. Hanya sebentar. Tapi cukup untuk membuat hatinya sedikit lega. Setidaknya Chelsea masih bisa tertawa.
Namun beberapa menit kemudian, suasana kembali tenang. Sampai akhirnya Chelsea tiba-tiba berbicara.
“Daddy, Mom.”
Semua langsung menoleh padanya. Karena nada suara Chelsea terdengar berbeda.
“Iya, Chel?” jawab Hana.
Chelsea menarik napas dalam sebelum melanjutkan. “Sebentar lagi aku wisuda pascasarjana.”
Arsaka tersenyum bangga. “Iya. Daddy masih nggak percaya anak kecil yang dulu selalu ikut Abang El sekarang sudah mau lulus.”
Chelsea tersenyum mendengar kalimat itu. Tapi kali ini, ia tidak menatap El.
“Aku ingin meminta izin setelah wisuda nanti, Dad.”
“Meminta izin apa?” tanya Arsaka.
Chelsea menggenggam tangannya sendiri. “Aku ingin bekerja di kantor cabang perusahaan di Batam.”
Kalimat itu membuat suasana ruang keluarga langsung berubah. Al yang tadinya santai langsung duduk tegak. El bahkan menatap Chelsea tanpa berkedip.
“Batam?” ulang Hana memastikan.
Chelsea mengangguk. “Iya, Mom.”
Beberapa detik tidak ada yang berbicara. Karena semua orang tahu satu hal. Dulu, Chelsea selalu mengatakan ingin bekerja di kantor pusat. Bahkan sejak lama, ia sering bercanda bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi sekretaris paling menyebalkan bagi El. Dan El juga tahu itu.
“Bukankah dulu kamu bilang ingin bekerja di kantor pusat?” suara El akhirnya terdengar.
Chelsea menoleh padanya. “Bukankah kamu pernah bilang ingin menjadi sekretarisku?”
Ada sesuatu dalam nada suara El. Bukan marah, tapi lebih seperti tidak mengerti.
Chelsea tersenyum kecil. “Aku berubah pikiran, Bang.”
Jawaban sederhana itu justru membuat El diam. “Aku ingin mencoba di sana. Aku ingin membantu mengembangkan kantor cabang itu.”
Al langsung menyela. “Tapi Batam jauh, Kak.”
Chelsea menatap adiknya. “Memang jauh.”
“Terus kenapa harus di sana? Kalau mau kerja kan bisa di sini.”
Chelsea tersenyum. “Karena aku ingin mencoba sesuatu yang baru.”
Arsaka masih memperhatikan putrinya. “Apa yang membuat kamu berubah pikiran, Chel?”
Pertanyaan itu membuat Chelsea terdiam sebentar. Ia tahu semua orang ingin tahu alasannya. Termasuk El.
“Kantor pusat sudah dipimpin Abang El.” Chelsea menoleh pada pria itu. “Dan Abang berhasil membuat perusahaan semakin berkembang.”
El tidak berkata apa-apa. Ia masih tak percaya dengan keputusan Chelsea yang ingin bekerja di Batam.
“Aku bangga sama Abang.” Kalimat itu membuat dada El terasa sedikit sesak. "Dan aku ingin membuktikan kalau aku bisa.”
Chelsea kembali menatap Daddy dan Mom-nya. “Aku ingin mengembangkan cabang itu. Aku ingin punya pencapaian sendiri, bukan hanya dikenal sebagai adiknya Abang El.”
Tidak ada yang langsung menjawab. Karena mereka tahu perkataan Chelsea bukan sekadar tentang pekerjaan. Ada sesuatu yang lebih dalam.
“Aku sudah memikirkan ini lama,” lanjut Chelsea. “Aku ingin belajar mandiri.”
El langsung menatapnya. Kata itu lagi yang selalu jadi alasan. Mandiri. Seolah Chelsea sedang berusaha mengatakan bahwa ia tidak ingin terus bergantung padanya.
“Aku nggak setuju.” Suara El membuat semua menatap ke arahnya.
“Chel, kamu nggak perlu pergi sejauh itu hanya untuk membuktikan sesuatu.”
Chelsea tersenyum kecil. “Bukan untuk membuktikan sesuatu ke orang lain, Bang.”
“Lalu?”
“Untuk membuktikan ke diri aku sendiri.”
El terdiam. Al ikut menggeleng. “Aku juga nggak setuju.”
Chelsea menatap adiknya. “Kenapa?”
“Karena rumah bakal sepi.”
Kalimat Al membuat Chelsea tersenyum. “Kamu kan sudah besar.”
“Tapi tetap saja Kak Chelsea itu kakakku.”
Jawaban sederhana itu membuat suasana sedikit lebih ringan. Namun El tetap diam. Karena baginya, masalahnya bukan hanya tentang Batam. Masalahnya adalah Chelsea benar-benar ingin pergi.
Setelah perdebatan yang cukup panjang, akhirnya Hana berbicara. “Kalau itu memang keputusan Chelsea, biarkan dia mencoba.”
Semua menoleh. Hana tersenyum lembut. “Anak kita sudah dewasa, Mas.”
Arsaka menghela napas. “Aku hanya takut dia terlalu jauh dari keluarga.”
“Batam bukan ujung dunia,” jawab Hana.
Lalu ia menatap Chelsea. “Tapi kamu janji satu hal.”
“Apa, Mom?”
“Kalau ada masalah, cerita. Dan ingat kami, rumah tempat kami pulang.”
Chelsea tersenyum. “Iya, Mom.”
Akhirnya Arsaka mengangguk. “Kalau itu yang kamu mau, Daddy izinkan.”
Senyum Chelsea langsung terlihat. “Terima kasih, Daddy.”
Ia memeluk Hana dan Arsaka bergantian. “Aku janji akan melakukan yang terbaik, Dad, Mom.”
Sementara El hanya diam melihatnya. Ia tidak tahu kenapa perasaan di dadanya terasa tidak nyaman. Seharusnya ia ikut bahagia dan bangga. Tapi yang ia rasakan justru seperti kehilangan sesuatu.
Setelah beberapa saat, Chelsea berdiri. “Aku masuk kamar dulu ya. Mau bersihkan wajah.”
“Iya,” jawab Hana.
Chelsea berjalan meninggalkan ruang keluarga. El masih menatap arah tangga.
Sampai akhirnya ia berdiri. “Aku ke atas dulu.”
Tidak ada yang menjawab. Karena mereka tahu El sedang memikirkan sesuatu.
---
Di kamar, Chelsea berdiri di depan cermin sambil membersihkan wajahnya. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Ada lega akhirnya ia mengatakan apa yang sudah lama ia pikirkan. Tapi juga ada sedih, karena pergi dari rumah berarti semakin jauh dari El. Namun mungkin itu yang ia butuhkan. Jarak, agar ia bisa belajar melepaskan.
Saat Chelsea baru saja selesai mengambil handuk, pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Ia terkejut. “Bang El?”
Pria itu berdiri di sana. Wajahnya tampak serius. Tidak seperti biasanya. Chelsea langsung tahu ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
El masuk dan menutup pintu. Beberapa detik ia hanya diam menatap Chelsea.
Sampai akhirnya pertanyaan itu keluar. “Kamu sengaja ingin bekerja di Batam untuk menghindari Abang?”
Chelsea membeku, tidak tahu harus menjawab apa.
tapi sama Noah jg gak papa🤭
semoga Arsaka lebih ngek dengan tujuan mereka