NovelToon NovelToon
Tertolak Rindu

Tertolak Rindu

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:20.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rahma AR

Perhatian Kian Sakala selalu tercuri pada teman perempuan SMAnya, Wanda Safia yang selalu diperlakukan seperti babu oleh Aditama Hasta.

Wajah lelah dan tertekannya selalu mengusik hati manusiawinya Kian. Tapi sepertinya pertolongannya terhadalp Wanda malah selalu berbuah pahit untuk temannya itu

Semoga suka, ya♡♡♡
Spin off Pesona Cassanova. Tapi bisa dibaca terpisah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mendapat hukuman tambahan

"Anda om mereka?" interogasi Elia sudah dimulai. Dia menatap tenang wajah tak sabar di depannya.

"Ya."

"Semuanya?" Elia sulit percaya. Dia menatap satu persatu siswanya. Wajah wajah mereka cukup berbeda selain yang kembar identik.

"Dylan anak kakak saya. Selain itu kami bersaudara karena hubungan pernikahan dan juga persahabatan kakek buyut," jelas Ezra apa adanya.

Elia terdiam, dia sudah mendengar hubungan mereka dari papanya. Karena orang tua bahkan kakek nenek mereka bersekolah di sini.

"Harusnya orang tua mereka saja yang datang." Helaan nafas Elia terdengar berat. Padahal dia perlu berbicara pada orang tua mereka dari hati ke hati. Perkelahian ini sudah melibatkan banyak siswa dan menimbulkan gap antara dua kubu di sekolah.

"Saya akan menyampaikan pesan anda pada orang tua mereka. Kami punya grup keluarga. Anda tinggal katakan saja."

Hampir saja Elia.mendengus melihat sikap menggampangkan laki laki yang mengaku sebagai om mereka ini.

Menurut penglihatannya, para keponakannya ini tidak terlalu menurut pada omnya.

"Untuk sementara anak anak diskors sambil kami menganalisis akar masalah pertengkaran mereka."

"Skors? Berapa lama, bu?" cetus Alen dengan wajah senang.

Elia menghela nafas sambil memperhatikan para siswanya yang sebagian besar tampak bahagia dengan hukuman ini. Sama saja dengan para siswa yang berada di ruangan sebelah tadi.

"Satu hari. Setelah itu kalian akan melaksanakan bakti sosial di sekolah."

"Bakti sosial seperti apa, bu?" tanya Kian dengan perasaan ngga nyaman. Firasat buruk menyusup dalam pikirannya.

"Kalian akan bergantian membersihkan kamar mandi selama satu minggu."

Baru selesai Elia mengucapkannya terdengar suara mual.

Ezra tertawa pelan.

Gutu ini berani juga.

"Ibu sudah memberikan jadwal pada Aditama dan teman temannya."

"Mereka mau?" ceplos Reyhan ngga yakin.

Elia mengangguk.

"Terpaksa mau. Ingat, satu minggu," tegas Elia berkata.

Terdengar kasak kusuk dengungan penuh penolakan.

"itu pengingat kalo kalian ingin berkelahi lagi seperti tadi." Elia menyadari, anak anak yang dia hadapi sudah dipastikan punya puluhan Art di rumah. Mereka pasti tidak pernah bersinggungan dengan pekerjaan yang dianggap menji-jikan begitu.

Harapan Elia semoga mereka kapok karena selalu membuat keributan dan huru hara di sekolah.

Satu minggu paati akan membuat mereka merasa muak dan tidak akan mau melakukannya lagi di waktu yang akan datang.

"Bagaimana kalo satu hari saja, bu?" Kian menawarkan kesepakatan.

Elia menggelengkan kepalanya.

"Tidak bisa, Kian. Satu hari tidak akan membuat kamu jera. Kalo kalian masih juga berkelahi di sekolah, ibu akan menambahkannya menjadi satu bulan." Dalam hati Elia tertawa melihat ekspresi shock dan ngga terima siswa siswanya. Reaksi Aditama dan teman temannya juga begitu.

Ezra tertawa melihat wajah kecut keponakan keponakan bengalnya. Dalam hati dia salut juga dengan keberanian guru BP ini.

Tidak takut dipecat, ya? batinnya geli.

"Baiklah, kalo begitu anak anak sudah boleh pulang, kan?" tanya Ezra dengan sisa tawa di bibirnya.

"Bentar, pak. Pihak sekolah sedang mendata kerugian yang ditimbulkan akibat perkelahian mereka. Nanti akan saya kirimkan berapa jumlah yang harus ditranfer ke rekening sekolah."

Akibat perkelahian di dua tempat tadi, pot pot beserta bunga hancur, lemari kaca pecah dan rumput rumput mahal di lapangan hancur ngga berbentuk lagi.

"Om Ezra, tidak bisa begitu. Kani belum setuju yang satu minggu. Minta keringanan, bu," mohon Gio menyela dengan wajah memelas.

"Kalian bisa bergantian melakukannya," jawab Ezra enteng.

"Ngga bisa begitu, Om." Denish kelihatan gusar karena omnya tidak melakukan negosiasi dengan benar. Dia butuh kehadiran maminya sekarang.

"Makanya jangan bertengkar lagi. Ayo pulang. Kalian punya waktu satu hari untuk memikirkan akibat perbuatan bodoh yang sudah kalian lakukan," sergah Ezra ngga mau dibantah. Dia harus segera pergi karena tidak ingin terlambat bertemu klien penting.

"Sebentar Pak Ezra, nomor telpon siapa yang bisa saya hubungi ?" cegah Elia yang merasa diacuhkan ketika Ezra dan murid muridnya bersiap melangkah pergi.

Eza memberikan ponselnya pada Elia.

"Silakan ketik nomor anda."

Dylan dan yang lainnya menatap omnya dengan tatapan merendahkan.

"Maksudnya saya akan mengjrimnya ke nomor anda?" Elia agak enggan mengetikkan nomor ponselnya.

"Ya. Ada masalah?" Ezra agak tersinggung karena guru BP ini menolak mendapatkan nomornya. Padahal nomornya yang ini sangat pribadi. Tidak semua orang bisa mendapatkannya.

Elia ngga punya pilihan.lain selain mengetikkan nomornya. Kemudian mengembalikan ponsel itu pada Ezra.

Ezra menekan nomor itu hingga terdengar suara dering halus dari ponsel yang berada di atas meja.

"Kami permisi," pamitnya yang hanya dianggukkan Elia.

Dia pun berjalan duluan dan diikuti keponakan keponakannya yang melangkah di belakangnya sambil menggerutu.

Ezra membuka pintu dan membiarkan keponakan keponakannya keluar duluan. Ketika Dylan yang terakhir melewati pintu, Ezra menoleh ke arah Elia.

"Kalo anda dipecat karena ini, anda bisa menghubungi saya. Saya suka dengan karakter pemberani anda, bu Elia."

Dylan dan Azka yang sempat mendengar kata kata manis jomblo yang ngga laku laku itu mendengus.

"Ommu sedang merayu guru BP kita," decak Azka yang dianggukkan Dylan.

"Dia benar benar ngga laku." Dylan menatap Ezra dengan tatap kasian.

"Jangan khawatir, Pak Ezra. Saya tidak akan dipecat karena ini."

"Semoga." Ezra menyahut pelan dengan memamerkan lesung.di kedua pipinya. Tapi ketika melihat wajah Dylan membuat senyumnya pupus.

"Jangan mengira aku merayu guru BPmu, ya," sungutnya pelan tapi dengan nada yang penuh tekanan.

Dylan dan Azka meresponnya tatapan datar.

*

*

*

Wanda yang sedang melihat teman temannya dijemur di lapangan menghela nafas panjang.

Dia merasa kasian dengan Kian bersaudara sekaligus takut dengan Aditama. Dia pasti akan bertambah tambah marah dengannya nanti.

Kian, tolong abaikan saja aku, keluhnya dalam hati dengan perasaan sedih.

"Di sini rupanya yang selalu membuat sekolah gonjang ganjing!"

Wanda agak tersentak mendengar suara makian sinis. Azula. Dia mengambil nafas dalam dalam sebelum menoleh pada teman perempuannya yang sedang berkacak pinggang dan menatapnya penuh amarah..Di dekatnya ada beberapa.dayang dayangnya. Raya, Dona dan Richi.

Azula mencengkeram keras dagu Wanda hingga meninggalkan kesan perih karena ujung ujung kukunya melukai dagunya.

"Berani beraninya merayu Kian!" maki Azula geram. Dia heran, apa kelebihan Wanda hingga Kian selalu bersimpati padanya. Selama ini Kian dan csnya yang tampan tampan itu hanya perhatian pada tiga perempuan saja yang merupakan kerabatnya.

Kemudian Azula mendorong keras tubuh Wanda setelah melapaskan cengkeramannya. Punggung gadis itu menabrak tembok hingga terasa nyeri.

Azula.kemudian mengambil tumblernya, membuka tutupnya dan menyiramkannya ke wajah Wanda.

"Itu akan kamu dapatkan kalo masih mencoba mencari perhatian Kian." Setelah mengatakannya Azula pergi bersama dayang dayangnya.

Wanda mengusap wajahnya yang diguyur air sedingin es dengan tangan gemetar. Dia melirik beberapa anak perempuan yang melihat pembulian terhadapnya yang bergerak menjauh. Tidak mau ikut campur, apalagi membantunya.

Dia kesepian di sekolah elit yang ngga pernah dia minta untuk ada di sini. Tapi mama tuan mudanya yang bersikeras memasukkannya ke sini agar menjadi babu anak tunggalnya. Neneknya yang sudah lama mengabdi di rumah Aditama sama sekali tidak pernah menggubris keinginannya untuk pindah ke sekolah lain yang biasa saja.

*

*

*

"Hai, kamu ngga apa apa?"

Sapaan Kian membuat Wanda yang baru keluar dari toilet kaget. Ya, sejak berada di sekolah ini jantungnya selalu ngga pernah bisa berdetak normal. Selalu ada saja yang membuatnya terkejut dan takut.

"Tid tidak apa apa....," jawabnya gugup. Cowo di depannya, tampan dan selalu bersinar terang di matanya. Hanya Kian yang mempedulikannya tapi efeknya malah membuatnya mendapatkan banyak masalah.

"Rambutmu basah. Juga jasmu." Kian menatap kemeja dan jasnya juga yang kotor, hingga tidak bisa dia pinjamkan pada Wanda. Tadi setelah dari ruangan Bu Elia, dia melihat gadis itu keluar dari toilet sambil melamun. Rambut basahnya mengusik instingnya.

Siapa lagi yang membullynya?

"Sebentar lagi kering, kok."

Kian ngga bereaksi apa apa. Bukan itu maksud perkataannya.

"Kian....."

"Ya....?" Keduanya saling beradu pandang. Dada Kian berdebar melihat tatapan penuh keputusasaan itu.

"Maaf.... tadi kamu.... dan saudara saudara kamu harus dijemur....."

Kian tersenyum tipis.

"Laki laki biasa aja dijemur." Dalam hati dia mentertawakan kalimat barusan yang dia ucapkan. Karena saat dijemur tadi dia merasa sangat kegerahan dan ingin hukuman itu cepat berakhir.

"WANDA!"

Terdengar langkah sepatu dengan sol ringan yang berjalan setengah berlari menuju ke arah mereka.

Aditama.

Kian berdecak melihat kedatangannya sedangkan Wanda sudah merasakan lututnya bergetar begitu mendengar suaranya saja.

GREP

Aditama mencekal kasar lengan Wanda.

"Kamu akan mendapat hukuman di rumah!" Setelah melirik Kian sinis, Aditama membawa Wanda pergi bersamanya.

Ketika Kian akan menghalangi, Wanda menggeleng pelan.

"Kamu mau hukuman kita ditambah?!" bentak Aditama menggelegar membuat Kian terdiam.

Dia ngga takut soal harus membersihkan kamar mandi berbulan bulan. Tapi dia akan merasa sangat bersalah dengan kembaran, sepupu dan kerabatnya yang jadi kena hukuman juga gara gara dirinya.

Aditama menyeringai sinis.

"Jangan campuri urusan pribadiku lagi!" sentaknya sebelum pergi bersama Wanda.

Kian menghembuskan nafas kesal. Rahangnya mengeras. Wajah tertekan Wanda mengganggu pikirannya.

Kenapa ada orang yang sangat kasar dengan perempuan, batinnya gusar.

1
Pujierde
aiiish gak malu gitu hidup jadi benalu gak punya harga diri donk gw klo jadi wanda ogah punya suami jadi benalu pada orang tuanya wlo hartanya berjibun
Pujierde
sepertinya perkiraan kamu salah deh soalnya para sepupu yang tengil" itu sudah memicu amarah aditama
Pujierde
ya ampun ngebet banget mw nikah siiiiih kamu masih muda kiaaaaan belum waktunya nikah kamu mw ngasih apa sama istrimu masa jadi benalu orang tua siiiih malu tau sama daddy kamu yg kerja dan mapan dulu baru menikah
Rahmawati
penasaran nanti gimana sikap tama kl tahu Wanda saudaranya
Bunda Keisha
Nasibnya Wanda hampir sama dengan Emely, cuma Emily disayang Papa dan saudara tirinya.. ❤
Pujierde: betul banget bun bedanya saudara tirinya yang sudah jadi istri aaron (klo gak salah) sudah tau dari mereka masih kecil dan papanya emily gak selingkah tapi di jebak sama rekan bisnisnya
total 3 replies
Khey Rachmat
jgn sampe menyesal km panji trs2 belain si anak cengeng... mending jujur aja sihhh
🟡MENTARY
om Erza mempet bu guru
anggita
iklan☝☝like👍
Rahmawati
ternyata daadyy dewa gk sembarangan ngasih ijin nikah, di gembleng dulu biar siap jd kepala keluarga
NurKasih
Jodoh mahesa apakah dlm circle kian cs😄
NurKasih
Moga aja nanti bila tama tahu wanda adik nya tidak membenci wanda lagi dan akan merasa menyesal kerna perlakuan nya yg terlalu jahat, udahlah panji jika isteri mu masih x memaafkan kisah lalu mu tinggalkan saja, lagian sekarang isteri mu selingkuh atas dasar ingin balas dendam..cari la wanita yg bisa menerima masa lalu mu.. Moga tama punya hati baik seperti mu bkn seperti ibunya yg pendendam
falea sezi
nenek nya goblok🤣 si tua bego😒
🟡MENTARY
Keren
🟡MENTARY
Untung Ada Keyra
Susma Wati
pelan -pelan rahasia tentang wanda terbongkar dan aditama mengetahuinya, akan sehancur apakah aditama mengetahuinya rahasia tentang wanda, dan rahasia tentang papa dan mamanya yang ternyata saling selingkuh, tapi kalau mamanya wanda beda ya dia korban dari panji yang memaksa nya memuaskan hasrat bejat nya, kalau merelin mah memang sengaja niat selingkuh, alasan nya mau balas panji, tapi dengan kelakuan merelin apakah aditama akan memaklumi kelakuan ibunya!
Rahmawati
daripada terus ditutupi mending kasih tu aja sih, sudah resikomu panji dibenci sama anakmu sendiri
Lusi Hariyani
semoga aditama th klo wanda adik y
Pujierde
aditama itu dan dia bakalan cari tau siapa wanda semoga aditama tidak semakin membenci wanda ketika mengetahui kebenarannya
Pujierde
kenakan lo klo kamu menghormati nenek sebagai tangan kanan kakek dan nenek kamu tama setidaknya kamu menganggap wanda teman kamu
Pujierde
mantaaaaap 👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!