Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.
Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.
Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Yang Ditarik Kembali
Sore itu, gerbang besi hitam setinggi empat meter dengan ukiran tembaga berlapis emas terbuka perlahan secara otomatis. Iring-iringan mobil Rolls-Royce yang membawa Adila melaju mulus menyusuri jalanan pribadi yang dilapisi batu alam hitam, membelah hamparan taman bergaya Eropa yang tertata sempurna. Di kanan kiri jalan, pohon-pohon palem kipas raksasa berdiri kokoh, berpadu dengan gemercik air dari kolam pancuran marmer putih tiga tingkat.
Di ujung jalan setapak itu, berdirilah istana utama Keluarga Wijaya. Sebuah mahakarya arsitektur modern-klasik yang didominasi warna putih gading dan kaca-kaca besar setinggi langit-langit. Pilar-pilar silinder yang megah menopang fasad depan rumah, memancarkan kemewahan yang tak lekang oleh waktu.
Begitu mobil berhenti, dua orang pelayan berseragam rapi langsung membukakan pintu untuk Adila. Saat kakinya melangkah melewati pintu ganda setinggi lima meter yang terbuat dari kayu jati solid, aroma minyak esensial sandalwood dan white musk yang mewah langsung menyambut indra penciumannya. Lantai marmer Carrara Italia yang mengilap seperti cermin memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal raksasa yang menjuntai di tengah lobi utama.
"Selamat datang kembali di rumah, Non Adila," ucap kepala pelayan tua yang sudah bekerja di sana sejak Adila masih balita, membungkuk dengan sangat khidmat.
Mami Ratna langsung merangkul pinggang Adila, menuntunnya menuju lantai dua. "Ayo, sayang Mami sudah merombak total kamarmu. Tidak ada lagi sisa-sisa barang lama. Semuanya baru, khusus untuk menyambut kepulangan dokter kebanggaan Mami."
Kamar baru Adila di rumah utama ini bahkan lebih luas daripada seluruh bangunan rumah yang dulu ia tempati bersama Revan. Sebuah ranjang berukuran King Size dengan tiang-tiang ukiran berlapis kain sutra perak berdiri di tengah ruangan. Di sisi kiri, terdapat pintu kaca besar yang langsung terhubung ke balkon pribadi yang menghadap ke kolam renang infinity dan lapangan golf pribadi. Di sisi kanan, sebuah walk-in closet seluas butik papan atas sudah dipenuhi dengan puluhan gaun malam, tas desainer lansiran Paris, dan deretan sepatu mewah yang disiapkan khusus oleh Siska.
Di tempat inilah Adila seharusnya berada sejak dulu. Di tempat di mana setiap jengkal ruangannya memancarkan kelas, kehormatan, dan kenyamanan mutlak yang tak ternilai.
Sementara itu, di sudut kota yang lain, kontras yang teramat mengerikan sedang terjadi.
Di dalam sebuah ruang tamu yang sempit, pengap, dan berbau asap rokok di rumah milik Mama Revan, atmosfernya terasa begitu mencekam. Ruangan berukuran empat kali empat meter itu terasa semakin sesak karena tumpukan kardus-kardus barang milik Revan yang baru saja diangkut paksa dari rumah lamanya. Kipas angin dinding yang berputar dengan suara berdecit keras sama sekali tidak mampu mengusir hawa panas yang membakar emosi orang-orang di dalamnya.
Brak!!!
Suara hantaman vas bunga plastik ke lantai semen terdengar begitu memekakkan telinga. Papa Revan Suryo berdiri dengan napas terengah-engah, wajahnya yang biasanya kaku kini merah padam hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar. Mata tuanya menatap Revan yang sedang bersimpuh di lantai dengan pandangan penuh murka dan jijik.
"Dasar anak bodoh tidak berguna! Otakmu itu ditaruh di mana, Revan?!" amuk Papa Suryo, suaranya menggelegar hingga membuat Meisya yang duduk di sudut sofa langsung tersentak ketakutan.
Papa Suryo memang sengaja tidak ikut ke pengadilan pagi tadi karena harus mengurus urusan bisnis kecilnya yang mulai goyah. Namun, begitu ia pulang dan mendengar cerita histeris dari istrinya dan Tiara tentang siapa sebenarnya sosok Adila, jantungnya hampir saja copot.
"Pa... Revan tidak tahu kalau Adila anak Hadi Wijaya... Selama sepuluh tahun dia tidak pernah cerita..." Revan membela diri dengan suara parau, air matanya sudah mengering, menyisakan wajah yang kusut dan hancur.
"Tidak tahu kamu bilang?! Itu karena kamu yang matanya buta dan ditambah oleh kehadiran wanita murahan ini!" Papa Suryo menunjuk wajah Meisya dengan telunjuknya yang gemetar. "Hadi Wijaya! Kamu tahu siapa dia?! Dia itu orang yang bisa menghancurkan sisa hidup kita hanya dengan menjentikkan jarinya! Kalau saja kamu setia sama Adila, perusahaan Papa tidak akan bangkrut, hidupmu akan terjamin sampai mati! Kamu membuang putri mahkota demi... demi wanita yang bahkan tidak punya kasta ini?!"
"Sudahlah, Pah... jangan salahkan Revan terus. Revan juga kan korban ditipu Adila yang sok miskin itu!" Mama Revan mencoba membela anaknya dengan suara yang agak gemetar, meski ia sendiri sebenarnya masih syok dan ketakutan setelah ditampar kata-kata oleh Mami Ratna di pengadilan.
"Kamu juga diam!" bentak Papa Suryo pada istrinya sendiri. "Kamu yang paling bersemangat mengusir Adila, kan? Kamu yang memaki-makinya dengan sebutan tanah tandus! Sekarang lihat siapa yang tandus?! Tanah investasi yang kamu agungkan itu sekarang disita bank karena hutang-hutangmu! Kita sekarang tidak punya rumah mewah, tidak punya menantu dokter kaya dan sebentar lagi rumah tua ini juga bisa disita kalau kita tidak bisa bayar cicilan!"
Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara isak tangis Meisya yang sengaja dikeras-keraskan untuk mencari simpati. Meisya terus memegangi perutnya yang buncit. "Mas Revan... aku takut... Kenapa Papa kamu sekasar ini? Janin di dalam perutku bisa stres kalau mendengar bentakan terus..."
Mendengar keluhan Meisya, Tiara yang sejak pulang dari pengadilan hanya diam dengan wajah ketat, tiba-tiba berdiri dari kursinya. Rasa syok, malu, dan iri yang membakar hatinya setelah melihat kemewahan keluarga Adila pagi tadi kini menemukan pelampiasannya.
"Heh, Meisya! Bisa diam tidak?!" bentak Tiara, suaranya melengking tinggi, memotong tangisan Meisya secara instan.
Meisya tersentak, menatap adik iparnya itu dengan tatapan tidak percaya. "Tiara... kamu kok bentak aku? Aku ini kan teman kecil Kakak kamu..."
"Masa bodoh dengan teman kecil atau benalu?!" Tiara melangkah maju, berdiri tepat di depan Meisya dengan tangan di pinggang dan tatapan mata yang penuh kebencian. "Asal kamu tahu ya, semua kekacauan ini itu gara-gara kamu! Gara-gara kamu yang datang ke rumah Mas Revan dengan rintihan palsumu itu! Sekarang aku sadar... apa yang dibilang Mbak Adila di parkiran rumah sakit waktu itu semuanya benar seratus persen!"
Revan mendongak, menatap adiknya dengan kening berkerut. "Tiara, jaga bicaramu..."
"Nggak, Mas! Tiara nggak mau diam lagi!" potong Tiara dengan berani, mengabaikan teguran Revan. "Mbak Adila dulu bilang sama aku, kalau aku mendukung pengkhianatan Mas Revan, suatu saat nanti aku akan merasakan hal yang sama. Mbak Adila bilang, tindakan kamu membela sahabat masa kecil itu menjijikkan! Dan sekarang aku baru sadar, kamu memang menjijikkan, Meisya!"
Tiara menunjuk wajah Meisya yang mulai memucat. "Kamu itu benalu! Kamu merusak pernikahan Mas Revan yang sudah sempurna sepuluh tahun, menghancurkan masa depan Mas Revan dan sekarang kamu membuat keluarga kita terancam jadi gelandangan! Mbak Adila itu dokter, dia mandiri, dia cantik dan ternyata dia anak konglomerat! Sedangkan kamu? Kamu cuma perempuan pembawa sial yang tidak punya apa-apa selain kandungan yang bahkan tidak tahu masa depannya bagaimana!"
"Tiara! Cukup!" teriak Revan mencoba membela Meisya, namun suaranya terdengar sangat lemah, tanpa tenaga.
"Kenapa Mas? Mas Revan mau bela dia lagi?!" Tiara beralih menatap kakaknya dengan pandangan sangat merendahkan. "Lihat sekeliling Mas! Rumah ini sempit, pengap! Kamar Mas Revan yang baru di belakang bahkan lebih mirip gudang! Apa Mas Revan sanggup tinggal di sini bersama perempuan ini sambil dikejar-kejar orang bank setiap hari?!"
Tiara kembali menoleh ke arah Meisya, melemparkan pandangan paling sinis yang ia punya. "Tahu diri sedikit, Meisya. Kata Mbak Adila kemarin sudah telat, tapi kalau kamu masih punya sisa urat malu, seharusnya kamu tidak usah menampung diri di sini. Pergi saja dan tinggal bersama keluargamu sendiri yang sama-sama miskin itu! Jangan menambah beban di rumah ini. Kami sudah muak melihat mukamu yang sok terzalimi itu!"
Meisya menangis histeris, menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan bersandar pada dada Revan. "Revan... lihat Tiara... dia mengusirku... Aku tidak mau tinggal di rumah ibuku, di sana lebih sempit dan panas, Mas... Aku maunya tinggal sama kamu..."
Revan memeluk Meisya, namun pelukan itu terasa sangat hambar. Pikirannya tidak lagi berada di sana. Di dalam kepalanya, bayangan Adila yang melangkah anggun memasuki mobil Rolls-Royce mewah bersama keluarga besarnya terus berputar seperti kaset rusak. Revan menatap dinding ruang tamu rumah Mamanya yang catnya sudah mulai mengelupas dan berjamur.
Kontras itu begitu nyata dan membunuh jiwanya secara perlahan. Adila-nya kini telah kembali ke istana emasnya yang megah sebagai seorang putri mahkota dan calon dokter spesialis berkelas tinggi, sementara dia sendiri... terperangkap di dalam ruangan yang sempit, pengap, dan penuh dengan makian ini, bersama seorang wanita yang kini ia sadari sebagai awal dari segala kehancurannya. Penyesalan itu datang bertubi-tubi, mencekik leher Revan hingga ia merasa tidak bisa bernapas lagi di rumahnya sendiri.