Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Perang Dingin di Depan Kulkas dan Insiden Mi Instan
Tiga hari pertama sebagai sepasang suami-istri palsu berjalan seperti simulasi bertahan hidup di pulau terpencil. Bedanya, pulau ini punya Wi-Fi dan tagihan listrik yang harus dibagi dua.
Kinar melangkah ke dapur dengan rambut acak-acakan khas singa baru bangun tidur. Perutnya sudah keroncongan minta diisi. Namun, begitu dia membuka pintu kulkas, matanya langsung terbelalak.
Satu kotak susu ultra milk rasa cokelat miliknya—yang baru dibeli kemarin sore dan masih utuh—sekarang tinggal tersisa dua tegukan di dasar kotak. Di sampingnya, ada selembar kertas sticky notes warna kuning terang menempel di rak kulkas.
Susu lo gue minta dikit ya, Nar. Seret banget abis makan kerupuk semalem. Nanti gue ganti pas gajian. - Arga Tampan.
"ARGA!!! LALAT KOPROL! SINI LO SEKARANG!" teriakan Kinar menggema, meruntuhkan keheningan pagi.
Dari arah kamar mandi, Arga keluar sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk. Dia cuma pakai celana pendek santai dan kaos oblong abu-abu. "Apaan sih? Pagi-pagi udah hobi bener ngajak tawuran. Tetangga sebelah bisa budeg, Kinar."
"Ini apaan?!" Kinar mengangkat kotak susu yang sudah sekarat itu tepat di depan hidung Arga. "Gue beli ini pakai uang patungan sisa kembalian beli token listrik kemarin! Dan lo bilang 'dikit'? Ini namanya lo rampok, tahu gak?!"
Arga memutar bolanya malas. "Ya ampun, cuma susu doang. Entar malam gue ganti dua kotak deh, janji. Gak usah lebay, biasanya juga lo sering nyolong bekal ayam goreng gue pas SMA sampai gue cuma makan nasi pakai kecap."
"Itu dulu pas kita masih bebas! Sekarang kita punya undang-undang rumah tangga, Arga! Poin nomor empat: Biaya hidup patungan, gak ada istilah uangmu uangku! Artinya lo gak boleh asal embat logistik gue!" Kinar bersedekap, dadanya kembang kempis menahan dongkol.
"Oke, oke, gue salah. Maaf," Arga mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. Dia tahu kalau meladeni Kinar yang lagi mode lapar sama saja dengan bunuh diri sukarela. "Sebagai gantinya, nih, gue masakin mi instan. Mau kagak?"
Mendengar kata 'mi instan', pertahanan Kinar agak goyah. Bau bumbu mi goreng yang mendadak tercium dari arah kompor memang sangat tidak ramah untuk iman perutnya yang lemah.
"Pakai telur gak?" tanya Kinar, matanya menyipit penuh selidik.
"Pakai. Setengah matang, terus telurnya digoreng agak garing di pinggirnya kan? Selera lo dari zaman purba kan emang begitu," sahut Arga santai sambil membalik mi di wajan.
Kinar tertegun sejenak. Sialan. Cowok ini beneran tahu semua detail kecil tentang dirinya. Rasa kesal Kinar mendadak menguap, digantikan oleh rasa hangat yang aneh di dadanya. Tapi buru-buru dia menggelengkan kepala. Ingat peraturan nomor satu: Dilarang baper!
"Ya udah, buruan. Gue tunggu di meja makan," kata Kinar gengsi, lalu berjalan cepat ke meja makan sebelum mukanya yang mulai memerah ketahuan.
Sepuluh menit kemudian, dua piring mi instan sudah tersaji. Mereka makan dalam keheningan yang cukup damai, sampai akhirnya ponsel Kinar yang diletakkan di atas meja bergetar intens.
Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang sangat Kinar kenal.
Rendi (Mantan): Nar, aku denger kamu udah nikah? Serius? Kok mendadak banget? Kamu gak lagi pelarian gara-gara kita putus bulan lalu kan? Please bales, aku mau ketemu kamu buat kejelasan.
Melihat nama itu, Kinar mendadak kehilangan selera makan. Dia meletakkan garpunya dengan kasar, menghela napas panjang sampai bahunya merosot.
Arga yang menyadari perubahan raut wajah sahabatnya—eh, istrinya—langsung melirik ke arah layar ponsel Kinar yang masih menyala. Mata Arga menyipit tajam begitu membaca nama si pengirim pesan.
Arga meraih ponsel Kinar sebelum cewek itu sempat mengambilnya.
"Eh, mau ngapain lo?! Siniin HP gue!" seru Kinar panik.
Bukannya mengembalikan, Arga malah langsung mengetikkan sesuatu di sana dengan cepat, lalu menekan tombol kirim sebelum Kinar sempat merebutnya kembali.
"Arga babi! Lo bales apa?!" Kinar melotot, merebut paksa ponselnya. Begitu dia membaca pesan balasan yang dikirim Arga, jantung Kinar rasanya mau copot dari tempatnya.
Sorry, ini suaminya Kinar. Gak usah nyari istri orang lagi ya, Bro. Kita lagi sibuk program hamil. Makasih.
Kinar membeku. Dia menatap Arga dengan mata bulat sempurna, sementara cowok di depannya itu cuma menopang dagu dengan satu tangan sambil tersenyum miring tanpa dosa.
"Arga... LO GILA YA?!"
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/