NovelToon NovelToon
Noda Pernikahan Di Balik Cadar

Noda Pernikahan Di Balik Cadar

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami
Popularitas:35.1k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

"Tolong hentikan, tolong!" teriak Zena.

Saat ini gadis dalam ketakutan itu hanya pasrah, tidak bisa berbuat apa-apa, pria yang sudah pasti dipengaruhi alkohol itu melecehkannya dengan menyobek pakaian Zena.

Tidak ada satupun yang menolong gadis malang itu.

"Tolong jangan lakukan itu!"

"Tolong..."

"Tolong...."

Zena menghindar dengan memukul-mukul dada pria tersebut.

"Aaaaaaaaaa!" Zena seketika berteriak menahan rasa sakit disaat tubuhnya digagahi tanpa ampunan.

Zena pada akhirnya pasrah dengan air matanya menetes, dengan penuh hawa nafsu pria di atas tubuhnya terus mencari kenikmatan.

Zena tampak setengah sadar dengan mata yang terbuka, namun pasrah, sosok pria di atas tubuhnya benar-benar tidak terlihat dan hanya kalung yang tampak bergoyang dan perlahan mata Zena tertutup.

Siapakah sosok pria misterius tersebut dan apakah Zena mampu menjalani kehidupannya setelah kejadian kelam?
Jangan lupa untuk membaca dari bab 1 sampai akhir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35 Memang Dia Wanita Itu

Samudra sudah tiba di Apartemen, memarkirkan mobilnya di tempat biasa dan kemudian melangkah masuk ke dalam gedung apartemen tersebut.

Ketika Samudra sudah tepat di depan rumahnya, tiba-tiba saja melihat catatan kecil di bagian atas tempat pin apartemen mereka.

..."Aku sudah menggantinya kembali seperti semula," tulisan tangan tersebut yang berada di kertas memori itu ternyata adalah tulis tangan Zena....

"Hah!" Samudra mendengus tersenyum dan mencoba menekan beberapa nomor pin dan ternyata benar Zena sudah kembali menggantinya.

Sepertinya ada tanda-tanda Zena juga setuju untuk memperbaiki rumah tangga mereka. Samudra menghela nafas dan kemudian memasuki apartemen tersebut.

Rumah sudah pasti tampak gelap dan sepi karena ini juga sudah malam dan sudah dapat dipastikan bahwa Zena sudah tidur.

"Pergi...."

"Pergi...."

"Jangan mendekatiku!"

"Pergi!"

Samudra menghentikan langkahnya ketika mendengar suara yang berteriak yang berasal dari kamar Zena.

Samudra buru-buru meletakkan tasnya dan berlari menuju kamar tersebut dengan membuka pintu.

Kamar terasa begitu gelap, dengan jendela yang masih terbuka dengan gordennya yang tertiup angin, hujan deras di luar sana sedang menerpa bumi.

Samudra melihat bagaimana Zena berada di atas tempat tidur yang tampak gelisah dengan meremas sprei tersebut dan kepalanya goyang-goyang, berteriak ketakutan.

"Zena....." Samudra menghampiri istrinya itu dengan duduk di sebelahnya.

Melihat keringat bercucuran di wajah cantik itu.

"Saya mohon jangan lakukan itu, saya mohon!"

"Pergi....."

"Pergi...."

"Pergi...."

"Aaaaaaaaaa!" Zena berteriak sekencang-kencangnya langsung terduduk yang terbangun dari tidurnya.

"Zena kamu baik-baik saja?"

"Zena...." Samudra terlihat begitu khawatir memegang kedua Zena.

"Lepaskan!"

"Jangan mendekat!"

Zena seketika menjadi takut, menjadi panik seolah-olah tidak ingin disentuh oleh siapapun.

"Pergi dari sini!"

"Pergi!"

"Zena ini saya Samudra, Zena...." Samudra mencoba untuk menenangkan wanita yang benar-benar ketakutan di hadapannya itu dengan air matanya yang sudah jatuh.

"Ini saya!" Samudra terus menekankan yang Zena yang melihat dengan nyata bahwa memang itu adalah Samudra.

"Saya tidak akan melukai kamu, jangan takut Zena...." lirih Samudra.

Dengan nafas naik turun akhirnya Zena bisa mengendalikan dirinya dan Samudra membawanya ke dalam pelukannya, merasakan tubuh bergetar milik istrinya yang mungkin saja mimpi buruk itu kembali menghampiri dirinya.

"Saya tidak tidak akan kemana-mana, kamu jangan takut," ucap Samudra yang membuat Zena memeluk sangat erat, benar-benar takut tapi sekarang sudah mulai tenang.

Samudra juga memeluknya penuh dengan ketulusan, meyakinkan bahwa dirinya benar-benar tidak akan pergi, mengusap-usap rambut Zena. Samudra tidak menyangka jika istrinya benar-benar trauma, tetapi justru dia yang jahat telah mengungkit kembali trauma istrinya.

Tubuh Zena benar-benar berkeringat, yang membuat tangan Samudra, sedikit menggeserkan rambut panjang Zena. Tetapi satu hal yang membuatnya kaget dan salah fokus ada tanda lahir yang berada di belakang bahu Zena.

Garis merah yang memang dia miliki sejak kecil sebagai tanda lahir yang selama ini berlindung di balik pakaiannya yang tertutup.

Samudra kaget, dan tiba-tiba saja bayangan kembali muncul di dalam pikirannya, suara teriakan seorang wanita dan bahkan yang dilihat samudra adalah tanda lahir yang sama.

Uhukkkk

Zena tiba-tiba saja terbatuk membuat Samudra kaget dengan melepaskan pelukan tersebut dan melihat kembali ke arah Zena.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Samudra mengangkat dagu istrinya agar wajahnya terlihat karena sejak tadi menunduk.

Zena masih schok, kemudian Samudra mengambil air mineral dan memberikannya kepada Zena.

"Minumlah!" ucap Samudra membantu untuk memegang gelas tersebut dan Zena langsung meneguk air itu hampir meredakan tenggorokannya.

"Bagaimana keadaan kamu?" tanya Samudra.

"Sudah tidak apa-apa," jawab Zena.

Samudra memegang pipi Zena, mengusap air mata tersebut dan menyelipkan anak rambutnya di belakang daun telinga Zena agar tidak terlalu gerah.

"Kamu mimpi buruk?" tanya Samudra.

"Iya," jawabnya.

"Berdoalah sebelum tidur," ucap Samudra, perkataan ini pernah diucapkan istrinya di saat dia juga pernah menghibur.

"Memang kapan Zena kalau tidur tidak berdoa dulu, Zena pasti berdoa terlebih dahulu," jawabnya.

"Kalau begitu sekarang kamu kembali istirahat," ucap Samudra begitu sangat lembut berbicara.

Zena menganggukkan kepala dan membantu istrinya untuk kembali membaringkan tubuhnya dengan menye Zena.

Samudra ternyata tidak keluar dari kamar, tetapi justru menutup jendela, agar angin tidak terus masuk ke dalam yang membuat istrinya bisa-bisa jadi sakit.

Samudra kembali menghampiri Zena dan duduk kembali di samping Zena.

"Kakak tidak ke kamar untuk istirahat?" tanya Zena.

"Saya akan di sini untuk menemani kamu," jawab Samudra.

"Tumben sekali, memangnya tidak merasa jijik satu ranjang dengan wanita yang sudah kehilangan kehormatannya?" tanyanya pernah sindiran membuat Samudra terdiam dan tiba-tiba memegang tangan Zena.

"Jangan pernah bahas itu lagi dengan saya," ucap Samudra.

"Kenapa? Bukankah....."

"Zena please ...." Samudra ternyata tidak ingin mendengarkan apapun.

"Kamu sebaiknya istirahat," ucap Samudra.

Zena menurut dan perlahan menutup matanya. Samudra memperhatikan Zena begitu lama, matanya masih fokus kepada bagian bahu yang tanda lahir itu sudah tidak terlihat. Samudra memegang kepalanya seperti mengingat sesuatu hal yang sangat besar.

******

Matahari kembali bangun dari tidurnya, dengan sinar matahari yang benar-benar begitu cerah, sinarnya menerpa wajah cantik Zena yang masih tertidur.

Tidurnya tadi malam terganggu karena mimpi buruk yang kembali menghampirinya, tetapi syukurnya dia sudah tenang dan karena tidurnya terlalu lelap membuatnya bangun kesiangan.

Zena mengerutkan dahi, cahaya matahari yang masuk dari celah-celah jendela membuat tidurnya terasa terganggu dengan mengerutkan dahi dan akhirnya Zena terbangun.

"Astagfirullah... Aku kesiangan," ucapnya menyibak rambutnya ke belakang menyadari bahwa cuaca sudah begitu terang.

Zena buru-buru turun dari ranjang, karena tidak menemukan air mineral dalam kamarnya yang mungkin sudah habis membuat Zena keluar dari kamar dan siapa sangka ternyata Samudra sedang beraktivitas di dalam dapur.

Zena kebingungan dengan kesulitan menelan ludah.

"Kak...." tegur Zena membuat Samudra melihat kearah Zena.

"Kamu sudah bangun?" tanya Samudra.

Zena menganggukkan kepala.

"Kakak ngapain di dapur?" tanyanya kebingungan.

"Kemarilah, sarapannya sudah selesai," sahut Samudra.

"Sarapan!" adanya semakin kebingungan dan benarkah suaminya sedang membuatkan sarapan untuknya.

Samudra menganggukkan kepala dan kemudian Zena menghampiri samudra dan melihat nasi goreng yang sudah pasti sangat membutuhkan selera.

Samudra selama ini juga sudah tinggal sendiri dan pasti memasak adalah hal yang mudah baginya.

"Membuatkannya untukku!" tanya Zena melihat ke arah Samudra.

Samudra mengganggukan kepala dan kemudian memeluk Zena. Zena semakin bingung, tidak mengerti dan mengapa tiba-tiba saja Samudra seperti ini kepadanya.

Samudra harus kembali melihat tanda merah yang berada di bahu Zena, Samudra memejamkan mata, semakin merasa bersalah.

"Zena mari lupakan semuanya, kita harus kembali memulai rumah tangga kita. .." lirih Samudra.

Zena tidak menjawab apapun, tetapi jantungnya berdebar begitu kencang, mungkin saja dia luluh pada Samudra.

Bersambung ....

1
Ariany Sudjana
Zena ini bodohnya kebangetan yah, demi menjaga mental Khaira, samudra disuruh meninggalkan Zena dan Khaira, dan kembali bersama Ariana? istri macam apa kamu yah? itu bukan solusi, tapi mencari masalah baru, dasar bodoh
Uthie
Walau bagaimanapun, harusnya Zena lebih bisa paham aturan, dirinya masih bersuamikan Samudera, dan harus jaga hubungan yg tidak disukai oleh suaminya saat ini ..
Uthie
Nasihat Rain betul itu... sekeras apapun Zena menentang nya, namun Takdir Tuhan lah yg menentukan untuk mereka tetap bersatu lewat anak 👍
Uthie
itulah... Zena jangan jadi egois makanya
Uthie
Wahhh.. si Samudera tohhh itu 😡
Uthie
Wahhh.. Zena parah juga dehh kayanya .. punya anak tapi di titip kan... udah gtu gak ada cerita atau merahasiakan semuanya dr orang tua angkatnya?! 🤨
Uthie
Dasar Egois 😡
Uthie
Memang salah Zena juga yg gak terus terang sedari awal 😌
Uthie
penasaran siapa yg sdh menodai Zena dulu?!???
Uthie
nexxxttt
Uthie
coba mampir 👍
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Ariana, lebih baik kamu itu dibunuh
Ariany Sudjana
harusnya Zena tetap tenang, jangan terpancing emosi karena si pelacur murahan itu. kalau kamu seperti itu, Khaira akan jadi sasaran tembak Ariana. Ariana kan ga tahu peristiwa sebenarnya seperti apa, jadi kamu jangan bodoh
Ariany Sudjana
banyak typo kak
Ariany Sudjana
kalau gini ceritanya, Khaira akan meninggal, makanya terus kasih pesan seperti itu ke orang tuanya
Ariany Sudjana
terlalu lama si pelacur murahan ini buat ulah, kenapa ga langsung saja dibawa ke jalur hukum ? dia sudah mencemarkan nama baik dan karirnya harus habis atau kalau perlu dibunuh saja si pelacur murahan itu
Ariany Sudjana
kamu jangan egois Zena, dengar dulu penjelasan samudra.
dan Ariana kamu salah cari lawan, kamu harus dibinasakan
anamika
the best pokoknya, semangat berkarya terus Thor👍💪
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Ariana, kamu itu harusnya dibunuh saja
Ariany Sudjana
Anggi dan Zena ini sama-sama keras kepala dan bodohnya kebangetan, apalagi Zena itu egois, hanya peduli sama Khaira, tapi ga peduli sama samudra.
nah samudra mau jalankan tugas negara kan? kak penulis buat saja ceritanya samudra dan rain itu kena tembak gitu dan koma atau buat saja meninggal sekalian, apa kedua perempuan sombong itu masih tetap sombong dan angkuh?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!