Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11
Akar
Target sembilan puluh ternyata bukan ancaman kosong.
Malam berikutnya, Chisen benar-benar menyiapkan soal yang lebih sulit. Erlyn protes selama lima menit, Chisen mendengarkan dengan wajah datar selama lima menit, lalu mendorong pensil ke arahnya.
"Sudah selesai pidatonya?"
"Koh menyebalkan."
"Aku tahu. Kerjakan."
Erlyn mengerjakan.
Anehnya, ia tidak sebenci itu.
Hari-hari setelahnya mulai menemukan bentuk. Pagi, ia berangkat sekolah dengan sopir atau kadang diantar Mama kalau Jing ingin membeli bahan makanan. Siang, ia makan di kantin bersama Angie. Sore, ia mengerjakan PR sambil mendengar Mama mencoba menyesuaikan bumbu di dapur besar Jalan Kenanga. Malam, ia duduk di ruang belajar dan berdebat dengan Chisen tentang soal, grammar, atau kenapa manusia perlu tidur lebih dari lima jam.
Sekolah juga tidak lagi terasa seperti ruangan penuh mata.
Gosip memang belum benar-benar mati, tetapi ia kehilangan gigi. Setelah beberapa hari tanpa bahan baru, orang-orang mulai bosan. Ada drama lain di kelas sebelah. Ada guru olahraga yang marah karena bola hilang. Ada murid yang ketahuan pacaran di tangga darurat. Dunia sekolah bergerak cepat, dan Erlyn perlahan tidak lagi menjadi pusatnya.
Angie mengumumkan itu dengan gaya resmi saat mereka duduk di kantin.
"Selamat. Kamu sudah turun dari jabatan topik nasional."
Erlyn membuka tutup teh botol. "Aku harus terharu?"
"Harus traktir."
"Kenapa aku?"
"Karena aku tim sukses pemulihan reputasimu."
"Kamu tim rusuh."
Angie menyeringai. "Itu bagian dari strategi."
Mereka tertawa. Tawa Erlyn kali ini tidak perlu ditahan. Beberapa murid masih menoleh, tetapi ia tidak lagi otomatis menunduk. Ia mulai mengenal jalan ke laboratorium tanpa tersesat, tahu kantin mana yang sambalnya terlalu pedas, tahu guru mana yang suka memberi kuis mendadak, dan tahu bahwa Angie selalu menyimpan permen jahe di kantong kecil tasnya.
Pada praktikum fisika minggu itu, kelompok Angie kekurangan satu orang karena seorang murid izin sakit. Guru meminta Erlyn bergabung. Awalnya dua anggota kelompok lain tampak ragu, mungkin masih mengingatnya sebagai anak baru yang pernah menjadi bahan gosip. Namun ketika alat ukur mereka terus menunjukkan angka aneh, Erlyn mengambil penggaris, memeriksa posisi beban, lalu memindahkan titik gantungnya.
"Coba lagi," katanya.
Angka berikutnya mendekati teori.
Anak laki-laki di kelompok itu menatap kertas, lalu menatap Erlyn. "Kamu paham bagian ini?"
"Sedikit."
Angie langsung menyela, "Sedikit versi Erlyn artinya kita selamat."
Mereka tertawa, dan kali ini tawa itu tidak ditujukan untuk mengejeknya. Saat laporan dikumpulkan, nama Erlyn ditulis rapi di baris anggota kelompok, bukan sebagai tambahan yang canggung, tetapi sebagai bagian dari mereka.
Hal-hal kecil itu membuat sekolah baru terasa sedikit kurang asing.
Di rumah, Mama juga mulai menemukan tempat.
Jing tidak lagi canggung saat masuk dapur. Orang rumah sudah tahu bahwa nyonya baru mereka lebih suka memotong bawang sendiri. Om Changli kadang pulang lebih awal hanya untuk makan malam di rumah. Ia masih berbicara dengan hati-hati pada Erlyn, tetapi sekarang tidak lagi terasa seperti wawancara.
"Sekolah bagaimana?" tanya Om Changli suatu malam.
"Baik, Om."
"Chisen galak saat mengajar?"
Erlyn melirik Chisen yang duduk di seberang meja.
Chisen mengangkat mata, seolah menantang.
"Efisien," jawab Erlyn.
Jing tertawa pelan. Om Changli juga tersenyum, sementara Chisen kembali makan tanpa ekspresi.
Setelah makan, Jing mengajak Erlyn duduk di ruang keluarga. Di pangkuannya ada benang wol berwarna biru muda dan dua jarum rajut. Erlyn langsung menatapnya curiga.
"Mama merajut?"
"Dulu bisa sedikit. Mau coba lagi."
"Untuk siapa?"
Jing tidak menjawab langsung. Senyumnya terlalu polos untuk dipercaya.
"Untuk kamu. Surabaya memang panas, tapi ruang belajarnya dingin sekali karena AC."
Erlyn menyentuh benang itu. Lembut. "Ma, aku bukan anak kecil."
"Justru karena kamu bukan anak kecil, Mama harus buru-buru membuat sesuatu sebelum kamu makin besar dan tidak mau dipakaikan apa-apa."
Kalimat itu membuat Erlyn diam.
Mama mengatakannya sambil tersenyum, tetapi ada sesuatu di suaranya yang tipis. Sejak menikah lagi, Mama berusaha terlihat bahagia. Sejak pindah ke Surabaya, Mama berusaha terlihat kuat. Kadang Erlyn lupa bahwa perubahan ini bukan hanya berat untuk dirinya.
Ia menyandarkan kepala ke bahu Jing.
"Kalau jelek tetap aku pakai."
"Tidak boleh jelek. Ini buatan Mama."
"Berarti kalau jelek, aku tetap harus bilang bagus?"
"Anak pintar."
Mereka tertawa pelan di ruang keluarga yang hangat.
Malam itu, setelah les selesai, Erlyn kembali ke kamar dengan kepala penuh angka dan hati yang lebih ringan. Ia sudah siap tidur ketika menyadari ada garis cahaya tipis jatuh dari atas halaman, melewati jendela kamarnya.
Ia mendekat ke jendela.
Di atas sana, jendela loteng masih menyala.
Jam di meja menunjukkan pukul dua lewat tujuh belas.
Erlyn membuka tirai sedikit lebih lebar. Dari posisinya, ia tidak bisa melihat Chisen. Hanya cahaya kuning dari ruang kerja itu, diam di antara gelapnya rumah. Sesekali bayangan bergerak di balik kaca, panjang dan tipis, seperti seseorang berjalan dari kanvas ke meja lalu kembali lagi.
Ia teringat noda cat di kuku Chisen. Bau terpentin di jaketnya. Cara matanya terlihat kosong setiap kali pintu loteng tertutup.
Besok ia sekolah.
Chisen juga sekolah.
Rumah diam.
Tetapi lampu loteng tetap menyala sampai lewat pukul tiga.