Asap kelabu dari sisa pembakaran minyak mesin siber menyelinap masuk melalui celah pilar obsidian Aula Gerhana, berputar-putar menciptakan bayangan kaku di atas lantai batu yang dingin. Di luar menara istana, langit Planet Akuma sedang memuntahkan badai hujan merkuri cair yang paling pekat sepanjang satu abad sejarah klan Shinto. Ketukan logam mendidih yang menghantam atap baja terdengar konstan, menciptakan simfoni bising yang meredam detak kehidupan normal. Dengan gaya tarik bumi yang bekerja seratus kali lipat lebih ekstrem, atmosfer di dalam bilik bersalin itu terasa begitu menjepit raga, memaksa setiap hela napas yang keluar dari tenggorokan terasa berat dan membakar sistem pernapasan seutuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mara Nata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VOLUME I: SILSILAH DARAH DAN BESI
Bab 1: Malam Kelahiran di Atas Batuan Akuma
Malam itu langit di atas tanah Akuma sedang mengamuk. Tapi kalau mau jujur, planet gersang yang isinya cuma tumpukan batu hitam ini memang tidak pernah ramah pada siapa pun sejak pertama kali tercipta di alam semesta. Di luar dinding Aula Gerhana, suara angin malam terdengar begitu kasar. Angin itu bertiup kencang membawa aroma karat besi tua dan bau belerang menyengat yang bikin tenggorokan rasanya seperti dicekat. Hujan yang turun malam itu juga bukan air jernih yang segar, melainkan cairan merkuri pekat yang terus-menerus menghantam atap baja menara dengan ketukan yang sangat berisik dan konstan. Tekanan udara di tempat ini rasanya begitu berat. Seolah-olah ada beban ribuan ton yang sengaja ditaruh di atas pundak setiap makhluk hidup yang ada di sini. Di planet neraka ini, kalau tulangmu tidak mengeras dengan cepat sejak lahir, tubuhmu cuma akan berakhir menjadi genangan darah di atas tanah.
Di dalam bilik bersalin yang cuma diterangi oleh beberapa suar lampu minyak tanah yang bergoyang kaku, Putri Hana sedang bertaruh nyawa. Dia terengah-engah di atas dipan kayu tua yang sudah reot. Kain sutra merah khas tanah kelahirannya, Solari, sekarang sudah basah kuyup oleh keringat dan robek di beberapa bagian akibat menahan rasa sakit yang luar biasa. Sepasang lengannya yang gemetar hebat sedang mendekap erat sesosok bayi kurus yang baru saja keluar dari rahimnya. Ada satu hal yang terasa sangat aneh malam itu. Tidak ada suara lengkingan tangis bayi yang memecah kesunyian malam. Bayi itu cuma diam membeku. Tubuh kecilnya nampak pucat pasi, dan gerakan dadanya berjalan putus-putus dengan ritme yang sangat lambat, seperti tidak punya tenaga untuk menghirup udara Akuma yang beracun.
Raja Juro Shinto berdiri diam tidak jauh dari samping dipan. Jubah hitam polos kebesarannya tersampir longgar hingga menyentuh lantai batu obsidian yang dingin. Sebagai pemimpin tertinggi Kuadran Utara yang memegang takhta pedang tradisional, Juro adalah tipe pria yang jarang sekali menunjukkan rasa cemas di depan orang lain. Namun malam ini, rahang ksatria veteran itu nampak mengencang kaku. Dia melangkah maju dengan derap langkah yang terdengar sangat berat, lalu meletakkan telapak tangan besinya yang dipenuhi kapalan tebal di atas dada mungil anaknya.
Detik itu juga, ada getaran aneh yang langsung menjalar ke ujung jari Juro. Jantung bayi kecil itu bergerak acak, benar-benar kacau dan di luar batas kewajaran makhluk hidup. Terkadang, jantung kecil itu mendadak berdegup sangat kencang bagai deru mesin siber yang sedang rusak parah, memancarkan hawa panas yang membuat kulit tipis bayinya melepuh kemerahan. Namun di ketukan berikutnya, detak itu mendadak hilang begitu saja. Jantungnya berhenti berdetak total selama beberapa menit yang menegangkan, membuat tubuh kecil sang bayi mendingin dengan cepat bagai seonggok mayat kaku yang kehilangan roh.
"Juro..." bisik Hana dengan suara yang sangat serak, nyaris habis karena tenaganya terkuras habis. Dia sedang menahan rasa perih luar biasa pasca-melahirkan yang mencabik-cabik batinnya sebagai seorang ibu. "Tatap matanya, Juro. Kenapa detak jiwanya berjalan patah-patah seperti itu? Kenapa tidak ada pendaran api matahari dari silsilah darah keluargaku atau pusaran angin klan Shinto di sepanjang nadinya? Katakan padaku, Juro... anak kita akan tetap bernapas dan selamat, bukan?"
Juro tidak segera menjawab pertanyaan istrinya. Sepasang matanya yang hitam legam menatap lurus ke arah pintu kayu ek raksasa di ujung aula. Dari balik dinding batu yang tebal, telinga tajamnya sudah bisa menangkap suara derap langkah kaki sepatu laras besi yang berat, kasar, dan berisik. Angin di dalam kompleks kuil ini memang sudah lama membusuk, selalu membawa bau pengkhianat dari balik koridor istana.
"Tenangkan batinmu, Hana," ucap Juro dengan nada suara yang pelan, namun bergaung berat menembus setiap sudut ruangan. "Badai yang sesungguhnya bukan hujan merkuri yang sedang mengamuk di luar sana. Badai itu baru saja melangkah melewati gerbang depan bilik kita."
BRAAK!
Pintu kayu ek raksasa itu mendadak dihantam hancur berantakan hingga engsel besinya terlepas kaku, menyemburkan serpihan kayu mati dan kabut kelabu kotor ke dalam ruangan ritual bersalin. Tetua Kaelen melangkah masuk dengan keangkuhan seorang pemimpin faksi yang tidak tahu malu. Separuh wajahnya dan seluruh lengan kanannya sudah diganti oleh lempengan besi kiriman dari Kekaisaran Vorash, memancarkan lampu indikator mesin berwarna merah pekat yang berkedip-kedip dengan cara yang menjijikkan bagi mata pendekar ortodoks.
Di samping kanan Kaelen, selir tiri Juro yang bernama Renka berjalan dengan gaun sutra emasnya yang teramat mewah. Tangannya memegang sebuah kipas perak yang ia kibaskan dengan gerakan lambat yang teratur, sementara sepasang mata mekanis palsunya nampak menatap lurus ke arah dekapan Hana dengan senyum sinis yang menusuk batin. Di belakang mereka, tiga puluh pendekar elit Sektor Delapan langsung merangsek masuk tanpa izin, membentuk formasi pengepungan melingkar dan mengacungkan moncong pedang ungu mereka tepat ke arah dipan bersalin.
"Ujian takdir alam semesta sudah memberikan jawaban yang paling jujur, Pemimpin Besar Juro!" raung Tetua Kaelen. Suara parau mekanisnya terdengar gila, pecah berantakan melalui pengeras suara yang terpasang di leher zirahnya. Tangan besinya menunjuk langsung ke arah tubuh kurus bayi Ryuken yang sedang sekarat. "Anak pertama yang lahir dari rahim wanita asing Solari itu terlahir membawa kutukan cacat bawaan yang menjijikkan! Jantungnya yang cacat telah merusak hukum aliran energi klan Shinto kita! Aturan adat kekaisaran sudah mutlak sejak era kuno: benalu kotor tidak boleh dimasukkan ke dalam buku silsilah darah murni kekaisaran, dan hak waris takhtanya resmi kami cabut malam ini juga!"
Juro Shinto membalikkan tubuh raksasanya secara perlahan. Tekanan mengerikan yang keluar dari tubuhnya begitu pekat, seolah-olah memotong seluruh pasokan udara bebas di dalam aula seutuhnya. Ia memegang hulu pedang besi kasar kunonya dengan cengkeraman mati yang tak tergoyahkan seumur hidup.
"Jaga lidah kotormu, Kaelen!" geram Juro dengan getaran suara yang begitu berat hingga memaksa barisan pendekar elit di belakang Tetua Kaelen tersentak mundur satu langkah menahan ngeri. "Ryuken adalah putra tertua dan pewaris sah takhta pedang Kuadran Utara! Darah murni mendiang leluhur mengalir di dalam sumsum tulangnya, dan aku tidak akan membiarkan faksi radikalmu mendikte garis keturunanku cuma karena kalian takut kehilangan muka di depan bangsa mesin luar angkasa!"
Renka melangkah maju dari balik bayangan pundak Kaelen, melayangkan tatapan meremehkan yang luar biasa tajam melintasi batas kasta. Ia melipat kipas sutranya dengan ketukan yang keras tepat di depan wajah Hana yang sedang lemas menahan sakit. "Kehormatan masa lalu tidak bisa digunakan untuk membeli pasokan senjata dari Kekaisaran Vorash, Yang Mulia Juro!" desis Renka, nada suaranya dipenuhi oleh kelicikan yang luar biasa menyayat hati. "Putra kandungku, Ren kecil, lahir dengan struktur tubuh pendekar yang sempurna tanpa cacat sedikit pun! Detak jiwanya selaras dengan ketukan detik semesta! Dewan Tetua tidak akan sudi menyerahkan masa depan militer Kuadran Utara ke tangan seorang anak penyakitan yang bahkan tidak bisa mengangkat kepalanya sendiri dari atas tanah kotor planet ini!"
"Kau telah menjual kesetiaan leluhurmu demi kepingan emas luar angkasa dan zirah besi rongsokan, Renka!" sahut Hana dengan sisa energinya. Sepasang matanya mendadak memancarkan pendaran api Solari yang membuat udara dingin di sekitar dipan mendadak terasa panas dan membakar. "Kalian cuma menggunakan tubuh lemah putraku sebagai alasan busuk untuk merebut takhta Kuadran Utara dan menyerahkannya ke tangan penguasa Sektor Delapan yang busuk!"
"Kami tidak menjual kesetiaan, Putri Hana, kami hanya memilih siapa yang terkuat untuk menjaga klan ini agar tidak punah!" bentak Tetua Kaelen. Tangan besi mekanisnya menghantam pilar batu di samping dipan hingga pilar batu itu retak seribu dan menyemburkan debu ke udara.