Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba dengan gemerlap kemewahan yang belum pernah Arka rasakan sebelumnya.
Arka berdiri dengan dada membusung bangga di balik meja konter kios barunya di lantai tiga Grand Malika City.
Papan nama bercahaya neon kuning bertuliskan Dapur Arka Absolute menggantung indah di atas konter pelayanannya.
Gerobak baja bintang tiga miliknya tidak ditinggalkan, melainkan dimodifikasi agar menyatu sempurna dengan desain interior kios tersebut.
Kombinasi antara dapur modern mal dan gerobak sistem milik Arka menciptakan kesan profesional yang sangat unik.
Antrean panjang sudah mengular bahkan sebelum pita peresmian kios itu dipotong oleh pihak manajemen mal.
Para pekerja kantoran dan pelanggan setianya dari pinggir jalan rupanya rela datang ke mal demi mencicipi masakan Arka.
Laras dan Bima berdiri di barisan paling depan membawa sebuah buket bunga sederhana sebagai ucapan selamat.
"Wah, Mas Arka sekarang sudah jadi bos restoran mewah di mal elit." Canda Bima dengan senyum lebar yang tulus.
"Jangan lupakan kami ya Mas kalau nanti sudah jadi miliarder kota ini." Tambah Laras sambil tertawa kecil.
"Tentu saja tidak Kak, kalian berdua adalah saksi hidup perjuangan warung tendaku dari nol." Arka membalas dengan senyum hangat.
Tiba-tiba, suara mekanis yang sudah sangat akrab kembali bergema di dalam kepala Arka.
[Ding!]
[Misi Khusus Pembukaan Diberikan!]
[Jual 200 porsi Sop Buntut Rempah Magis dalam waktu tiga jam pertama pembukaan.]
[Hadiah Misi: Rp. 50.000.000,- dan Peningkatan Kapasitas Penyimpanan Gerobak.]
Arka menyeringai tipis melihat misi tambahan yang sangat menantang namun hadiahnya lumayan menggiurkan itu.
Tepat pukul sepuluh pagi, bel penanda dibukanya area pujasera berbunyi nyaring ke seluruh penjuru mal.
Teng teng teng!
Arka segera bersiap menyalakan kompor induksi komersial yang telah disediakan oleh pihak mal sebagai standar keamanan gedung.
Ctek!
Suara saklar ditekan dengan mantap, namun kompor layar datar itu sama sekali tidak menyala.
Arka mengerutkan keningnya, merasa ada yang sedikit aneh dengan peralatan mahal tersebut.
Ia kemudian berbalik dan memutar tuas keran air di wastafel untuk mencuci tangannya sebelum mulai memasak.
Namun tidak ada setetes air pun yang keluar dari pipa besi mengkilap itu.
Tepat pada detik berikutnya, seluruh lampu di area sewa milik Arka padam total secara serentak.
Kios Dapur Arka Absolute seketika diselimuti kegelapan di tengah area pujasera yang terang benderang.
Anehnya, kios-kios makanan lain di sebelah kiri dan kanannya tetap menyala dan beroperasi secara normal tanpa gangguan apa pun.
Para pelanggan yang sedang mengantre mulai berbisik-bisik bingung melihat kejadian janggal tersebut.
"Loh, kok tiba-tiba mati lampu begini, padahal yang lain nyala semua." Ucap seorang ibu-ibu sambil mengipas-ngipas wajahnya.
"Waduh, jangan-jangan pihak mal belum siap buka kios ini ya?" Sahut pelanggan lainnya dengan nada kecewa.
Di lantai dua yang menghadap langsung ke arah pujasera, seorang pria bertopi hitam tersenyum puas sambil memegang ponselnya.
Pria itu adalah orang suruhan Dimas yang menyamar sebagai pengunjung mal biasa untuk mengawasi jalannya operasi kotor mereka.
Ia baru saja menyuap salah satu teknisi gedung untuk memutus aliran listrik dan pipa air utama yang khusus mengarah ke kios Arka.
"Bos Dimas, rencana B berjalan lancar, kios si gembel itu sekarang mati total tanpa air dan listrik." Pria bertopi itu melapor melalui sambungan telepon.
"Bagus sekali, awasi terus dan pastikan para pelanggannya kabur karena tidak sabar menunggu." Suara tawa Dimas terdengar sangat licik dari seberang telepon.
Di dalam kegelapan kiosnya, Arka menarik napas panjang dan menenangkan pikirannya yang sempat terkejut.
Ia sudah bisa menebak dengan sangat akurat siapa dalang di balik semua kekacauan murahan dan memalukan ini.
"Kevin benar-benar tidak pernah belajar dari kesalahannya, dia pikir tanpa listrik mal aku tidak bisa memasak?" Batin Arka dengan tenang.
Arka berbalik menghadap gerobak baja bintang tiga miliknya yang terintegrasi di sudut konter.
Ia menyentuh panel layar sentuh kecil yang tersembunyi di balik etalase kaca gerobak tersebut.
"Sistem, aktifkan suplai cadangan." Perintah Arka di dalam hatinya.
[Ding!]
[Mendeteksi kegagalan infrastruktur eksternal.]
[Mengaktifkan Mode Mandiri Gerobak Bintang Tiga.]
[Suplai listrik internal dari generator sistem dan tangki air murni dimensi berhasil diaktifkan.]
Wush!
Seketika itu juga, lampu sorot berwarna kuning keemasan dari gerobak Arka menyala sangat terang benderang.
Cahaya itu tidak hanya menerangi seluruh kios Arka, tetapi juga memberikan efek dramatis layaknya panggung pertunjukan.
Para pelanggan di depan konter bersorak kagum, mengira pemadaman sesaat tadi adalah bagian dari atraksi pembukaan yang disengaja.
"Wah, keren sekali pencahayaannya, seperti mau menonton konser saja!" Puji Bima sambil bertepuk tangan.
Arka tersenyum penuh percaya diri dan memutar keran air yang menempel di sisi gerobak ajaibnya.
Air yang sangat jernih dan segar mengalir deras dari keran itu, mematahkan sabotase pasokan air dari pihak mal.
Arka tidak perlu menggunakan kompor induksi murahan dari mal, karena gerobaknya memiliki kompor gas modifikasi tingkat tinggi.
Ia menyalakan kompor tersebut dan api biru yang sangat stabil langsung menyambar dasar panci besarnya.
Wushhh!
Berkat Keterampilan Pengendalian Api tingkat menengah, Arka bisa memanaskan kaldu sapi itu hingga mencapai suhu yang sangat sempurna.
Ia memasukkan potongan buntut sapi premium dari ruang penyimpanan sistem ke dalam panci yang mendidih.
Bluk bluk bluk.
Suara rebusan kaldu terdengar sangat menggugah selera, memecah rasa penasaran para pelanggan.
Arka kemudian menaburkan campuran rempah magis ke dalam panci tersebut dengan gerakan tangan yang sangat anggun.
Srenggg!
Seketika itu juga, aroma kaldu sapi yang sangat kaya dan luar biasa harum meledak menembus udara pujasera.
Wanginya jauh lebih mematikan daripada saat Arka memasak nasi goreng di pinggir jalan.
Aroma cengkeh, kayu manis, dan kaldu daging sapi yang gurih itu menyebar dengan cepat ke seluruh lantai tiga mal.
Banyak pengunjung mal yang awalnya sedang berbelanja pakaian tiba-tiba menghentikan langkah mereka.
Hidung mereka mengendus udara seperti terhipnotis, mencari sumber dari wangi surgawi yang membuat perut mereka meronta-ronta kelaparan.
Dalam waktu kurang dari lima belas menit, antrean di depan kios Arka bertambah panjang hingga melingkari area pujasera.
Orang suruhan Dimas yang memantau dari lantai dua membelalakkan matanya tidak percaya melihat pemandangan gila itu.
"B-Bos Dimas, ada masalah besar, gerobak anak itu ternyata punya listrik dan air sendiri!" Lapor pria bertopi itu dengan suara bergetar panik.
"Apa kau bilang? Dasar bodoh, tidak mungkin ada gerobak yang punya generator diam tanpa suara di dalam mal!" Bentak Dimas dengan marah.
Sebelum pria bertopi itu bisa menjawab, dua orang petugas keamanan mal berbadan tegap tiba-tiba mencengkeram kedua bahunya dari belakang.
"Anda ikut kami ke ruang interogasi sekarang juga." Ucap salah satu satpam dengan nada dingin.
Di belakang para satpam itu, berdirilah Clara dengan kacamata hitamnya dan raut wajah yang sangat murka.
Clara baru saja menangkap basah teknisi mal yang memutus kabel listrik Arka dan memaksanya mengaku siapa yang membayarnya.
"Berani-beraninya kalian mengotori mal milikku dengan trik bisnis rendahan seperti ini." Desis Clara menatap tajam pria suruhan Dimas itu.
Pria bertopi itu hanya bisa pucat pasi saat ponselnya dirampas dan ia diseret paksa oleh petugas keamanan.
Di kiosnya, Arka sedang mempertontonkan kecepatan tangannya melayani pelanggan tanpa henti.
Tak tak tak.
Pisau Arka bergerak sangat cepat memotong tomat, daun bawang, dan seledri sebagai pelengkap sop buntut.
Setiap porsi Sop Buntut Rempah Magis disajikan dalam mangkuk keramik putih elegan yang masih mengepulkan asap panas.
Laras dan Bima yang menjadi pelanggan pertama hari itu segera membawa nampan mereka ke meja makan.
Mereka berdua menyeruput kuah sop buntut itu secara bersamaan perlahan-lahan.
Slurpp.
Mata Laras dan Bima seketika terpejam, tubuh mereka terasa seperti melayang ke udara.
Kelembutan daging buntut yang langsung lumer di mulut dan rasa kuah yang menghangatkan jiwa benar-benar tidak masuk akal.
"Ini... ini lebih enak dari masakan hotel bintang lima manapun yang pernah aku makan." Bima bergumam dengan air mata haru yang sedikit menetes.
Seluruh area pujasera itu seketika dipenuhi oleh suara seruputan kuah dan desahan kepuasan dari ratusan orang secara bersamaan.
Banyak pelanggan dari kios lain yang akhirnya membatalkan pesanan mereka dan ikut mengantre di Dapur Arka Absolute.
[Ding!]
[Satu porsi terjual dengan penilaian Sangat Puas.]
[Kemajuan Misi Khusus: 50/200]
Arka tidak memiliki waktu untuk beristirahat, namun senyum kemenangan tidak pernah luntur dari wajahnya yang dibanjiri keringat.
Tangannya bergerak seolah memiliki nyawanya sendiri, meracik porsi demi porsi dengan konsistensi rasa yang tidak pernah turun.
Dua jam kemudian, suara notifikasi sistem yang sangat dinantikan akhirnya meledak di kepala Arka.
[Ding!]
[Kemajuan Misi Khusus: 200/200]
[Selamat! Misi Khusus Pembukaan Berhasil Diselesaikan!]
[Menyalurkan hadiah misi... Rp. 50.000.000,- berhasil ditransfer ke rekening Host.]
[Peningkatan Kapasitas Penyimpanan Gerobak berhasil diterapkan.]
Arka menghela napas panjang dan meletakkan sendok sayurnya perlahan.
"Maaf semuanya, dua ratus porsi pertama hari ini sudah habis terjual." Arka memberikan pengumuman dengan suara lantang namun sopan.
Keluhan kecewa langsung terdengar dari puluhan orang yang masih mengantre panjang di belakang.
"Saya akan buka kembali sesi kedua pada jam makan malam nanti, mohon pengertiannya." Tambah Arka sambil menundukkan kepala.
Para pelanggan yang tidak kebagian akhirnya membubarkan diri dengan langkah gontai namun berjanji akan datang lebih awal nanti malam.
Clara berjalan mendekati konter Arka setelah keadaan sedikit lebih tenang.
"Pembukaan yang sangat fantastis Arka, kau berhasil membuat pujaseraku hidup hanya dalam waktu tiga jam." Puji Clara dengan senyum tulus yang jarang ia perlihatkan.
"Ini semua juga berkat tempat yang sangat nyaman dari Nona Clara." Arka menjawab dengan merendah.
"Aku sudah mengurus lalat pengganggu yang mencoba memutus listrikmu tadi, sepertinya musuhmu semakin putus asa." Clara melipat tangannya di dada.
"Biarkan saja mereka bermain kotor, rasa masukanku akan selalu menjadi senjata utama untuk menghancurkan mereka." Arka menatap lurus ke depan dengan sorot mata tajam.
Hari itu, penjualan Arka mencapai rekor baru yang luar biasa.
Dua ratus porsi sop buntut yang dijual seharga delapan puluh ribu rupiah per porsi menghasilkan omset enam belas juta rupiah dalam tiga jam.
Ditambah dengan hadiah uang dari sistem, kekayaan Arka kini terus menumpuk menjadi gunung emas yang tidak terlihat.
Langkah pertamanya di dunia bisnis kuliner profesional telah tercetak dengan sangat gemilang dan sukses besar.
Sementara itu, di dalam ruang kerjanya yang mewah, Kevin meremas laporannya hingga menjadi gumpalan kertas yang kusut.
"Sialan, sialan, sialan!" Kevin berteriak frustrasi mengutuk kegagalannya yang kesekian kalinya.
Ia menyadari bahwa Arka bukan lagi pedagang kaki lima lemah yang bisa ia injak sesuka hati.
Arka kini telah menjelma menjadi ancaman nyata yang bisa meruntuhkan kerajaan bisnis keluarganya jika dibiarkan terus berkembang.