NovelToon NovelToon
Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Rahasia Suami Miskinku Terungkap

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Perubahan Hidup / CEO / Identitas Tersembunyi / Konglomerat berpura-pura miskin / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ahmad

Dijebak oleh kakak tirinya Nadira, Kirana — anak luar keluarga Hendra yang tak pernah diakui seumur hidup — terbangun di kamar hotel bersama Raka, calon suami Nadira yang selama ini dipandang sebelah mata sebagai laki-laki tak berpunya.
Keluarga malah memaksa mereka menikah untuk menutupi aib, tanpa mau mendengar sisi kebenaran darinya. Tanpa gentar, Kirana membawa Raka keluar dari rumah mewah itu, memulai hidup susah di kontrakan kecil sambil bekerja sebagai koki di hotel bintang lima.
Namun siapa sangka, Raka menyimpan identitas rahasia yang jauh lebih besar. Saat Nadira terus berusaha menjatuhkannya, bisakah Kirana bangkit dari hinaan dan mengungkap semua permainan kotor keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 20

Kontrakan itu sudah rapi ketika Kirana kembali.

Pintu yang semalam dipaksa terbuka sudah diganti dengan kunci baru. Laci meja plastik tersusun lagi. Baju-bajunya dilipat, meski beberapa lipatan tampak terlalu kaku dan tidak alami. Rak miring di sudut ruangan juga sudah berdiri lurus.

Kirana tahu semua itu bukan pekerjaan pemilik kontrakan.

Raka berdiri di belakangnya, menunggu komentar.

"Kamu melipat bajuku?"

"Iya."

"Dengan teknik militer?"

"Saya tidak tahu teknik lain."

Kirana mengambil satu kaus yang lipatannya kotak sempurna. Untuk beberapa detik ia ingin tetap marah. Lalu ia lelah sendiri.

"Terima kasih."

Raka tampak lega, tapi tidak berlebihan.

"Map fotomu ada di meja. Saya tidak membukanya."

Kirana melihat map itu. Bima pasti sudah mengamankannya setelah mereka kembali dari rumah Hendra. Ia mengambil map, membuka sekilas, memastikan semua masih ada.

Foto Safira.

Foto bayi dengan gelang.

Kantong kain kosong.

Surat-surat lama yang belum sempat ia baca.

Ia duduk di tikar. Raka duduk di seberangnya, memberi jarak.

"Aku ingin tahu tentang ibuku," kata Kirana.

"Kita cari bersama."

"Aku belum bilang kamu boleh ikut."

"Baik. Kalau kamu izinkan, saya ikut."

Kirana menatapnya. Ini Raka yang berbeda. Masih tenang, masih sulit ditebak, tapi tidak lagi memaksa masuk dengan alasan melindungi.

"Aku izinkan untuk mencari. Bukan untuk mengatur."

"Saya mengerti."

"Dan soal identitasmu..."

Raka menegakkan punggung.

"Aku belum selesai marah."

"Saya tahu."

"Tapi aku juga tidak mau pura-pura kamu masih sopir Bima."

"Itu memang akan sulit."

"Sangat sulit."

Mereka saling menatap.

Lalu Kirana membuka buku catatan keuangan dan mencoret tulisan cicilan mobil.

Raka menahan napas.

Kirana menulis ulang: utang harga diri, status ditinjau ulang.

Raka membaca dari seberang, lalu bertanya hati-hati, "Apa artinya?"

"Artinya aku belum memutuskan apakah cicilan itu tetap kubayar."

"Saya berharap tidak."

"Jangan berharap terlalu keras."

"Baik."

Kirana menutup buku.

Ponselnya berdering. Nomor Pak Dimas.

"Kirana, maaf mengganggu. Besok kamu masuk siang saja. Setelah kejadian Bowo, Chef Arman ingin kamu istirahat."

"Baik, Pak."

"Dan satu lagi. Menu wellness tetap jalan. Manajemen puas dengan caramu menangani masalah."

Kirana memejamkan mata sebentar. "Terima kasih, Pak."

Setelah panggilan berakhir, ia menatap Raka.

"Aku tidak jatuh."

"Saya tahu."

"Bowo mencoba menjatuhkanku. Nadira mencoba. Bu Ratna mencoba. Aku tidak jatuh."

"Kamu tidak akan jatuh."

"Jangan terlalu yakin. Aku manusia."

"Kalau jatuh, kamu akan bangun lagi."

Kirana diam, lalu tersenyum sangat tipis.

"Itu lebih masuk akal."

Malam itu mereka makan sederhana: nasi, telur, tumis kangkung yang Kirana masak cepat. Raka mencuci piring tanpa diminta. Kali ini air tidak membanjiri lantai.

"Kemajuan," kata Kirana.

"Saya bisa dididik."

"Jangan ulang kalimatku."

"Baik."

Suasana nyaris tenang.

Namun di rumah Hendra, ketenangan tidak ada.

Pak Hendra duduk di ruang kerja, masih memikirkan pengungkapan identitas Raka. Ia merasa seluruh tubuhnya dingin setiap kali mengingat bagaimana ia dulu memandang rendah laki-laki itu. Lebih buruk lagi, ia membiarkan Nadira membuangnya, lalu memaksa Kirana menanggung akibatnya.

Bu Ratna masuk tanpa mengetuk.

"Kamu harus bicara dengan Raka."

Pak Hendra menatapnya. "Setelah semua yang kamu lakukan?"

"Aku melakukan demi keluarga."

"Mencuri foto Kirana demi keluarga?"

"Foto itu bisa menghancurkan Nadira."

"Kenapa?"

Bu Ratna terdiam.

Pak Hendra berdiri. "Ratna, apa lagi yang kamu sembunyikan?"

Bu Ratna menatapnya dengan mata keras. "Jangan mulai membela anak itu hanya karena Raka Mahendra berdiri di belakangnya."

"Aku membela kebenaran."

Bu Ratna tertawa dingin. "Kebenaran? Dua puluh tahun kamu tidak peduli pada kebenaran. Sekarang mendadak suci?"

Pak Hendra seperti ditampar.

Di luar ruang kerja, Nadira mendengar semuanya. Gelang di tangannya terasa semakin berat.

Ia kembali ke kamar dan menatap pantulan dirinya.

Raka Mahendra.

Nama itu terus berputar.

Kalau ia tidak panik malam itu, kalau ia tidak menjebak Kirana, kalau ia bersabar sedikit saja, mungkin posisi di samping Raka masih miliknya.

Ia mengambil ponsel dan membuka foto lama dari acara keluarga. Ada Raka di sana, duduk di sudut dengan pakaian sederhana, wajah tenang. Dulu ia memotong Raka dari foto karena merasa merusak tampilan.

Sekarang ia memperbesar wajah itu.

"Kamu seharusnya milikku," bisiknya.

Pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

Saya tahu cara membuat Kirana kehilangan Raka.

Nadira menatap layar.

Ia seharusnya menghapus pesan itu.

Namun jarinya justru mengetik.

Siapa kamu?

Balasan datang cepat.

Orang yang juga tidak ingin Kirana naik terlalu tinggi.

Nadira menggenggam ponsel.

Ia tahu ini berbahaya.

Tapi rasa iri sering membuat bahaya terlihat seperti kesempatan.

Keesokan siang, Kirana masuk kerja dengan kepala lebih jernih. Bowo tidak ada. Dapur terasa lebih lapang. Jefri menunduk setiap kali melihatnya. Chef Arman memberi instruksi seperti biasa, tidak memberi perlakuan istimewa, dan Kirana menyukai itu.

Menjelang sore, HR memanggilnya.

Kirana mengira soal Bowo.

Ternyata di ruang HR sudah ada Pak Dimas, Chef Arman, dan seorang perempuan dari legal hotel. Wajah mereka serius.

"Ada laporan baru," kata staf legal.

Kirana duduk. "Tentang apa?"

"Tentang kamu menerima perlakuan khusus dari Mahendra Group karena hubungan pribadi dengan Pak Raka."

Kirana terdiam.

Pak Dimas cepat menambahkan, "Kami tidak langsung percaya. Tapi karena nama hotel dan mitra bisnis terlibat, kami harus klarifikasi."

Chef Arman menatap Kirana. "Saya tahu kemampuanmu. Tapi prosedur tetap prosedur."

Kirana mengangguk. "Saya mengerti."

Staf legal membuka dokumen. "Pelapor menyebut menu wellness disetujui bukan karena kualitas, melainkan karena campur tangan Pak Raka. Pelapor juga menyebut kerusakan mobil sengaja dibuat agar kamu punya alasan dekat dengan Mahendra Group."

Kirana hampir tertawa.

Tuduhannya begitu rumit sampai terdengar seperti ditulis orang yang terlalu banyak waktu.

"Siapa pelapornya?"

"Anonim."

Tentu.

Kirana menarik napas. "Saya bisa jelaskan proses menu wellness dari awal. Ada catatan tasting, daftar bahan, komentar tamu, dan evaluasi Chef Arman. Soal kerusakan mobil, ada CCTV Danu menggores kendaraan. Bukan saya, bukan Pak Raka."

Staf legal mengangguk. "Kami sudah minta rekaman."

"Silakan."

Pak Dimas berkata pelan, "Kirana, kamu juga perlu tahu, setelah identitas Pak Raka tersebar, posisimu akan sensitif."

"Saya tahu."

"Akan ada yang menganggap semua pencapaianmu bukan milikmu."

Kalimat itu menyentuh ketakutan paling sunyi.

Kirana menatap meja.

Dulu orang menganggap ia buruk karena ibunya. Sekarang orang akan menganggap ia berhasil karena laki-laki.

Chef Arman berkata, "Karena itu buktikan dengan kerja. Bukan dengan menangis."

Kirana mengangkat wajah.

"Saya tidak akan menangis, Chef."

"Bagus."

Klarifikasi berlangsung hampir satu jam. Kirana menyerahkan semua catatan resep dan timeline kerja. Chef Arman mendukung dengan catatan evaluasi. Pak Dimas menambahkan feedback tamu. Pada akhirnya legal hotel menyatakan belum ada dasar untuk menghentikan menu atau memberi sanksi.

Kirana keluar dari ruang HR dengan napas panjang.

Di lorong, Nadira berdiri menunggu.

Kirana tidak terkejut.

"Kamu yang melapor?"

Nadira tersenyum. "Aku hanya khawatir adikku menjadi bahan omongan."

"Kamu buruk sekali saat berpura-pura peduli."

"Dan kamu buruk sekali saat berpura-pura tidak menikmati perlindungan Raka."

Kirana menatapnya.

Dulu kalimat seperti itu mungkin membuatnya goyah.

Hari ini ia lelah, tapi tidak goyah.

"Nadira, dengarkan baik-baik. Kalau aku naik, itu karena aku bekerja. Kalau aku jatuh, itu juga urusanku. Jangan terus menempelkan namamu pada hidupku. Kamu sudah membuang Raka. Kamu sudah mengambil gelangku. Kamu sudah memakai cerita yang bukan milikmu. Apa belum cukup?"

Wajah Nadira memutih.

"Jaga bicaramu."

"Tidak."

Kirana melangkah mendekat.

"Mulai sekarang, aku tidak akan menjaga mulut hanya agar kamu tetap terlihat baik."

Nadira mundur setengah langkah.

Kirana melewatinya tanpa menoleh.

Di luar hotel, Raka menunggu di mobil. Kali ini bukan di depan lobby, melainkan agak jauh, sesuai permintaan Kirana agar tidak mencolok. Ia turun saat melihat Kirana.

"Ada masalah?"

"Ada laporan anonim."

Wajah Raka langsung dingin. "Nadira?"

"Kemungkinan."

"Saya urus."

Kirana mengangkat tangan.

Raka berhenti.

"Tidak. Aku sudah urus."

Ia menatap Raka, lalu melanjutkan, "Tapi kamu boleh mengantar aku pulang."

Raka menatapnya seolah kalimat itu lebih berharga daripada kontrak miliaran.

"Baik."

Di perjalanan, Kirana membuka jendela sedikit. Angin Jakarta masuk bersama suara klakson.

"Raka."

"Ya?"

"Mulai besok, jangan sembunyi lagi. Kalau orang bertanya siapa kamu, jawab saja."

"Kamu yakin?"

"Aku lebih benci rahasia daripada gosip."

Raka mengangguk.

"Dan soal kita..." Kirana berhenti, mencari kata yang tidak membuatnya terdengar terlalu rapuh. "Aku belum tahu."

"Saya tunggu."

"Jangan cuma tunggu. Buktikan."

Raka menatap jalan. "Akan saya buktikan."

Kirana tidak menjawab.

Namun kali ini, ketika mobil berhenti di depan gang kontrakan, ia tidak langsung turun. Ia melihat Raka sebentar.

"Makan malam di kontrakan?"

Raka menoleh.

"Boleh?"

"Kalau kamu cuci piring."

Untuk pertama kalinya sejak identitasnya terbuka, Raka tersenyum lega.

"Saya sudah makin ahli."

Kirana membuka pintu mobil.

"Kita lihat nanti."

Malam itu, mereka kembali ke kontrakan kecil yang sudah terlalu banyak menyimpan rahasia. Bedanya, satu rahasia besar akhirnya terbuka.

Di luar sana, Nadira dan Bu Ratna belum selesai.

Bowo belum tentu benar-benar jatuh.

Danu masih menyimpan dendam.

Namun Kirana sudah mengambil satu keputusan.

Ia tidak akan lagi menjadi tempat orang lain membuang kesalahan.

Dan jika mereka ingin menyerangnya lagi, mereka harus menghadapi Kirana yang sekarang berdiri dengan mata terbuka.

1
sukensri hardiati
ni mereka dah nikah belum sih....?
Leha Rahman
lanjut Thor 😊
Syahdu: Halo kak, yuk baca novelku I Love You Brutally🫶🏻🤍 Kisah gadis yang blak-blakan banget ke cowo yang ditaksir. Mohon Dukungannya ya😆🫶🏻🤍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!