Dulu ia Kaisar Pil Jiwa Bintang. Penguasa Sembilan Benua.
Tetapi, satu tusukan dari murid kesayangannya, membuat ia mati. Sekarang, Murid itu naik tahta menjadi Dewa Alkemis yang disembah seluruh benua.
500 tahun kemudian, Lin Xuan terbangun.
Bukan di singgasana. Tapi di tubuh seorang sampah. Tubuh dari Tuan Muda Keluarga Lin yang meridiannya hancur, menjadi bahan tertawaan se-Kota Awan Merah. Tunangannya menghina, pamannya meracuni dan semua orang menunggu ia mati.
Mereka salah besar.
Karena di dalam jiwanya, Kuali Naga Hitam yang berkarat ikut bangkit. Di kepalanya, ingatan 500 tahun teknik alkimia bertarung yang bisa membakar langit tidak hilang.
Lin Xuan tidak mau sekadar bangkit. Ia mau berburu 18 Api Surgawi. Mengubah tubuh cacatnya menjadi kuali hidup.
Mengubah bahan sampah menjadi pil dewa. Dan naik lagi ke Benua Ke-9 untuk satu hal:
Menagih darah dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Kematian Sang Kaisar
"Yao Chen... mengapa?!"
Raungannya pecah di Puncak Nirwana. Di dalam kuali perunggu raksasa di hadapannya, Api Matahari Sembilan Langit yang berwarna emas kemerahan mengamuk liar, lepas kendali.
Lin Xuan, Kaisar Pil Jiwa Bintang, berlutut. Jubah putihnya banjir darah keemasan, dan sebilah pedang es transparan menembus punggungnya, menghancurkan jantungnya.
Yang menggenggam gagang pedang itu adalah Yao Chen, murid satu-satunya, anak yang ia pungut dan besarkan sendiri selama seratus tahun.
Yao Chen menatapnya tanpa sedikit pun penyesalan.
"Maaf, Guru. Tapi selama Guru masih hidup, aku akan selamanya menjadi bayangan—bayangan dari 'Dewa Alkemis'," bisiknya dingin. "Dan Resep Pil Keabadian itu terlalu berharga untuk sekadar jadi koleksi orang tua yang sudah tak berminat menguasai dunia lagi, seperti Guru."
Lin Xuan terbatuk darah. Tubuhnya mulai retak, dan energi jiwanya bocor ke udara.
"Dasar pengkhianat... tanpa aku, kau bahkan tidak bisa menyalakan api surgawi itu!"
Yao Chen menyeringai. "Untuk saat ini aku tak perlu bisa menyalakannya. Aku hanya perlu Guru mati."
Ia lalu mencabut pedangnya. Seketika, api di dalam kuali meledak dan menelan tubuh Lin Xuan sepenuhnya.
Pada detik terakhir sebelum kesadarannya lenyap, cahaya hitam dari cincin penyimpanannya melesat keluar, membungkus sisa jiwanya dan merobek ruang hampa.
Dalam kegelapan yang begitu pekat, hanya satu sumpah yang tersisa.
Yao Chen. Bahkan jika aku harus merangkak dari dasar Neraka Sembilan Mata Air, aku akan mencabikmu.
*****
Lima ratus tahun kemudian, Benua Tanah Merah, Wilayah Timur, Kota Awan Merah.
Rasa sakit yang merobek sumsum menjadi hal pertama yang menyambut Lin Xuan. Ia membuka mata dengan napas terengah-engah, keringat dingin membasahi bajunya.
Bukan wangi dupa ribuan tahun. Yang pertama menusuk hidungnya justru bau ramuan gosong akibat direbus terlalu lama.
"Di mana... aku?"
Tiba-tiba ingatan asing menghantam kepalanya sekaligus. Ia memegangi pelipisnya dan mengerang kesakitan.
Tubuh ini juga bernama Lin Xuan. Seorang pemuda berusia enam belas tahun, Tuan Muda Keluarga Lin di Kota Awan Merah—salah satu wilayah di Benua Tanah Merah yang energinya begitu tipis hingga dianggap sekadar desa terpencil oleh Benua Atas.
Dan pemilik asli tubuh ini adalah seorang sampah sejati.
Tiga hari lalu, ia disergap saat ujian perburuan klan. Seseorang sengaja menembakkan jarum beracun ke punggungnya.
Racun itu tak membunuhnya seketika, melainkan menghancurkan seluruh meridiannya secara bertahap.
Bagi seorang kultivator, itu sudah termasuk kecacatan permanen, dan pemilik asli tubuh ini akhirnya mati dalam keputusasaan, membuka jalan bagi jiwa sang Kaisar Pil untuk bangkit kembali.
Lin Xuan menyeringai dingin. "Anak ini dibunuh perlahan oleh keluarganya sendiri, demi memperebutkan warisan. Hah, sungguh sebuah drama."
Ia akhirnya memejamkan mata, memeriksa tubuhnya dengan sisa Kekuatan Jiwa yang ia miliki.
"Meridian putus di delapan puluh titik. Racun Bubuk Peluruh Tulang... racun kelas rendahan yang diracik asal-asalan. Pantas saja efeknya pada tubuh pemuda ini butuh tiga hari untuk terlihat. Kalau aku yang membuatnya, tubuh pemuda ini sudah meleleh dalam tiga detik."
Sementara itu, di kedalaman Lautan Jiwanya, Lin Xuan merasakan sesuatu berdenyut pelan. Tampak sebuah kuali kecil sehitam tinta, dengan ukiran sembilan naga berkarat yang seolah tertidur lelap.
"Kuali Naga Hitam. Haha, rupanya kau ikut juga." Sudut bibirnya terangkat. "Bagus. Bagus sekali. Dengan adanya dirimu, jalanku kembali ke puncak akan jauh lebih mudah."
Ceklek.
Pintu kayu terbuka. Seorang gadis berusia lima belas tahun berlari masuk dengan mata sembab. Xiao Ya, satu-satunya pelayan yang masih mau merawatnya setelah ia dianggap cacat.
"Tuan Muda, akhirnya Anda sadar." Ia bergegas ke sisi ranjang sambil membawa mangkuk berisi cairan cokelat pekat yang masih mengepul. "Syukurlah... Penatua Ketiga mengirim obat. Katanya ini bisa mengurangi nyeri di dada. Minum selagi hangat ya, Tuan Muda."
Lin Xuan tak langsung menjawab. Namun begitu tatapannya jatuh ke mangkuk obat itu, matanya seketika menajam.
Bahkan tanpa mencicipinya, ia sudah bisa melihat setiap unsur dari uap yang mengepul itu.
Akar Rumput Pahit, Daun Darah Besi... dan Serbuk Bunga Jarum Hitam.
Dua yang pertama hanyalah obat luka biasa. Sementara yang terakhir adalah zat pemicu energi Yang. Bagi orang sehat, itu hanya akan membuat tubuh terasa panas.
Namun bagi tubuh yang meridiannya telah hancur oleh racun Yin seperti Bubuk Peluruh Tulang, benturan energi itu akan membuat jantungnya meledak.
"Berhenti," gumamnya.
"Hm? Kenapa, Tuan Muda? Biar Xiao Ya suapi..."
Tepat saat sendok itu hampir menyentuh bibirnya, Lin Xuan menepisnya.
Prang!
Mangkuk itu pecah. Cairan cokelatnya tumpah ke karpet dan langsung mendesis, mengeluarkan asap hitam sambil melubangi karpet seperti air keras.
Xiao Ya terjatuh terduduk. Wajahnya seketika pucat pasi. "I-itu... racun?!"
"Jangan sentuh itu," ucap Lin Xuan serak sambil memaksakan diri duduk. "Penatua Ketiga ingin aku mati malam ini. Supaya anaknya bisa jadi pewaris."
"Apa? Beraninya Penatua Ketiga! Tuan Muda, kita harus segera melapor. Tapi... kakek Tuan Muda sedang menutup diri untuk berkultivasi. Selain Kepala Keluarga, tak ada yang bisa membantu kita. Ah, iya—tadi pagi ada Keluarga Zhao datang."
Lin Xuan menatap Xiao Ya. "Keluarga Zhao?"
Xiao Ya mengangguk panik. "Iya, Tuan Muda. Tuan Muda Zhao Tian bersama tetua mereka. Mereka sekarang ada di Aula Utama."
"Apa yang mereka lakukan, Xiao Ya?" tanya Lin Xuan dengan nada dingin.
"Yang aku dengar dari anggota keluarga lain, mereka ingin meminta tiga paviliun obat milik Keluarga Lin sebagai ganti rugi atas pembatalan pertunangan Tuan Muda dengan Nona Zhao Ningshuang. Katanya... Keluarga Zhao tak mungkin menikahkan putri jeniusnya dengan..." Xiao Ya menggigit bibir, tak berani melanjutkan kata "sampah" itu.
Lin Xuan tertawa pelan, lalu tawanya mengeras.
"Hahaha, mau membatalkan pertunangan sambil merampok? Keluarga Zhao ini pandai sekali memanfaatkan kesempatan."
Ia akhirnya turun dari ranjang.
"Tuan Muda, jangan banyak bergerak dulu. Meridian Anda masih hancur..."
"Yang hancur meridianku, bukan kakiku."
Ia berjalan tertatih ke meja di sudut ruangan, mengambil jepit perak milik Xiao Ya, dan tanpa ragu menusukkannya ke dua titik di dadanya—titik Hati dan Gerbang Kehidupan.
"Tuan Muda!" Xiao Ya menjerit, mengira tuannya hendak bunuh diri saat menyaksikan apa yang dilakukannya.
Detik berikutnya, Lin Xuan membungkuk dan memuntahkan gumpalan darah hitam kental yang berbau busuk.
Begitu darah itu keluar, warna cerah kembali ke wajahnya. Napasnya kini terasa jauh lebih teratur.
Ia membuang jepit yang kini menghitam terkena racun, lalu mengambil jubah abu-abunya.
"Xiao Ya, ayo ke Aula Utama."
"T-tunggu, Tuan Muda. Kalau kita ke sana, Tuan Muda Zhao Tian bisa membunuh Anda. Ia sudah berada di Kondensasi Qi Tingkat 5."
Lin Xuan menoleh dan tersenyum tipis.
"Membunuhku?"
Sorot matanya berubah. Seketika, aura kaisar yang telah tertidur lima ratus tahun itu menyala kembali.
"Energiku memang belum pulih. Tubuh ini memang sangat lemah. Tapi untuk menginjak seekor serangga... aku bahkan tak perlu mengangkat tangan atau kakiku."