Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.
Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24.
Mentari pagi menyinari jendela kamar Alesha.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia terbangun bahkan sebelum alarm di ponselnya berbunyi.
"Hmm..."
Alesha mengucek kedua matanya, lalu duduk di atas kasur sambil meregangkan tubuh.
Pingky yang berada di sudut kamar langsung mengeluarkan suara pelan.
"Kwek."
Alesha tersenyum.
"Selamat pagi juga, Pingky."
Ia segera merapikan tempat tidurnya, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk bersiap ke sekolah.
Beberapa menit kemudian, Alesha turun ke ruang makan dengan seragam yang sudah rapi.
Oma yang sedang menyiapkan sarapan tampak sedikit terkejut.
"Lho, hari ini bangun lebih pagi?"
Alesha mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, Oma."
"Wah, berarti matahari terbit dari barat, ya?"
Alesha langsung tertawa.
"Oma..."
Tak lama kemudian Kevin ikut turun.
Begitu melihat Alesha sudah duduk di meja makan, ia berhenti sejenak.
"Kamu..."
Alesha menoleh.
"Kenapa?"
"Bangun duluan?"
"Iya."
Kevin mendekat lalu duduk di kursinya.
"Dunia memang penuh kejutan."
Alesha langsung mengambil sepotong roti.
"Kalian kompak banget sih."
Oma dan Kevin saling berpandangan lalu tertawa kecil.
Selesai sarapan, Alesha mengambil tasnya.
Sebelum berangkat, ia membuka tas sekali lagi.
"Tugas kelompok..."
Ia memeriksa map berwarna biru.
"Ada."
"Buku..."
"Ada."
"Tempat pensil..."
"Ada."
Kevin yang melihat tingkah adiknya hanya menggeleng pelan.
"Baru sekarang rajin ngecek."
"Supaya nggak lupa."
"Bagus."
Alesha tersenyum puas mendengar pujian itu.
Mereka pun berangkat menuju sekolah.
Sesampainya di gerbang, Alesha turun dari motor sambil merapikan rok seragamnya.
"Pulangnya jangan lama-lama kalau nggak ada kegiatan," pesan Kevin.
"Iya, Kak."
"Oh ya."
Kevin memanggil lagi sebelum Alesha berjalan pergi.
"Apa?"
"Semangat."
Alesha tersenyum lebar.
"Siap!"
Ia lalu berlari kecil menuju gedung kelas.
Di depan kelas, Dinda sudah menunggu.
"Pagi."
"Pagi."
Dinda langsung menatap tas Alesha.
"Bawa?"
Alesha membuka sedikit resleting tasnya dan memperlihatkan map biru.
"Nih."
Dinda tersenyum lega.
"Syukurlah."
"Aku kan sudah janji."
Mereka masuk ke kelas bersama.
Tak lama kemudian guru datang dan meminta setiap kelompok mengumpulkan tugas.
Saat nama kelompok Alesha dipanggil, ia langsung berdiri dan menyerahkan map biru itu kepada guru.
Guru membukanya sebentar lalu mengangguk.
"Lengkap. Terima kasih."
Alesha kembali ke tempat duduk dengan wajah puas.
Dinda menyenggol lengannya pelan.
"Tuh kan, kamu bisa kalau mau."
Alesha tersenyum bangga.
"Mulai sekarang jangan anggap remeh Alesha."
Dinda tertawa kecil.
"Kita lihat saja berapa lama bertahannya."
Alesha langsung mencibir.
"Ih, doain yang baik."
Tanpa mereka sadari, dari jendela koridor, Arka yang sedang berjalan melewati kelas sempat melihat Alesha tersenyum puas setelah mengumpulkan tugas.
Entah kenapa, melihat gadis itu perlahan menjadi lebih bertanggung jawab membuatnya ikut merasa lega.
Ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang OSIS, sementara hari di sekolah baru saja dimulai.
Pelajaran pertama berlangsung dengan tenang.
Pak Budi menjelaskan materi Matematika di depan kelas, sementara seluruh siswa sibuk mencatat rumus yang ditulis di papan tulis.
Berbeda dengan beberapa minggu yang lalu, kali ini Alesha benar-benar fokus.
Ia sesekali mengangkat tangan untuk bertanya ketika ada materi yang belum dipahaminya.
"Pak, kalau langkah yang ini kenapa harus dipindah ke ruas kanan?"
Pak Budi tersenyum.
"Pertanyaan yang bagus. Perhatikan, ya."
Beliau kembali menjelaskan dengan lebih rinci hingga seluruh kelas mengerti.
"Sudah paham?"
"Iya, Pak," jawab Alesha sambil mengangguk.
Dinda yang duduk di sampingnya berbisik pelan.
"Hebat juga kamu."
Alesha tersenyum malu.
"Aku memang lagi semangat belajar."
"Ternyata benar ya, orang bisa berubah."
Alesha langsung menyenggol lengan Dinda pelan.
"Jangan ngeledek."
Dinda terkekeh kecil.
Saat pelajaran selesai, Pak Budi membagikan hasil kuis yang mereka kerjakan beberapa hari lalu.
Satu per satu nama dipanggil.
"Alesha."
"Iya, Pak."
Alesha maju ke depan mengambil kertas ujiannya.
Begitu melihat nilainya, matanya langsung membulat.
"Delapan puluh delapan?"
Ia benar-benar tidak menyangka bisa mendapat nilai setinggi itu.
Padahal saat mengerjakan kuis, ia merasa banyak jawaban yang asal ditebak.
"Selamat. Nilaimu meningkat dibanding latihan sebelumnya," kata Pak Budi.
"Terima kasih, Pak."
Alesha kembali ke bangkunya dengan senyum yang tidak bisa disembunyikan.
Dinda langsung penasaran.
"Berapa?"
Alesha memperlihatkan kertas ujiannya.
Dinda membelalak.
"Wah, delapan puluh delapan!"
Alesha mengangguk berkali-kali.
"Aku juga kaget."
"Nah, kan. Belajar nggak sia-sia."
Alesha tersenyum puas sambil menatap angka yang tertera di pojok kanan atas.
Saat bel istirahat berbunyi, ia langsung berlari kecil keluar kelas.
"Eh, mau ke mana?" tanya Dinda.
"Aku mau kasih lihat Kak Kevin."
"Tunggu aku!"
Mereka berjalan menuju kelas Kevin yang berada di lantai dua.
Saat tiba di depan kelas, Kevin baru saja keluar bersama Reza dan Alvian.
"Kak!"
Kevin menoleh.
"Hm?"
Dengan wajah berbinar, Alesha langsung menyodorkan lembar kuisnya.
"Lihat!"
Kevin mengambil kertas itu lalu membacanya.
"Delapan puluh delapan."
"Iya!"
Beberapa detik kemudian, sudut bibir Kevin terangkat.
"Bagus."
Alesha langsung tersenyum lebar.
"Kan!"
Reza ikut melirik nilai itu.
"Wah, lumayan tinggi."
Alvian mengangguk.
"Selamat."
Tak lama kemudian Arka juga keluar dari kelasnya.
Reza langsung menyodorkan kertas milik Alesha.
"Lihat."
Arka membaca nilai yang tertera.
"Naik jauh."
Alesha mengangguk semangat.
"Iya."
Arka mengembalikan kertas itu.
"Selamat."
Hanya satu kata sederhana.
Namun entah kenapa, ucapan itu membuat Alesha kembali tersenyum.
"Terima kasih."
Kevin memperhatikan adiknya yang tampak begitu bahagia.
Dalam hati ia merasa bangga.
Mungkin perubahan Alesha memang berjalan perlahan.
Tetapi setiap langkah kecil yang berhasil ia capai, selalu membuatnya semakin berkembang menjadi pribadi yang lebih baik.
Setelah puas menunjukkan hasil kuisnya, Alesha memasukkan kembali lembar ulangan itu ke dalam map bening.
Wajahnya masih dipenuhi senyum.
"Aku balik ke kelas dulu, ya."
Kevin mengangguk.
"Iya."
"Jangan sampai hilang kertasnya."
Alesha langsung memegang mapnya erat-erat.
"Nggak akan."
Reza yang berdiri di samping Kevin tertawa kecil.
"Disimpan baik-baik, siapa tahu nanti dipajang di rumah."
Alesha langsung menjawab dengan bangga.
"Kalau nilainya seratus baru dipajang."
Reza terkekeh.
"Wah, sekarang targetnya tinggi."
"Harus dong."
Arka yang sejak tadi hanya mendengarkan akhirnya berkata singkat,
"Pertahankan."
Alesha menoleh ke arahnya.
"Aku bakal berusaha."
Arka mengangguk pelan, lalu bersama Kevin dan yang lain berjalan menuju kantin.
Sementara itu, Alesha dan Dinda kembali ke kelas.
Di sepanjang koridor, langkah Alesha terasa lebih ringan dari biasanya.
"Les."
"Hm?"
"Kelihatan banget kalau lo lagi senang."
Alesha tersenyum lebar.
"Iya."
"Karena nilai?"
"Iya. Soalnya ini pertama kalinya aku dapat nilai sebagus itu sejak pindah sekolah."
Dinda ikut tersenyum.
"Berarti usaha lo selama ini nggak sia-sia."
Alesha mengangguk mantap.
Sesampainya di kelas, beberapa teman langsung menghampirinya.
"Les, dengar-dengar nilai Matematika kamu delapan puluh delapan?"
Alesha mengangguk.
"Iya."
"Wah, keren."
"Sebelumnya kamu bilang nggak yakin."
"Aku juga nggak nyangka."
Mereka pun mengobrol beberapa menit hingga bel masuk kembali berbunyi.
Guru Bahasa Indonesia memasuki kelas sambil membawa beberapa buku.
"Selamat siang."
"Selamat siang, Bu."
"Hari ini kita akan belajar membuat teks pidato."
Beberapa siswa langsung menghela napas pelan.
Guru tersenyum melihat reaksi mereka.
"Tenang, bukan langsung tampil hari ini."
Seluruh kelas pun kembali fokus mendengarkan penjelasan.
Di tengah pelajaran, guru tiba-tiba berkata,
"Minggu depan setiap kelas akan mengirim satu perwakilan untuk lomba pidato antar kelas."
Suasana kelas langsung ramai.
"Bu, jangan saya."
"Saya juga nggak bisa."
Guru tertawa kecil.
"Nanti kita pilih yang paling siap."
Alesha hanya mendengarkan sambil mencatat materi.
Ia sama sekali tidak menyangka bahwa beberapa pasang mata mulai melirik ke arahnya.
Dan Dinda yang duduk di sampingnya hanya bisa tersenyum tipis.
Entah kenapa...
Ia punya firasat bahwa nama Alesha akan kembali disebut.