Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Hari-hari berganti minggu, namun sikapku tak pernah berubah. Sejak hari itu, aku sadar betul bahwa membuktikan kesungguhan bukanlah pekerjaan yang selesai dalam sekejap, bukan pula hal yang cukup dilakukan satu atau dua kali saja.
Ini adalah jalan panjang yang menuntut konsistensi, kesabaran tanpa batas, dan ketulusan yang tak luntur meski diuji waktu.
Aku masih datang ke kafe ini setiap hari, seperti kebiasaan yang tak pernah putus. Namun kini, kehadiranku memiliki makna yang jauh lebih dalam. Aku tak lagi datang hanya untuk sekadar melihatnya, atau sekadar mengisi waktu luang.
Aku datang dengan satu tujuan menjadi bukti, menjadi kehadiran yang bisa diandalkan, menjadi alasan agar perlahan rasa takut di hatinya itu mulai hilang.
Aira masih sama. Dinginnya masih terasa. Jarak yang ia bangun masih kokoh berdiri. Ia masih sering menatapku dengan pandangan yang waspada, seolah setiap gerak-gerikku sedang diawasi dan dinilai dengan sangat teliti.
Ia masih jarang tersenyum, masih menjawab seperlunya saja, dan masih menempatkan diri pada posisi yang aman, tak mau terlalu dekat namun juga tak lagi menjauh sekeras dulu.
Aku mengerti. Aku paham betul. Ia sedang menunggu celah. Ia sedang menunggu saat di mana aku mulai lelah, saat di mana aku mulai berubah, saat di mana aku mulai bosan dan pergi seperti orang-orang lain di masa lalunya.
Dia menguji batas kesabaranku, sengaja atau tidak, karena baginya... hanya waktu yang bisa menjawab apakah kata-kataku dulu benar-benar jujur atau sekadar janji manis belaka.
Dan aku... aku biarkan saja. Aku malah bersyukur ia begitu berhati-hati. Itu artinya ia tak mudah menyerahkan hatinya sembarangan, dan itu membuatku makin yakin bahwa apa yang kuperjuangkan ini sangat berharga.
Aku tak akan membantahnya, aku tak akan memaksanya, aku hanya akan terus melakukan apa yang harus kulakukan, berulang kali, hari demi hari, sampai ia sendiri yang lelah menguji dan mulai percaya.
Pagi itu, seperti biasa, aku datang membawa bekal sarapan dan minuman hangat kesukaannya. Aku tahu ia sering melewatkan makan pagi karena harus bersiap dan berangkat lebih awal, dan aku tahu perutnya sering kali terasa perih karenanya.
Saat aku meletakkan bungkusan itu di meja kasir, Aira hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk mengatur catatan di depannya.
"Kataku jangan repot-repot," ucapnya datar, tanpa menatapku.
"Aku bisa beli sendiri kalau lapar."
Suaranya dingin, nada bicaranya seolah menolak kebaikanku. Namun aku tak tersinggung, tak pula mundur. Aku sudah mendengar kalimat yang sama ini hampir setiap hari belakangan ini.
Aku tersenyum tipis, duduk di kursi biasa dengan jarak yang cukup aman agar ia tak merasa terganggu.
"Aku tahu kamu bisa beli sendiri," jawabku tenang, suaraku rendah dan wajar.
"Tapi aku lewat warung itu, sekalian saja. Lagian makan yang ini lebih sehat, nanti kamu sakit lagi siapa yang repot?"
Kalimat itu sederhana, tak ada nada menggurui, tak ada nada mengharap balasan. Aku bicara seolah itu hal yang paling wajar dan biasa saja untuk kulakukan.
Aira diam. Ia tak membalas lagi. Ia hanya menatap bungkusan itu lama sekali, sebelum akhirnya perlahan mengambilnya dan mulai membukanya pelan. Di matanya yang ia coba sembunyikan, aku bisa melihat kilatan kebingungan.
Dia bingung mengapa aku tak pernah marah saat ditolak, bingung mengapa aku tak pernah berhenti meski sering diacuhkan, bingung mengapa aku tetap ada di sana meski ia bersikap seolah tak butuh siapa-siapa.
Siang harinya, hujan turun lagi. Kali ini lebih deras, disertai angin yang cukup kencang. Di kafe itu, atap di salah satu sudut ruangan ternyata bocor, membuat lantai menjadi basah dan licin.
Aira terlihat panik, ia sibuk mengambil ember dan kain lap sendiri, berusaha menampung air dan mengelap lantai yang makin meluas basahnya. Ia terlihat kewalahan, pakaiannya sedikit terkena cipratan air, wajahnya tampak cemas takut ada pelanggan yang tergelincir.
Tanpa disuruh, tanpa menunggu ia meminta bantuan, aku segera beranjak dari tempat dudukku. Aku mengambil alat kebersihan lain, lalu langsung turun tangan. Aku menempatkan ember di titik bocor, menggeser meja dan kursi agar aman, dan mengelap lantai dengan cepat dan teliti. Aku melakukan semuanya dengan tenang, cekatan, dan tak banyak bicara.
Aira sempat berhenti sejenak, berdiri diam mematung melihatku yang sibuk bergerak mengurus semuanya. Ia terkejut karena aku begitu sigap, terkejut karena aku seolah tahu persis apa yang harus dilakukan tanpa perlu diberi tahu.
"Kamu duduk saja sana," ucapku pelan saat melihatnya masih berdiri bingung di dekatku, tanganku terus bergerak mengelap sisa air.
"Lantainya licin, nanti kamu jatuh. Biar aku saja yang bereskan ini."
"Tapikan itu tugas aku..." jawabnya pelan, nadanya terdengar sedikit ragu.
"Aku tahu. Tapi kan lagi hujan deras, kamu sendirian berat. Sekalian aku bantu, biar cepat beres," jawabku santai, sambil tersenyum sekilas ke arahnya, lalu kembali fokus bekerja.
Setelah semuanya rapi dan aman, aku kembali ke kursiku, mengeringkan sedikit bajuku yang terkena air, dan bersikap seolah tak ada hal besar yang baru saja terjadi. Aku tak mencari pujian, aku tak menunggu ucapan terima kasih.
Bagiku, membantu meringankan bebannya adalah kewajiban kecil yang tak perlu dibesar-besarkan.
Namun Aira tak kembali ke pekerjaannya secepat biasanya. Ia berdiri di balik meja kasir, menatapku lekat-lekat cukup lama. Pandangannya yang biasanya dingin dan tajam, hari ini sedikit berubah. Ada rasa heran yang makin besar di sana, ada rasa takjub yang samar mulai menyelinap.
Sore menjelang malam, saat kafe mulai sepi dan hampir tutup, Aira harus memindahkan beberapa kotak barang yang cukup berat ke ruang penyimpanan di belakang. Ia berusaha mengangkatnya sendiri, wajahnya menegang menahan beban, napasnya sedikit memburu. Ia tak memanggilku, ia berusaha keras melakukan semuanya sendiri, seolah prinsipnya adalah tak mau bergantung pada siapa pun.
Aku kembali bergerak mendekat, namun kali ini aku tak langsung merebut barang itu darinya. Aku berjalan pelan, lalu berdiri di sampingnya.
"Berat itu, Ra," ucapku lembut namun tegas.
"Biar aku yang angkat. Kamu tunjukkan saja letaknya di mana."
"Enggak usah, aku bisa..." jawabnya cepat, berusaha menolak lagi.
Aku menggeleng pelan, tanganku perlahan menyentuh sisi kotak itu, namun tak memaksanya.
"Aku tahu kamu bisa. Kamu selalu berusaha bisa sendiri. Tapi kamu nggak harus selalu kuat sendirian, Ra. Ada aku di sini. Biarkan aku yang bantu angkat yang berat-berat, biarkan aku yang ambil bagian beratnya. Kamu cukup bimbing saja aku."
Kalimat itu keluar begitu saja, tulus dari dalam hati. Aku tak bermaksud merendahkannya, aku hanya ingin ia tahu bahwa ia tak perlu menanggung segalanya sendirian. Bahwa ada aku yang siap menjadi sandaran kapan pun ia mau.
Aira diam. Tangannya perlahan melepaskan genggamannya pada kotak itu. Ia menatapku dalam-dalam, lama sekali, seolah sedang mencoba membedah isi hatiku lewat tatapan mataku.
Di matanya itu, aku bisa melihat betapa sulitnya ia menerima kebaikan ini, betapa sulitnya ia percaya bahwa ada orang yang benar-benar ikhlas ingin meringankan bebannya tanpa pamrih.
Ia akhirnya mengangguk pelan, membiarkanku mengangkat kotak-kotak itu ke belakang. Sepanjang aku berjalan, aku bisa merasakan matanya yang terus mengikuti setiap gerak-gerikku.
Malam itu, saat aku berpamitan pulang, langit sudah gelap dan jalanan masih agak basah bekas hujan. Aira berdiri di dekat pintu keluar, menatapku yang bersiap melangkah pergi.
"Arjun..." panggilnya pelan, tepat saat aku hendak berbalik.
Aku berhenti, menoleh, menatapnya dengan penuh perhatian.
"Ya?"
Ia terdiam sejenak, menggigit bibir bawahnya ragu, lalu menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan. Dinginnya belum hilang sepenuhnya, namun ada sesuatu yang berubah. Ada rasa penasaran yang makin besar, ada rasa yang mulai terguncang di balik pertahanan tingginya.
"Kamu... nggak capek ya?" tanyanya pelan, suaranya hampir hilang terbawa angin malam.
"Tiap hari begini. Tiap hari ngehadapin aku yang begini. Tiap hari ngelakuin hal-hal ini, padahal aku nggak pernah ngucapin terima kasih, padahal aku masih dingin, masih curiga sama kamu. Kamu nggak capek nunggu? Nggak capek berjuang sendirian kayak gini?"
Pertanyaan itu sederhana, namun begitu dalam maknanya. Itu adalah pertanyaan yang pasti sering ia tanyakan pada dirinya sendiri. Itu adalah pertanyaan yang menjadi ujian terbesar bagiku.
Aku tersenyum, senyum paling tulus yang kumiliki malam itu. Aku melangkah selangkah mendekat, cukup dekat agar ia bisa merasakan ketenanganku, namun tetap menjaga batas yang ia inginkan.
"Capek itu ada, Ra. Manusia biasa kan aku," jawabku jujur, tak berusaha terlihat sempurna.
"Tapi rasa capek itu kalah sama satu hal. Rasa takut kehilangan kamu jauh lebih besar daripada rasa capekku. Dan rasa ingin bikin kamu percaya, rasa ingin bikin kamu lupa sama rasa sakit dulu... itu jauh lebih berat nilainya daripada rasa lelahku."
Aku menatap matanya lekat-lekat, menanamkan setiap kata itu dalam-dalam.
"Aku udah bilang, kan? Aku bakal buktiin. Dan bukti itu nggak ada matinya, Ra. Selama kamu belum percaya, selama kamu belum yakin... aku bakal tetap begini. Sama. Nggak berubah. Mau kamu dingin, mau kamu curiga, mau kamu uji aku kayak apa pun... aku bakal tetep ada di sini. Karena buat aku, kamu sepadan sama segala usaha dan waktu yang aku punya."
Aira terdiam. Matanya mulai berkaca-kaca lagi, namun kali ini bukan air mata kesedihan atau ketakutan. Ada sesuatu yang lain di sana. Ada rasa haru yang perlahan mulai menyusup masuk lewat celah pertahanan hatinya yang mulai retak sedikit demi sedikit.
Ia tak menjawab apa-apa lagi. Ia hanya mengangguk pelan, lalu membuang muka agar aku tak melihat genangan air mata itu jatuh.
Aku pun berbalik melangkah pulang dengan hati yang tenang. Aku tahu, hari ini aku belum memenangkan hatinya sepenuhnya. Aku tahu, ia masih butuh waktu lama.
Tapi aku juga tahu satu hal pasti: hari ini, ada satu bata lagi yang runtuh dari tembok tinggi yang ia bangun. Hari ini, sedikit lagi ia mulai mengerti... bahwa kesungguhan itu nyata, dan ketulusan itu ada.