Nadira menghabiskan empat tahun menunggu suami yang hanya ia temui saat akad nikah. Saat Arga akhirnya pulang, ia datang bersimbah darah ke IGD, dan Nadira sendiri yang mengoperasinya. Tapi Arga tidak pulang sendirian. Ada nama perempuan lain di bibirnya, dan anak kecil yang memanggilnya Papa. Di tengah luka tembak, gugatan cerai, dan rahasia masa lalu yang mulai terkuak, Nadira memilih pergi. Arga baru sadar bahwa istri yang ia tinggalkan bukan sekadar nama di buku nikah. Tapi mengejar Nadira berarti ia harus rela terbakar oleh penyesalan yang selama ini ia hindari. Dan saat dua keluarga, dua rahasia, dan dua nama Alya bertabrakan, siapa sebenarnya cinta sejati Arga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30 - Jejak Pertama
Nadira hampir menjatuhkan ponsel.
Nama Panti Asuhan Kasih Bunda sudah lama tidak ia dengar dari orang asing. Di rumah, Mama Ratih hanya menyebutnya panti lama di Semarang. Papa Hendra jarang membicarakannya. Fadli tahu, tapi tidak pernah bertanya terlalu dalam karena setiap kali topik itu muncul, suasana rumah berubah pelan-pelan.
Arga berdiri di depannya, wajahnya masih pucat, tapi matanya langsung waspada.
Nadira menyalakan pengeras suara. "Bu Salmah, orang itu siapa?"
Di seberang, perempuan tua itu menarik napas. "Perempuan muda. Cantik, pakai kerudung krem. Dia datang dengan laki-laki. Katanya dari kantor hukum yang mengurus validasi adopsi lama."
"Namanya?"
"Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai Dewi."
Nadira menutup mata.
Arga mengambil kertas dari meja klinik dan menulis satu kata.
Dewi.
"Laki-lakinya?" tanya Nadira.
"Dia tidak banyak bicara. Tinggi, berkacamata. Usianya mungkin tiga puluhan. Dia menunggu di mobil."
Arga menulis lagi.
Reza?
Nadira menggeleng kecil. Ia belum berani memastikan.
"Mereka minta apa, Bu?"
"Berkas bayi perempuan yang dulu diadopsi Pak Hendra dan Bu Ratih. Mereka tahu nama kecilmu di panti."
Jantung Nadira berdetak keras. "Nama kecil saya?"
"Nira."
Nama itu seperti benda kecil yang jatuh dari lemari tua. Nadira pernah mendengarnya dari Mama Ratih ketika demam saat kecil. Nira, minum dulu. Nira, jangan menangis. Setelah ia masuk sekolah, namanya selalu Nadira. Nama Nira menghilang seperti baju bayi yang disimpan di kotak.
"Mereka tahu dari mana?"
"Itu yang membuat saya takut. Tidak banyak orang tahu. Arsip lama kami juga tidak digital."
Arga menulis:
Jangan jawab sendiri. Minta detail.
Nadira mengangguk.
"Bu, apakah mereka melihat berkasnya?"
"Tidak lengkap. Saya bilang arsip sudah dipindah ke gudang lama. Sebenarnya saya curiga. Mereka membawa surat kuasa, tapi stempel kantornya buram. Saya minta mereka kembali besok dengan dokumen asli."
"Bagus, Bu. Jangan berikan apa pun."
"Saya tidak akan. Tapi setelah mereka pergi, ada anak panti yang lihat seseorang memotret gerbang dan gudang."
Nadira merinding.
"Bu Salmah sekarang di mana?"
"Di panti. Saya tinggal di belakang."
Arga langsung menulis:
Bima ke Semarang.
Nadira berkata, "Bu, kunci ruang arsip. Kalau bisa, minta pengurus lain menemani. Jangan sendirian."
"Saya sudah panggil Pak RT. Tapi Nak Nadira..."
"Iya?"
Suara Bu Salmah mengecil. "Mereka tidak cuma tanya adopsi. Mereka tanya apakah bayi itu dulu datang dengan gelang kecil."
Nadira menatap Arga.
"Gelang?"
"Iya. Gelang emas bayi. Ada ukiran huruf di dalamnya."
Nadira tidak pernah mendengar soal gelang.
"Saya punya gelang itu?"
Bu Salmah ragu. "Dulu ada. Tapi saat adopsi, barang bawaan bayi dicatat, lalu diserahkan pada orang tua angkat. Saya tidak tahu apakah Bu Ratih masih menyimpannya."
Nadira merasa lantai klinik menjadi jauh.
"Huruf apa, Bu?"
"Saya sudah tua, Nak. Ingatan saya tidak sekuat dulu. Tapi kalau tidak salah... huruf A dan S."
Arga menulis huruf itu.
A.S.
Nadira tidak tahu kenapa kombinasi itu membuat Arga terlihat berubah. Bukan terkejut besar, lebih seperti ia baru mendengar pintu yang jauh terbuka sedikit.
"Mas tahu sesuatu?"
Arga menatap huruf di kertas itu. "Belum. Hanya terasa familier."
"Dari mana?"
"Aku belum berani menebak. Tebakan bisa membuat kita salah arah."
Nadira tidak suka jawaban itu, tapi ia tahu Arga benar.
"Bu Salmah," kata Arga tiba-tiba, mendekat ke ponsel. "Saya Arga Wijaya. Tolong jangan sebut telepon ini kepada siapa pun selain pengurus yang Ibu percaya. Kami akan kirim orang ke sana malam ini."
Bu Salmah terdiam. "Wijaya?"
Nadira menatap Arga.
"Iya, Bu," jawab Arga.
"Keluarga Wijaya yang dulu punya yayasan di Semarang?"
Nadira menoleh tajam. "Apa?"
Arga juga tampak tidak tahu.
Bu Salmah berkata pelan, "Maaf, mungkin saya salah. Dulu banyak donatur. Saya hanya ingat nama itu pernah muncul di buku tamu lama."
"Buku tamu itu masih ada?" tanya Nadira.
"Masih. Di gudang arsip."
"Tolong simpan baik-baik."
"Iya, Nak. Cepatlah kalau bisa."
Telepon berakhir.
Ruang tindakan terasa sempit.
Nadira duduk di kursi. Tangan kirinya masih memegang ponsel, tangan kanannya menekan dada seolah bisa menahan jantung agar tidak keluar.
Arga berlutut di depannya. Gerakannya pelan karena lukanya, tapi ia melakukannya tanpa sadar.
"Nadira."
"Jangan."
Ia berhenti.
"Aku tidak tahu harus merasa apa," kata Nadira.
"Tidak perlu tahu sekarang."
"Aku bahkan tidak tahu ada gelang."
"Kita tanya Ibu Ratih."
"Jangan malam ini. Dia sudah hancur."
"Baik."
Nadira tertawa kecil, kosong. "Semua orang menyimpan sesuatu demi melindungiku, lalu suatu hari rahasia itu dipakai orang lain untuk melukaiku."
Arga menunduk. "Aku akan hubungi Bima."
"Jangan pakai satuanmu untuk urusan pribadiku."
"Aku akan minta dia sebagai Bima, bukan sebagai prajurit. Dia sudah di luar jam tugas."
"Itu pembelaan yang buruk."
"Aku tahu."
Nadira menatapnya, lelah. "Tapi aku butuh bantuan."
"Aku di sini."
Kali ini Nadira tidak membantah.
Arga menelpon Bima dan menjelaskan singkat. Bima, yang masih di hotel menunggu polisi memproses Reza, langsung menjawab akan berangkat ke Semarang bersama satu orang kepercayaannya setelah menyerahkan laporan awal.
"Jangan masuk panti seperti operasi," kata Nadira dari kursi.
Arga mengulang, "Jangan masuk seperti operasi. Datang baik-baik. Bawa surat identitas. Lindungi Bu Salmah dan arsip."
Bima di seberang berkata sesuatu.
Arga menatap Nadira. "Dia minta izin membawa Maya. Katanya Maya lebih mudah bicara dengan pengurus sipil."
Nadira hampir tertawa. "Maya pasti memaksa."
"Kemungkinan besar."
"Izinkan. Tapi suruh dia jangan menulis apa pun dulu."
Arga menyampaikan pesan itu.
Setelah panggilan selesai, Nadira menelpon Maya. Sahabatnya mengangkat dengan suara berbisik.
"Aku sedang di apartemen Kevin. Mama kamu sudah tidur setelah minum teh. Aku tidak menaruh obat apa pun, tenang."
"May."
"Kenapa suaramu begitu?"
Nadira menceritakan telepon Bu Salmah. Kali ini ia tidak sanggup membuat cerita itu rapi. Kalimatnya lompat-lompat. Panti. Dewi. Gelang. A.S. Buku tamu Wijaya.
Maya diam cukup lama.
"Aku ikut Bima," katanya akhirnya.
"Aku tahu."
"Aku tidak akan tulis. Aku janji."
"Terima kasih."
"Nad, kamu jangan sendirian malam ini."
Nadira melihat Arga. Ia sedang berdiri di dekat pintu, memberi ruang tapi tidak pergi.
"Aku tidak sendirian."
Maya juga diam setelah mendengar itu.
"Oke," katanya pelan. "Aku senang mendengarnya, walaupun nanti aku akan pura-pura biasa saja."
Nadira tersenyum lemah. "Kamu buruk dalam pura-pura biasa saja."
"Aku wartawan. Aku dibayar untuk terlihat tahu semua."
Panggilan selesai.
Arga kembali duduk di kursi pasien. "Kamu mau saya antar ke apartemen?"
"Aku mau ke rumah Mama Ratih."
"Sekarang?"
"Iya. Kalau gelang itu ada, aku ingin tahu sebelum orang lain menemukannya."
"Fadli di sana. Kita telepon dulu."
Nadira setuju. Ia menelpon Fadli lagi. Adiknya mengangkat cepat.
"Kak, pagar sudah kukunci. Papa juga sudah tahu sedikit."
"Fad, dengar baik-baik. Di rumah ada kotak dokumen adopsiku?"
"Ada di lemari kamar Mama. Kenapa?"
"Jangan buka kalau ada orang lain. Tapi cek dari luar, masih ada?"
Terdengar langkah cepat, pintu lemari dibuka, suara barang digeser.
"Ada kotak cokelat," kata Fadli. "Terkunci."
"Kuncinya?"
"Biasanya Mama simpan di dompet kecil."
Nadira menahan napas. "Ada tanda pernah dibuka?"
Fadli diam.
"Fad?"
"Kak... lemari bawah berantakan. Aku tadi tidak lihat. Ada bekas congkel kecil di laci."
Arga langsung berdiri.
Nadira merasa tubuhnya dingin. "Kotak cokelat masih terkunci?"
"Iya. Tapi ada amplop putih di atasnya. Bukan punya kita kayaknya."
"Jangan sentuh."
"Ada tulisan namamu."
"Fadli, jangan sentuh."
Terlambat. Suara kertas terdengar.
Fadli membaca dengan suara bergetar.
"Kalau ingin tahu siapa yang membuangmu, datang sendiri. Jangan bawa suamimu."
Nadira tidak bisa bernapas.
Arga mengambil ponsel dari tangannya dengan lembut. "Fadli, taruh surat itu. Foto dari jauh, lalu keluar dari kamar. Kunci pintu. Saya kirim orang ke rumahmu."
Fadli terdengar panik. "Mas Arga, siapa yang masuk rumah kami?"
Arga menatap Nadira.
"Orang yang ingin membuat kakakmu takut."
Nadira berdiri.
"Aku pulang sekarang."
Arga tidak melarang.
Ia hanya mengambil kunci mobil.
"Kita pulang."