1. "THE 13TH FLOOR"
Genre: Horror • Mystery • Psychological • Plot Twist
Sinopsis: Sekelompok siswa mengikuti study tour ke sebuah hotel tua. Hotel itu hanya memiliki 12 lantai... tapi setiap jam 00.13, lift selalu berhenti di lantai 13.
Anehya, lantai itu tidak ada di denah hotel.
Satu per satu siswa yang turun ke lantai itu mulai menghilang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri CS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9 buku harian maya
Jantung Alea berdegup semakin cepat.
Nama Doni belum pernah mereka dengar sebelumnya.
Di halaman selanjutnya, tulisan Maya berubah tidak beraturan.
Seolah ditulis dengan tangan yang gemetar.
«20 Juli 2006
Kami menemukan Kamar 1307. Di balik pintunya ada lorong yang tidak seharusnya ada. Kalau ada yang menemukan buku ini... jangan ulangi kesalahan kami.»
Tiba-tiba...
Tok... tok... tok...
Seseorang mengetuk pintu kamar.
Semua langsung membeku.
Tidak ada guru yang tahu mereka sedang berkumpul di sini.
Ketukan itu terdengar lagi.
Tok... tok... tok...
"Aku lihat dulu," bisik Keanu.
Ia mengintip melalui lubang pintu.
Koridor...Kosong Tidak ada siapa-siapa.
"Aneh..."
Saat Keanu hendak menjauh, terdengar suara pelan dari balik pintu.
"...tolong..."
Suara seorang perempuan.
Lemah.
"...jangan biarkan dia masuk..."
Belum sempat mereka bereaksi...
Halaman buku harian yang terbuka tiba-tiba membalik sendiri.
Angin dingin memenuhi kamar.
Di halaman terakhir muncul tulisan yang sebelumnya tidak ada.
Tulisan itu perlahan berubah semakin jelas, seolah baru saja ditulis oleh tangan yang tak terlihat.
«"Dia sudah menemukan kalian."»
Di saat yang sama...
Terdengar suara kunci pintu diputar dari luar.
Padahal...
Tidak ada seorang pun yang berdiri di koridor.
Ceklek...
Suara gagang pintu bergerak perlahan.
Tak ada satu pun dari mereka yang berani mengeluarkan suara.
Naya refleks memegang tangan Alea yang mulai terasa dingin.
"Jangan dibuka..." bisik Liora.
Keanu mundur selangkah dari pintu. Napasnya terdengar berat.
Gagang pintu kembali bergerak.
Ceklek... Ceklek...
Seolah seseorang di luar sedang mencoba membukanya dengan kunci.
Raka mengambil kursi dan meletakkannya di depan pintu sebagai penahan.
"Apa mungkin guru?" bisik Dimas.
"Kalau guru pasti manggil nama kita," jawab Alea pelan.
Mereka menunggu.
Lima detik...Sepuluh detik...Satu menit...Lalu...Suara itu berhenti.
Keheningan memenuhi kamar.
"Sudah pergi?" tanya Naya lirih.
Belum sempat ada yang menjawab...
Terdengar suara langkah kaki di koridor.
Tok... Tok... Tok...
Bukan langkah orang yang sedang berjalan.
Melainkan seseorang yang menyeret kakinya.
Suara itu semakin dekat dan Semakin dekat.
Lalu berhenti tepat di depan pintu kamar mereka.
Semua menahan napas.
Tidak ada yang berani bergerak.
Kemudian terdengar suara seorang perempuan.
Lembut Namun dingin.
"Alea..."
Tubuh Alea langsung menegang.
Perempuan itu memanggil namanya.
"Aku tahu... kalian sedang membaca buku itu."
Mata Alea membelalak.
Bagaimana mungkin orang di luar tahu tentang buku harian Maya?
"Jangan percaya isi buku itu..."
Suara perempuan itu berubah menjadi lirih.
"Itu hanya membuat kalian mengulang kesalahan kami."
Air mata dingin mengalir di pelipis Alea tanpa ia sadari.
"Siapa... kamu?" bisiknya.
Tak ada jawaban.
Sebagai gantinya...Terdengar suara tawa kecil.Pelan.
Semakin lama semakin banyak.
Seolah puluhan orang sedang tertawa bersamaan di balik pintu.
Tok... Tok... Tok...
Ketukan itu kembali terdengar Kali ini hanya tiga kali.Lalu semuanya hening.
Keanu memberanikan diri mengintip melalui lubang pintu.
Koridor kosong.
Namun saat matanya menempel di lubang itu...Ia melihat sesuatu.
Selembar kertas terlipat berada tepat di bawah pintu.
Keanu mengambilnya perlahan.
Kertas itu tampak baru, berbeda dengan surat-surat tua yang mereka temukan sebelumnya.
Di bagian depan tertulis:
"Untuk Alea."
Alea membuka lipatan kertas itu dengan tangan gemetar.
Isi suratnya hanya satu kalimat.
«"Kalau ingin semua temanmu tetap hidup, temui aku di depan lift pukul 00.13. Datang sendirian."»
Di pojok kanan bawah terdapat sebuah tanda tangan.
— Maya
Ruangan mendadak sunyi.
Maya...Bukankah di buku harian itu tertulis bahwa ia sudah mati?
Tepat saat Alea menatap surat itu, lampu kamar berkedip tiga kali.
Krek... Krek... Krek...
Lalu padam.
Dalam gelap, terdengar suara lift berdenting dari kejauhan.
Ding...Jam digital di meja samping tempat tidur berubah sendiri.00.13