NovelToon NovelToon
Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Di Bawah Bibirnya, Aku Gila

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Wanita perkasa / Raja Tentara/Dewa Perang / Tamat
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Lim Mei Li bukan wanita biasa.

Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.

Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.

Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.

Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.

Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.

Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.

"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."

Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.

Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.

🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28

"Saatnya mengambil yang paling dia jaga."

Mei Li tidak kembali ke Koh Tower.

Ia tetap berada di teras rumah Arka selama tujuh menit setelah menerima telepon Amy. Tujuh menit itu ia pakai untuk membaca seluruh struktur aset yang baru dibuka Tan Bao Shan: saham proyek kawasan utara, dua gedung komersial di PIK, lahan gudang dekat pelabuhan, dan satu rekening perlindungan keluarga yang selama bertahun-tahun dianggap tidak tersentuh.

Nilainya sekitar delapan puluh triliun rupiah.

Arka tidak mengintip layar.

Ia hanya meletakkan segelas air hangat di meja kecil, lalu duduk kembali di kursi seberang. "Saya perlu pergi?"

"Tidak."

"Saya akan diam."

"Itu juga tidak perlu."

Ia menatapnya. "Anda sedang bersiap mengambil sesuatu yang besar."

"Delapan puluh triliun."

Arka tidak menunjukkan keterkejutan yang vulgar. Hanya matanya sedikit berubah, cukup untuk memberi tahu Mei Li bahwa ia mengerti skala perangnya.

"Kalau begitu," katanya pelan, "minum dulu."

Mei Li melihat gelas itu.

Di tengah rencana yang bisa membuat satu keluarga konglomerat roboh, pria ini memintanya minum air.

Untuk alasan yang tidak masuk akal, ia menurut.

***

Pukul sembilan malam, ruang kerja Menteng Regency berubah menjadi pusat operasi.

Amy memimpin tim hukum di layar besar. William Koh berada di Koh Tower bersama notaris dan dua perwakilan bank. Ricky mengawasi jalur komunikasi dengan supplier. Sean dan Karl membuka data transaksi dari ruang siber yang tidak pernah muncul di alamat publik mana pun.

Mei Li berdiri di tengah ruangan, setelan putihnya belum berganti sejak dari rumah Arka.

"Status utang silang?" tanyanya.

William menjawab dari layar. "Tiga fasilitas kredit Tan Group sudah memenuhi syarat default teknis setelah mereka mencoba memindahkan saham jaminan tanpa pemberitahuan."

"Notifikasi?"

Amy berkata, "Terkirim ke semua pihak. Waktu respons lima belas menit. Mereka tidak akan bisa membalas tanpa mengakui pemindahan ilegal."

"Klaim waris Lim Yun?"

"Diajukan sebagai keberatan tambahan terhadap aset yang berasal dari penggabungan lama Tan-Lim. Pengadilan menerima permohonan penahanan sementara atas rekening keluarga."

"Pledged shares?"

William menelan ludah. "Siap dieksekusi. Begitu bank menyatakan gagal memenuhi covenant, hak suara sementara pindah ke kendaraan investasi Koh Group."

Ricky bersiul pelan. "Jie, ini bukan mencabut tangan. Ini mencabut tulang belakang."

Mei Li tidak menoleh. "Tulang belakang mereka dibangun dari milik orang lain."

Di layar lain, Sean menampilkan hitung mundur.

00:14:59

00:14:58

Setiap detik berjalan tanpa suara.

Tan Bao Shan, di sisi lain kota, belum tahu bahwa brankas yang ia buka untuk menyelamatkan keluarga justru memberi Mei Li akses ke kunci yang selama ini dicari.

***

Di Tan Residence, Rachel yang pertama merasakan ada yang salah.

Ponselnya bergetar berturut-turut. Satu pesan dari pengacara. Dua panggilan dari bank. Lalu satu pesan singkat dari kepala keuangan keluarga:

Tolong minta Tuan Besar ke ruang kerja sekarang.

Rachel berdiri begitu cepat kursinya terdorong ke belakang.

Di ruang kerja utama, Tan Bao Shan sedang berbicara dengan Felix tentang media lanjutan ketika pengacara keluarga masuk tanpa mengetuk. Wajahnya seperti orang yang baru melihat rumah terbakar.

"Tuan Besar."

Tan Bao Shan menatapnya. "Apa?"

"Aset perlindungan keluarga... ada permohonan penahanan sementara."

Felix berdiri. "Apa maksudmu?"

Pengacara itu membuka tablet dengan tangan gemetar. "Dan tiga fasilitas kredit proyek utara dinyatakan default teknis karena pemindahan saham jaminan dianggap melanggar covenant."

"Tidak mungkin," kata Tan Bao Shan.

"Bank meminta eksekusi hak suara sementara."

Rachel merampas tablet itu.

Di layar, deretan nama perusahaan berubah status satu per satu. Tidak berpindah seperti pencurian kasar. Justru lebih buruk. Semuanya memakai jalur legal: penahanan sementara, eksekusi jaminan, keberatan waris, dan hak suara pengelolaan sampai sengketa selesai.

Nama kendaraan investasi yang menerima hak itu muncul di baris terakhir.

Koh Strategic Holdings.

Pada saat yang sama, tiga ruang rapat lain di Jakarta ikut menyala.

Di kantor bank swasta, direktur risiko menutup laptop dan berkata, "Jangan tambah eksposur ke Tan Group sampai pagi."

Di perusahaan logistik yang sehari sebelumnya masih ragu, pemiliknya menelepon Ricky Koh dan meminta agar kontrak baru diproses malam itu juga. Suaranya terlalu ramah untuk disebut alami.

Di grup tertutup para konglomerat lama, seseorang mengirim tangkapan layar struktur aset Tan yang berubah status. Tidak ada komentar panjang. Hanya satu kalimat:

Anak yang dibuang itu kembali membawa kunci brankas.

Kalimat itu menyebar lebih cepat daripada siaran berita.

Nama Lim Mei Li tidak lagi terdengar seperti gosip keluarga. Malam itu, namanya menjadi peringatan.

Felix memucat. "Dia mengambilnya."

"Diam!" Tan Bao Shan membentak.

Namun suara itu tidak mengembalikan angka.

Ponsel pengacara berbunyi lagi. Ia melihat layar, lalu hampir tidak berani bicara. "Tuan Besar, nilai aset yang terdampak... sekitar delapan puluh triliun."

Ruang kerja itu seperti kehilangan udara.

Michelle yang baru masuk menutup mulut. Edmond berdiri di belakangnya, wajahnya kosong. Nyonya Besar Tan tidak dipanggil, tetapi jeritan pelayan dari luar koridor memberi tahu mereka bahwa kabar itu mulai menyebar di rumah.

Tan Bao Shan mengambil tablet dari tangan Rachel.

Ia membaca angka itu sendiri.

80.000.000.000.000.

Delapan puluh triliun rupiah.

Angka yang dulu membuat orang menunduk ketika nama Tan disebut. Angka yang menopang rumah, pengawal, pesta, proyek, dan kesombongan tiga generasi. Angka yang ia pikir bisa disembunyikan dari anak perempuan yang dulu ia buang.

Lebih buruk lagi, beberapa aset itu masih membawa jejak Lim Yun.

Dulu, setelah Lim Yun mati, keluarga Tan menyebutnya penyelesaian administrasi. Rumah, saham kecil, koneksi bank dari keluarga Lim, semua dimasukkan ke struktur Tan dengan alasan menjaga kepentingan anak. Anak itu kemudian dibuang. Kepentingannya tidak pernah dijaga.

Tan Bao Shan pernah berpikir dokumen lama tidak punya gigi.

Malam ini, dokumen lama menggigit lehernya.

Di pojok layar, ada satu notifikasi baru.

Koh Strategic Holdings meminta rapat pemegang hak suara pukul 09.00 besok.

Tan Bao Shan mendadak batuk.

Sekali.

Dua kali.

Pada batuk ketiga, darah muncul di saputangan putihnya.

"Pa!" Felix berteriak.

Rachel memegang bahu Tan Bao Shan sebelum lelaki tua itu jatuh dari kursi. Edmond memanggil dokter keluarga dengan suara kacau. Michelle menangis. Pengacara mundur, ketakutan melihat kehancuran itu terlalu dekat.

Tan Bao Shan menatap darah di saputangannya.

Untuk pertama kalinya, bukan kemarahan yang memenuhi matanya.

Takut.

***

Di Menteng Regency, hitung mundur selesai.

00:00:00

William Koh menatap layar, lalu menelan ludah. "Hak suara sementara sudah berpindah. Rekening perlindungan keluarga ditahan. Mereka tidak bisa memindahkan satu rupiah pun tanpa pengawasan pengadilan."

Ricky meledak duluan. "Jie!"

Amy menutup mata sebentar, lega. Bella yang biasanya dingin pun menghela napas pelan.

Di layar samping, Haji Mansur mengirim pesan suara singkat.

Jie, anak-anak pelabuhan sudah dengar. Mulai besok, orang Tan tidak bisa bayar janji pakai nama besar saja.

Ricky tertawa keras. "Pak Tujuh cepat sekali menikmati perubahan cuaca."

"Dia pedagang cuaca," kata Mei Li.

William masih menatap angka itu. "Miss Lim, dengan hak suara sementara ini, kita bisa memaksa audit penuh proyek utara."

"Bukan bisa," kata Mei Li. "Harus."

"Besok?"

"Pukul sembilan. Biar mereka datang dengan mata bengkak."

Mei Li tidak bersorak.

Ia hanya melihat struktur aset yang kini berubah warna di layar. Dari merah menjadi putih. Dari Tan menjadi sengketa. Dari milik mereka menjadi sesuatu yang harus mereka minta izin untuk sentuh.

Di meja, ponselnya menyala.

Pesan dari Arka.

Saya tidak tahu apa yang baru saja terjadi, tapi lampu rumah Tan menyala semua.

Di rumah sebelah, Arka berdiri dekat jendela ruang kerja. Ia tentu tidak bisa melihat PIK dari Menteng, tetapi jaringan kepanikan bergerak lebih cepat daripada mobil. Dimas baru saja mengirim tiga pesan beruntun tentang grup konglomerat yang mendadak sunyi, lalu satu kalimat dengan huruf kapital:

MAS, DIA NGAPAIN LAGI?

Arka tidak menjawab Dimas.

Ia hanya mengirim pesan kepada Mei Li, bukan untuk meminta rahasia, hanya untuk memberi tahu bahwa jika dunia di sekelilingnya mulai berisik, ada seseorang yang tetap berbicara dengan nada biasa.

Kadang, nada biasa jauh lebih berguna daripada seribu janji besar yang kosong.

Mei Li membaca pesan itu.

Untuk pertama kalinya malam itu, senyumnya benar-benar muncul.

Ia membalas satu kata.

Besok.

***

Di Tan Residence, dokter keluarga akhirnya tiba. Tan Bao Shan sudah dipindahkan ke kamar, wajahnya pucat, napasnya berat. Felix berdiri di luar kamar seperti orang yang kehilangan arah. Edmond duduk di kursi koridor, kedua tangannya menutup wajah.

Rachel berdiri di depan cermin koridor.

Di pantulan kaca, ia melihat dirinya sendiri: seorang perempuan yang kehilangan satu anak, melihat anak lain melarikan diri, dan sekarang menyaksikan keluarga yang ia perjuangkan bertahun-tahun mulai runtuh dari pusatnya.

Mei Li tidak lagi memotong cabang.

Ia menusuk akar.

Tan Bao Shan membuka mata dari ranjang. "Rachel..."

Rachel mendekat.

Suara lelaki tua itu serak. "Jangan biarkan dia mengambil Tan."

Rachel menggenggam tangan dingin itu.

"Papa," katanya pelan, "cara biasa tidak cukup lagi."

Tan Bao Shan menatapnya.

Di luar, hujan turun keras, menutup suara rumah yang panik.

Rachel menunduk ke dekat telinganya.

"Kita harus pakai cara lain."

1
Hagia Sophia
sukaa bgt sama ceritanya.. semangat kak... 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!