Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20 - Ketukan Tengah Malam
Tiga hari setelah akad Nadia, keluarga Pak Darto dan keluarga Wiratmaja mengadakan lamaran resmi untuk Bella dan Arman.
Tidak meriah.
Tidak mungkin meriah.
Tenda kecil dipasang di halaman Pak Darto. Kursi plastik hanya dua baris. Tetangga datang lebih karena ingin melihat lanjutan cerita daripada mendoakan. Bu Ratna berusaha membuat semuanya tampak pantas, tapi wajah lelahnya tidak bisa disembunyikan.
Bella duduk di ruang tengah dengan kebaya merah muda.
Ia cantik.
Itu harus diakui.
Tapi kecantikannya hari itu seperti bunga yang dipaksa mekar di cuaca salah. Matanya berkali-kali melihat pintu, menunggu Arman.
Arman datang terlambat.
Pak Hendra, Bu Lilis, dan beberapa kerabat datang lebih dulu. Raka dan Nadia juga hadir karena Pak Hendra meminta. Nadia sebenarnya tidak ingin, tapi Raka berkata kehadiran mereka bisa mencegah cerita diputar aneh. Jadi mereka datang, duduk di sisi keluarga Wiratmaja.
Begitu Nadia masuk, beberapa orang langsung berbisik.
"Itu Tante Nadia."
"Cantik ya setelah nikah."
"Raka kelihatan lebih segar."
Bella mendengar semuanya.
Ia menunduk, menggenggam tangan sendiri.
Nadia tidak memakai pakaian mencolok. Hanya gamis hijau tua dan kerudung senada. Tapi justru karena sederhana, ia terlihat tenang. Di sampingnya, Raka beberapa kali bertanya pelan apakah ia ingin minum. Hal kecil itu dilihat banyak mata.
Arman akhirnya datang dengan batik kusut.
Bu Lilis hampir meledak.
"Kamu dari mana?"
"Bengkel."
"Hari lamaranmu sendiri kamu terlambat?"
"Pak Jaya tidak langsung mengizinkan pulang."
Pak Hendra menatapnya.
"Karena kamu datang terlambat ke bengkel juga?"
Arman diam.
Bella merasakan wajahnya panas. Ia ingin membela Arman, tapi kata-kata tidak keluar.
Acara dimulai dengan kaku. Pak Darto menerima keluarga Wiratmaja. Pak Hendra menyampaikan niat Arman melamar Bella. Semua orang tahu ini bukan lamaran karena rencana indah, melainkan jalan darurat setelah tertangkap basah.
Namun Bu Ratna tetap menangis haru.
"Kami menerima dengan lapang dada. Semoga anak-anak ini diberi jalan baik."
Nadia menatap teh di tangannya.
Lapang dada.
Bu Ratna bisa menjahit kain kotor menjadi bendera putih kalau diberi cukup penonton.
Saat sesi penyerahan tanda, Bu Lilis mengeluarkan kotak kecil. Isinya cincin sederhana. Jauh lebih kecil daripada cincin Nadia, meski masih pantas. Bella melihatnya dan wajahnya berubah setengah detik.
Nadia menangkap itu.
Bella kecewa.
Tapi ia tidak berani menunjukkannya.
Arman memasangkan cincin ke jari Bella dengan gerakan terburu-buru. Tidak bertanya. Tidak menatap lama. Setelah selesai, ia langsung menarik tangan.
Bella memandang cincin itu.
Di ruang yang sama, ia teringat Raka memasangkan cincin pada Nadia sambil berkata kalau tidak pas harus diperbaiki. Arman bahkan tidak peduli cincin itu agak sempit.
"Sakit?" bisik Bu Ratna.
Bella menggeleng.
Padahal iya.
Setelah acara, makan disajikan. Suasana mulai lebih cair karena orang-orang kampung selalu bisa makan meski drama belum selesai. Nadia duduk di dekat Sari. Raka berbincang dengan Pak Hendra di teras.
Bella menghampiri Nadia.
"Tante Nadia."
Nadia mengangkat wajah.
Bella tersenyum lemah.
"Aku ingin bicara sebentar."
Sari langsung waspada.
Nadia berkata, "Bicara di sini."
"Empat mata."
"Kamu kehilangan hak meminta empat mata sejak malam lamaran."
Bella memucat.
"Aku hanya ingin minta maaf."
"Silakan. Mbak Sari boleh dengar."
Bella menatap Sari, lalu menunduk.
"Maaf. Aku tahu aku menyakitimu. Tapi aku benar-benar mencintai Mas Arman."
Nadia menunggu.
Bella melanjutkan, "Aku harap setelah ini kita bisa baik-baik saja. Bagaimanapun kita akan sering bertemu."
"Kita bisa sopan."
"Hanya sopan?"
"Apa kamu berharap aku memelukmu?"
Bella menggigit bibir.
"Aku berharap kamu tidak terus membenciku."
Nadia meletakkan gelas.
"Bella, kebencianku bukan masalah terbesarmu."
"Maksudnya?"
Nadia melihat Arman di teras. Laki-laki itu sedang merokok diam-diam, padahal Bu Lilis tidak suka. Wajahnya kusut, matanya sesekali melirik Nadia dan Raka.
"Masalah terbesarmu adalah kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan, tapi belum tentu sanggup hidup dengannya."
Bella menatapnya tajam.
"Kamu selalu bicara seolah tahu masa depan."
Nadia tersenyum.
"Aku hanya tahu watak manusia jarang berubah."
Bella ingin membalas, tapi Bu Ratna memanggilnya. Ia pergi dengan wajah gelisah.
Menjelang malam, Nadia dan Raka pulang.
Di mobil, Raka bertanya, "Bella bicara apa?"
"Minta maaf."
"Tulus?"
"Dia ingin merasa aman."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban paling dekat dengan tulus yang dia punya sekarang."
Raka mengangguk pelan.
Di rumah kecil, mereka makan malam ringan. Raka tampak lelah setelah seharian berada di tengah banyak orang. Nadia membuatkan teh jahe dan menyuruhnya minum obat lebih awal.
"Kamu mulai seperti perawat," kata Raka.
"Aku istri yang tidak mau suaminya tumbang sebelum mencuci piring."
"Saya cuci?"
"Besok. Hari ini aku."
"Tidak adil."
"Aku sedang memberi diskon lamaran Bella."
Raka tertawa, lalu batuk kecil.
Malam itu mereka tidur lebih awal. Nadia mulai terbiasa dengan napas Raka di sampingnya. Ia juga mulai terbiasa bahwa sebelum mematikan lampu, Raka selalu bertanya apakah jendelanya terlalu terbuka, apakah ia butuh air, apakah lampu kecil perlu dinyalakan.
Perhatian yang tidak berisik.
Sekitar tengah malam, ketukan keras membangunkan mereka.
Tok. Tok. Tok.
Nadia langsung duduk.
Raka juga bangun, batuk karena terkejut.
Ketukan datang lagi.
"Tante Nadia! Om Raka!"
Suara Bella.
Nadia menyalakan lampu.
Raka mengambil jaket.
"Tunggu di kamar. Saya lihat."
Nadia menatapnya.
"Dia memanggil namaku juga."
Mereka keluar bersama ke ruang tamu. Ketukan makin panik.
"Tante, buka! Tolong!"
Nadia membuka pintu, tapi tetap memasang rantai pengaman. Celah pintu memperlihatkan Bella berdiri di teras dengan wajah pucat, rambut berantakan di balik kerudung yang asal pakai. Pipinya merah seperti habis ditampar atau menangis terlalu lama.
Di belakangnya, Arman berdiri beberapa langkah dari pagar, wajahnya gelap.
Nadia menatap Bella.
"Tengah malam begini ada apa?"
Bella menangis.
"Mas Arman marah. Dia bilang semua ini salahku. Dia mau membatalkan akad."
Arman dari pagar berseru, "Jangan drama! Aku cuma bilang kita perlu pikir ulang."
Bella menoleh panik.
"Mas, kamu tadi bilang tidak mau menikah!"
Raka membuka pintu lebih lebar, tapi tetap berdiri di depan Nadia.
"Arman, ini rumah saya. Jangan berteriak tengah malam."
Arman menunjuk Bella.
"Suruh dia pulang. Dia yang lari ke sini."
Nadia menatap Bella.
"Kenapa ke sini?"
Bella menunduk, menangis lebih keras.
"Aku tidak tahu harus ke mana."
Nadia diam.
Di kehidupan lalu, berapa kali ia ingin lari dari Arman tapi tidak punya rumah yang mau membukakan pintu? Berapa kali ia berdiri di halaman malam-malam, menggigil, lalu kembali masuk karena tidak ada pilihan?
Namun Bella bukan Nadia.
Bella datang bukan karena bertahun-tahun disiksa. Ia baru mencicipi akibat pilihannya selama beberapa hari. Dan ia datang ke rumah orang yang ia sakiti.
Raka berkata pelan, "Nadia?"
Nadia menarik napas.
Ia membuka rantai pintu.
Bella tampak lega.
Tapi sebelum Bella masuk, Nadia mengangkat tangan.
"Kamu boleh duduk di teras. Tidak masuk rumah."
Bella membeku.
"Tante..."
"Ini rumahku. Aku menentukan batas."
Arman tertawa sinis.
"Lihat? Dia tidak peduli padamu."
Nadia menatap Arman.
"Mas Arman, kalau kamu bicara satu kali lagi dengan nada begitu di depan rumahku, aku panggil Pak RT dan Polsek. Tengah malam kamu mengejar perempuan sampai rumah orang, itu bukan pemandangan bagus untuk calon pengantin."
Arman terdiam.
Raka menatap Nadia dengan bangga yang tidak ia sembunyikan.
Bella duduk di kursi teras, gemetar.
Nadia mengambil segelas air, memberikannya.
"Minum."
Bella menerima dengan tangan bergetar.
"Tante, aku takut."
Nadia berdiri di ambang pintu.
"Takut menikah dengan Arman?"
Bella menangis tanpa menjawab.
Dari pagar, Arman memalingkan wajah.
Malam itu, Nadia tahu babak baru sudah dimulai.
Api yang Bella rebut akhirnya menyentuh kulitnya sendiri.
Namun Nadia juga tahu, api kecil tidak langsung membuat orang sadar. Kadang orang justru menyalahkan tangan yang memberi air.
Ia menatap Bella yang masih gemetar, lalu Arman yang keras kepala di dekat pagar.
"Duduk sampai tenang," kata Nadia. "Setelah itu kalian pulang dengan keputusan sendiri. Rumah ini bukan tempat kalian memindahkan akibat."
Bella mengangkat wajah, antara malu dan putus asa.
Raka menutup pintu sebagian, menyisakan Nadia tetap terlihat dari teras.
Batas itu jelas.
Dan untuk malam pertama sejak semua kekacauan dimulai, Bella berada di luar batas yang dulu ia kira bisa ia langgar sesuka hati.
🤣🤣🤣