Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.
Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.
Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.
Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.
Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.
Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.
Dan apinya... baru saja mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: MEMBANGUN KEMBALI CIKABUYUTAN
Asap hitam perlahan hilang terbawa angin sore, menyisakan bau hangus yang masih menggantung di udara Cikabuyutan. Hati terasa perih melihat tiang kayu menghitam, atap jerami jadi abu, dan gubuk tempat berkumpul kini rata dengan tanah. Namun di balik kehancuran itu, satu hal belum padam: semangat untuk tetap hidup.
Sejak fajar warga sudah bangun lebih awal. Tak ada lagi teriakan ketakutan atau denting senjata, yang terdengar hanya suara kapak membelah kayu, batu yang digeser, dan percakapan pelan saling menguatkan. Mereka bekerja bahu-membahu tanpa membeda-bedakan nasib. Bapak yang masih punya kayu di kebun membagikannya, ibu yang berasnya tinggal sedikit menakarnya adil untuk anak-anak yang belum makan sejak kemarin.
Mbah Suryanata ikut mengangkat sepotong papan sambil berkata lantang namun lembut.
“Urang silih rojong, silih geuingkeun.”
Kata-kata itu meresap ke dalam hati. Perlahan gubuk sederhana mulai berdiri kembali, meski belum sekuat dulu. Lahan yang sempat terbengkalai kini dibersihkan dari puing untuk ditanami padi dan palawija. Anak-anak membantu memunguti batu, perempuan menenun atap dari daun kelapa, pemuda menarik balok kayu dari sungai. Setiap hari ada perubahan kecil yang menumbuhkan harapan kembali.
Namun di hari keempat, harapan itu mulai retak.
Pagi itu Nyi Yati datang berlari ke balai kampung dengan wajah pucat, napas tersengal dan kerudung berantakan.
“Anakku, Dira, hilang sejak semalam! Aku cari ke rumah teman, ke sawah, tak ada satu pun tahu!”
Seketika pekerjaan terhenti. Para pemuda langsung berpencar memanggil nama Dira ke arah hutan, sungai, dan gubuk kosong. Bayu dan Karta ikut mencari sampai ke pinggir Wana Kelor.
Di tepi Sungai Cikaret, sekitar setengah jam dari kampung, mereka menemukan jejak yang membuat darah Bayu dingin. Di lumpur basah terlihat bekas tapak kaki, bukan sandal bambu warga. Jejaknya banyak dan mengarah ke timur—ke arah Kadipaten Ciaruteun. Di sampingnya ada potongan tali ijuk dan noda kecokelatan yang sudah kering.
Karta berjongkok menyentuh tanah itu.
“Ini jejak prajurit, Kang. Sepatu prajurit. Dan lihat ini...” ia mengangkat sehelai kain merah kecil. “Ini ikat kepala Dira.”
Warga yang ikut mencari langsung gempar.
“Mereka balik lagi? Padahal Jaka Wiradipa sudah kita beri peringatan!”
“Apa mereka mau balas dendam? Atau mengambil anak-anak sebagai jaminan pajak?”
Mbah Suryanata datang menyusul, wajah keriputnya mengeras menahan kesal. Ia menatap jejak itu lama, lalu menghela napas panjang.
“Tenang dulu. Kita belum tahu pasti. Tapi satu hal jelas: mereka belum berhenti mengawasi kita.”
Pencarian berlanjut sampai sore namun tak membuahkan hasil. Menjelang sore, seorang penggembala memberi kabar melihat anak laki-laki digiring dua orang bersenjata ke jalan besar, mulutnya ditutup kain. Tak ada yang berani menolong karena takut.
Malam itu kampung kembali diliputi cemas. Api unggun dinyalakan lebih banyak, ronda diperketat. Ibu ibu memeluk anaknya dengan erat, para pria berjaga dengan bambu runcing. Semangat membangun yang tadi menyala, kini bercampur amarah dan ketakutan baru.
Di bawah pohon beringin, Bayu duduk diam menatap sungai yang gelap. Suara jangkrik yang biasanya menenangkan kini terasa menusuk. Karta duduk di sampingnya, ikut bungkam.
“Selama mereka masih berkuasa di Ciaruteun, kita tak akan pernah benar-benar bebas,” ucap Bayu pelan namun berat.
“Kita bisa bangun seratus gubuk, tanam seribu padi. Tapi kalau satu anak bisa mereka ambil semudah itu, semua kerja keras tak ada artinya.”
Karta mengepalkan tangan erat.
“Lalu kita diam saja, Kang?”
“Tidak,” jawab Bayu tegas. “Kita tak diam. Tapi tidak dengan menyerang membabi buta. Kita harus ke sumbernya.”
Kejadian itu membuat semua warga sadar. Masalah Cikabuyutan bukan sekadar gubuk terbakar, melainkan aturan besar yang mencekik mereka perlahan.
Beberapa hari kemudian seorang pedagang lewat membawa kabar yang makin memberatkan hati.
“Kabarnya Bupati Ranga Sasmita memerintahkan pajak naik dua kali lipat musim panen nanti. Alasannya demi keamanan, padahal semua tahu hanya untuk mengisi lumbung pribadi.”
Berita itu menyebar cepat. Wajah yang mulai cerah kembali muram. Bagaimana memberi lebih banyak jika hasil panen pun sering tak cukup makan? Apalagi kini nyawa anak-anak ikut terancam.
Malam itu Bayu memanggil Mbah Suryanata dan Karta di pinggir hutan.
“Mbah, Kang... aku senang melihat warga bangkit lagi. Tapi hatiku tak tenang. Kita hanya mengobati luka, belum menyentuh penyakitnya. Dan sekarang mereka sudah berani menyentuh anak-anak kita.”
Mbah Suryanata mengangguk pelan.
“Kau benar, Bayu. Kekejaman tak akan berhenti kalau hanya didiamkan. Apa rencanamu?”
“Aku akan ke Kota Raja,” jawab Bayu mantap. “Ingin mencari berita dari mana perintah itu datang, dan mencari cara menghentikan dari akarnya, tanpa harus saling menumpahkan darah.”
Belum selesai bicara, Karta langsung menepuk pundak kakaknya.
“Kalau kau pergi, aku ikut! Jangan pernah berpikir berjalan sendirian. Sejak kecil kita janji tak berpisah. Siapa lagi yang menjaga punggungmu kalau bukan aku? Sekalian kita cari di mana Dira disembunyikan.”
Keesokan paginya Bayu berkumpul dengan seluruh warga di bawah beringin, menyampaikan niatnya dengan jujur.
“Saudara sekalian... aku tahu kita sedang berusaha bangkit. Tapi beban akan makin berat, dan nyawa kita tak akan aman selama ketidakadilan masih berkuasa. Izinkan aku pergi ke pusat pemerintahan, mencari jalan agar keadilan benar-benar ditegakkan—bukan hanya untuk kita, tapi semua kampung yang bernasib sama.”
Suasana hening sejenak. Beberapa ibu menahan tangis, bapak saling pandang ragu. Lalu Embah maju ke depan dan berbicara lantang.
“Hayu urang dukung anjeunna.”
Damai tak datang dari diam. Bayu pergi bukan mencari kuasa, tapi mencabut akar kejahatan. Doakan dia, semoga selamat dan membawa pulang keadilan serta Dira.
Kekhawatiran perlahan berubah jadi dukungan. Ada yang memberi bekal makanan, air, kain pelindung. Nyi Yati datang membawa selendang kecil milik anaknya.
“Kalau kau bertemu Dira... tolong berikan ini. Bilang ibunya selalu menunggu.”
Bayu menerimanya dengan hormat, menyimpannya rapi di dalam bungkusan.
Siang itu persiapan selesai. Busur dibungkus kain agar tak mencolok, tujuh anak panah disimpan di wadah kulit, pisau terselip rapi di pinggang. Mereka melangkah dengan santai, tak ingin menarik perhatian orang orang di perjalanan.
Sebelum masuk ke hutan, Bayu menoleh sekali lagi. Melihat gubuk gubuk yang mulai berdiri, sawah yang dibersihkan, dan wajah-wajah yang memandang penuh harap. Dalam hati ia berjanji akan kembali membawa perubahan.
“Jaga kampung baik-baik sampai kami pulang.”
“Muga Gusti ngajaga jalan anjeun,” jawab Mbah Suryanata sambil menepuk bahunya.
Dengan langkah mantap mereka masuk ke Wana Kelor. Pepohonan rindang menaungi perjalanan yang baru dimulai. Di depan sana ada Kota Raja—tempat penuh kuasa, intrik, dan bahaya tak terlihat. Namun hati mereka tenang, melangkah dengan niat tulus, membawa doa seluruh warga, dan janji untuk membawa pulang apa yang sempat direnggut.