Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 - Di Desa
Siti masih memandangi hamparan kebun teh di hadapannya dengan napas yang belum sepenuhnya tenang. Wajahnya dipenuhi kebingungan. Baru beberapa saat lalu mereka berada di tengah kepanikan yang nyaris merenggut nyawa, dikejar gelombang raksasa dan gempa yang mengguncang bumi. Namun sekarang, di depan mata mereka hanya ada perbukitan hijau yang diselimuti embun pagi. Udara terasa sejuk, angin bertiup lembut, dan suara burung terdengar bersahutan. Kontras itu membuat semuanya terasa seperti mimpi.
Wanita itu perlahan menoleh kepada Faris.
"Ris..."
"Iya, Bu?"
"Ini... sebenarnya kita ada di mana?"
Faris terdiam beberapa saat. Pertanyaan itu juga ingin ia ajukan kepada sistem, tetapi ia tahu tidak mungkin menjelaskan kebenaran kepada ibunya.
Siti kembali bertanya dengan suara pelan.
"Tadi... kita sudah masuk ke air, kan?"
Faris mengangguk.
"Iya."
"Ibu ingat ombaknya sudah sangat dekat."
"Iya."
"Lalu... kenapa sekarang kita ada di sini?"
Faris menarik napas panjang. "Yang penting sekarang kita selamat dulu, Bu."
"Tapi bagaimana caranya?"
Faris hanya tersenyum tipis. "Mungkin... kita memang masih diberi kesempatan sama Tuhan."
Siti menatap wajah anaknya cukup lama. Jawaban itu tidak benar-benar menjelaskan apa yang terjadi. Namun setelah mengingat semua kejadian malam itu, ia sendiri juga tidak mampu menemukan penjelasan yang masuk akal.
Ia mengusap wajahnya perlahan. "Ibu benar-benar mengira kita sudah tidak bisa selamat."
Faris menggenggam tangan ibunya. "Aku juga sempat berpikir begitu."
"Tapi sekarang kita masih bersama."
"Itu sudah lebih dari cukup."
Siti mengangguk pelan. Air mata kembali mengalir di pipinya. "Terima kasih, Nak."
Faris menggeleng. "Yang paling penting kita selamat."
Siti mengusap matanya sambil mengangguk pelan. "Iya..."
Faris kemudian mengangkat kepalanya memandang langit yang mulai berubah terang. Matahari belum sepenuhnya terbit, tetapi semburat jingga sudah mulai muncul di balik perbukitan.
Dalam hati ia memanggil sistem.
"Sistem."
[Ya, Host.]
"Kita sebenarnya berada di mana?"
[Lokasi aman berhasil dipilih.]
"Itu aku tahu."
"Tapi ini daerah mana?"
[Lokasi berada cukup jauh dari titik bencana.]
[Data detail wilayah tidak ditampilkan.]
Faris menghela napas. "Jawabanmu memang selalu menggantung."
[Host masih hidup.]
"Itu memang benar."
Setelah memastikan kondisi ibunya cukup stabil, Faris membantu Siti berdiri. Keduanya mulai berjalan menyusuri jalan setapak yang membelah perkebunan teh. Embun masih menempel di ujung dedaunan hingga membasahi ujung celana mereka. Sesekali terlihat para pemetik teh yang baru mulai bekerja. Mereka memandang Faris dan Siti dengan tatapan heran karena pakaian keduanya masih dipenuhi debu dan tanah.
Untungnya tidak ada yang bertanya.
Sekitar tiga puluh menit berjalan, jalan setapak itu akhirnya bertemu dengan jalan beraspal yang lebih lebar. Tidak jauh dari sana terlihat sebuah desa kecil. Rumah-rumah sederhana berjajar rapi dengan halaman yang dipenuhi tanaman bunga. Asap tipis mengepul dari dapur beberapa rumah, menandakan warga mulai menyiapkan sarapan.
Melihat permukiman itu, Faris mengembuskan napas lega.
"Syukurlah."
Siti tersenyum lemah. "Akhirnya ada orang."
Perut Faris tiba-tiba berbunyi pelan.
"Kruuk..."
Ia tersenyum malu. "Sepertinya aku lapar."
Siti tertawa kecil untuk pertama kalinya sejak bencana terjadi.
"Ibu juga."
Tak lama kemudian mereka menemukan sebuah warung kecil di pinggir jalan. Bangunannya sederhana, hanya berdinding papan dengan beberapa meja kayu. Aroma kopi hitam dan mi rebus langsung menyambut mereka.
Pemilik warung, seorang ibu paruh baya, langsung menyapa ramah.
"Silakan, Nak."
"Mau makan atau minum?"
Faris tersenyum sopan.
"Dua teh hangat dulu, Bu."
"Baik."
"Kalau ada roti juga boleh."
"Ada."
Mereka duduk di dekat jendela. Baru kali ini Faris benar-benar bisa merasakan tubuhnya lemas. Ketegangan yang sejak tadi ditahannya perlahan menghilang.
Beberapa pelanggan lain juga mulai berdatangan. Mereka tampak berbicara dengan nada serius.
"Apa benar semalam tsunami?"
"Iya, katanya besar sekali."
"Mengerikan."
Faris langsung menoleh.
Di sudut warung terdapat sebuah televisi kecil yang sejak tadi menyala tanpa suara keras. Pemilik warung mengambil remot lalu menaikkan volumenya.
"...kami kembali dengan perkembangan terbaru mengenai bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi dini hari tadi."
Suasana warung langsung hening. Semua mata tertuju ke layar televisi.
Di layar muncul rekaman udara yang memperlihatkan kawasan pesisir yang porak-poranda. Rumah-rumah hancur. Jalanan dipenuhi lumpur. Kendaraan berserakan seperti mainan.
Jantung Faris kembali berdegup lebih cepat.
"Itu..."
Siti menutup mulutnya.
Penyiar berita melanjutkan laporannya.
"...gelombang tsunami dilaporkan mencapai beberapa wilayah yang berada cukup jauh dari garis pantai akibat bentuk teluk dan kontur daratan. Sejumlah kawasan permukiman mengalami kerusakan berat. Tim gabungan masih melakukan proses evakuasi terhadap warga yang menjadi korban."
Layar berganti memperlihatkan peta wilayah terdampak.
Mata Faris membelalak.
"Itu..."
Salah satu titik yang disorot berada tepat di kawasan tempat ia tinggal. Rumahnya, gang sempit yang setiap hari ia lewati.
Semuanya termasuk dalam wilayah terdampak. Siti langsung menggenggam lengan Faris erat.
"Ris..."
Faris tidak mampu menjawab. Di layar kembali muncul gambar-gambar kondisi lapangan. Air masih menggenangi jalan. Perahu karet hilir mudik membawa warga yang selamat. Beberapa rumah tinggal menyisakan atap, sementara bangunan lain rata dengan tanah.
Penyiar kembali berbicara.
"...hingga saat ini jumlah korban masih terus didata. Pemerintah mengimbau masyarakat agar tidak kembali ke kawasan terdampak sebelum dinyatakan aman karena masih terdapat potensi gelombang susulan."
Seluruh warung kembali dipenuhi suara orang-orang yang saling berdiskusi.
"Kasihan sekali."
"Semoga keluarga mereka selamat."
"Benar-benar mengerikan."
Faris hanya menatap layar tanpa berkedip. Ia membayangkan bagaimana jadinya jika tadi malam ia terlambat bangun beberapa menit saja. Mungkin sekarang dirinya dan ibunya sudah ikut terseret arus.
Di sampingnya, Siti mengusap air mata yang kembali mengalir.
"Kita masih hidup, Ris."
Faris mengangguk pelan. "Iya, Bu."
"Syukurlah."
Di dalam benaknya, satu pertanyaan lain mulai muncul. Kalau rumah mereka benar-benar hancur, kalau semua barang yang mereka miliki sudah hilang. Lalu bagaimana mereka akan memulai hidup dari awal?
Faris memandang layar televisi sekali lagi. Wajahnya perlahan berubah serius. Perjuangan mereka belum berakhir. Justru, kehidupan baru yang sesungguhnya mungkin baru saja dimulai.
Insyaa ALLAH berhasil.
Berharap ada yg bantu.