NovelToon NovelToon
Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Bertemu di Puncak: Skandal Cinta Sang Bintang

Status: tamat
Genre:Showbiz / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

"Bukan Laknat, namaku Rahmat."

Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."

15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.

Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.

Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.

Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?

"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20: Kontrak 10 Tahun

Dan ia, anak yang dulu hanya bisa menatap televisi dari lantai kontrakan, akhirnya bersiap berdiri di hadapannya, kali ini tanpa bersembunyi.

Tapi jalan menuju tempat itu dimulai dari tanda tangan yang hampir membuatnya kehilangan segalanya.

31 Mei 2014.

Rahmat berusia empat belas tahun ketika ia duduk di ruang rapat Polar Star Entertainment. Ruangan itu terlalu dingin untuk bajunya yang tipis. Di depannya ada meja panjang, kontrak tebal, segelas air yang tidak ia sentuh, dan Steven Lim yang menatapnya seperti sedang menilai bahan mentah.

Hendra duduk di sampingnya, lebih tertarik pada angka uang muka daripada isi kontrak.

"Sepuluh tahun," kata Steven. "Training, debut, manajemen penuh. Perusahaan menanggung biaya awal. Pembagian pendapatan sembilan puluh untuk perusahaan, sepuluh untuk artis sampai biaya balik."

Rahmat tidak sepenuhnya memahami semua istilah itu.

Ia hanya memahami satu hal: jika ia menandatangani kontrak ini, ia bisa keluar dari tangan Hendra lebih sering. Mungkin jauh. Mungkin cukup jauh untuk bernapas.

Steven menatapnya. "Kamu masih di bawah umur. Walimu harus tanda tangan."

Hendra langsung mengambil pulpen.

"Tanda tangan saja," bisiknya pada Rahmat. "Jangan sok mikir. Kesempatan begini tidak datang dua kali."

Rahmat melihat lembar kontrak.

Sepuluh tahun.

Sembilan puluh banding sepuluh.

Angka-angka itu terasa seperti pintu yang berat. Di baliknya mungkin ada kebebasan, mungkin perangkap. Namun di pergelangan tangannya, gelang persahabatan menyentuh kulit.

Bertemu di Puncak.

Ia mengambil pulpen.

"Nama panggung?" tanya Steven setelah tanda tangan selesai.

Rahmat diam.

Ia tidak mau memakai nama lama. Ia juga tidak ingin membawa nama pemberian Wenny ke panggung sebelum ia pantas menjaganya.

Di buku catatan kecilnya, ia pernah menulis kalimat bahasa Inggris dari brosur trainee: `Reach Your New heights`.

Mencapai ketinggian baru.

Ia menatap Steven. "REYN."

"Artinya?"

"Reach Your New heights."

Steven mengangkat alis, lalu tersenyum tipis. "Ambisius."

Rahmat menggenggam pulpen lebih erat. "Saya harus begitu."

Kontrak itu membawa Rahmat ke tahun-tahun yang tidak lebih mudah, hanya berbeda jenis sakitnya.

Ia dikirim untuk menjalani pelatihan di Korea. Bahasa yang belum ia kuasai. Jadwal yang dimulai sebelum matahari terbit dan selesai saat kaki sudah terasa bukan miliknya. Kelas vokal, tari, rap, bahasa, gym, evaluasi mingguan. Jika suaranya pecah, ia diminta ulang. Jika gerakannya terlambat setengah ketukan, ia diminta mulai dari awal.

Di bulan pertama, ia hampir pingsan di ruang latihan.

Di bulan kedua, telapak kakinya berdarah.

Di bulan ketiga, ia berhenti menghitung berapa kali ingin pulang.

Lalu Jay datang.

Jason, trainee rapper dari Indonesia yang bicara terlalu banyak, tertawa terlalu keras, dan tidak takut mengganggu Rahmat yang selalu menutup diri. Pada minggu pertama mereka sekamar, Jay sudah tahu dua hal: Rahmat menyimpan gelang tua seperti benda suci, dan ia selalu memutar video Wenny Santoso diam-diam sebelum tidur.

"Itu pacar lo?" tanya Jay suatu malam.

Rahmat hampir menjatuhkan ponsel. "Bukan."

"Gebetan?"

"Bukan."

"Idola?"

Rahmat menatap layar. Di sana Wenny remaja sedang diwawancarai setelah sebuah premiere, tersenyum dengan lesung pipi yang masih sama.

"Arah," jawabnya.

Jay terdiam beberapa detik, lalu untuk pertama kalinya tidak bercanda.

Sejak itu, Jay tidak pernah mengejek gelang atau video Wenny. Ia hanya memastikan Rahmat makan, bangun saat alarm mati, dan tidak latihan sampai benar-benar roboh. Persahabatan mereka lahir dari ruang latihan yang berbau keringat, nasi kotak dingin, dan mimpi yang terlalu mahal untuk anak-anak tanpa perlindungan besar.

Enam tahun Rahmat dilatih.

Enam tahun ia mengubah tubuhnya menjadi panggung, suaranya menjadi senjata, diamnya menjadi citra.

Pada 2020, ia pulang ke Indonesia sebagai REYN.

Debut pertamanya hampir tidak memberi ruang untuk gagal. Polar Star sudah menghabiskan terlalu banyak biaya untuk menjualnya sebagai wajah baru yang dingin, tajam, dan berbeda. Media menyebutnya misterius. Penggemar menyebutnya Ice Prince. Tidak ada yang tahu anak di balik nama itu masih menyimpan kertas bekas bertuliskan `Bertemu di Puncak`.

Single debutnya berjudul `Lesung Pipi`.

Steven sempat menolak.

"Judulnya terlalu lembut untuk citra kamu."

REYN hanya berkata, "Justru karena itu orang akan ingat."

Jay, yang saat itu sudah menjadi rapper pendamping dalam beberapa sesi, membaca liriknya di studio dan langsung menatap REYN.

"Ini bukan lagu cinta biasa."

REYN tidak menjawab.

Di dalam lirik itu ada kotak bekal, ada senyum yang membuat dunia berubah warna, ada anak yang mencari jalan pulang ke satu nama. Tentu saja tidak tertulis terang-terangan. Publik hanya mendengar lagu tentang gadis dengan lesung pipi yang membuat seseorang ingin menjadi lebih baik.

Wenny mungkin mendengarnya.

Mungkin tidak.

Tapi REYN menulisnya untuk kemungkinan paling kecil sekalipun.

Hari rekaman terakhir, Jay berdiri di ruang kontrol, mendengarkan REYN menyanyikan bridge berulang-ulang sampai suaranya serak.

"Lagu ini untuk siapa?" tanya Jay akhirnya.

REYN menatap pantulan dirinya di kaca ruang rekaman.

Di pantulan itu, ia tidak melihat idol baru Polar Star. Ia melihat anak dua belas tahun di depan televisi tua. Anak sembilan tahun di luar kamar rumah sakit. Anak yang menggenggam gelang warna-warni sambil belajar percaya bahwa namanya bukan kutukan.

"Untuk seseorang yang kucari sepuluh tahun," jawabnya.

Jay tidak bertanya lagi.

`Lesung Pipi` meledak.

Nama REYN naik cepat, terlalu cepat bagi sebagian orang, tetapi tidak pernah cukup cepat bagi dirinya. Setiap panggung, setiap penghargaan, setiap malam latihan tambahan, semuanya menuju satu tempat yang sama.

Namun popularitas tidak langsung berarti kebebasan.

Kontrak 90/10 membuat sebagian besar uang kembali ke perusahaan. Biaya training, produksi, promosi, stylist, apartemen, semuanya dipotong dari angka yang bahkan belum sempat ia lihat utuh. Di luar, orang mengira REYN sudah hidup seperti bintang besar. Di dalam, ia masih menghitung pengeluaran, masih menyimpan barang lama, masih tidak membeli jam mahal karena gelang persahabatan di tangannya jauh lebih bernilai daripada apa pun yang bisa dibeli.

Steven pernah berkata, "Bertahan dulu. Nanti saat kontrakmu lebih kuat, kita bicarakan ulang."

REYN hanya mengangguk.

Ia sudah terbiasa bertahan sendirian.

Yang belum biasa baginya hanya satu: berhenti sebelum sampai.

Bertemu di Puncak.

Tahun 2024, ponsel REYN bergetar di atas meja kerja.

Notifikasi dari tim produksi `Skandal Cinta` muncul.

`Pemberitahuan jadwal rekaman episode kedua. Lokasi: Bandung. Kedatangan peserta dijadwalkan tiga hari lagi.`

REYN membaca pesan itu, lalu menutup map berisi foto lama Wenny.

Gadis yang ia cari sepuluh tahun, lalu tunggu lima tahun lagi, akan berada di kota yang sama dengannya.

Ia menyentuh gelang di pergelangan tangannya.

"Sebentar lagi," katanya pelan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!