NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Kartu

Daun bawang yang terpotong terlalu halus itu membuat Erlyn tidak bisa tidur cepat.

Ia berbaring di kamar, menatap langit-langit, lalu mengingat cara Chisen berdiri di depan talenan. Wajahnya datar, gerakannya rapi, suara pisaunya pasti. Tidak ada kemarahan. Tidak ada pertanyaan tentang Kevin. Tidak ada larangan.

Hanya potongan daun bawang yang terlalu kecil untuk mi goreng biasa.

Besoknya, Chisen benar-benar mengajarinya memasak mi goreng.

Seperti biasa, ia bersikap seolah tidak ada hal aneh. Bawang putih. Cabai. Kecap. Saus tiram. Mi yang sudah direbus jangan terlalu lembek. Semua instruksinya pendek dan tepat. Erlyn mengikuti, tetapi matanya beberapa kali turun ke talenan.

Irisan daun bawangnya hari itu normal.

Entah kenapa, itu justru membuatnya ingin bertanya.

"Koh."

"Apa?"

"Kemarin daun bawangnya kenapa?"

Chisen memasukkan mi ke wajan. "Kenapa?"

"Halus sekali."

"Pisau tajam."

"Pisaunya hari ini juga tajam."

"Tanganmu lambat."

Erlyn menatapnya kesal. "Koh selalu punya jawaban."

"Karena kamu selalu bertanya."

Jawaban itu menyebalkan karena terdengar benar. Erlyn mengaduk mi lebih kuat. Sedikit kecap terciprat ke sisi kompor.

Chisen mengambil kain dan mengelapnya sebelum Jing melihat.

"Pelan."

"Aku pelan."

"Wajan tidak setuju."

Mereka selesai memasak tanpa insiden besar. Mi gorengnya agak terlalu pedas, tetapi Chisen tetap makan setengah piring saat makan malam. Jing memuji teksturnya. Om Changli berkata kalau Erlyn terus belajar, dapur Jalan Kenanga punya harapan. Chisen hanya menambahkan, "Cabainya jangan marah-marah."

Erlyn hampir melempar sendok.

Namun sepanjang malam, ia tetap memikirkan satu hal: Chisen selalu menghindar tepat saat percakapan menyentuh bagian yang lebih dalam.

Di sekolah, ia akhirnya menceritakan sebagian pada Angie.

Sebagian saja.

Tidak tentang rasa panas ketika Chisen berdiri terlalu dekat mengambil garam. Tidak tentang pintu loteng yang tidak dibuka. Tidak tentang daun bawang yang seperti korban perasaan. Ia hanya mengatakan bahwa Chisen kadang bersikap aneh setiap kali Kevin muncul.

Angie mendengarkan sambil mengunyah roti cokelat, wajahnya terlalu serius untuk seseorang yang mulutnya penuh cokelat.

"Definisikan aneh," katanya.

"Ya... aneh. Kadang melarang. Kadang diam. Kadang seperti tidak peduli."

"Itu bukan definisi. Itu daftar gejala."

"Kamu kira dia penyakit?"

"Semua laki-laki sedikit penyakit."

Erlyn tertawa. "Jangan sembarangan."

Angie mencondongkan tubuh. "Menurutku, dia cemburu."

Erlyn langsung tersedak teh botol.

"Angie!"

"Apa? Aku cuma bilang menurutku."

"Dia kakak tiriku."

"Aku tahu. Bukan saudara kandung, kan?"

Erlyn terdiam.

Angie mengangkat kedua tangan. "Oke. Aku tidak akan bicara aneh-aneh. Tapi cemburu tidak selalu romantis. Bisa juga protektif. Bisa juga kebiasaan. Bisa juga karena dia merasa posisinya terganggu."

"Posisi apa?"

"Orang yang selalu kamu lihat duluan saat bingung."

Kalimat itu membuat Erlyn tidak langsung membantah.

Karena di kepalanya, muncul terlalu banyak gambar: Chisen di gerbang sekolah. Chisen di ruang belajar. Chisen di dapur. Chisen di depan pintu loteng. Chisen yang tidak banyak bicara tetapi selalu ada di sudut tertentu hidupnya.

Angie menyipitkan mata. "Waktu kamu pergi ke toko buku, dia bilang apa?"

"Tidak banyak."

"Itu sudah mencurigakan. Detail."

Erlyn menghela napas. "Mama bilang pulang sebelum jam lima. Dia tiba-tiba turun tangga dan bilang jam empat."

Angie menepuk meja pelan, puas seperti pengacara menemukan bukti. "Nah."

"Nah apa?"

"Itu bukan sekadar kakak protektif biasa. Kakak protektif akan bilang hati-hati, kabari kalau sudah sampai, jangan pulang malam. Dia langsung memotong satu jam dari izin Mama."

"Mungkin dia benar. Mall ramai kalau sore."

"Dia bahkan tidak ikut."

Erlyn tidak punya jawaban yang cukup cepat. Angie semakin yakin, dan itu membuatnya ingin menarik kembali seluruh cerita.

Ia menusuk sedotan ke teh botol, tetapi lupa minum.

Sedotannya bengkok di antara jarinya.

Lama.

Angie melihat wajahnya, lalu tersenyum seperti baru menemukan bukti.

"Aku bawa kartu."

"Tidak."

"Kamu bahkan belum tahu aku mau apa."

"Kalau kamu bilang kartu tarot, jawabannya tetap tidak."

Angie sudah mengeluarkan kotak hitam dari tas. "Kamu butuh perspektif spiritual."

"Aku butuh makan siang."

"Setelah ini."

Mereka berada di sudut perpustakaan yang sepi. Jam istirahat tinggal lima belas menit. Angie mengocok kartu dengan gaya terlalu percaya diri, lalu meminta Erlyn memotong tumpukan.

Erlyn menatap kartu-kartu itu. "Ini serius?"

"Sangat. Tapi kalau hasilnya jelek, kita bilang cuma permainan."

"Nyaman sekali aturanmu."

"Namanya fleksibel."

Erlyn akhirnya menyentuh tumpukan kartu dan memotongnya asal.

Angie menarik satu kartu, meletakkannya di meja, lalu membaliknya.

Gambar seorang raja duduk di singgasana, memegang piala. Air bergelombang di sekelilingnya. Wajah di kartu itu tenang, hampir terlalu tenang.

"King of Cups," kata Angie.

"Artinya?"

Angie tidak langsung menjawab. Ia menatap kartu itu, lalu menatap Erlyn, lalu kembali ke kartu.

"Ini tentang orang yang kelihatannya bisa mengendalikan semuanya. Tenang. Dingin. Tidak gampang menunjukkan isi hati."

Erlyn memutar mata, tetapi dadanya bergerak sedikit.

"Kamu sengaja cocok-cocokkan."

"Memang itu pekerjaan tarot."

"Angie."

"Oke, oke." Angie mengetuk kartu dengan ujung jarinya. "Kartu ini bilang ada seseorang di dekatmu yang menyimpan semua perasaan dalam diam."

Erlyn menatap gambar raja itu.

Tenang.

Dingin.

Memegang piala seolah tidak ada badai di sekelilingnya.

Ia ingin tertawa dan mengatakan semua ini omong kosong.

Tetapi yang terdengar di kepalanya justru suara kuas menghantam kanvas di dalam loteng.

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!