NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Pulang ke Pelukan Senja

Gelombang keemasan yang memancar dari dalam Cermin Matahari Purba berangsur-angsur mereda, menyusut menjadi pendaran hangat yang menyelimuti seluruh sudut aula Kuil Kaca Bawah Laut. Naga Air Kristal mengitari altar tempat Kaelen berdiri sebanyak tiga kali, mengeluarkan dengkuran lembut yang beresonansi di dalam air sebelum akhirnya meluncur pelan kembali ke dalam bayangan pilar-pilar kristal terjauh. Ikatan antara dua artefak purba telah sempurna; keseimbangan kosmik bumi kini terkunci rapat, menjauhkan segala bentuk ancaman distorsi gravitasi atau keruntuhan dimensi di masa depan.

Kaelen menarik tangannya perlahan dari bingkai cermin tersebut. Cermin Matahari Purba itu berputar pelan di udara, lalu mengecil ukurannya hingga seukuran telapak tangan manusia sebelum terbang sendiri dan bersarang rapi di dalam sisa kantong spiritual yang menyatu dengan dantian Kaelen, berdampingan dengan esensi Jiwa Artefak Reruntuhan Langit.

Lyra melangkah mendekat, matanya berbinar takjub menatap pemuda di hadapannya. "Semua berjalan begitu mulus. Rasanya sulit dipercaya bahwa kita baru saja mengamankan salah satu artefak paling legendaris di planet ini tanpa perlu meneteskan darah atau memicu pertempuran besar."

Kaelen tersenyum, merangkul pinggang gadis itu erat-erat di dalam air. "Tidak semua masalah harus diselesaikan dengan ujung pedang, Lyra. Terkadang, ketika niat kita murni dan selaras dengan hukum alam, alam itu sendiri yang akan membuka jalan."

Mereka berdua berbalik, meninggalkan aula utama Kuil Kaca Bawah Laut. Dengan dorongan tenaga dalam yang ringan, Kaelen dan Lyra melayang naik menembus kubah air jernih, melewati pusaran cahaya keemasan, hingga akhirnya kepala mereka menembus permukaan air laut Samudra Selatan. Udara asin yang segar langsung menyambut indra penciuman mereka begitu mereka kembali menghirup oksigen daratan.

Perahu kayu nelayan yang mereka tinggalkan sebelumnya masih mengapung stabil di dekat tepi pusaran air, diikat oleh jangkar tak kasat mata dari formasi pelindung alam. Dengan satu gerakan lincah, Kaelen mengangkat tubuhnya ke atas dek perahu, lalu mengulurkan tangan untuk menarik Lyra naik ke sisinya.

Perjalanan Pulang yang Damai

Pelayaran pulang menuju pesisir selatan daratan terasa jauh lebih ringan dan menyenangkan daripada perjalanan berangkat. Angin laut bertiup sepoi-sepoi dari arah tenggara, mendorong layar perahu meluncur tenang membelah ombak biru yang tenang. Tidak ada badai, tidak ada monster laut yang mengganggu; yang ada hanyalah hamparan langit biru cerah di siang hari dan gugusan rasi bintang yang menghiasi malam panjang mereka di atas geladak kapal.

Selama pelayaran tersebut, mereka menghabiskan waktu dengan berbincang santai mengenai masa depan. Kaelen menceritakan rencananya untuk membangun sebuah tempat peristirahatan kecil di kaki perbukitan Lembah Bintang Kelabu—sebuah rumah kayu sederhana di mana mereka bisa hidup tenang tanpa terikat oleh urusan dunia kultivasi, sementara Lyra merancang kebun herbal pribadi di sekitar pekarangan rumah tersebut untuk meracik berbagai ramuan penyembuh bagi siapa saja yang kebetulan melintas.

Empat hari kemudian, lambung perahu mereka menyentuh lembut pasir putih teluk terpencil tempat mereka memulai pelayaran. Kaelen dan Lyra melompat turun, menarik perahu ke atas bibir pantai, lalu menitipkannya kepada penjaga pos nelayan setempat yang telah disiapkan oleh jaringan dewan penasihat daratan tengah.

Rumah di Kaki Bukit Bintang

Dua pekan setelah meninggalkan daratan tengah, Kaelen dan Lyra akhirnya tiba di tanah kelahiran petualangan panjang mereka—Lembah Bintang Kelabu. Di kaki bukit yang dikelilingi oleh pepohonan pinus rindang dan aliran sungai jernih, sebuah rumah kayu bergaya tradisional berdiri megah namun sederhana, hasil kerja sama Kaelen dengan para penduduk desa setempat yang sengaja dibangun sebagai bentuk rasa terima kasih mereka.

Rumah kayu itu memiliki beranda luas yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam, dikelilingi oleh kebun herbal hijau subur yang dirawat penuh cinta oleh Lyra setiap paginya. Di dekat beranda, Mo Xingchen kerap datang berkunjung dengan tongkat kayunya, menikmati secangkir teh hangat sambil berbagi cerita masa lalu dengan Kaelen di bawah naungan senja.

Sore itu, matahari melukis cakrawala dengan warna jingga keemasan yang memantul indah di permukaan air sungai. Kaelen duduk di kursi kayu beranda, sementara Lyra berdiri di sampingnya, meletakkan secangkir teh herbal hangat di atas meja kecil sebelum menyandarkan punggungnya pada dada bidang Kaelen.

Kaelen melingkarkan kedua tangannya di pinggang Lyra, mencium lembut puncak kepala gadis itu. "Kita benar-benar telah sampai di rumah, Lyra," bisiknya penuh kehangatan.

Lyra memegang tangan Kaelen yang melingkar di perutnya, tersenyum manis menatap indahnya pemandangan senja di hadapan mereka. "Ya, Kaelen. Dan di sinilah kisah kita yang sebenarnya baru saja dimulai."

Di bawah langit senja yang damai, diiringi oleh desau angin pinus dan gemercik air sungai yang mengalir abadi, lembaran epos Kaelen dan Lyra menemukan pelabuhan terakhirnya—sebuah kisah tentang cinta, keberanian, dan ketulusan jiwa yang akan terus hidup dan bergema di dalam lembaran sejarah dunia untuk selama-lamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!