Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Akhir pekan kali ini, Dinzy dan Luca meluangkan waktu untuk pergi ke panti dimana Dinzy dibesarkan.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh pengasuh panti dan bebera staff lain yang bekerja di panti asuhan tersebut. Dan Dinzy memperkenalkan Luca sebagai calon suaminya kepada pengasuh panti.
"Kami sangat bahagia Pak Luca, terimakasih sudah datang berkunjung dan berbagi kabar bahagia ini kepada kami" ucap pengurus panti.
"Tentu saja kami akan berbagi kabar bahagia ini Bu, mengingat di tempat ini lah Dinzy di besarkan. Dan karena Ibu-ibu semuanya, Dinzy tumbuh dengan baik. Terimakasih Bu"
Semua orang sedang berbahagia saat ini karena mendengar pernikahan Dinzy dan Luca akan segera di langsungkan. Luca juga mengundang semua orang yang ada di panti tersebut untuk datang ke acara pernikahan mereka.
Setelah berbincang dengan pengurus panti, lalu berkeliling panti untuk melihat keadaan sekitar. Luca tidak hanya datang untuk keperluannya, namun juga memutuskan untuk menjadi penyumbang tetap di panti tersebut.
Tentu saja apa yang Luca putuskan membuat Dinzy dan semua orang terkejut. Karena selama ini mereka tidak pernah memiliki penyumbang tetap di panti tersebut.
Apapun yang dilakukan Luca hari ini, benar-benar membuat Dinzy merasa sangat senang. Bagaimana tidak, ia datang seperti sedang melamar anak perempuankepada orangtuanya, lalu dia memutuskan akan menjadi penyumpang tetap di panti tersebut, Dinzy benar-benar merasa bersyukur mengenal Luca.
Setelah semua selesai, Dinzy dan Luca berpamitan untuk segera pulang. Keduanya meninggalkan panti asuhan tersebut dan kembali ke kota.
Dengan jarak cukup jauh, sekitar 4 jam. Mereka datang dengan membawa sopir, karena Luca pun tidak akan sanggup mengemudi sendiri dan menempuh perjalanan 8 jam.
.
.
Beberapa hari berlalu, Dinzy dan Luca sedang disibukkan dengan urusan pernikahannya. Bahkan Dinzy juga belum memberitahukan rencana tersebut kepada teman-temannya di kantor, kecuali Siska.
Siska yang mengetahui hal tersebut, tentu saja merasa bahagia. Dinzy yang dianggap seperti adiknya akan segera memulai kehidupan baru.
"Oke Din, kabarin ya. Nanti aku telepon kamu lagi, aku mau pulang" - Siska
"Oke Mbak, hati-hati ya" - Dinzy
"Oke Dinzy" - Siska
Siska mematikan teleponnya, kemudian ia berjalan menuju parkiran dengan membawa belanjaannya. Saat ia sedang memasukkan belanjaan tersebut, dia begitu terkejut ketika merasa pinggangnya disentuh oleh seseorang.
"Hai sayang" ucap Alvin
DEG!
"Kamu ngapain disini?" tanya Siska
"Makan, lalu gak sengaja lihat kamu. Aku tahu kamu marah"
"Gak perlu di bahas"
"Aku kangen kamu sayang"
"Sorry, aku buru-buru"
Alih-alih bisa meninggalkan Alvin dengan mudah, Siska justru di tarik Alvin hingga ia berada di pelukan pria tersebut.
"Lepasin" ucap Siska
"Ssst! Aku cuma mau peluk tubuh kamu sebentar" ucap Alvin sambil mencium telinga Siska
Tentu saja itu membuat Siska merasa tidak nyaman, karena Alvin melakukannya di tempat umum. Siska juga hawatir seseorang akan melihat mereka.
"Aku tahu kamu juga kangen sama aku"
"Lepasin aku, kamu gak lihat ini tempat umum"
"Oh, mau ke hotel?"
"Gila kamu"
"Siska, aku tahu kamu sangat bi-nal. Kamu pasti sudah ingin aku sentuh kan"
Siska yang mendengar kalimat itu seketika mendorong tubuh Alvin. Kemudian ia segera masuk ke dalam mobil, dan meninggalkan Alvin begitu saja.
"Siska, nanti kamu juga akan datang merengek seperti biasanya" ucap Alvin
Sementara Siska yang masih di selimuti rasa hawatir, dia begitu panik dan mengemudi dengan kecepatan tinggi karena ia hawatir Alvin akan mengikutinya dari belakang.