Di dunia Murim yang dikuasai oleh sekte-sekte besar dan tipu daya, Mu Jin hanyalah seorang tukang kayu dari desa terpencil. Hidupnya berubah total ketika desanya dibantai dalam satu malam oleh pasukan yang tak dikenal.
Tanpa tenaga dalam dan tanpa latar belakang beladiri, Mu Jin memulai perjalanan panjang ke utara. Di tengah perjalanan, dia berhadapan dengan kenyataan kejam dunia Murim: orang kuat menindas yang lemah, keadilan hanyalah topeng, dan dendam adalah satu-satunya hal yang membuatnya terus melangkah.
Sementara itu, di Puncak Awan Putih, Lu Chen, sosok yang dipuja sebagai pelindung keadilan, menggerakkan pengaruhnya di balik layar. Di utara, pemberontakan perlahan menguat di bawah pimpinan Lin Yu, anak haram yang ditolak oleh dunianya sendiri.
Di antara salju, darah, dan konspirasi, seorang tukang kayu biasa terus berjalan. Tanpa mengetahui apakah dia akan menjadi pahlawan, monster, atau hanya satu lagi mayat di jalanan Murim.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ginza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Kegelapan gua bawah tanah itu kini berbau amis tembaga yang teramat pekat. Sisa-sisa jeritan tercekik dari Tetua Du Kang masih bergema tipis di antara dinding batu cadas, berpadu dengan desis belanga racun yang mengepulkan uap pahit.
Mu Jin berdiri kaku. Tubuhnya yang dilapisi jaringan kulit keabu-abuan menyerupai patung batu yang baru dipahat dari neraka. Dari sudut bibir kirinya yang terbelah hingga ke dekat telinga, terikat kasar oleh jahitan benang sutra hitam, darah segar milik Du Kang masih menetes lambat, membasahi dadanya yang berurat kebiruan.
Perlahan, Mu Jin memutar tubuhnya. Pergerakannya kaku, berderak lambat seperti engsel besi tua yang dipaksa berputar.
Dia melangkah mendekati tubuh anak gadis kecil penjual lentera yang terkulai tak bergerak di atas lantai batu. Mu Jin berlutut, menyanggah tubuh mungil yang telah dingin dan tak bernapas itu memakai lengan kirinya yang sekeras batu cadas. Dengan ketelitian kasar seorang tukang kayu, dia memindahkan anak itu ke sudut teraman di balik meja pembedahan, menjauhkannya dari genangan racun dan darah.
Wajah Mu Jin tetap rata. Tidak ada erangan duka, tidak ada kernyitan di dahi, dan tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya yang terikat jahitan kasar.
Namun, dari kedua pupil mata hitam pekatnya yang mati, lelehan air mata bening secara perlahan jatuh menetes. Air mata itu mengalir menelusuri pipinya yang melepuh, membasahi jahitan benang hitam di sudut bibirnya, lalu jatuh menghantam lantai batu. Sebuah pemandangan yang teramat mengerikan: sosok iblis tanpa ekspresi yang meneteskan air mata di tengah pembantaian.
Srekk... srekk...
Mu Jin bangkit berdiri. Dia melangkah menuju sudut ruangan, menyambar kembali besi kaku bersegi empat miliknya yang tergeletak di atas meja kayu. Tangannya mencengkeram gagang besi itu begitu erat hingga kulit jarinya yang membeku tampak memutih.
Di ujung lorong, Du Kang sedang merayap histeris dengan leher dan pipi hancur mengucurkan darah segar.
“T-Tolong... T-Tolong aku!” erang Du Kang bersiul melalui rahangnya yang patah.
Langkah kaki panik bergema nyaring dari arah tangga batu. Puluhan murid Sekte Racun Jiwa berhamburan turun membawa obor, belati, dan tabung-tabung racun setelah mendengar teriakan gila sang Tetua.
“Tetua Du Kang!” seru murid terdepan dengan wajah pucat pasi saat melihat kondisi iblis tua itu.
Namun, sebelum mereka sempat melangkah lebih jauh, cahaya obor mereka menangkap sosok yang keluar dari kegelapan dungeon.
Mu Jin melangkah lambat. Besi tebal bersegi empat terseret di atas lantai batu, menimbulkan bunyi berdecit SREEEKK... yang mengiris nyali. Wajahnya yang terdistorsi oleh jahitan kasar tampak mengerikan di bawah pendar api obor, dan air mata bening masih terus menetes hangat dari matanya yang mati.
“A-Apa itu?!” jerit seorang murid, mundur teratur dengan tangan gemetar. “Apakah itu... eksperimen Tetua Du?!”
“Bunuh dia! Serang!” teriak yang lain panik.
Belasan murid Sekte Racun Jiwa menerjang maju, melemparkan puluhan pisau beracun dan menyemburkan kabut Racun Pemakan Daging.
TINK! TINK! TINK!
Pisau-pisau besi itu menghantam dada dan paha Mu Jin, namun hanya memantul bagai mengenai pelat baja murni. Kabut racun hijau menyelimuti tubuhnya, tetapi jaringan kulit keabu-abuan Mu Jin yang telah menyerap berbagai bisa justru tidak bereaksi sedikit pun.
Mu Jin terus berjalan menembus kabut racun tanpa berkedip.
BAM!
Satu ayunan kaku dari besi tebal bersegi empat Mu Jin menghantam dada murid terdepan. Tulang rusuk pria itu hancur seketika, dan tubuhnya terlempar menghantam dinding batu hingga tewas seketika.
Jeritan histeris pecah di dalam lorong sempit itu. Mu Jin bergerak bagai mesin pembunuh otomatis. Tanpa qi, tanpa ilmu beladiri yang indah, dia murni mengandalkan bobot fisiknya yang seberat batu dan besi kaku di tangannya untuk meremukkan siapa pun yang berdiri di hadapannya.
CRACK! BAM!
Kepala pecah, dada remuk, dan jeritan kepanikan memenuhi lorong dungeon. Darah para murid menyembur membasahi dinding dan wajah Mu Jin, bercampur dengan air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir.
Di dasar lantai, Du Kang menatap pembantaian itu dengan mata melotot lebar penuh horor gila. Iblis tua itu menyadari bahwa dia tidak menciptakan sebuah boneka penurut. Dia telah membuka gerbang neraka dan melepas seekor binatang buas yang tak lagi memiliki rasa takut, rasa sakit, atau kemanusiaan.
Mu Jin berdiri di atas tumpukan mayat murid Sekte Racun Jiwa. Besi kaku di tangannya meneteskan darah kental. Matanya yang mati bergulir turun, menatap lurus pada Du Kang yang terbaring pasrah di bawah kakinya. Air mata tanpa ekspresi itu kembali menetes, menghantam wajah Du Kang yang bersimbah darah.