Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32: Cakra Bintang Design
Kirana melihat lowongan itu tiga hari setelah menandatangani perjanjian satu tahun.
Cakra Bintang Design membuka posisi junior designer untuk lini busana siap pakai. Syaratnya tidak mudah: portofolio, tes konsep, kemampuan memilih material, dan pengalaman kerja yang relevan. Kirana membaca daftar itu dua kali di ruang istirahat toko, lalu menutup ponsel.
"Kenapa wajahmu seperti melihat kue tapi dilarang makan?" tanya Ningsih.
Kirana menyerahkan ponsel.
Ningsih membaca, lalu matanya membesar. "Kamu harus daftar."
"Aku tidak punya pengalaman formal."
"Kamu punya mata desain."
"Itu kata kalian."
"Dan pelanggan. Dan display yang membuat gaun itu laku dua kali lebih cepat."
Kirana tetap ragu. Penjara tidak tertulis di lowongan, tetapi ia tahu bayangannya bisa muncul kapan saja. SKCK, riwayat kerja kosong, nama keluarga Li yang mungkin masih membuat orang menutup pintu.
Malamnya, ia membuka map gambar lamanya. Banyak sketsa sudah menguning, beberapa rusak karena disimpan buruk. Namun di antara garis yang tidak sempurna, ia menemukan dirinya yang dulu: gaun kerja sederhana dengan potongan kuat, kebaya modern, jaket ringan untuk perempuan kota yang ingin tampak tegas tanpa kehilangan gerak.
Ada satu sketsa yang membuatnya berhenti lama. Gaun pengantin sederhana dengan kerah tertutup dan garis pinggang lembut. Ia menggambarnya sebelum semua hancur, saat masih percaya pernikahan akan menjadi awal yang indah. Kertas itu sudah kusut di sudut, tetapi garisnya masih jelas. Kirana tidak memasukkannya ke portofolio. Bukan karena malu, melainkan karena desain itu masih terlalu dekat dengan luka.
Sebagai gantinya, ia memilih rancangan pakaian kerja. Ia ingin perusahaan melihat dirinya sebagai orang yang masih bisa membuat sesuatu untuk hidup ke depan, bukan hanya perempuan yang selamat dari masa lalu.
Nathaniel duduk di seberang meja, tidak menyentuh apa pun tanpa izin.
"Ini bagus," katanya.
"Kamu mengerti desain?"
"Tidak banyak. Tapi aku mengerti ketika sesuatu punya arah."
Kirana menahan senyum. "Jangan pakai koneksi."
"Aku belum menawarkan."
"Aku bilang dulu."
"Baik. Tidak pakai koneksi."
"Bahkan kalau aku gagal."
"Bahkan kalau kamu gagal."
Ia menatapnya, mencari celah. Tidak ada.
Selama dua malam, Kirana menyusun portofolio. Ia menggambar ulang beberapa desain dengan kertas baru, menulis konsep dalam bahasa profesional yang masih terasa kaku, dan meminta Ningsih memotret display toko sebagai contoh styling. Ibu Yustin memberi izin memakai beberapa sudut toko selama nama toko tidak disalahgunakan.
Saat mengirim lamaran, jari Kirana berhenti di tombol submit cukup lama.
Nathaniel tidak mengatakan ayo. Ia hanya duduk di ruang tamu, memberi keberadaan yang tenang.
Kirana menekan tombol.
Tes pertama datang lebih cepat dari perkiraan. Ia diminta membuat konsep mini collection untuk perempuan pekerja muda dengan anggaran terjangkau. Kirana datang ke kantor Cakra Bintang dengan kemeja putih, rok hitam, dan map portofolio di tangan. Gedungnya tidak terlalu mewah, tetapi sibuk. Orang-orang berjalan cepat dengan gulungan kain, tablet, dan papan warna.
Jantung Kirana berdetak keras.
Di ruang tes, ia bertemu lima kandidat lain. Beberapa membawa laptop mahal, beberapa berbicara tentang sekolah desain luar negeri. Kirana menaruh mapnya di meja dan mengingat syarat yang ia tulis sendiri: ia punya hak mencoba.
Tes berlangsung tiga jam. Ia menggambar, memilih palet warna, menulis alasan material, dan menjelaskan bagaimana satu blazer bisa dipakai untuk kantor maupun acara semi formal. Saat presentasi, suaranya sempat goyah, tetapi menjadi stabil ketika ia bicara tentang tubuh perempuan yang berbeda-beda.
Salah satu kandidat mempresentasikan koleksi dengan istilah asing yang terdengar mahal. Kandidat lain membawa moodboard digital penuh gambar editorial. Kirana sempat merasa kecil. Moodboard-nya dibuat dari potongan majalah lama, foto display toko, dan catatan warna yang ia tulis tangan. Namun ketika giliran bicara, ia menyadari ia punya sesuatu yang tidak muncul di gambar mereka: ia pernah melihat langsung pelanggan mengangkat bahu karena baju membuat mereka merasa terlalu besar, terlalu pendek, terlalu tua, atau terlalu miskin.
Ia bicara dari situ.
"Pakaian tidak boleh hanya bagus di manekin," katanya. "Ia harus membuat pemakainya merasa bisa bergerak dalam hidupnya."
Manajer desain yang mewawancarainya, seorang perempuan bernama Sari, mengangkat mata.
"Kamu pernah belajar formal?"
"Tidak sampai selesai."
"Kenapa?"
Kirana bisa berbohong. Ia bisa menyebut masalah keluarga. Namun ia lelah memulai hidup baru dengan setengah kebenaran.
"Saya pernah dipenjara karena kasus yang masih saya yakini salah. Saya baru mulai kembali bekerja."
Ruangan hening.
Kirana menahan napas.
Sari menatap portofolionya, lalu dirinya. "Perusahaan akan melakukan pemeriksaan administratif. Kamu paham?"
"Paham."
"Kalau ada pertanyaan, jawab dengan dokumen."
"Baik."
"Desainmu kuat. Tidak sempurna, tapi punya pengalaman hidup di dalamnya. Kami butuh orang yang bisa melihat pemakai, bukan hanya trend."
Kirana tidak berani berharap terlalu cepat.
Dua hari kemudian, email diterima masuk.
Ia membacanya di toko, lalu membaca lagi. Ningsih yang berdiri di sampingnya menjerit lebih dulu.
"Kamu diterima!"
Ibu Yustin keluar dari belakang. "Apa?"
Kirana menatap layar, matanya panas. "Saya diterima sebagai junior designer."
Ningsih memeluknya. Ibu Yustin tersenyum bangga meskipun matanya juga berkaca-kaca.
"Kamu tetap harus mengundurkan diri baik-baik," kata Ibu Yustin.
"Saya tahu."
"Dan kalau mereka menyakitimu, kembali dulu, baru kita marahi bersama."
Kirana tertawa sambil menangis.
Malamnya, Nathaniel mendengar kabar itu dan untuk pertama kalinya tersenyum lebar tanpa menahan diri. "Selamat."
"Aku masuk karena diriku sendiri."
"Aku tahu."
"Kamu benar-benar tidak membantu?"
"Aku hanya menahan diri dengan sangat sulit."
"Bagus."
Kirana menatapnya, lalu tiba-tiba percaya sedikit lagi pada perjanjian mereka. Bukan karena kertas itu ajaib, melainkan karena hari ini Nathaniel membiarkan pintu terbuka tanpa mendorongnya masuk.
Itu cukup penting baginya malam itu, lebih dari ucapan selamat.
Mereka merayakannya dengan mi goreng dari warung bawah gedung karena Kirana menolak restoran mahal. Nathaniel tidak memprotes. Nadine, yang masih tinggal sementara di kamar tamu, keluar dengan cardigan longgar dan memaksa ikut makan meskipun wajahnya masih pucat.
"Untuk desainer baru," kata Nadine, mengangkat gelas air putih.
Kirana tersenyum malu. "Masih junior."
"Semua orang yang menyebalkan juga mulai dari junior."
"Itu ucapan selamat?"
"Versi keluarga Sim."
Tawa kecil malam itu terasa rapuh, tetapi nyata.
Kirana membuka lampiran orientasi karyawan. Di daftar departemen desain, ada beberapa nama senior yang akan menjadi pembimbing.
Matanya berhenti pada satu nama.
Jessica Lim.
Rasa dingin turun dari tengkuknya.
Nathaniel melihat perubahan wajahnya. "Apa?"
Kirana memutar layar ke arahnya.
Nama itu berdiri rapi di daftar yang sama dengan masa depan barunya.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔