NovelToon NovelToon
The Twentieth Concubine Wants To Survive

The Twentieth Concubine Wants To Survive

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Timur
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fresh Tea

Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

A Secret Behind the Palace Walls

Langkah kaki Xinyue bergema pelan menyusuri koridor panjang Istana Dalam saat kegelapan malam kembali menelan ibu kota. Ketegangan dari persidangan gempar di Balai Agung tadi pagi masih menyisakan hawa dingin yang menusuk. Eksekusi terhadap faksi selatan telah mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh penjuru kekaisaran. Tidak ada lagi yang berani memandang sebelah mata pada Selir ke-20 yang memegang Segel Pengawas Hukum Kerajaan.

Namun, di balik kemenangan yang megah itu, insting forensik Xinyue terus berbisik bahwa ada sesuatu yang belum terurai.

Di dalam kamar Paviliun Bayangan Salju, Xinyue duduk di depan meja perunggu. Di hadapannya terbentang gulungan buku kas milik Kementerian Perdagangan Selatan yang telah disita. Jemari lentiknya menelusuri tiap baris catatan angka, mencari celah sekecil apa pun.

"Nona," panggil mingzhu  seraya meletakkan lilin baru di sudut meja. "Hari sudah sangat larut. Mengapa Nona belum beristirahat? Bukankah faksi Selir De sudah dihancurkan sepenuhnya?"

Xinyue meletakkan kuas tintanya tanpa mengalihkan pandangan dari kertas beras. "Pengakuan Selir De terasa terlalu mudah, mingzhu. Seorang wanita yang cukup cerdik untuk mengimpor bahan pelarut racun kelas militer tidak akan panik sedemikian cepat di depan umum, kecuali... ia sedang melindungi seseorang yang lebih besar."

Xinyue berdiri, berjalan mendekati jendela yang menatap langsung ke arah Menara Astronomi Tua—bangunan kuno yang telah ditutup dan dilarang dikunjungi sejak sepuluh tahun lalu.

"Saat pengawal menyeret Selir De keluar dari aula tadi pagi," lanjut Xinyue pelan, "matanya tidak menatap Kaisar atau ayahnya. Pandangannya secara refleks mengarah ke sudut ruang aula tempat barisan kasim tingkat tinggi berdiri. Seseorang memberikan aba-aba terselubung padanya untuk segera mengaku agar investigasi berhenti sampai di sana."

Tiba-tiba, sesosok bayangan seram mendarat tanpa suara di ambang jendela. Pengawal bayangan pribadi Zhao Fengting, Han Zuo, berlutut dengan satu kaki.

"Pengawas Ye," ujar Han Zuo dengan suara serak menahan napas. "Yang Mulia Kaisar meminta Anda menemukannya secara rahasia di Menara Bintang Terlarang sekarang juga."

Xinyue memicingkan mata. "Tanpa pengawal istana biasa?"

"Ini adalah perintah tertutup, Pengawas Ye. Ada rahasia negara yang hanya boleh diketahui oleh pemegang Segel Pengawas Hukum."

Tanpa membuang waktu, Xinyue mengenakan jubah hitam bertudung lebar. Ia melangkah membelah kegelapan malam bersama Han Zuo, melewati jalur-jalur rahasia Istana Dalam yang jarang tersentuh lampu lentera.

Menara Bintang Terlarang berdiri megah di bagian utara kompleks kerajaan. Dinding batu hitamnya yang lembap ditumbuhi lumut tua, memancarkan aura misterius yang mencekam. Ketika Xinyue mendorong pintu kayu berat menara tersebut, bau kertas tua, debu, dan campuran obat-obatan herbal menyengat hidungnya.

Di pusat ruangan menara, tampak Zhao Fengting berdiri membelakangi pintu. Sang Kaisar telah melepas jubah kebesarannya, hanya mengenakan gaun dalam berwarna hitam berhiaskan sulaman benang emas berbentuk naga.

"Kau datang, Xinyue," sapa Zhao Fengting tanpa berbalik. Suaranya bergema dingin di dalam menara yang sepi.

"Hamba memenuhi panggilan Yang Mulia," sahut Xinyue seraya melangkah mendekat. "Apa rahasia yang begitu mendesak hingga harus dibicarakan di tempat terlarang ini?"

Zhao Fengting berbalik. Di bawah penerangan remang lilin dinding, wajah sang Kaisar tampak begitu samar dan dipenuhi ketegangan yang jarang terlihat di depan para menteri. Ia menunjuk ke arah meja kayu raksasa di tengah ruangan.

Di atas meja tersebut terbentang peta kuno Kekaisaran Liang beserta sebuah dokumen berstempel merah darah yang retak—stempel mendiang Kaisar Terdahulu.

"Audit yang kau lakukan pada klan Liang dan faksi selatan hanyalah permukaan dari gunung es yang membusuk di istana ini," tutur Zhao Fengting, suaranya sarat akan beban berat. "Selir De dan ayahnya hanyalah catur kecil yang dikorbankan."

Xinyue mendekati meja, matanya dengan cepat membaca baris demi baris dokumen berstempel darah tersebut. Napasnya tertahan seketika. Document itu adalah perjanjian rahasia pencucian uang dan penjualan senjata kekaisaran yang ditandatangani dua belas tahun lalu.

"Perjanjian ini..." gumam Xinyue, analisis hukumnya bekerja kilat. "Inilah alasan mengapa kaisar terdahulu dibunuh? Ini bukan sekadar korupsi kementerian biasa. Ini adalah jaringan transnasional yang melibatkan organisasi bayangan di luar tembok istana!"

"Benar," jawab Zhao Fengting seraya melangkah makin dekat hingga ia berada tepat di samping Xinyue. "Organisasi itu dinamakan Matahari Hitam. Mereka telah menyusup ke dalam delapan dari sepuluh kementerian utama sejak pemerintahan ayahku. Setiap kali aku mencoba menyentuh pimpinan mereka, saksi kunci selalu mati mendadak persis seperti racun yang dikirim ke kediamanmu semalam."

Xinyue menatap mata tajam Zhao Fengting. "Selir De disuruh mengaku agar jaringan Matahari Hitam ini tidak tercium olehku."

"Tepat," sang Kaisar memajukan tangannya, jemari hangatnya menyentuh lembut jemari Xinyue yang memegang tepi meja. "Mereka tidak menyangka kau memiliki kemampuan analisis hukum dan forensik yang begitu genius. Kau adalah senjata paling mematikan yang pernah kumiliki di istana ini, Xinyue."

Sentuhan hangat Zhao Fengting membuat jantung Xinyue berdegup sedikit lebih cepat, namun pikiran profesionalnya tetap tajam bagaikan pisau.

"Jika Yang Mulia sudah mengetahui keberadaan Matahari Hitam, mengapa Anda tidak membasminya sejak awal dengan pasukan militer?" tanya Xinyue lugas.

Zhao Fengting tersenyum pahit, ada kilatan kepedihan mendalam di matanya. "Karena pemimpin tertinggi dari jaringan Matahari Hitam yang mengendalikan seluruh rahasia berdarah di balik tembok istana ini... adalah orang yang paling dihormati di Kekaisaran."

Zhao Fengting mengetuk salah satu nama yang tertera di bagian paling bawah dokumen tersebut.

Xinyue membelalakkan matanya saat membaca nama yang terukir di sana. Nama sosok yang selama ini dikenal sebagai pahlawan suci kekaisaran dan pelindung utama takhta.

"Ibu Suri Agung..." bisik Xinyue tak percaya.

Zhao Fengting mengangguk pelan. "Ibu kandungku sendiri."

Suasana di dalam Menara Bintang Terlarang mendadak menjadi begitu hening hingga suara embusan angin di luar terdengar bagaikan jeritan jiwa-jiwa yang terperangkap. Xinyue menyadari bahwa permainan politik yang ia hadapi saat ini jauh lebih berbahaya dari sekadar persaingan antar-selir istana. Ini adalah perang dingin melawan penguasa sejati di balik layar kekaisaran.

"Sekarang kau tahu rahasia tergelap di balik dinding istana ini, Xinyue," bisik Zhao Fengting, tatapannya begitu intens mengunci mata Xinyue. "Apakah kau masih berani berjalan di sampingku untuk menghancurkan mereka?"

Xinyue melepaskan jemarinya dari genggaman sang Kaisar, lalu menarik napas panjang. Senyum tipis yang sarat akan keberanian dan ambisi dingin kembali mengembang di wajah cantiknya.

"Di mata hukum hamba, tidak ada orang yang berada di atas keadilan bahkan jika dia adalah Ibu Suri Agung," sahut Xinyue tegas. "Mari kita bongkar rahasia berdarah ini sampai ke akar-akarnya, Yang Mulia."

1
Raizel_0511
crazy up kk,semangat,sehat selalu💪💪💪😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!