Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.
Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.
Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.
Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Hangat di Balik Dinding Es
Halaman belakang kediaman Atmadja dirancang bagai oasis tersembunyi di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Hamparan rumput jepang yang hijau berbatasan langsung dengan kolam renang berair jernih yang memantulkan langit siang. Di bawah naungan pohon gazebo yang teduh, sebuah tikar piknik rajut berukuran besar telah digelar, lengkap dengan bantal-bantal empuk dan sekeranjang penuh makanan yang ditata estetis.
Adrian melangkah mendampingi Vira menuju area tersebut, sementara Elvano berjalan di depan mereka sambil melompat-lompat kecil, masih enggan melepaskan genggaman tangannya dari Vira.
"Maaf jika suasananya terlalu kekanak-kanakan," ucap Adrian, melirik sekilas ke arah keranjang piknik yang dipenuhi roti isi bentuk beruang dan jus kotak organik pilihan Elvano. "Ini murni ide El. Dia bersikeras bahwa menyambut 'Tante Cantik' harus dilakukan dengan gaya piknik pahlawan super."
Vira terkekeh pelan, sebuah tawa lepas yang sangat jarang terdengar sejak kepulangannya ke Indonesia. "Ini jauh lebih dari sekadar indah, Tuan Adrian. Di duniaku yang sekarang, ruangan tertutup dengan AC dingin dan dokumen tebal adalah satu-satunya hal yang kulihat. Menghirup udara segar seperti ini... rasanya seperti kemewahan yang sebenarnya."
Mereka bertiga kemudian duduk bersila di atas tikar. Elvano dengan antusias langsung mengambil sepotong roti isi buah dan menyodorkannya ke depan bibir Vira. "Tante, ini El yang bantu Bibi buat di dapur tadi pagi! Rasa stroberi, Tante pasti suka!"
Vira menerima potongan roti itu dengan hati yang berdesir penuh haru. Dia menggigitnya sedikit, lalu mengacungkan jempolnya pada Elvano. "Enak sekali! El pintar sekali membuat kue ternyata."
Mendapat pujian dari Vira, pipi bulat Elvano merona merah karena malu sekaligus bangga. Bocah itu kemudian merangkak dan menyandarkan kepalanya di pangkuan Vira, posisi yang biasanya hanya dia lakukan pada Adrian ketika sedang sangat manja. Vira sempat menegang sesaat, ingatan akan rahimnya yang kosong kembali berputar di benaknya. Namun ketika tangan mungil Elvano mengelus lututnya secara acak, Vira merasakan kedamaian yang luar biasa. Jemari lentiknya bergerak perlahan, mengusap helai demi helai rambut halus Elvano dengan penuh naluri keibuan.
Adrian memperhatikan interaksi tersebut dengan pandangan mata yang teramat dalam. Ada keheningan yang nyaman di antara kedua orang dewasa itu, ditemani oleh suara kunyahan kecil Elvano dan desir angin yang menggoyang dedaunan.
"Dia benar-benar melihat sosok ibu dalam dirimu, Vira," ucap Adrian perlahan, memecah keheningan dengan suara baritonnya yang tenang namun berbobot.
Gerakan tangan Vira di rambut Elvano sempat terhenti sejenak, sebelum akhirnya dia tersenyum getir tanpa mengalihkan pandangannya dari bocah yang mulai memejamkan mata di pangkuannya. "Saya rasa El hanya merindukan figur wanita di dekatnya, Tuan Adrian. Siapa pun wanita itu, jika bersikap lembut, dia pasti akan merasa nyaman."
"Kamu salah," sahut Adrian tegas, membuat Vira mendongak menatap sepasang mata elang pria itu. "Elvano adalah anak yang sangat sensitif. Ibunya meninggal beberapa menit setelah dia lahir, dan sejak saat itu, banyak wanita dari kalangan sosialita yang mencoba mendekatinya, membawakannya mainan mahal, mengajaknya ke taman hiburan, berpura-pura menjadi malaikat pelindung hanya demi bisa menarik perhatianku. Tapi Elvano selalu tahu mana yang tulus dan mana yang memiliki agenda tersembunyi. Dia akan menangis histeris jika mereka mendekat dalam radius satu meter."
Adrian memajukan sedikit tubuhnya, menatap Vira dengan intensitas yang sanggup membuat dinding pertahanan paling kokoh sekalipun runtuh. "Tapi denganmu... dia bahkan mencarimu di dalam mimpinya. Anak kecil tidak pernah berbohong tentang kenyamanan sejati, Vira."
Vira menarik napas dalam-dalam, mengalihkan pandangannya ke arah kolam renang untuk menyembunyikan getaran asing di hatinya. "Saya menghargai pujian Anda, Tuan Adrian. Tapi saya rasa Anda perlu tahu... saya bukan wanita yang tepat untuk dijadikan figur apa pun dalam kehidupan anak Anda. Dunianya terlalu bersih, sedangkan duniaku saat ini penuh dengan lumpur balas dendam."
"Aku tahu segalanya tentangmu, Vira Mahendra. Termasuk tentang apa yang terjadi tiga tahun lalu di rumah keluarga Narendra," ucap Adrian tanpa ragu.
Mendengar nama Narendra disebut, kilat dingin langsung kembali menguasai sepasang mata Vira. Dia menatap Adrian dengan sikap defensif yang kentara. "Jika Anda sudah tahu, maka Anda harusnya menjauhkan putra Anda dariku. Aku kembali ke kota ini bukan untuk menjadi ibu rumah tangga yang manis. Aku kembali untuk menguliti mereka yang telah menghancurkan hidupku."
Adrian tidak marah mendengarnya. Sebaliknya, pria berkuasa itu justru mengulas senyuman tipis yang sangat menawan, memperlihatkan aura kematangan seorang pria yang telah kenyang akan kerasnya dunia bisnis.
"Vira, jika kamu mengira aku akan menghentikanmu atau menceramahimu tentang pengampunan, kamu salah besar," ucap Adrian, suaranya merendah namun sarat akan penekanan mutlak. "Di duniaku, siapa pun yang berani mengusik milikku akan kuhancurkan sampai ke akar-akarnya. Jadi, aku sangat memahami apa yang sedang kamu lakukan pada Arka Narendra."
Adrian mengulurkan tangannya yang kokoh ke atas tikar, mendekati jemari Vira tanpa menyentuhnya, memberikan ruang agar wanita itu tidak merasa terancam. "Lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan pada mereka. Hancurkan Narendra Group sesukamu. Dan jika tanganmu mulai lelah untuk mengayunkan pedang... biarkan aku yang menyelesaikannya untukmu. Aku tidak meminta banyak dari Anda, Vira. Aku hanya ingin menjadi dinding kokoh tempatmu bersandar ketika badai di luar sana terlalu melelahkan."
Vira terpaku di tempatnya duduk. Selama tiga tahun ini, dia selalu berjuang sendirian di negeri orang, menempa dirinya menjadi pisau yang tajam tanpa pernah diizinkan untuk mengeluh atau terlihat lemah di depan adiknya, Reno. Ini adalah kali pertama setelah sekian lama, ada seorang pria, pria paling berkuasa di Asia pula yang menawarkan perlindungan tanpa menuntut apa pun sebagai imbalannya, bahkan tanpa memedulikan kekurangan fisiknya yang tidak lagi memiliki rahim.
Sebelum Vira sempat mencerna badai emosi di dadanya, Elvano menggeliat kecil di pangkuannya. Bocah itu membuka matanya yang mengantuk, lalu mendongak menatap Vira dengan senyuman polos. "Tante Cantik... El mau tidur siang di kamar. Tante mau temani El sampai tidur?"
Vira menatap Elvano, lalu beralih menatap Adrian yang sedang menantinya dengan binar mata penuh kelembutan. Dinding es di hati Vira Mahendra belum runtuh sepenuhnya, namun siang itu, di bawah kehangatan halaman belakang kediaman Atmadja, retakan baru yang jauh lebih besar telah tercipta.
"Baiklah, Jagoan," bisik Vira lembut pada Elvano, mengabaikan ego dinginnya demi kenyamanan bocah itu. "Tante akan temani El sampai tidur.