"Rain, ini aku Bintang suamimu, kamu boleh menghukumku dengan cara apapun tapi tolong jangan pura-pura melupakan aku, aku sudah sangat menyesali perbuatanku dulu sama kamu."
"Bukan aku yang pura-pura tidak mengenalmu tapi aku memang tak kenal siapa kamu bahkan bertemu kamu saja baru dua kali ini."
Penyesalan itu memang terkadang datang terlambat tapi apa jadinya jika sosoknya kembali datang setelah 4 bulan Bintang kehilangannya, akankah Bintang masih bisa menerima kenyataan jika orang didepannya ini bukan orang yang selama ini dia rindukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amak Mpis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan
Keesokan harinya
11:00
Bintang, kevin dan semua keluarga mereka sedang berada di makam dengan batu nisan bertuliskan Rain Tafinka Handoko. Mereka berdua memaksa untuk keluar rumah sakit karena mereka ingin melihat siapa sosok yang sudah menolong mereka tapi sebelumnya mereka ingin mengunjungi makam Rain sesuai permintaan Bintang.
“Rain, maaf.” Hanya dua kata yang mampu Bintang ucapkan, selebihnya dia hanya menangis sesenggukan mengingat semua perbuatannya dulu pada Rain.
“Sabar sayang, Rain pasti sudah memaafkan kamu, kamu doakan dia tenang disana,” Ucap Melisa sambil mengusap punggung Bintang, tapi mau bagaimanapun Bintang dibujuk yang ada air mata Bintang semakin deras.
30 menit berlalu dengan semua orang diam dan Bintang yang masih terus menangis tanpa ada yang berani berbicara lagi karena mereka tahu kalau penyesalan Bintang begitu dalam.
“Bintang, sudah jam 11:30 ayo kita berangkat ke Embun Pagi, perjalanan kesana sangat jauh dan biasanya kalau kita gak tepat waktu reservasi kita hangus soalnya restaurant itu penuh sama pengunjung,” Ajak Melisa berharap tujuan mereka untuk menemui Black itu bisa mengalihkan kesedihan Bintang.
Bintang menoleh lalu berdiri dan mereka semua pergi menuju mobil masing-masing menuju Embun pagi.
“Tungguin kita, kita juga mau ikut,” Ucap Resta teman Bintang yang baru sampai dimakam saat Bintang dan yang lain sudah masuk mobil.
“Kirain gak jadi ikut ditungguin gak dateng-dateng,” Ucap Alexa.
“Jadilah, kita juga mau lihat siapa sosok orang yang menolong sahabat kita juga kali.” Resta bersama dengan 2 orang lain dan mereka semua juga teman Bintang.
Mereka semua berjalan menuju embun pagi, tapi sepanjang jalan Bintang hanya diam dan menatap keluar jendela dengan tatapan yang sangat sendu.
Perjalan panjang terasa sangat lama apalagi dengan Bintang yang sekarang menjadi sangat diam itu membuat perjalanan menjadi semakin lama.
2 jam berlalu dan akhirnya mereka sampai di sebuah restaurant yang bertuliskan Embun Pagi.
“Selamat siang, apakah sudah buat reservasi?” Tanya salah satu pelayan yang berada di depan pintu.
“Sudah, atas nama Alexa.”
“Untuk 11 orang ya?”
“Iya mbak.”
“Baik, silahkan ikut saya.” Pelayan itu berjalan ke sebuah meja besar dengan 11 kursi dan diikuti semuanya.
“Ini buku menunya, silahkan.” Bukan memilih menu tapi pertanyaan yang mereka ajukan jauh dari menu.
“Kapan kita bisa bertemu Black?” Tanya Bintang.
“Untuk kak Black belum sampai karena hari ini kak Black masih ada urusan diluar restaurant, tapi kita jamin nanti jam 2 kak Black bisa menemui kalian, silahkan pesan dulu sambil menunggu kak Black sampai.”
Setelah memilih beberapa menu pelayan itu pergi dan mereka masih setia menunggu.
Satu jam berlalu tapi mereka belum juga bisa bertemu dengan Black.
“Mbak,” Panggil Alexa. Seorang pelayan maju menghampiri mereka.
“Iya kak ada yang bisa saya bantu?”
“Ini sudah jam 14:30 kok kita belum bisa ketemu Black juga ya, kita sudah nunggu satu jam loh,”
“Sebentar ya kak saya konfirmasi ke kak Sira dulu.” Alexa mengangguk dan pelayan itu pergi menghampiri Sira yang sekarang sedang duduk di meja kasir.
“Kak Sira, mereka sudah nanyain Black, apa masih belum ada kabar?”
“Tadi dia bilang lagi jalan kesini tapi aku juga gak tahu kenapa belum sampai juga, coba aku telfon dulu siapa tahu dia sudah mau sampai.” Sira mengambil ponselnya dan mencari nomor Black, tapi belum sempat dia menekan tombol telepon yang ditunggu sudah datang tapi dia tidak datang sendiri.
“Black, anak siapa itu? Lo nyulik anak siapa?” Sira yang kaget langsung memborong dengan beberapa pertanyaan.
“Enak aja nyulik, lo lupa sama anak ini?” Sira mencoba mengamati bocah laki-laki yang sekarang sedang tertidur di gendongan Black.
“Ini kaya anak cowok yang kita temui malem-malem itu, yang kabur dari rumah?”
“Iya, dan tadi gue ketemu dia lagi dikerumuni orang karena hampir ketabrak mobil dan lagi-lagi dia sendiri.”
“Itu orang tuanya niat punya anak gak sih kok bisa anaknya kabur lagi, hampir ketabrak mobil pula?”
“Entahlah Sir gue juga bingung, nanti kalau ada yang nyari anak ini suruh nemuin gue, sementara anak ini biar gue yang ngurus.”
“Iya, oh iya Black gue sampai lupa, lo sudah ditunggu orang yang kemarin lo tolong, mereka sudah nunggu lo lama banget.”
“Lah iya gue ada janji sama orang ya, astaga. Dimana mereka sekarang?”
“Meja nomor 11.” Meja ini posisinya tidak bisa terlihat dari meja kasir karena harus berbelok dulu.
“Kia, tolong kamu bilang sama mereka saya akan segera menemui mereka, saya mau menidurkan anak ini dulu, kasihan dia tadi shock banget kayaknya.”
“Baik Black,” Pelayan yang bernama Kia itu pergi menemui Bintang dan yang lain untuk menyampaikan kalau Black akan segera menemui mereka.
“Sini biar gue aja yang nidurin dia, kasihan lo.” Sira hendak mengangkat anak itu tapi anak itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada Black.
“Mau sama buna,” Ucapnya sambil mengeratkan pelukan.
“Biar gue aja gak papa.”
“Perut lo?”
“Aman.” Black membawa anak itu ke kamarnya yang ada di lantai dua lalu menidurkannya disana, setelah itu dia mengganti baju dengan baju seragam restaurant dan bersiap turun setelah yakin anak itu sudah tidur
Black berjalan menuju meja nomor 11 tanpa merasa ada sesuatu yang aneh, tapi langkahnya terhenti 2 meter sebelum sampai di meja nomor 11 karena ada seseorang yang berlari kearahnya dan langsung memeluknya sangat erat.
“Rain, ini beneran kamu sayang? Aku kangen banget sama kamu,” Ucap pria yang tak lain adalah Bintang sambil mengeratkan pelukan.
“Maafin aku, aku jahat banget sama kamu, maaf aku yang gak pernah menganggap keberadaan kamu, maaf aku terlalu tak pernah melihat kamu, maaf untuk semua penyiksaan yang pernah aku lakukan sama kamu, maaf.” Black hanya diam mematung, dia juga tak membalas ucapan maupun pelukan Bintang, dia masih kaget dengan apa yang dia dengar barusan, memori yang tak jelas terputar dikepalanya, tapi Black berusaha agar tak ada yang menyadarinya.
Bintang melepas pelukannya karena Rain yang masih diam saja. “Kamu marah sama aku?”
“Kamu siapa?”
“Kamu gak kenal aku, aku Bintang suami kamu, kamu lupa sama aku?”
“Sebelumnya saya minta maaf, nama saya Black bukan Rain dan saya juga tidak mengenal kamu, semua maaf yang tadi kamu ucapkan rasanya itu tak pantas saya Terima karena saya tak mengenal kamu bahkan kita juga baru bertemu dua kali ini itu pun kamu tidak melakukan kesalahan apapun sama saya.”
“Ngak, kamu itu Rain istri aku bukan Black, sayang maafin aku, jangan kaya gini, aku sudah hampir gila kehilangan kamu, tolong jangan buat aku semakin gila lagi karena kamu yang tak mengenali aku.” Bintang menangis, dia tak bisa menahan air matanya lagi, rasa bersalahnya pada Rain dan kenyataan orang didepannya yang tak mengenalnya itu membuat dia stres.
“Mau kamu ngomong berapa kalipun saya gak kenal kamu dan saya bukan Rain istri kamu.”
BERSAMBUNG.