"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."
***
"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."
Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.
***
"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembelaan Andara
Setelah semua hidangan selesai dinikmati, suasana kembali hening. Azzam meletakkan gelasnya di atas meja, lalu menatap Pak Hirawan dengan senyum hangat.
"Pak Hirawan, kami datang ke sini dengan maksud dan tujuan yang baik."
Beliau melirik sekilas ke arah Kafa.
"Melalui pertemuan ini, kami ingin menyampaikan niat putra pertama kami, Kafa. Kafa datang dengan niat yang serius untuk melamar putri Bapak, Giska."
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi. Semua mata tertuju kepada Pak Hirawan.
Kafa duduk tegak, sementara Giska tanpa sadar menggenggam ujung gamisnya karena gugup.
Pak Hirawan tidak langsung menjawab. Ia lebih dulu menoleh ke arah istrinya. Tatapan keduanya bertemu sejenak. Percakapan mereka beberapa saat yang lalu kembali terlintas di benak Pak Hirawan.
"Terima saja dulu. Kalau nanti mereka bertanya soal kelanjutannya, bilang saja kita yang akan mengabari."
Sang istri hanya mengangguk pelan, seolah mengingatkan kembali keputusan yang telah mereka sepakati.
Pak Hirawan kemudian mengembuskan napas pelan sebelum kembali menatap Azzam. "Pak Azzam, pertama-tama, saya mengucapkan terima kasih atas niat baik keluarga Bapak. Ini merupakan sebuah kehormatan bagi keluarga kami."
Azzam mengangguk sopan. "Terima kasih, Pak."
Pak Hirawan melanjutkan dengan senyum yang dipaksakan. "Untuk niat baik ini, insya Allah kami menerimanya."
Wajah Giska langsung berbinar. Kafa pun mengucap syukur dalam hati. Namun sebelum kebahagiaan itu berlangsung lama, Pak Hirawan kembali berbicara.
"Hanya saja, saya dan istri masih ingin berdiskusi terlebih dahulu mengenai beberapa hal. Jadi, untuk pembicaraan mengenai tanggal lamaran maupun pernikahan izinkan kami mempertimbangkannya terlebih dahulu. Nanti, setelah kami sudah benar-benar siap, kami sendiri yang akan menghubungi keluarga Bapak."
Suasana kembali hening. Jawaban itu terdengar sopan. Tidak ada penolakan. Namun juga bukan persetujuan yang benar-benar melegakan.
Azzam menangkap keraguan yang disembunyikan di balik kalimat Pak Hirawan. Meski begitu, ia tetap menjaga senyumnya.
"Baik, Pak. Kami menghormati keputusan Bapak. Semoga Allah memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita."
Pak Hirawan menganggukkan kepala. "Aamiin."
Di sudut ruangan, Andara menatap Pak Hirawan tanpa berkedip. Ia tau... Kalimat "kami akan menghubungi nanti" hanyalah cara halus untuk menunda.
Dan ia juga tau persis apa alasan di balik berubahnya sikap Pak Hirawan malam itu.
***
Akhirnya, keluarga Malik berpamitan untuk pulang. Begitu tiba di depan rumah, mereka berjalan menuju mobil masing-masing. Tiba-tiba Andara meraih lengan Azzam.
"Abi..."
Azzam menoleh. "Iya, Sayang?"
Andara tersenyum manis. "Katanya Kak Azra mau ajak Dara jalan-jalan sebentar. Boleh ya? Abi sama Bunda pulang dulu aja dianter sama Kak Kafa."
Azra yang sama sekali tidak tau apa-apa langsung menoleh dengan wajah bingung. "Lah? Kapan gue ngajak?" batinnya.
Ia baru saja hendak membantah ketika Andara diam-diam menggenggam tangan Azra erat.
Remasan itu seolah berkata, "Ikutin aja."
Azra menghela napas pelan. Dengan senyum yang sedikit dipaksakan, ia mengangguk. "Iya, Bi."
Azzam mengernyit. "Kalian mau ke mana? Ini sudah malam."
Andara mengayunkan kedua tangannya dengan manja. "Ya jalan-jalan bentar aja, Bi. Please..."
Aira ikut menatap putrinya. "Jangan lama-lama ya."
Andara mengangguk cepat. "Siap!"
Azzam akhirnya mengalah. "Baiklah. Tapi janji, hanya sebentar."
"Siap, Abi!" Andara memberi hormat ala tentara hingga membuat Aira terkekeh kecil.
"Ya sudah. Hati-hati."
"Iya, Bunda."
Andara melambaikan tangan. "Abi, Bunda... pulang dulu ya."
Kafa yang sejak tadi berdiri di dekat mobil menatap Andara. "Kamu mau ke mana?"
Andara melirik sekilas. "Kepo banget sih, Kak."
Jawaban singkat itu membuat Kafa terdiam. Ia hanya mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya masuk ke mobil bersama Azzam dan Aira.
Tak lama, mobil keluarga Malik meninggalkan halaman rumah.
Begitu mobil itu benar-benar menghilang dari pandangan, Azra langsung menoleh tajam kepada adiknya. "Dara, apa-apaan sih kamu? Kamu mau ngapain? Kenapa numbalin kakak segala?"
Andara tetap berjalan. "Jones, diem aja."
"Loh! Eh! Mau ke mana lagi?"
Azra semakin bingung ketika melihat Andara justru berbalik menuju rumah keluarga Giska.
Ia buru-buru mengejar. "Kamu ngapain balik lagi?"
Andara menghentikan langkahnya. Ia menatap Azra dengan serius. "Kak, untuk kali ini tolong jangan banyak tanya. Dengerin aja okei nanti Dara jelasin."
Azra menghela napas panjang. Wajah adiknya tidak terlihat sedang bercanda. "Oke."
Andara menekan bel rumah. Tak lama kemudian, Mama Giska membuka pintu. "Loh... Andara?"
"Iya, Tante."
"Boleh saya bicara sebentar? Sama Tante... dan Om."
Wanita itu tampak bingung. "Ada apa ya?"
Andara tersenyum tipis. "Tolong, Tante cuma sebentar."
Mama Giska akhirnya mengangguk. "Baik. Tunggu ya."
Beberapa saat kemudian Pak Hirawan keluar menyusul istrinya.
"Loh... Azra, Andara. Ada apa malam-malam begini?"
Andara menarik napas panjang. Ia kemudian menundukkan kepala dengan hormat.
"Maaf, Om. Mungkin apa yang akan saya sampaikan terdengar lancang. Tapi kalau malam ini saya memilih diam, saya akan menyesal seumur hidup."
Pak Hirawan mulai mengernyitkan dahi.
Andara menatap beliau dengan mata yang tenang. "Tadi tanpa sengaja saya mendengar percakapan Om dengan Tante."
Wajah Pak Hirawan langsung berubah.
"Saya mendengar Om mengatakan bahwa Kak Kafa tidak sederajat dengan Bu Giska."
Keheningan langsung menyelimuti halaman rumah.
Azra membelalak. "Dia... dengar apa?"
Andara melanjutkan. "Om, boleh saya bertanya satu hal?"
Pak Hirawan tidak menjawab.
"Kalau seandainya Allah menakdirkan Om lahir sebagai anak yatim piatu, apakah Om juga pantas dianggap tidak sederajat oleh orang lain?"
Kalimat itu membuat Pak Hirawan membeku. Tak ada satu kata pun keluar dari bibirnya.
Andara kembali berbicara. "Kak Kafa tidak pernah memilih dilahirkan tanpa orang tua. Dan Om juga tidak pernah memilih lahir dari keluarga Om sekarang. Kalau begitu apa yang sebenarnya sedang Om banggakan?"
Azra menatap Andara dengan napas tertahan. Ia tidak pernah melihat adiknya berbicara setegas ini kepada orang yang lebih tua.
Andara melanjutkan dengan suara yang mulai bergetar. "Om berkata Kak Kafa tidak sederajat. Tapi menurut saya justru sangat sedikit laki-laki yang mampu seperti beliau. Beliau membangun usahanya sendiri. Tidak memakai nama besar keluarga Malik. Tidak pernah meminta jabatan dari Abi saya. Bahkan ketika semua orang baru tau beliau anak keluarga Malik, usahanya sudah berdiri kokoh."
Ia menggeleng pelan. "Kalau ukuran sederajat adalah akhlak Kak Kafa jauh lebih kaya daripada banyak orang yang lahir dari keluarga terpandang."
Lalu Andara mengucapkan satu kalimat yang membuat semua orang terdiam. "Om, silsilah keluarga memang bisa diwariskan oleh orang tua. Tapi kehormatan seorang laki-laki hanya bisa dibangun oleh dirinya sendiri."
Pak Hirawan membisu. Tatapannya perlahan berubah.
Andara menahan air matanya. "Saya tidak datang untuk memaksa Om menerima lamaran Kak Kafa. Itu hak Om sebagai seorang ayah. Tapi jangan pernah menolak seseorang hanya karena takdir yang bahkan tidak pernah ia pilih. Karena di hadapan Allah anak yatim tidak pernah lebih rendah daripada anak siapa pun."
Suasana menjadi sangat sunyi. Tak seorang pun mampu menyela. Bahkan Azra, yang berdiri di samping Andara, hanya mampu menatap adiknya dengan rasa kagum yang bercampur haru. Ia benar-benar tidak menyangka Andara yang selama ini dikenal ceria dan manja, malam itu berdiri membela laki-laki yang dicintainya dengan keberanian yang luar biasa.
***
Di dalam mobil, suasana sempat hening beberapa menit.
Azra sesekali melirik ke arah Andara yang duduk di kursi penumpang sambil menatap ke luar jendela. Entah sudah berapa kali ia ingin berbicara, tetapi setiap kali melihat wajah adiknya, kata-katanya kembali tertahan.
Andara yang menyadarinya akhirnya menoleh. "Kak... Biasa aja kali. Kenapa melongo begitu?"
Azra menggeleng pelan sambil ikut tertawa. "Ya Allah... Kakak benar-benar nggak nyangka."
"Nggak nyangka apa?"
"Nggak nyangka kamu bisa ngomong setegas itu. Tadi tuh kakak sampai nggak berkedip dengerin kamu."
Andara hanya mengangkat bahu. "Ya gimana, Kak. Aku kesel. Aku nggak terima mereka merendahkan Kak Kafa cuma karena beliau anak yatim piatu."
Azra mengembuskan napas panjang. "Tapi kamu berani banget. Kalau tadi Abi sama Bunda ada di sana, mungkin mereka juga bakal kaget."
Andara tersenyum tipis. "Justru karena Abi nggak ada, makanya aku berani ngomong. Soalnya kalau Abi dengar sendiri aku yakin Abi pasti lebih sakit hati daripada Kak Kafa."
Azra terdiam. Ia tau itu benar. Azzam selalu menganggap Kafa sama seperti anak kandungnya sendiri. Mendengar seseorang merendahkan Kafa sama saja dengan merendahkan keluarganya.
"Terus kamu ngomong begitu karena masih cinta sama Kak Kafa?"
Pertanyaan itu membuat Andara tersenyum kecil. "Aku membela Kak Kafa bukan karena aku mencintainya, Kak."
Azra menoleh. "Lalu?"
"Karena itu memang yang benar. Kalau yang diperlakukan seperti itu bukan Kak Kafa, tapi orang lain pun, aku tetap akan membelanya."
Ia menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Apalagi Kak Kafa. Beliau orang baik. Beliau nggak pantas dipandang rendah hanya karena masa lalunya."
Azra memandang adiknya beberapa detik. Lalu tanpa sadar ia tersenyum bangga. "Kamu tau nggak?"
"Apa?"
"Malam ini kakak bangga punya adik seperti kamu."
Andara langsung meringis. "Ih... jangan bikin aku terharu. Nanti aku nangis."
Azra terkekeh. "Padahal tadi ngomongnya berani banget. Giliran dipuji malah mau nangis."
"Ya beda, Bambang. Kalau debat aku jago. Kalau dipuji aku malu."
Azra tertawa lepas. "Dasar."
Andara ikut tersenyum. Namun senyum itu perlahan memudar. Ia kembali menatap jalanan yang mulai lengang.
Dalam hatinya ia berdoa pelan. "Ya Allah... jika memang Kak Kafa bukan jodohku, aku ikhlas. Tapi jangan biarkan beliau terluka karena dipandang rendah atas takdir yang tidak pernah beliau pilih."
***
Max berdiri tegak di belakang kursi kerja tuannya. Di tangannya terdapat sebuah map berisi hasil penyelidikan yang diminta Tristan sejak pertemuan di restoran beberapa hari lalu.
"Langsung saja, Max."
"Baik, Tuan."
Max membuka map itu. "Saya sudah mencari tau hubungan antara Nona Andara dan Tuan Kafa."
Tristan mengangkat pandangannya. "Bagaimana hasilnya?"
Max menjawab tanpa ragu. "Tuan Kafa bukan kakak kandung Nona Andara."
Alis Tristan langsung terangkat. "Kamu serius? Mereka terlihat sangat mirip sebagai saudara."
"Itu karena mereka memang dibesarkan dalam keluarga yang sama, Tuan."
Tristan memberi isyarat agar Max melanjutkan. "Kafa adalah anak yang di buang oleh ibunya. Saat masih bayi, beliau ditemukan dalam keadaan terlantar. Pak Azzam yang menemukannya dan langsung membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan. Setelah kondisinya membaik, Pak Azzam menitipkannya di panti asuhan. Namun beliau tidak pernah benar-benar meninggalkan Kafa. Seluruh biaya hidup, pendidikan, hingga kebutuhannya ditanggung oleh Pak Azzam. Beliau rutin mengunjungi Kafa dan memperlakukannya seperti anak sendiri."
Tristan mendengarkan dengan saksama. "Lalu?"
"Beberapa tahun kemudian, setelah Pak Azzam menikah dengan Bu Aira, mereka memutuskan mengadopsi Kafa secara resmi. Saat itu usia Kafa sekitar lima tahun. Sejak hari itulah beliau tinggal bersama keluarga Malik. Pak Azzam dan Bu Aira membesarkannya tanpa pernah membedakan kasih sayang dengan anak-anak kandung mereka. Begitu pula Azra dan Andara. Bagi mereka, Kafa adalah kakak kandung."
Tristan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya berubah dalam. "Jadi hubungan darah memang tidak ada."
"Tidak ada, Tuan."
Max lalu menambahkan informasi yang menurutnya penting. "Dan ada satu hal lagi."
"Apa?"
"Sepertinya... Nona Andara menyimpan perasaan kepada Tuan Kafa."
Tatapan Tristan langsung menajam. "Kamu yakin?"
"Saya belum bisa memastikan seratus persen. Tapi dari informasi yang saya kumpulkan, banyak orang terdekat mereka mengetahui bahwa Nona Andara pernah sangat terang-terangan mengejar perhatian Kafa. Namun belakangan ini sikapnya berubah drastis. Diduga karena Kafa akan melamar seorang wanita bernama Giska."
Ruangan kembali sunyi. Tristan menatap ke luar jendela cukup lama. Lalu sudut bibirnya perlahan terangkat.
"Menarik... Sangat menarik."
Max mengernyit. "Tuan?"
Tristan tersenyum tipis. "Berarti selama ini laki-laki yang cemburu saat melihatku bersama Andara itu bukan seorang kakak."
Ia mengingat kembali tatapan Kafa setiap kali Andara tertawa bersamanya. Tatapan yang saat itu terasa aneh. Kini semuanya masuk akal.
"Dia mencintainya."
Max mengangguk pelan. "Sepertinya begitu, Tuan."
Tristan mengembuskan napas pelan. "Lalu Andara juga mencintainya."
"Ya, kemungkinan besar seperti itu."
Tristan kembali tersenyum, tetapi kali ini senyumnya sulit ditebak maknanya. "Kalau begitu permainan ini ternyata jauh lebih menarik daripada yang kubayangkan."
Max kembali membuka tablet di tangannya. "Oh iya, Tuan ada satu hal lagi."
Tristan yang sedang menatap pemandangan di balik jendela hanya menjawab singkat.
"Apa?"
"Mr. Willi menghubungi saya tadi. Beliau meminta pengiriman berikutnya segera disiapkan."
Tatapan Tristan tetap lurus ke depan. "Sudah kehabisan orang di sana? Setahu saya Daddy tidak terlalu menyukai mengambil target dari Indonesia."
Max mengangguk pelan. "Awalnya memang begitu, Tuan. Tapi menurut laporan mereka target dari pengiriman pertama dinilai lebih mudah dikendalikan. Mereka dianggap lebih patuh."
Tristan terdiam beberapa detik. Raut wajahnya tetap datar.
"Kalau begitu lakukan saja seperti prosedur biasa. Jangan menarik perhatian."
Max mengangguk hormat. "Baik, Tuan. Saya akan mengurus semuanya."
Tristan kembali mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
Baginya, itu hanyalah satu perintah yang harus dilaksanakan. Sementara Max segera meninggalkan ruangan untuk menindaklanjuti instruksi tersebut.
mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰