NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28 — Mbak Wartawan, Tolong Kasih Bintang Lima

Puing-puing markas Blood Viper masih terbakar ketika Adrian akhirnya keluar dari balik gundukan pasir.

Api menjulang tinggi di kejauhan, menerangi langit malam Darsen dengan semburat merah-oranye. Asap hitam membubung ke udara, sementara sesekali terdengar suara ledakan kecil dari sisa amunisi dan bahan bakar yang belum habis terbakar.

Adrian berjalan santai.

Di bahunya tergantung tas merah-putih-biru yang sekarang bentuknya sudah hampir tidak karuan.

Bagian bawah tas menggembung seperti akan pecah kapan saja.

Beberapa sudut bahkan terlihat menonjol aneh karena isinya bukan lagi barang-barang ringan, melainkan campuran uang tunai, emas, batu permata, serta barang berharga lain yang sempat dia masukkan sebelum kabur dari markas.

Adrian sendiri tidak terlihat terbebani sedikit pun.

Sandal jepit birunya hanya menimbulkan bunyi kecil setiap kali menginjak pasir.

Plak.

Plak.

Plak.

Dia berjalan sambil sesekali menepuk-nepuk sisi tas.

“Untung tidak jebol.”

Adrian melirik ke belakang.

Api yang membakar bekas markas Blood Viper masih terlihat jelas.

Dia mengangguk puas.

“Kalau sampai uangnya ikut terbakar, saya pasti rugi.”

Beberapa ratus meter dari sana, Sienna masih berada di balik sebuah bukit pasir.

Sejak beberapa saat lalu dia bahkan sudah tidak menggunakan teropongnya.

Tangannya masih menggenggam alat itu, tetapi pandangannya kosong.

Sienna hanya duduk di atas pasir sambil menatap kobaran api yang memenuhi cakrawala.

Pikirannya seperti berhenti bekerja.

Apa yang baru saja dia saksikan?

Seseorang menghancurkan pertahanan sebuah markas bersenjata.

Menembus gedung.

Mengejar pemimpinnya sampai jalur bawah tanah.

Lalu keluar sebelum seluruh kompleks berubah menjadi lautan api.

Dan yang paling tidak masuk akal...

Orang itu sekarang sedang berjalan santai sambil membawa tas yang kelihatannya lebih berat daripada tubuhnya sendiri.

Sienna mengusap wajahnya.

“Ini nyata?”

Dia mencubit lengannya sendiri.

“Aduh!”

Sakit.

Berarti bukan mimpi.

Sienna baru hendak berdiri ketika sebuah bayangan tiba-tiba menutupi cahaya api di depannya.

Dia membeku.

Perlahan, kepalanya terangkat.

Adrian berdiri tepat di hadapannya.

Wajahnya sedikit kotor terkena debu.

Helm merah muda yang dikenakannya miring beberapa derajat.

Kaos putihnya sudah penuh noda.

Namun ekspresinya justru terlihat santai.

“Masih di sini?”

Sienna menatapnya tanpa berkedip.

Adrian menunggu beberapa detik.

Tidak ada jawaban.

Dia melambaikan tangan di depan wajah Sienna.

“Halo?”

Sienna akhirnya tersadar.

“Kau...”

Dia menunjuk ke arah Adrian.

Kemudian jarinya berpindah ke arah reruntuhan yang terbakar.

Lalu kembali menunjuk Adrian.

“...baru saja menghancurkan seluruh markas itu?”

Adrian menoleh sekilas.

“Oh.”

Dia mengangkat bahu.

“Kurang lebih.”

“Kurang lebih?!”

Suara Sienna meninggi.

Adrian menggaruk pipinya.

“Kalau dihitung dari awal, memang agak ramai.”

Sienna hampir kehilangan kata-kata.

Dia menatap pemuda di depannya dari kepala sampai kaki.

Helm anak-anak.

Sandal jepit.

Celana pendek.

Tas raksasa.

Dan wajah yang sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda baru saja melewati pertempuran yang seharusnya membuat orang biasa trauma seumur hidup.

Adrian justru terlihat seperti pekerja yang baru selesai lembur.

Sienna akhirnya menghela napas panjang.

“Kau sebenarnya siapa?”

Adrian tersenyum.

“Adrian.”

“Aku tahu namamu.”

“Kalau begitu kenapa tanya?”

Sienna terdiam.

Jawaban itu terlalu menyebalkan untuk dibantah.

Adrian kemudian menurunkan tas dari bahunya.

DUG!

Tas itu jatuh ke pasir dengan suara berat.

Sienna refleks melirik.

“Isinya apa?”

Adrian membuka sedikit resletingnya.

Kilatan warna kuning langsung terlihat dari dalam.

Sienna menyipitkan mata.

“Emas?”

Adrian buru-buru menutup kembali.

“Bukan.”

“Kau kira aku buta?”

Adrian berpikir sebentar.

“Ya... memang emas.”

Sienna menatapnya tajam.

“Dari mana?”

“Bonus.”

“Bonus?”

Adrian mengangguk santai.

“Kerja lembur.”

Sienna menekan pelipisnya.

Dia mulai merasa percakapan dengan pria ini bisa membuat tekanan darahnya naik.

Namun sebelum dia sempat bertanya lebih jauh, Adrian tiba-tiba mengambil sebuah botol air dari tas.

Botol itu masih tertutup rapat.

Dia melemparkannya kepada Sienna.

“Minum.”

Sienna menangkapnya.

“Kenapa?”

“Wajahmu kelihatan seperti belum minum dari tadi.”

Sienna memandang botol itu.

Kemudian menatap Adrian lagi.

Untuk sesaat, sikapnya melunak.

“Terima kasih.”

Adrian mengangguk.

“Jangan pingsan dulu.”

“Aku tidak akan—”

Sienna berhenti.

Tatapannya kembali mengarah ke tas besar di samping Adrian.

“Sebentar.”

“Apa?”

“Bagaimana kau membawa semua itu?”

Adrian melihat tasnya.

“Dengan bahu.”

“Aku serius.”

“Saya juga.”

Sienna menutup mata.

Lupakan.

Percuma bertanya.

 

Beberapa saat kemudian, Sienna akhirnya berhasil berdiri.

Kakinya masih terasa sakit karena sejak tadi terlalu banyak bergerak di medan berpasir.

Dia menatap Adrian dengan ekspresi jauh lebih serius.

“Adrian.”

“Hm?”

“Aku tidak tahu apa tujuanmu sebenarnya.”

Adrian menatapnya.

“Tapi apa yang terjadi malam ini tidak mungkin disembunyikan.”

Adrian mengangkat alis.

“Memangnya siapa yang mau menyembunyikan?”

“Kau tidak takut?”

“Takut apa?”

“Orang-orang akan mencarimu.”

Adrian menguap kecil.

“Kalau mereka punya waktu untuk mencari saya, berarti mereka belum cukup sibuk.”

Sienna terdiam.

Kemudian dia mengambil napas.

“Kalau aku membuat laporan tentangmu...”

Adrian langsung mengangkat telunjuk.

“Boleh.”

Sienna sedikit terkejut.

“Serius?”

“Tapi tolong satu hal.”

“Apa?”

Adrian memasang ekspresi sangat serius.

“Kasih penilaian yang bagus.”

Sienna mengernyit.

“Penilaian?”

“Ya.”

Adrian menunjuk dirinya sendiri.

“Kalau nanti kamu menulis laporan atau bicara kepada atasanmu, bilang saja pekerjaan saya selesai sesuai batas waktu.”

Dia berhenti sebentar.

“Kalau ada formulir kepuasan pelanggan, kasih lima bintang.”

Sienna menatapnya seperti melihat orang gila.

“Kau menghancurkan satu markas bersenjata, mengejar pemimpinnya, lalu masih memikirkan penilaian?”

Adrian mengangguk.

“Reputasi penting.”

“Reputasi?”

“Kalau pelanggan puas, kemungkinan dapat pekerjaan berikutnya lebih besar.”

Sienna terdiam cukup lama.

Kemudian dia menatap Adrian dengan ekspresi aneh.

“Pekerjaan?”

“Betul.”

“Kau menyebut semua ini pekerjaan?”

Adrian mengangguk.

“Memangnya apa?”

Sienna membuka mulut.

Namun tidak ada kata yang keluar.

Dia akhirnya menyadari satu hal.

Pria ini benar-benar tidak menganggap dirinya sedang melakukan sesuatu yang luar biasa.

Bagi Adrian, semua yang terjadi malam ini hanyalah pekerjaan.

Selesai.

Dibayar.

Pulang.

Sesederhana itu.

Sienna menelan ludah.

“Kalau begitu... aku akan menulis apa yang kulihat.”

Adrian langsung tersenyum.

“Bagus.”

“Tapi aku akan menulis semuanya.”

“Silakan.”

“Termasuk bagaimana kau menghancurkan pertahanan Blood Viper sendirian.”

Adrian mulai terlihat gelisah.

“Yang itu jangan terlalu detail.”

“Kenapa?”

“Bikin saya kelihatan terlalu hebat.”

Sienna menatapnya tajam.

“Kau memang terlalu hebat.”

Adrian tertawa kecil.

“Tidak perlu dibesar-besarkan.”

Sienna tidak tahu harus tertawa atau marah.

 

Adrian kemudian kembali mengangkat tasnya.

Kali ini dia memegang bagian bawah tas untuk memastikan jahitannya masih kuat.

“Sudah.”

Dia mengangguk puas.

“Waktunya pulang.”

Sienna langsung mengangkat kepala.

“Pulang ke mana?”

“Cari tempat istirahat.”

“Di tengah gurun?”

“Kenapa tidak?”

Adrian menunjuk langit.

“Masih ada banyak tempat kosong.”

“Itu bukan jawaban!”

Adrian sudah mulai berjalan.

Sienna buru-buru mengejarnya.

“Tunggu!”

Adrian berhenti.

Sienna berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Setidaknya beri tahu aku ke mana kau pergi.”

Adrian berpikir sebentar.

“Entahlah.”

“Kau tidak tahu?”

“Belum.”

“Lalu kau mau ke mana?”

Adrian menunjuk lurus ke depan.

“Ke sana.”

Sienna menatap arah yang ditunjuknya.

Yang ada hanya hamparan gurun.

“Di sana tidak ada apa-apa.”

Adrian mengangguk.

“Bagus.”

“Bagus dari mana?”

“Berarti tidak ada orang yang mengganggu.”

Sienna benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.

Adrian kembali berjalan.

“Selamat malam, Mbak Wartawan.”

“Adrian!”

“Hm?”

“Setidaknya tunggu sampai aku mendapatkan kendaraan!”

Adrian melambaikan tangan tanpa menoleh.

“Semoga dapat.”

Sienna berdiri di tempat.

Melihat punggung Adrian yang semakin jauh.

Tas besar menggantung di bahunya.

Helm merah muda masih miring.

Sandal jepitnya terus menimbulkan suara kecil di atas pasir.

Plak.

Plak.

Plak.

Sosok itu perlahan menghilang di balik gundukan pasir.

Sienna hanya bisa menggeleng.

“Orang macam apa dia sebenarnya...?”

 

Adrian berjalan cukup jauh sebelum menemukan sesuatu yang tampak seperti bangunan.

Awalnya dia mengira itu hanya tumpukan puing.

Namun setelah mendekat, dia menemukan sebuah kompleks kecil yang sudah lama ditinggalkan.

Bangunan-bangunan tua berdiri berjajar dengan dinding yang sebagian runtuh.

Papan nama sudah tidak terbaca.

Jendelanya pecah.

Beberapa atap bahkan telah ambruk.

Tetapi setidaknya tempat itu memiliki satu kelebihan.

Tidak ada orang.

Adrian masuk ke bangunan yang kondisinya paling layak.

Dia menaruh tas di sudut ruangan.

DUG!

Lantai langsung mengeluarkan suara berat.

Adrian memandang tas tersebut.

“Kalau besok masih utuh, berarti jahitannya bagus.”

Dia kemudian duduk.

Hari ini terlalu panjang.

Meskipun tubuhnya memiliki kemampuan luar biasa, mental seorang pekerja tetap membutuhkan hiburan setelah selesai bekerja.

Adrian membuka tas.

Setelah memastikan uang dan barang berharga di dalamnya masih aman, dia mengambil sebuah komputer jinjing.

Barang itu memang bukan baru.

Namun bagi Adrian, sudah cukup.

Dia menyalakan perangkat tersebut.

Beberapa menit kemudian, sambungan internet berhasil terhubung.

Adrian menggosok kedua telapak tangannya.

“Baik.”

“Waktunya hiburan.”

Dia membuka permainan daring favoritnya.

Namun baru beberapa saat masuk ke pertandingan, gerakannya mulai terasa aneh.

Karakter yang dia kendalikan terlambat bergerak.

Klik.

Diam.

Klik lagi.

Masih terlambat.

Adrian mengernyit.

“Jangan bilang...”

Sebuah indikator jaringan muncul di sudut layar.

Angkanya melonjak tinggi.

Kemudian turun.

Lalu naik lagi.

Adrian menatap layar dengan wajah tidak percaya.

“Serius?”

Karakter miliknya baru bergerak ketika sudah terlambat beberapa detik.

Serangan lawan datang bertubi-tubi.

Karakter Adrian tumbang.

Layar berubah.

Adrian terdiam.

Beberapa detik kemudian—

“ASTAGA!”

Tangannya menghantam pahanya sendiri.

“Ini koneksi macam apa?!”

Dia memeriksa ponsel.

Sinyal hanya tersisa satu garis.

Kemudian berubah menjadi tanda peringatan.

Adrian mematung.

“Tidak mungkin.”

Dia mencoba menyambungkan ulang.

Gagal.

Dia mencoba lagi.

Masih gagal.

Adrian mengusap wajahnya.

“Seharian melawan orang bersenjata tidak masalah.”

Dia menunjuk layar.

“Tapi menghadapi jaringan seperti ini...”

Dia menghela napas.

“Ini benar-benar musuh alami pekerja.”

Pesan dari rekan satu tim mulai bermunculan.

Beberapa menanyakan kenapa dia diam.

Yang lain mulai menyalahkan permainan buruknya.

Adrian mengetik dengan cepat.

[Tim] Adrian: Jaringan bermasalah.

Beberapa detik kemudian dia menambahkan:

[Tim] Adrian: Daerah ini sinyalnya parah. Karakter saya bergerak seperti sedang cuti.

Pesan lain langsung muncul.

[Tim] Rekan: Alasan.

Adrian menatap kalimat itu.

“Alasan?”

Dia mendengus.

“Kalau kalian tahu saya baru saja menghancurkan markas Blood Viper, kalian pasti langsung minta maaf.”

Namun dia tidak mengetiknya.

Terlalu merepotkan.

Adrian keluar dari permainan.

Dia bersandar ke dinding.

“Tidak bisa begini.”

Seorang pekerja boleh capek.

Boleh lapar.

Boleh menghadapi bahaya.

Tetapi setelah menyelesaikan pekerjaan...

Dia berhak menikmati waktu santai.

Adrian melihat ikon sinyal sekali lagi.

Satu garis.

Kemudian hilang.

Muncul lagi.

Hilang lagi.

“Tidak.”

Dia berdiri.

“Harus cari tempat yang sinyalnya lebih bagus.”

Adrian memasukkan komputer jinjing ke dalam tas kecil, mengambilnya, lalu berjalan keluar.

Sandal jepit biru kembali terpasang di kakinya.

Pintu kayu tua dibuka.

Kreeeek...

Udara malam gurun langsung menerpa wajahnya.

Adrian menyipitkan mata.

Di hadapannya terbentang gurun Darsen yang luas dan gelap.

Dia melihat layar ponselnya.

Satu garis sinyal.

Adrian berjalan beberapa langkah.

Satu garis.

Dia naik ke atas batu.

Dua garis.

Matanya langsung berbinar.

“Oh?”

Dia naik sedikit lebih tinggi.

Dua garis penuh.

Adrian tersenyum puas.

“Ketemu.”

Dia segera duduk di atas batu sambil membuka komputer jinjingnya.

“Sekarang...”

Jarinya mulai mengetik.

“Tidak ada yang boleh mengganggu waktu bermain setelah kerja.”

Tanpa Adrian sadari, beberapa kilometer dari tempatnya berada, Sienna masih berusaha menghubungi markasnya.

Dan tanpa dia ketahui pula, kejadian malam ini telah mengubah banyak hal.

Blood Viper telah lenyap.

Pemimpinnya telah mati.

Sebuah pekerjaan yang awalnya hanya terlihat seperti tugas biasa telah berubah menjadi peristiwa besar yang perlahan menarik perhatian pihak-pihak lain.

Namun Adrian tidak memedulikannya.

Saat ini hanya ada satu hal yang memenuhi pikirannya.

Sinyal internet.

Dan malam itu, bagi seorang pekerja yang baru selesai lembur...

mencari tempat dengan koneksi stabil ternyata terasa jauh lebih penting daripada menghadapi satu batalion bersenjata.

1
Aisyah Suyuti
seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!