NovelToon NovelToon
PERMAINAN TAKDIR

PERMAINAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:134
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

Ada pertemuan yang terjadi karena kebetulan.

Ada pula pertemuan yang telah direncanakan jauh sebelum kedua insan itu saling mengenal.

Aluna tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya akan berubah sejak malam ketika ia bertemu seorang pria asing bernama Niel.

Di balik sosok pria yang tampak tenang itu, tersimpan rahasia yang mampu mengubah hidup banyak orang.

Namun, Niel bukan satu-satunya yang menyimpan masa lalu.

Ketika satu demi satu kebenaran terungkap, keduanya menyadari bahwa mereka bukan sekadar dipertemukan oleh takdir.

Mereka adalah bagian dari Permainan Takdir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan di Tengah Malam

Malam itu, hujan telah benar-benar reda.

Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya di atas aspal yang masih basah. Aluna baru saja tiba di rumah ketika ponselnya kembali bergetar.

Pesan dari nomor yang belum ia simpan masih terpampang di layar.

Sudah sampai rumah, kabari aku.

Aluna menggigit bibir bawahnya pelan.

"Dia... dapat nomor ponselku dari mana?"

Ia mengingat kembali kejadian sore tadi.

Saat membayar buku, Niel sempat meminta nomor toko buku dengan alasan jika ada buku baru yang ingin ia cari. Mungkin tanpa sadar, Siska memberikan nomor pribadi Aluna yang memang digunakan sebagai kontak toko.

Aluna menggeleng kecil sambil tertawa.

"Orang ini benar-benar..."

Jarinya mulai mengetik balasan.

Sudah sampai. Terima kasih sudah mengingatkan.

Tak sampai sepuluh detik...

Ponselnya kembali bergetar.

Syukurlah. Istirahat yang cukup.

Aluna tersenyum tipis.

Entah kenapa, hanya membaca pesan singkat itu saja sudah cukup membuat suasana hatinya membaik.

Namun ia buru-buru meletakkan ponselnya di atas meja.

"Aluna, sadar."

"Baru kenal tiga hari."

"Masa sudah senyum-senyum begini."

Ia menepuk pelan kedua pipinya sendiri sebelum berjalan menuju kamar.

Di sisi lain.

Niel masih duduk di kursi belakang mobil.

"Tuan."

Suara Darren memecah keheningan.

"Ya."

"Sepertinya Anda sedang menunggu balasan pesan."

Niel melirik Darren melalui kaca spion.

"Kelihatan?"

"Sedikit."

Niel mengembuskan napas pendek.

"Aneh."

"Apa yang aneh, Tuan?"

"Aku bahkan tidak pernah menunggu pesan siapa pun."

"Tapi sekarang?"

"...Aku menunggu."

Darren tersenyum tipis.

"Ternyata benar."

Niel mengernyit.

"Benar apa?"

"Tuan sedang berubah."

Niel tidak membantah.

Ia hanya kembali melihat layar ponselnya.

Beberapa detik kemudian...

Layar itu menyala.

Sudah sampai. Terima kasih sudah mengingatkan.

Tanpa sadar, Niel tersenyum.

Senyum kecil yang bahkan membuat Darren ikut menggeleng pelan.

Kalau anak buah di kantor melihat Tuan sekarang... mungkin mereka tidak akan percaya.

Keesokan paginya.

Aluna datang lebih awal ke toko buku.

Ia masih sibuk menyapu lantai ketika Siska datang sambil membawa dua gelas kopi.

"Pagi!"

"Pagi."

Siska menyerahkan satu gelas kepada Aluna.

"Nih."

"Wah, makasih."

Siska memperhatikan wajah sahabatnya dengan saksama.

"Kamu kelihatan beda."

"Beda apanya?"

"Lebih cerah."

Aluna langsung tertawa.

"Kamu lebay."

"Hayo ngaku."

"Nggak ada apa-apa."

Siska menyilangkan tangan.

"Semalam chatting sama Niel ya?"

Aluna yang sedang minum kopi langsung tersedak.

"Kamu tahu dari mana?"

"Nah, ketahuan!"

Aluna memukul pelan bahu sahabatnya.

"Ih, Siska!"

Siska tertawa puas.

"Aku cuma nebak."

Aluna hanya bisa menghela napas pasrah.

"Dia cuma nanya aku sudah sampai rumah atau belum."

"Wah..."

Siska mengangguk-angguk sambil tersenyum usil.

"Perhatian juga."

"Nggak usah mulai."

"Kalau aku sih senang."

"Kenapa?"

"Karena baru kali ini aku lihat ada cowok yang bikin kamu salah tingkah."

Pipi Aluna kembali memerah.

Sementara itu...

Di kantor, Niel baru saja menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dari biasanya.

Darren masuk membawa beberapa berkas.

"Tuan, semuanya sudah selesai ditandatangani."

"Terima kasih."

"Masih ada satu agenda lagi sore ini."

Niel mengangkat pandangannya.

"Apa?"

"Kunjungan ke cabang baru."

Niel berpikir sejenak.

"Besok saja."

Darren hampir tertawa.

"Baik, Tuan."

Ia tidak perlu bertanya alasan perubahan jadwal itu.

Jawabannya sudah sangat jelas.

Menjelang sore.

Bel pintu toko kembali berbunyi.

Aluna yang sedang membantu seorang pelanggan spontan menoleh.

Dan seperti yang ia duga...

Niel kembali datang.

Namun kali ini, ia tidak datang dengan tangan kosong.

Di tangannya terdapat sebuah kantong kertas kecil.

"Halo."

"Halo."

Niel meletakkan kantong itu di atas meja kasir.

"Ini untukmu."

Aluna tampak bingung.

"Apa ini?"

"Silakan dibuka."

Dengan perlahan, Aluna membuka kantong tersebut.

Di dalamnya terdapat sebuah pembatas buku berbahan kayu yang diukir sangat indah.

Bentuknya sederhana, tetapi elegan.

Di bagian atasnya terdapat ukiran bunga lavender.

"Bagus sekali..."

Aluna mengusap permukaan kayu itu dengan hati-hati.

"Kamu beli?"

Niel menggeleng.

"Aku melihatnya kemarin."

"Lalu?"

"Aku merasa... benda itu cocok untukmu."

Aluna menatap Niel beberapa saat.

"Kenapa?"

"Karena setiap kali membaca buku, kamu selalu melipat ujung halamannya."

Aluna membelalakkan mata.

"Kamu memperhatikan itu?"

Niel mengangguk pelan.

"Aku bilang, kan?"

"Aku mengingat hal-hal yang menurutku penting."

Jantung Aluna kembali berdebar.

Ia menggenggam pembatas buku itu erat-erat.

"Terima kasih."

"Ini hadiah pertama yang pernah diberikan seseorang kepadaku."

Niel tersenyum tipis.

"Kalau begitu... semoga kamu menyukainya."

Mereka saling menatap beberapa detik.

Tanpa mereka sadari...

Di luar toko, seorang pria yang kemarin memotret mereka kembali berdiri di balik pohon besar.

Ia mengangkat kameranya sekali lagi.

Klik.

Foto Niel yang sedang tersenyum kepada Aluna kembali terekam.

Pria itu lalu mengambil ponselnya dan mengirimkan foto tersebut kepada seseorang.

Tak lama kemudian, sebuah balasan masuk.

"Terus awasi mereka. Jangan bertindak sebelum aku memberi perintah."

Pria itu menyeringai tipis.

"Baik."

Tatapannya kembali tertuju ke arah toko buku.

"Kita lihat... sampai kapan kebahagiaan itu bertahan."

__________________________________________

Lanjutan

Setelah memberikan pembatas buku itu, Niel tidak langsung pergi.

Keduanya duduk di sudut baca toko, ditemani secangkir kopi hangat yang dibuat Aluna.

Suasana terasa begitu tenang.

"Terima kasih untuk kopinya," ucap Niel.

Aluna tersenyum.

"Sebagai balasan karena kamu memberiku hadiah."

Niel mengangguk pelan sebelum pandangannya jatuh pada pembatas buku yang kini berada di tangan Aluna.

"Kamu suka?"

"Sangat."

Aluna mengusap ukiran bunga lavender itu dengan hati-hati.

"Aku akan memakainya setiap kali membaca."

Tanpa sadar, sudut bibir Niel kembali terangkat.

Entah mengapa, melihat Aluna bahagia membuat hatinya ikut merasa tenang.

"Kalau suatu hari nanti rusak..."

"Aku akan membeli yang baru."

Aluna tertawa kecil.

"Jangan."

"Kenapa?"

"Karena hadiah pertama itu cuma ada satu."

Ucapan itu membuat Niel terdiam.

Ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan memenuhi dadanya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa kehadirannya benar-benar berarti bagi seseorang.

Tak lama kemudian, Darren masuk ke dalam toko.

"Tuan, waktunya kembali."

Niel melirik jam tangannya.

Ia menghela napas pelan.

"Waktu berlalu cepat."

Aluna tersenyum geli.

"Padahal baru satu jam."

"Buatku terasa sebentar."

Pipi Aluna kembali memerah mendengar kalimat itu.

"Kalau begitu... hati-hati di jalan."

Niel berdiri dan mengangguk.

"Kamu juga."

Sebelum keluar, ia sempat menoleh sekali lagi ke arah Aluna.

"Besok... aku mampir lagi."

Aluna menggeleng kecil sambil tersenyum.

"Kamu benar-benar pelanggan setia."

Niel terkekeh pelan.

"Mungkin... bukan bukunya yang membuatku ingin datang."

Tatapan mereka kembali bertemu sesaat.

Lalu Niel melangkah keluar bersama Darren, meninggalkan Aluna yang masih berdiri di tempatnya dengan senyum yang tak kunjung hilang.

Tanpa disadari keduanya, dari dalam mobil yang terparkir di kejauhan, sepasang mata terus mengawasi setiap langkah mereka, seolah sedang menunggu waktu yang tepat untuk mulai mengubah arah takdir sekali lagi.

— Bersambung —

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!