Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 18
"Ada apa, Al?" Suara Aldri terdengar cemas. Masih segar dalam ingatannya saat Aldri tiba-tiba menelpon karena Antika mencoba bunuh diri.
"Tidak apa-apa, Bu. Begini, jika tiba-tiba datang bulan. Saya bingung dia minta dibelikan pembalut dan penghilang nyeri. Apa Ibu tahu yang biasa dia pakai?"
Indira tertawa. "Ya Allah, Al. Kamu ini buat ibu kaget saja. Sekian tahun kalian hidup serumah masa kamu tidak tahu juga. Memang nya Antika ke mana? Kok, kamu yang beli sendiri?"
"Maaf, Bu selama ini Tika selalu malu jika membahas tentang hal-hal seperti itu. Dan Saya juga jarang melihatnya sakit saat datang bulan. Sekarang Dia sedang menunggu ku di toilet."
"Iya juga, ya, Al. Memang Antika selalu sama ibu ngeluhnya soal begitu. Ya sudah kamu belikan saja merk. **** cepatnya, Al."
"Baik, Bu terima kasih banyak."
Meskipun telah diberitahu sang ibu, Aldri tetap kebingungan mencari produk yang dimaksud. Akhirnya dengan malu-malu ia meminta bantuan kasir. Kasir tersenyum dan menjelaskan beberapa perbedaan produk dan kegunaannya."
"Terima kasih, Mbak."
"Sama - sama , Pak. Apakah Anda membeli untuk istri?"
"Ah, iya untuk istri saya." Aldri mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Ada rasa bahagia mendengar jawabannya sendiri.
Di depan toilet Antika menunggu sambil memegangi perutnya yang nyeri. Karena tak tahan gadis itu memilih duduk jongkok untuk menekan perutnya agar nyerinya mereda.
Di saat seperti itu ada seorang wanita yang akan bertoilet memperhatikannya. Ia mencoba mendekati Antika Karena rasa ingin tahunya. Ketika wanita itu mendekat tercium aroma rokok dari tubuhnya.
indra penciuman Atika segera merespon dan menyampaikannya ke otak. Antika merasa familiar dengan bau itu. Kilasan balik tentang seseorang yang membekap mulutnya tiba-tiba melintas di kepala gadis itu.
Jantung Antika memompa sangat cepat hingga membuat dadanya terasa sesak. Tangan yang semula memegangi perut kini beralih ke dada. Ia berusaha mencengkram bajunya. Antika merasa panik dan ketakutan. Antika yang menahan sakit perutnya kini bertambah rasa sakit itu.
"Nona, apakah kamu baik-baik saja?"
Kepala Antika mendadak berdenyut. Antika memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Ia meremas rambutnya. Suara pemuda itu muncul kembali. Suara seseorang yang selalu memujinya. Sakit di kepala sekolah akan meledak rasanya membuatnya tak mampu menahan dan berteriak.
"Aaarrghhh!"
Teriakan Antika memicu langkah Aldri menjadi lebih cepat. Pria itu diserang panik.
"Tika!" Aldri mendekati Antika, tetapi gadis itu seolah-olah ketakutan.
"Ada apa ini?" Aldri bertanya kepada wanita yang sedang bersama Antika.
"Maaf aku tidak tahu. Gadis ini tiba-tiba saja berteriak saat aku mendekatinya."
Aldri mencoba mendekati Antika. Namun, lagi-lagi gadis itu menampik dan berteriak ketakutan. Melihat ada beberapa orang yang mulai datang. Aldri terpaksa memeluk Antika. Gadis itu meronta-rontahi hingga akhirnya jatuh pingsan.
"Tika!" Aldri segera menggendongnya keluar dari tempatnya saat ini. Wajah-wajah penuh tanya orang-orang yang dilewati sama sekali tak ia pedulikan. Aldri membawa Antika menuju ke mobilnya dan mendudukkan gadis itu.
Tubuh Antika terasa dingin dipenuhi peluh. Aldri mengusap peluh diwajah Antika. Entah apa yang terjadi pada istrinya. Aldri merasa semua ada hubungannya dengan trauma yang Antika alami.
Tangan Aldri membelai lembut kening Antika. Tanpa ia sadari bulir bening meleleh di pipinya.
"Maafkan aku, Tika. Maafkan aku, sayang." Aldri membelai kepala Antika dan mencium keningnya.
Aldri memakaikan sabuk pengaman ke tubuh Antika. Ia gegas keluar mobil dan berpindah ke kursi pengemudi. Ia segera melajukan mobilnya menuju rumah. Dalam benak Aldri dipenuhi tanda tanya. Apa yang menjadi penyebab Antika seperti saat ini.
Aldri menghela nafas frustasi. Semakin dipikirkan makin sungguh pikirannya. Ingin rasanya dirinya bertanya langsung kepada Antika, tetapi khawatir akan menambah ketakutannya.
"Al, apa yang terjadi, Nak? Ada apalagi ini?" kecemasan Indira sangat beralasan. Kejadian seperti ini mengingatkan kembali petaka malam itu.
"Saya juga tidak tahu, Bu. Tadi sewaktu saya tinggal ke minimarket dia baik-baik saja. Tapi saat kembali Saya dengar Tika berteriak. Lalu saat saya dekati ia seperti ketakutan dan jatuh pingsan.
Aldri perlahan meletakkan Antika di kasur. Ia duduk di tepi ranjang dan memperhatikan istrinya.
"Saat tidur seperti ini dia benar-benar kelihatan damai. Hidup nya sungguh malang. Saya tidak tega melihatnya ketakutan dan berteriak seperti tadi, Bu. Rasanya menyesal sudah mengajaknya keluar. Seandainya dia di rumah..."
"Al, jangan bicara seperti itu, Nak. Tidak perlu menyesali yang sudah terjadi. Apa kamu tidak melihat betapa bahagianya Tika saat pergi tadi?"
"Bahkan dia mengajak Ibu belanja tadi siang hanya untuk pergi berkencan denganmu. Tolong jangan sampai dia semakin terpuruk dengan kesedihan hanya karena alasan ingin menjaganya, tapi malah seolah kita mengurungnya."
Aldri memandang ibunya dan tersadar. "Ibu benar. Saya bisa melihat kebahagiaan itu. Maafkan aku, Bu."
"Ibu sangat mengerti perasaanmu, Nak. Ibu pun sama merasa bersalah dan menyesal. Tapi nasi sudah menjadi bubur menyesal pun tidak ada gunanya. Yang terpenting saat ini kita harus bisa menjadi obat untuk menyembuhkan luka dan trauma Antika." Aldri hanya mampu mengangguk.
"Pergi! Jangan sentuh Tika! Jangan!"
Aldri dan Indira terbangun dari tidurnya. Keduanya memutuskan tidur di kamar Antika dan menemani gadis itu. Sekali lagi mereka harus melewati malam yang sama. Antika mengigau dalam mimpinya karena demam tinggi.
"Tika sadar lah, Nak." Indira mencoba menyadarkan Antika. Panas badannya semakin naik. Namun, keringat bercucuran dari kening gadis itu.
"Ibu, apa kita bawa ke rumah sakit aja?"
"Kita tunggu esok hari saja, Al. Tadi juga kamu sudah menghubungi Vino kan? Ibu juga khawatir kondisinya menurun, tapi Vino bilang hal ini wajar terjadi. Kita lihat saja perkembangannya sampai besok, ya?"
"Baik Bu."
Di tengah malam yang dingin hujan turun dengan deras. Alam seakan-akan turut serta merasakan kesedihan hati Aldri. Pria berbadan tegap itu tak mampu memejamkan matanya kembali. Ia memilih duduk di samping tempat tidur Antika dan memandangi wajah gadis itu.
Tika, seandainya waktu dapat diputar kembali. Aku rela melepasmu bersama orang yang kamu cintai asalkan kamu bahagia. Tapi bukan lelaki brengsek yang tega menghancurkan masa depan mu.
Aldri menggenggam tangan Antika dan mengecup punggung tangan gadis itu. Berulang kali Aldri mengusap peluh di kening Antika dan mengecek suhu badannya. Menjelang adzan shubuh matanya tak mampu menahan kantuk. Aldri tertidur dengan posisi duduk sambil menggenggam tangan Antika.
Kepala Antika bergerak ke kanan dan ke kiri. Ia seperti sedang mengalami mimpi buruk. Deras keringat mengucur dari keningnya. Matanya terbuka dan spontan duduk terbangun. Napasnya ngos-ngosan sekolah ku punya usai berlari maraton. anti kah mulai tersadar dan menatap sekitar.
Sepasang mata Antika menangkap sosok tubuh yang tertidur lelap sambil menggenggam tangannya. Seulas senyum terbingkai di bibir mungilnya. Ketika hendak mengelus kepala Aldri,
"Tika, kamu sudah sadar, Nak?" Antika tersenyum dan mengangguk. Indira mengalihkan pikirannya.