NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Titip Mochi

"Termasuk kebiasaan berpakaian sama denganku."

Keira menatap Xavier dengan wajah paling tidak bersalah yang bisa ia pinjam dari seluruh hidupnya.

"Itu bukan kebiasaan."

"Oh?"

"Itu... fase."

"Fase berpakaian sama denganku?"

"Fase menghargai warna netral."

Xavier menatapnya lama. Keira menunggu ia bertanya lebih jauh, menekan lebih dalam, atau setidaknya mengeluarkan komentar yang membuatnya ingin menghilang di bawah meja. Tapi Xavier hanya memasukkan buku ke tas.

"Kalau begitu, aku catat sebagai fase."

"Jangan dicatat."

"Tugas observasi."

Ia pergi lebih dulu, meninggalkan Keira di kelas dengan jantung yang masih bekerja terlalu keras untuk sebuah percakapan pendek.

Seminggu setelah itu, tugas observasi mulai berjalan seperti bayangan kecil di belakang mereka. Di kelas, Keira mencatat bahwa Xavier selalu menaruh pulpen di sisi kanan buku, minum kopi tanpa gula, dan hanya tersenyum jika benar-benar ada hal yang lucu. Xavier, entah mencatat apa, beberapa kali memandangnya dengan ekspresi terlalu tenang sampai Keira ingin menutup wajah dengan notebook.

Sistem menyukai semua itu.

Nokia tua beberapa kali menampilkan kenaikan kecil, cukup untuk membuat Keira terus duduk di kelas itu, terus menjawab pesan tugas, dan terus berpura-pura bahwa setiap kali nama Xavier muncul di layar HP, ia tidak langsung membacanya.

Pada Jumat sore, saat hujan tipis turun di Bandung, pintu apartemen Keira diketuk.

Ia membuka pintu dan menemukan Xavier berdiri di koridor dengan hoodie gelap, ransel kecil di bahu, dan Mochi dalam carrier transparan yang menatap Keira seperti tamu penting.

"Bisa bicara sebentar?"

Keira melirik carrier. "Mochi mau konsultasi?"

"Dia tidak suka dokter."

"Aku juga."

Xavier menatapnya. Keira baru sadar pilihan katanya terlalu dekat dengan sesuatu yang ia sembunyikan. Ia cepat-cepat mengalihkan pandangan ke Mochi.

"Ada apa?"

Xavier mengeluarkan ponsel. "Aku harus ke Jakarta. Ada urusan keluarga. Mungkin tiga hari."

"Oh."

Tiga hari.

Itu seharusnya biasa. Jakarta-Bandung bukan luar negeri. Mereka juga bukan siapa-siapa yang perlu saling memberi laporan. Tapi anehnya, dada Keira terasa sedikit turun.

Xavier melanjutkan, "Biasanya ada pet care yang datang, tapi jadwalnya penuh. Kevin alergi bulu kucing dan Dino pulang ke rumah. Bisa tolong jaga Mochi selama aku pergi?"

Mochi mengeong dari dalam carrier, seolah ikut mengajukan proposal.

Keira menatap kucing hitam itu. "Jaga di rumahku?"

"Kalau kamu keberatan, cukup datang dua kali sehari ke unitku. Kasih makan, ganti air, cek litter box. Dia lebih tenang di rumah sendiri."

Xavier mengeluarkan satu kartu akses hitam dan selembar kertas yang dilipat rapi.

Keira menatap kartu itu.

Bayangan malam ia salah masuk rumah Xavier langsung muncul, lengkap dengan piyama, sofa, dan rasa malu.

Xavier tampaknya memikirkan hal yang sama, karena sudut bibirnya bergerak.

"Kali ini aku yang kasih."

"Bagus. Jadi kalau aku masuk, itu legal."

"Selama untuk Mochi."

"Bukan untuk survei karpet?"

"Karpetku sudah cukup kamu survei."

Keira menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tersenyum terlalu lebar. Ia menerima kartu dan kertas itu. Di atas kertas, tulisan tangan Xavier rapi, hampir terlalu rapi.

`Mochi:`

`Makan basah jam 07.00 dan 19.00.`

`Dry food sedikit saja.`

`Air harus diganti.`

`Jangan biarkan dia makan plastik.`

`Kalau dia mengeong di depan lemari, abaikan. Dia cuma drama.`

Keira tertawa.

"Dia mirip pemiliknya."

"Aku tidak mengeong di depan lemari."

"Belum pernah kulihat saja."

Mochi mengeong lagi, kali ini lebih keras.

Xavier menunduk ke carrier. "Lihat? Dia setuju dijaga kamu."

Keira menyentuh sisi carrier dengan ujung jari. "Oke. Aku jaga."

Tatapan Xavier melembut sedikit. "Makasih."

Satu kata sederhana itu membuat Keira lebih senang daripada yang pantas.

Malam pertama, Keira masuk ke unit Xavier dengan kartu yang sah. Rasanya tetap aneh. Pintu terbuka, lampu ruang tamu menyala otomatis, dan Mochi langsung berlari keluar dari carrier begitu ia dibawa masuk.

"Jangan menatapku begitu," kata Keira pada ruangan kosong. "Aku datang sebagai babysitter kucing."

Setelah memberi makan Mochi, ia berdiri sebentar di dekat rak buku. Buku hukum tebal tersusun rapi, tetapi di sela-selanya ada komik, novel detektif, dan satu album foto kecil yang tidak ia sentuh. Di meja kerja, ada sticky note berisi daftar tugas. Di kulkas, ada kotak bahan makanan dengan label tanggal.

Xavier ternyata hidup dengan aturan kecil yang tenang.

Hari kedua, Keira datang pagi dan malam. Ia mengganti air Mochi, membersihkan litter box, lalu tanpa sengaja melihat isi lemari yang terbuka sedikit. Kemeja disusun berdasarkan warna. Hoodie dilipat rapi. Ada satu jaket navy yang sangat mirip dengan yang pernah ia beli versi murahnya.

Nokia di sakunya bergetar.

`Data kebiasaan target bertambah.`

Keira cepat-cepat menutup lemari.

"Aku bukan mata-mata," bisiknya. "Aku cuma... disuruh hidup."

Malam itu, saat ia keluar dari unit Xavier membawa kantong sampah kecil dari litter box, pintu lift terbuka dan Angela muncul dengan tote bag kerja.

Mata mereka bertemu.

Angela melihat kantong sampah. Melihat pintu unit Xavier yang baru tertutup. Lalu melihat Keira.

"Tetangga sebelah?"

Keira menahan napas setengah detik.

"Iya, Ma. Titip kucing."

Angela tidak langsung menjawab. Tatapannya bergerak ke wajah Keira, mencari sesuatu yang mungkin tidak bisa Keira sembunyikan.

"Kamu jangan terlalu capek."

"Cuma kasih makan kucing."

"Dan jangan terlalu sering lupa makan sendiri karena mengurus kucing orang."

Keira mengangguk. "Iya, Ma."

Angela masuk ke unit mereka, tidak bertanya lebih jauh. Tapi Keira tahu, dari cara Mama menahan pintu sebentar sebelum menutupnya, Angela sudah mencatat nama `tetangga sebelah` di kepalanya.

Hari ketiga, Xavier seharusnya masih di Jakarta.

Keira datang malam-malam setelah menyelesaikan tugas sketsa. Hujan turun lagi, membuat jendela apartemen Xavier dipenuhi titik air. Mochi makan lebih lahap dari biasanya, lalu melompat ke pelukan Keira saat ia duduk di sofa.

"Kamu manja kalau tuanmu pergi ya?"

Mochi mengeong dan menekan kepala ke perut Keira.

Keira tertawa pelan. Ia mengusap bulu hitam itu sambil melihat ruang tamu Xavier. Aneh. Tiga hari lalu, tempat ini terasa seperti wilayah terlarang. Sekarang, ia tahu lokasi mangkuk, sakelar, makanan kucing, bahkan mug favorit Xavier yang selalu diletakkan terbalik di rak kanan.

Ia baru berdiri untuk pulang ketika terdengar suara kunci dari pintu utama.

Tubuh Keira membeku.

Pintu terbuka.

Xavier masuk dengan jaket basah sedikit di bahu, koper kecil di tangan. Ia berhenti saat melihat Keira berdiri di ruang tamunya, Mochi masih nyaman di pelukannya.

Air hujan masih menetes dari ujung rambutnya, tapi matanya justru terlihat lebih terang daripada lampu ruang tamu.

Sudut bibirnya naik.

"Sudah betah di rumahku?"

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!