NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 33

Nana mengira ia setidaknya punya satu hari untuk berlatih.

Ia salah.

Sore itu, Irwan memanggilnya ke ruang samping dekat ruang kerja William. Bukan ruang rapat besar, hanya ruang kecil dengan tirai tebal dan layar yang tersambung ke ponsel khusus. Di sana sudah ada Steven, Tamara, Irwan, dan Stella.

Stella tampak seperti orang yang tidak ingin berada di ruangan itu tapi lebih takut jika ditinggalkan di luar.

"Kenapa Cici Stella ikut?" tanya Nana pelan.

Stella menjawab sebelum siapa pun. "Karena kalau aku terus dilindungi dari semua hal, aku akan mulai membenci semua orang yang bilang menyayangiku."

Steven tidak menatapnya. "Kau boleh keluar kapan saja."

"Aku tahu."

Tamara berdiri di dekat jendela. "Kanal lama memberi jadwal panggilan. Mereka ingin mendengar apakah keluarga masih membekukan akses Steven."

"Dan kita akan membuat mereka percaya?" tanya Nana.

Steven melihatnya. "Mereka harus percaya aku makin terpisah dari keluarga."

Stella menegang.

Nana merasakan kertas catatannya di saku. Baris pertama masih ada di sana.

Aset kecil: bahu menegang.

Ia menarik napas pelan dan menurunkan bahunya.

Panggilan masuk.

Irwan menyalakan perekam. Steven mengangkat.

"Kau lama," kata suara dari seberang.

Steven bersandar di kursi, wajahnya berubah menjadi malas. "Aku sedang menikmati keluargaku panik."

Stella menggigit bibir.

Nana melihat itu. Ia ingin menyentuh tangan Stella, tapi tidak bergerak. Jika ia bergerak terlalu cepat, ia sendiri akan gagal latihan.

"Katanya aksesmu dibekukan."

"Dibekukan di depan mereka," jawab Steven. "Orang tua suka merasa pintu yang mereka kunci benar-benar tertutup."

Tamara menunduk sedikit. Bukan karena percaya, melainkan karena kalimat itu tetap melukai.

Suara itu tertawa. "Victoria suka caramu bicara."

"Victoria suka banyak hal yang tidak bisa dia miliki."

Irwan memberi tanda kecil. Terus.

"Bagaimana anak itu?"

Nana tahu pertanyaan itu akan datang. Tetap saja kulit di punggungnya menegang.

Steven menjawab tanpa jeda. "Aset kecil masih berguna. Terlalu ingin membuktikan diri. Mudah diarahkan kalau diberi pintu kecil."

Stella menoleh cepat kepada Nana.

Nana menatap layar mati di meja, bukan Steven, bukan Stella. Bahunya tetap turun. Telapak tangannya menekan sisi paha, tersembunyi di bawah meja.

Pilih kapan orang lain boleh melihat darah.

"Kau yakin dia bukan kelemahanmu?"

Steven tertawa. "Kalau aku menyimpan kelemahan, aku tidak akan memilih anak pasar yang bahkan belum pintar menyembunyikan wajah."

Nana mencatat rasa sakitnya dalam kepala.

Anak pasar. Wajah belum pintar. Bukan darah untuk mereka lihat.

Panggilan itu berlangsung tujuh menit. Steven memberikan cukup arogansi untuk membuat lawan bicara terus bicara. Ia menyebut keluarganya mudah dipancing, menyebut William terlalu tua untuk membaca permainan baru, menyebut Stella terlalu sentimental, dan mengatakan Tamara hanya pandai menjaga wajah tenang.

Setiap kalimat mendarat di ruangan seperti kaca pecah yang sengaja tidak disapu.

Ketika panggilan berakhir, Stella berdiri.

"Aku tahu itu sandiwara," katanya.

Steven mematikan ponsel. "Bagus."

"Aku tahu," ulang Stella, suaranya mulai pecah. "Tapi tetap sakit."

Steven tidak berkata apa-apa.

Tamara berjalan ke arah Stella dan memegang bahunya. "Xiao Liu."

Stella menggeleng. "Tidak apa-apa, Cici. Aku cuma perlu keluar."

Ia pergi tanpa melihat Steven.

Pintu tertutup pelan. Bunyi kecil itu justru lebih menyakitkan daripada bantingan.

Nana menatap Steven. "Kau tidak mau bilang maaf?"

"Tidak di ruangan yang masih direkam."

Irwan langsung mematikan perekam cadangan. "Sudah mati."

Steven tetap diam.

Tamara menatapnya lama. "San, ada luka yang kalau tidak kau beri nama, orang lain akan memberi nama untukmu."

Steven memasukkan ponsel khusus ke kotak besi. "Aku akan bicara dengan Stella nanti."

"Nanti bukan selalu ada."

Kalimat Tamara membuat ruangan sunyi.

Nana teringat Patrick. Panggilan yang tidak diangkat. Kata nanti yang menjadi hukuman bertahun-tahun.

Steven tampak mendengarnya juga, meski tidak ada yang menyebut nama Patrick.

Ia mengambil buku hitam kecil dari saku jas. Untuk pertama kalinya, ia membukanya di depan orang lain. Tangannya tidak gemetar, tapi Nana tahu gerakan itu tidak ringan.

Ia menulis.

Yang kukatakan: keluarga mudah panik. William tua. Stella sentimental. Nana aset kecil.

Yang benar: mereka takut. Papa terluka. Stella mendengar. Nana berhasil diam.

Yang harus dibayar: bicara dengan Stella sebelum malam.

Nana membaca dari tempat duduknya karena Steven tidak menutup buku itu.

Ia tidak tahu mengapa tiga baris itu membuat tenggorokannya lebih sakit daripada semua hinaan tadi.

Steven menutup buku. "Kau lulus latihan wajah."

"Aku tidak merasa lulus."

"Itu tanda kau belum rusak."

Nana memandangnya. "Kalau suatu hari aku benar-benar harus membencimu di depan orang lain, apa kau juga akan menulisnya?"

Steven menatap buku di tangannya.

"Ya."

"Di kolom mana?"

"Yang harus dibayar."

Jawaban itu sangat pelan.

Nana berdiri. "Aku mau lihat Cici Stella."

Steven mengangguk.

Di lorong, Nana menemukan Stella duduk di dekat jendela kecil, menatap halaman yang mulai gelap. Ia tidak menangis lagi, tapi wajahnya terlihat lelah.

"Aku tahu dia bohong," kata Stella tanpa menoleh.

Nana duduk di sampingnya.

"Aku tahu," ulang Stella. "Tapi kadang aku takut suatu hari aku tidak bisa membedakan mana Koko Steven yang bohong dan mana yang sungguh tidak peduli."

Nana tidak menjawab cepat.

Ia ingin mengatakan ia bisa membedakan. Namun ia baru belajar. Ia juga masih salah. Ia juga masih sakit.

"Aku juga takut," katanya akhirnya.

Stella menoleh kepadanya, lalu menyandarkan kepala ke bahu Nana.

Mereka duduk begitu sampai ponsel Nana bergetar.

Di ujung lorong, langkah berhenti.

Nana menoleh dan melihat Steven berdiri beberapa meter dari mereka. Ia tidak mendekat. Tangannya memegang buku hitam kecil itu, ibu jarinya menekan pinggir sampul seperti orang yang sedang menahan diri agar tidak menutup pintu lagi.

Stella juga melihatnya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.

Steven akhirnya berkata, "Xiao Liu."

Mata Stella memerah lagi. "Kalau mau bilang itu semua sandiwara, aku sudah tahu."

"Aku tidak mau bilang itu."

Stella menunggu.

Steven menarik napas pelan. "Aku mau bilang maaf karena kau tetap harus mendengarnya."

Nana menunduk. Ia tidak ingin menjadi saksi, tapi mungkin inilah harga lain dari masuk ke dunia ini: melihat orang mencoba memperbaiki luka tanpa bisa menghapus penyebabnya.

Stella tidak langsung memaafkan. Ia hanya mengangguk kecil.

Dan Steven menerima anggukan kecil itu seolah itu sudah lebih dari yang pantas ia dapat.

Pesan dari Daniel:

Besok ikut aku. Kalau kau sudah melihat orang yang mengorbankan wajahnya, sekarang lihat keluarga yang kehilangan nama.

Di bawahnya, ada lokasi sebuah rumah tua milik Tjang Group yang dulu disita.

Nana menatap pesan itu lama.

Steven punya dua wajah karena ia masih harus hidup di antara musuh.

Daniel, mungkin, menjadi seperti sekarang karena dunia pernah merampas wajah keluarganya sampai tidak ada yang tersisa untuk dipertahankan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!