Keiko Hartono punya rahasia.
Di balik senyum lembutnya, di balik nilai sempurnanya, di balik kebaikannya yang tak pernah meminta balasan — ada hitungan mundur yang tak bisa dihentikan siapapun.
Kanker lambung. Stadium akhir. Paling lama tiga tahun.
Lalu dia pindah ke SMA Bina Bangsa, Bandung. Dan duduk di sebelah Kelvin Susanto — cowok paling ditakuti seantero sekolah. Pembuat onar. Tukang berantem. Nilai paling bawah.
Tapi Keiko melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat.
Dan perlahan — lewat soal latihan yang ditandai satu per satu, lewat susu hangat yang diselipkan di saku jaket, lewat video call tengah malam yang harusnya cuma untuk belajar — mereka jatuh cinta.
Masalahnya: Keiko tahu dia akan mati.
Kelvin tidak.
"Kalau kamu bisa mengejar langkahku... aku akan mempertimbangkannya setelah lulus."
Dia memberi syarat yang mustahil. Bukan karena dia tidak mau. Tapi karena dia tahu — dia tidak akan ada di sana saat dia berhasil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 20 - Chelsea dan Batasnya
Chelsea Tanoto muncul di depan Kelas XI-IPA 4 saat jam istirahat kedua.
Kedatangannya tidak mungkin tidak diperhatikan. Dia memakai seragam yang sama seperti murid lain, tetapi entah bagaimana terlihat lebih mahal. Rambutnya jatuh rapi di bahu, jam tangannya tipis berwarna emas, dan aroma parfum lembut langsung masuk sebelum dia benar-benar berdiri di pintu.
Fajar yang sedang makan gorengan berhenti mengunyah.
"Wah," bisiknya. "Kelas unggulan turun gunung."
Putri menatapnya. "Kamu bisa nggak sehari tanpa komentar?"
"Komentar adalah napas."
Chelsea tidak melihat Fajar. Matanya langsung mencari ke barisan belakang.
Kelvin sedang tidak ada. Dia pergi ke ruang guru mengembalikan spidol yang dipinjam Pak Arif. Di mejanya hanya ada buku latihan, pulpen, dan kotak susu UHT yang tadi belum sempat diberikan pada Keiko karena Keiko sedang dipanggil Pak Surya.
Chelsea melihat kotak susu itu.
Lalu melihat Keiko.
"Kamu Keiko, kan?"
Keiko berdiri dari kursi. "Iya."
Senyum Chelsea tipis, sopan di permukaan. "Bisa bicara sebentar?"
Kelas yang tadinya ribut langsung menjadi terlalu diam.
Bagas yang kebetulan duduk di meja depan kelompok belajar menoleh ke Dimas dengan mulut terbuka. Dimas menutup buku, wajahnya tetap datar tetapi matanya sudah siaga.
Keiko tidak ingin menjadi tontonan kelas.
"Boleh."
Mereka berjalan ke koridor samping yang lebih sepi, tetapi tetap terlihat dari pintu kelas. Keiko sengaja berhenti di tempat yang tidak terlalu jauh. Dia sudah belajar bahwa percakapan yang terlalu tersembunyi sering kali lebih mudah dipelintir.
Chelsea menyilangkan tangan di depan dada. "Aku langsung saja. Kamu dekat dengan Kelvin?"
Keiko menatapnya. "Kami teman sebangku."
"Teman sebangku tidak harus setiap hari belajar berdua."
"Ada juga Bagas dan Dimas."
"Tapi yang dia antar pulang kamu."
Keiko diam sebentar.
Ternyata kabar motor itu sudah sampai ke telinga orang lain.
"Waktu itu aku tidak ada jemputan."
"Aku tidak minta penjelasan." Senyum Chelsea hilang sedikit. "Aku cuma mau bilang, Kelvin bukan orang yang gampang didekati."
"Aku tahu."
"Kamu tahu?" Chelsea mengangkat alis. "Kamu anak baru. Yang kamu tahu cuma dia sekarang sedang rajin karena kamu bantu belajar. Tapi aku kenal dia lebih lama. Aku tahu dia seperti apa."
Keiko mendengar sesuatu di balik kalimat itu. Bukan sekadar kesombongan. Ada rasa ingin memiliki yang tidak pernah diberi tempat, lalu berubah menjadi hak bicara.
"Kalau begitu," kata Keiko pelan, "seharusnya kamu juga tahu dia tidak suka orang lain mengatur siapa yang boleh dekat dengannya."
Wajah Chelsea mengeras.
Dari dalam kelas, Bagas membuat ekspresi seperti ingin bertepuk tangan. Dimas menarik kerahnya agar tidak benar-benar melakukannya.
Chelsea menurunkan suara. "Aku tidak bermaksud jahat. Aku cuma tidak mau kamu salah paham. Banyak cewek mengira Kelvin berubah karena mereka spesial."
"Aku tidak pernah bilang aku spesial."
"Tapi kamu menerima semuanya, kan? Susu itu. Helm pink. Antar pulang. Les berdua."
Keiko menggenggam tali tas. Kata-kata itu mengenai tepat pada hal-hal yang selama ini dia simpan diam-diam. Bukan karena Chelsea salah melihat, tetapi karena hal-hal itu memang berarti.
Namun sebelum Keiko sempat menjawab, suara Kelvin datang dari ujung koridor.
"Chelsea."
Keiko menoleh.
Kelvin berdiri beberapa langkah dari mereka, satu tangan memegang spidol, wajahnya datar. Tetapi datar Kelvin bukan berarti kosong. Keiko sudah mulai bisa membedakannya. Kali ini matanya lebih dingin.
Chelsea langsung mengubah ekspresi. "Kelvin, aku cuma..."
"Aku dengar."
Koridor menjadi sunyi.
Fajar setengah keluar dari pintu kelas. Putri menariknya kembali. Bagas tidak perlu ditarik karena Dimas sudah memegang bahunya dari tadi.
Chelsea menarik napas. "Aku cuma bicara baik-baik dengan dia."
"Tentang aku."
"Karena aku khawatir."
"Nggak perlu."
Dua kata itu pendek, tetapi cukup membuat wajah Chelsea berubah.
Kelvin berjalan mendekat, lalu berdiri di samping Keiko, tidak terlalu dekat sampai terlihat sengaja pamer, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan posisinya.
"Chelsea, aku tahu kamu beberapa kali nitip minuman, nitip pesan, dan nyoba ngobrol. Aku nggak pernah jawab lebih dari perlu. Itu harusnya sudah jelas."
Chelsea menatapnya, bibirnya menegang. "Kamu bisa ngomong langsung tanpa mempermalukan aku."
"Aku sedang ngomong langsung."
"Di depan dia?"
"Karena kamu bicara ke dia dulu."
Keiko menahan napas.
Kelvin tidak menaikkan suara. Tidak menghinanya. Tidak menyebut Chelsea mengganggu atau menyalahkan perasaannya. Justru karena nadanya tenang, batas itu terdengar lebih tegas.
"Aku nggak punya hubungan apa pun sama kamu," lanjut Kelvin. "Kamu nggak perlu menjauhkan orang lain dariku. Kalau kamu mau marah, marah ke aku. Jangan ke dia."
Chelsea menunduk sebentar.
Untuk pertama kalinya, Keiko melihat bahwa gadis itu bukan hanya angkuh. Dia juga malu. Mungkin sakit. Mungkin selama ini terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan, lalu tidak tahu harus meletakkan penolakan yang tidak kasar tetapi final.
"Aku cuma suka kamu," kata Chelsea pelan.
Kelvin diam satu detik.
Ketika menjawab, suaranya lebih rendah. "Terima kasih. Tapi aku nggak bisa balas."
Mata Chelsea memerah sedikit.
Dia mengangguk kaku, lalu memalingkan wajah. "Oke."
Tidak ada drama besar. Tidak ada teriakan. Chelsea hanya berjalan pergi melewati koridor, punggungnya tetap tegak meski langkahnya lebih cepat dari tadi.
Keiko menatap kepergiannya.
Bagas akhirnya menyembulkan kepala dari kelas. "Aman?"
Dimas menariknya masuk lagi. "Masuk."
"Gue cuma cek kondisi nasional."
Kelvin melirik ke kelas. "Bas."
"Siap, menghilang."
Pintu kelas tertutup setengah.
Koridor kembali menyisakan Keiko dan Kelvin.
Keiko menatap kotak susu UHT di meja yang terlihat dari pintu, lalu menatap Kelvin. "Kamu tidak perlu bicara sejauh itu."
"Perlu."
"Dia terlihat sedih."
"Lebih baik sedih sekarang daripada salah paham lama."
Keiko tidak bisa membantah.
Dia teringat bagaimana orang dewasa di rumahnya sering menunda kalimat jujur sampai semuanya berubah menjadi pertengkaran. Ternyata tidak semua kejelasan harus kejam. Ada batas yang bisa menyakitkan, tetapi tetap membuat orang tidak tersesat lebih jauh.
Kelvin menyerahkan spidol ke tangan kiri, lalu mengambil kotak susu dari mejanya dan memberikannya pada Keiko.
Masih hangat.
Keiko menerimanya, tetapi tidak langsung minum. "Kelvin."
"Hm?"
"Kalau suatu hari ada orang yang salah paham tentang aku..."
"Aku luruskan."
Jawaban itu datang terlalu cepat.
Keiko menatapnya.
Kelvin memalingkan wajah, seolah baru sadar bahwa jawabannya tidak punya jeda untuk pura-pura cuek.
"Maksudku," katanya, "kalau itu bikin kamu terganggu."
Keiko menunduk, menggenggam kotak susu hangat.
Dari dalam kelas, Bagas berbisik terlalu keras, "Dim, gue rasa ini bukan kelompok belajar lagi."
Suara Dimas menjawab datar, "Kerjakan soal."
Keiko hampir tertawa.
Kelvin menghela napas, lalu berjalan masuk kelas lebih dulu.
"Ayo, Nona Guru. Soal mereka nggak akan selesai kalau lu senyum di koridor."