Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.
Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Aksa menancapkan gasnya meninggalkan area balap liar yang riuh, raungan mesin mobil sport hitamnya membelah kegelapan malam, menyusuri jalanan kota yang kian lengang.
Gesekan logam akibat senggolan di arena balap meninggalkan jejak goresan panjang di fender kanan mobilnya, namun pria itu sama sekali tidak peduli, matanya yang tajam tetap menatap lurus ke depan.
Beberapa saat kemudian, Aksa membelokkan kemudinya menuju kawasan perumahan elit. Gerbang besi tinggi kediaman megah keluarga Mahendra terbuka secara otomatis saat sensor mengenali mobilnya.
Waktu menunjukkan pukul tiga pagi lewat sedikit ketika Aksa melangkah masuk ke dalam rumah, langkah kakinya yang dibalut sepatu kulit sengaja diperlambat dan merayap tanpa suara di atas lantai marmer yang dingin.
Seluruh penghuni rumah sudah lelap dalam tidur mereka. Tanpa menyalakan lampu utama, Aksa berjalan menuju kamarnya di lantai dua dan melepaskan jaket balapnya, lalu membersihkan diri sebelum membaringkan tubuhnya untuk istirahat sejenak.
Pukul tujuh pagi, suasana di ruang makan utama kediaman Mahendra terasa hangat oleh aroma kopi hitam yang baru diseduh dan sajian sarapan pagi. Papa Mahendra, pria paruh baya berwibawa yang masih memegang kendali atas beberapa anak perusahaan, sedang melipat surat kabar hariannya, sementara Mama Bella sibuk menuangkan teh hangat ke dalam cangkir porselen.
Langkah kaki yang mantap dan teratur berbunyi dari arah tangga, Aksa turun dengan setelan kemeja formal berwarna navy yang pas di tubuh tingginya, rambutnya tertata rapi dan jam tangan mewahnya melingkar sempurna di pergelangan tangan.
Suara dentang sendok Mama Bella terhenti seketika, kedua orang tua Aksa menoleh bersamaan dan tak mampu menyembunyikan rasa terkejut mereka.
"Aksa?" panggil Mama Bella, matanya membelalak kaget seraya meletakkan cangkir tehnya kembali ke tatakan.
"Kapan kamu pulang? Mama sama sekali tidak mendengar suara mobilmu semalam," tanya Mama Bella.
Papa Mahendra menurunkan kacamata baca di hidungnya, menatap putra tunggalnya itu dari atas ke bawah dengan dahi berkerut, namun ada binar keharuman yang tertahan di matanya.
"Tumben sekali kamu ingat punya rumah, Aksa. Papa pikir kamu sudah lupa jalan pulang karena terlalu sibuk dengan urusan bisnismu atau balapan tidak jelas itu," sindir Papa Mahendra.
Aksa melangkah mendekati meja makan dengan wajah datar tanpa ekspresi, menarik salah satu kursi di hadapan ibunya lalu duduk dengan tenang.
"Aksa pulang jam tiga pagi tadi, Ma. Sengaja nggak nyalain lampu biar nggak ganggu tidur kalian," jawab Aksa dengan suara beratnya yang tenang, ia lalu melirik papanya tipis.
"Dan balapan itu cuma selingan, Pa. Lagipula semua bisnis Vanguard Group sangat menguntungkan, bukan? Bukannya persyaratan Papa saat itu, Aksa boleh ikut balapan atau berantem asalkan Aksa bisa membuat Vanguard Group untung," balas Aksa.
Mama Bella tersenyum hangat, mengabaikan nada ketus suaminya, lalu menggeser piring berisi sarapan ke dekat tangan Aksa.
"Ya sudah, yang penting kamu sarapan dulu. Kamu ini makin kurus saja sejak tinggal di apartemen sendiri," sahut Mama Bella.
Aksa mengangguk pelan, meraih cangkir kopi hitam tanpa gula yang langsung disodorkan oleh pelayan rumah. Namun, ketenangan di meja makan itu tidak berlangsung lama ketika Papa Mahendra berdehem keras, memperbaiki posisi duduknya.
"Karena kamu sudah ada di rumah pagi ini, ada hal penting yang harus kita bahas," ujar Papa Mahendra dengan nada suara yang berubah serius.
Aksa yang baru saja menyesap kopinya menghentikan gerakannya sejenak, ia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini akan bermuara.
"Tentang pernikahan?" tebak Aksa.
"Tentu, kamu sudah 30 tahun. Sudah waktunya kamu menikah," jawab Papa Mahendra.
"Papa mau menantu yang bagaimana? Aksa akan cari," tantang Aksa.
"Papa nggak percaya sama pilihan kamu, Papa udah punya calon yang sesuai sama sikap kamu ini," ucap Papa Mahendra.
"Papa yakin?" tanya Aksa.
"Papa yakin, besok kita ke rumahnya. Dia anaknya teman Papa, Papa yakin dia adalah perempuan yang pas buat kamu," ucap Papa Mahendra.
Aksa menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan memandangi sang ayah dengan tatapan pekat yang sulit diterjemahkan, senyum tipis yang dingin mengukir bibirnya.
"Terserah Papa," jawab Aksa singkat, memotong ketegangan dengan nada acuh tak acuh yang membuat Papa Mahendra mendengus kasar.
"Tapi jangan salahkan Aksa kalau besok anak teman Papa itu sendiri yang lari ketakutan," lanjut Aksa.
Aksa merapikan lengan kemejanya, menyapu bersih sisa kopi di cangkirnya, lalu berdiri dari meja makan tanpa menyentuh sarapannya lagi.
"Aksa berangkat ke kantor dulu, Ma," pamitnya tenang, mencium pipi ibunya yang hanya bisa menghela napas pasrah melihat kelakuan putra tunggalnya.
Aksa melangkah keluar dari kediaman Mahendra menuju pelataran parkir. Di sana, Pak Edo, sopir pribadi keluarga, sudah berdiri sigap di samping sedan hitam formal yang biasa digunakan Aksa untuk bekerja. Mobil sport hitam milik Aksa yang fender kanannya penyok akibat benturan balapan semalam telah dikirimkan ke bengkel khusus langganannya sejak subuh tadi oleh anak buahnya.
Aksa melangkah masuk ke kursi belakang, menyandarkan kepalanya pada sandaran jok kulit yang empuk. Pikirannya melayang, perjodohan yang dirancang papanya bukan hal baru, namun nada ketegasan papanya kali ini mengisyaratkan bahwa sosok perempuan yang dipilihkan adalah yang terbaik.
Aksa memejamkan mata sejenak, wajah anggun yang dingin dan formal seketika terlintas di benaknya, namun bayangan itu perlahan pudar dan berganti dengan kilasan bayangan seorang gadis berapron lusuh di lorong remang-remang klub malam, gadis bisu yang tetap tersenyum tulus meski menderita.
Aksa mendengus pelan, menepis bayangan tersebut. 'Ngapain lo harus mikirin gadis itu lagi sih?' batinnya.
"Ke kantor utama Vanguard Group, Tuan?" tanya Benny, asistennya, yang baru saja masuk kedalam mobil dan duduk di kursi penumpang sebelah kemudi.
"Ya... Dan tolong suruh tim memeriksa perkembangan kasus kepemilikan lahan di kawasan Bandung Selatan," perintah Aksa datar, ia kembali memfokuskan pikirannya pada kerajaan bisnis yang ia bangun dengan tangannya sendiri.
Benny langsung mencatat instruksi tersebut di tablet digitalnya, "Baik, Tuan. Laporan analisis lahan Bandung Selatan akan siap sebelum rapat direksi jam sepuluh," jawabnya.
Sementara itu, jam dinding di kamar sempit Nadia menunjukkan pukul delapan pagi, Nadia baru saja tiba di rumah setelah menyelesaikan shift hukumannya hingga jam tujuh pagi.
Tubuh Nadia terasa begitu berat, kakinya pegal dan matanya panas karena kantuk yang amat sangat. Namun, sebelum sempat merebahkan diri di atas kasur tipisnya, suara ketukan kasar menghantam pintu kayu rumahnya.
Brak! Brak! Brak!
Nadia tersentak. Dengan sisa tenaganya, ia berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan. Di ambang pintu, berdiri Bibi Ratih dengan kedua tangan berkacak pinggang dan wajah bersungut-sungut. Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya bersetelan rapi membawa map cokelat.
"Nadia! Bagus ya, jam segini baru pulang! Dari mana saja kamu semalaman?" tanya Bibi Ratih tanpa basa-basi, matanya memelotot galak.
Nadia dengan cepat mengambil buku tulis kecil dari tasnya dan mengetik pesan.
[Kenapa Bibi ada disini? Bibi kan tinggal di Purwakarta?]
.
.
.
Bersambung.....