NovelToon NovelToon
Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Membalas dendam / Balas Dendam / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Bab 001: Darah dan Api

Alarm merah menyala di sepanjang lorong bawah tanah.

Blood Shadow berjalan dengan satu tangan menyeret rantai besi yang masih menempel di pergelangan kirinya. Ujung rantai itu bergesekan dengan lantai logam, meninggalkan suara nyaring yang membuat para penjaga di balik pintu baja menahan napas.

Di bawah cahaya lampu darurat, wajahnya tampak terlalu muda.

Tujuh belas tahun.

Usia yang bagi gadis lain mungkin diisi ujian sekolah atau pesan singkat dari teman. Bagi Blood Shadow, usia itu berarti catatan pembunuhan paling bersih di dunia bawah dan tubuh yang sejak bayi diperlakukan seperti aset organisasi.

Shadow membesarkannya.

Shadow pula yang malam ini memutuskan untuk menghapusnya.

"Target keluar dari ruang isolasi!"

Suara di interkom pecah oleh kepanikan. Beberapa detik kemudian, tiga penjaga berbaju hitam muncul dari tikungan lorong. Senjata mereka sudah terangkat, bidikan lurus ke dada Blood Shadow.

Gadis itu tidak berhenti.

"Jangan bergerak!"

Ia mengangkat mata. Tidak ada rasa takut di sana. Tidak ada amarah yang meledak-ledak. Hanya dingin yang terlalu tenang, seolah tiga orang di hadapannya bukan manusia bersenjata, melainkan pintu yang kebetulan berdiri di jalan.

Penjaga pertama terlambat menarik pelatuk.

Rantai di tangan Blood Shadow melesat seperti cambuk. Logam itu menghantam pergelangan penjaga, membuat senjatanya jatuh. Tubuh Blood Shadow bergerak mendekat dalam satu tarikan pendek. Siku, lutut, bahu. Tiga gerakan. Tiga tubuh roboh.

Tidak ada teriakan panjang.

Hanya bunyi senjata membentur lantai, napas yang tersangkut, lalu lorong kembali dipenuhi sirene.

Blood Shadow menunduk, mengambil kartu akses dari salah satu penjaga, lalu menempelkannya ke panel pintu berikutnya. Jarinya berlumur darah kering, tetapi gerakannya tetap stabil.

Pintu terbuka.

Bau obat dan asap kabel terbakar menyambutnya.

Di ujung lorong itu ada lift menuju ruang kontrol utama. Ia tahu letaknya bahkan dengan mata tertutup. Selama tujuh belas tahun, pulau ini adalah seluruh dunianya. Ruang latihan. Ruang operasi. Ruang isolasi. Lab genetik. Kolam uji tahan napas. Kamar putih tempat anak-anak Shadow diajari bahwa rasa sakit hanyalah informasi.

Ia pernah menjadi anak paling patuh di sana.

Saat masih kecil, ia mengira suara mesin di malam hari adalah suara rumah. Mengira dokter berjas putih yang mencatat denyut nadinya adalah orang dewasa yang peduli. Mengira perintah adalah bahasa kasih sayang.

Lalu ia tumbuh.

Terlalu cepat.

Pada usia dua belas, ia menyelesaikan misi pertamanya. Pada usia lima belas, namanya mulai dibisikkan di pasar gelap. Pada usia tujuh belas, orang-orang berhenti menyebutnya anak. Mereka menyebutnya senjata.

Senjata seharusnya tidak punya kehendak.

Itu kesalahan pertama Shadow.

Lift berhenti di lantai terdalam. Begitu pintu terbuka, puluhan moncong senjata langsung mengarah padanya. Ruang kontrol utama berbentuk setengah lingkaran dengan dinding kaca tebal yang memperlihatkan reaktor bawah tanah di sisi lain. Puluhan layar menampilkan peta pulau, jalur pipa bahan bakar, ruang tahanan, helipad, dan dermaga rahasia.

Di tengah ruangan, seorang pria berusia hampir lima puluh berdiri dengan jas hitam rapi.

Direktur laboratorium Shadow.

Orang yang pernah menepuk kepala Blood Shadow kecil dan berkata, "Kau anak terbaik kami."

Malam ini, tangannya menggenggam sebuah perangkat kecil berwarna perak.

Blood Shadow mengenali benda itu.

Pemicu chip.

Chip yang ditanam di kepalanya sejak ia belum bisa mengeja namanya sendiri. Chip yang disebut sebagai pengaman, tetapi sebenarnya hanya tali kekang. Selama chip itu ada, Shadow percaya mereka dapat memanggilnya pulang, membuatnya berlutut, atau mengakhiri hidupnya kapan pun mereka mau.

Direktur itu tersenyum, tetapi otot di rahangnya kaku.

"Berhenti di sana."

Blood Shadow berhenti tiga langkah dari garis bidik. Rantai di tangannya jatuh perlahan ke lantai.

Clang.

Suara itu membuat beberapa penjaga mengeratkan pegangan pada senjata mereka.

"Kau membuat kekacauan besar malam ini," kata pria itu. Nada suaranya dibuat tenang, seperti sedang menegur murid yang terlambat masuk kelas. "Kembali ke ruang isolasi. Kita masih bisa memperbaiki ini."

Blood Shadow menatapnya.

"Memperbaiki?"

Satu kata itu keluar rendah. Kering. Hampir seperti tawa yang lupa caranya menjadi suara.

Mata direktur bergerak sesaat ke layar di belakangnya. Di sana, angka korban keamanan bertambah satu per satu. Banyak pintu sudah berwarna merah. Banyak sistem sudah mati.

"Kau terlalu berharga untuk mati karena emosi sesaat."

"Bukankah kalian yang menandatangani perintah eksekusiku?"

Ruangan hening sekejap.

Beberapa penjaga saling melirik, tetapi tidak ada yang berani bicara.

Direktur menekan bibir. "Dewan mengambil keputusan berdasarkan risiko. Kau mulai tidak terkendali. Kau menyimpan data misi. Kau membuka arsip yang tidak seharusnya kau lihat. Kau bahkan menolak perintah terakhir."

"Perintah untuk membunuh anak-anak di ruang B-7?"

Wajah pria itu tidak berubah.

Justru karena itulah sesuatu di dada Blood Shadow terasa semakin dingin.

Mereka tidak pernah menganggap anak-anak itu manusia. Mereka juga tidak pernah menganggapnya manusia. Mereka hanya berbeda nomor, berbeda tingkat keberhasilan, berbeda harga jual.

"Eksperimen membutuhkan pengorbanan," kata direktur.

Blood Shadow menunduk dan melihat darah mengering di sela borgol besi. Borgol itu dibuat khusus untuknya. Campuran logam berat, lapisan penahan listrik, sensor gerak, dan pengunci biometrik. Mereka memasangnya setelah misi terakhir, ketika ia pulang membawa bukti bahwa Shadow sedang menjual data anak-anak eksperimen ke pembeli lain.

Mereka tersenyum saat menyambutnya.

Lalu suntikan masuk ke lehernya.

Saat ia bangun, tangannya sudah terikat, kepalanya sakit, dan suara dewan terdengar dari speaker.

Aset Blood Shadow memasuki tahap risiko tinggi.

Eliminasi disetujui.

Tujuh belas tahun ia membunuh untuk mereka. Satu kali ia menolak menjadi mesin, mereka langsung takut.

"Kau ingat Wind Shadow?" tanya Blood Shadow tiba-tiba.

Jari direktur di atas pemicu chip menegang.

Nama itu membuat udara berubah.

Wind Shadow. Anak laki-laki yang pernah membagi selimut dengannya saat mereka masih terlalu kecil untuk tahu bahwa musim dingin di pulau buatan itu bukan cuaca, melainkan bagian dari uji daya tahan. Anak yang mengajarinya menyimpan roti keras di bawah ubin. Anak yang suatu malam berdiri di depannya dan menerima hukuman yang seharusnya untuknya.

Orang pertama yang pernah berkata bahwa ia bukan alat.

Orang pertama yang Shadow renggut darinya.

"Jangan membawa nama aset gagal ke sini," kata direktur.

Mata Blood Shadow menjadi lebih gelap.

Seorang penjaga muda menelan ludah. Ia berdiri paling dekat dengannya dan baru sadar bahwa gadis itu tidak gemetar sama sekali. Bahkan dengan senjata sebanyak itu, bahkan dengan chip di kepalanya, bahkan dengan hidupnya di ujung jempol direktur.

Blood Shadow tersenyum tipis.

"Kalian selalu begini. Orang hidup kalian sebut aset. Orang mati kalian sebut gagal."

"Cukup."

Direktur mengangkat pemicu lebih tinggi.

Di layar utama, status chip Blood Shadow muncul dalam warna merah. Detak jantungnya. Aktivitas otak. Suhu tubuh. Posisi chip. Semua ditampilkan seperti data barang di gudang.

"Berlutut," perintahnya. "Atau aku tekan."

Para penjaga menunggu.

Blood Shadow tidak bergerak.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga.

Jempol direktur turun.

Rasa sakit meledak di dalam kepala Blood Shadow.

Putih. Tajam. Seperti ribuan jarum masuk dari belakang mata, menembus tulang, lalu memutar di dalam tengkorak. Tubuhnya goyah. Satu lutut hampir menyentuh lantai, tetapi tangan kanannya lebih dulu menekan meja logam di sampingnya.

Kuku-kukunya menggores permukaan meja.

Darah segar menetes dari hidung.

Direktur menghela napas lega. "Kau lihat? Kau tetap milik Shadow."

Blood Shadow menunduk. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Dari sudut bibirnya, tawa kecil keluar.

Pelan.

Serak.

Tidak wajar.

Direktur membeku.

Gadis itu mengangkat kepala.

Matanya merah oleh pembuluh yang pecah, tetapi tatapannya tetap sadar.

"Sakitnya cuma segini?"

Beberapa penjaga mundur setengah langkah.

Tidak ada yang memberi perintah untuk mundur. Tubuh mereka bergerak lebih dulu.

Blood Shadow meluruskan punggung. Dengan tangan kiri yang masih terborgol, ia merogoh bagian dalam jaket hitamnya. Semua senjata terangkat bersamaan.

"Jangan bergerak!"

Ia tetap bergerak.

Benda yang ia keluarkan bukan pisau.

Bukan pistol.

Sebuah pemicu kecil berwarna hitam tergeletak di telapak tangannya. Bentuknya sederhana, bahkan terlihat murahan dibanding perangkat perak di tangan direktur.

Namun wajah direktur langsung kehilangan warna.

Karena di salah satu layar, sistem bahan peledak internal yang seharusnya terkunci tiba-tiba menyala.

TNT cadangan. Jalur bahan bakar helipad. Gudang amunisi bawah tanah. Reaktor pendingin. Semua terhubung dalam satu rangkaian merah.

"Apa yang kau lakukan?" Suara direktur pecah.

"Belajar dari kalian."

Blood Shadow mengusap darah di bawah hidungnya dengan punggung tangan.

"Kalau aset tidak bisa dikendalikan, hancurkan semuanya."

"Kau gila." Direktur melangkah maju tanpa sadar. "Pulau ini pusat riset terbesar Shadow. Data genetik, arsip misi, cadangan chip, semua ada di sini. Kau juga akan mati."

"Aku tahu."

Jawaban itu terlalu ringan.

Seolah kematian bukan jurang di depan mata, melainkan pintu yang sejak lama ia hafal letaknya.

Di dalam ruangan, seseorang mulai berbisik memanggil tim teknis. Suara panik meledak di interkom. Pintu darurat terkunci sendiri. Lift berhenti beroperasi. Layar demi layar berubah merah.

Blood Shadow telah menyiapkannya sejak lama.

Bukan semalam. Bukan setelah dewan mengkhianatinya.

Sejak hari ia menemukan arsip Wind Shadow.

Sejak ia tahu anak itu tidak gagal dalam misi, melainkan dijadikan bahan uji karena pernah melindunginya.

Sejak ia membaca laporan yang menyebut kematiannya efisien.

Malam itu, sesuatu di dalam dirinya mati lebih dulu daripada tubuhnya.

"Matikan sistemnya!" teriak direktur.

"Tidak bisa, Pak! Akses utama dikunci dari dalam jaringan lama!"

"Siapa yang punya akses?"

Teknisi itu menatap layar dengan bibir pucat.

Blood Shadow mengangkat pemicu hitam sedikit lebih tinggi.

"Aku."

Direktur menoleh padanya. Untuk pertama kalinya malam itu, ketenangan palsunya runtuh.

"Blood Shadow, dengarkan aku. Kalau kau mau kebebasan, kami bisa beri. Uang, identitas baru, apa pun. Dewan tidak perlu tahu. Aku bisa membantumu keluar dari sini."

"Seperti kau membantu Wind?"

Pria itu terdiam.

Jawaban ada di diamnya.

Blood Shadow mengangguk kecil, seolah semua sudah jelas.

Di luar dinding kaca, reaktor mulai memancarkan cahaya biru tidak stabil. Sirene berubah nada. Lebih rendah, lebih panjang, lebih dekat dengan suara ratapan.

Hitungan mundur muncul di layar utama.

00:59.

00:58.

"Tembak dia!" direktur berteriak.

Beberapa peluru menyambar udara.

Blood Shadow bergerak ke samping, menarik seorang penjaga sebagai penghalang, lalu menendang meja kontrol hingga percikan listrik meletup. Ruangan kacau. Orang-orang berteriak. Kaca tebal bergetar. Lampu padam sesaat, lalu menyala kembali dalam merah yang lebih pekat.

Satu peluru menyerempet bahunya. Satu lagi menghantam dinding di belakang kepalanya. Ia tidak menghitung luka. Tidak ada gunanya.

Ia hanya menghitung detik.

00:31.

Direktur merangkak ke arah panel manual. Blood Shadow menginjak pergelangan tangannya sebelum ia sempat membuka kotak pengaman.

Pria itu mendongak. Wajahnya basah oleh keringat.

"Kau tidak akan punya apa-apa setelah ini."

Blood Shadow menatapnya lama.

Di balik suara sirene, di balik panas yang mulai naik dari lantai, ia tiba-tiba mengingat satu hal kecil.

Langit.

Selama hidupnya, ia jarang melihat langit tanpa kaca, kamera, atau bidikan senjata. Pulau ini punya pantai, tetapi bukan kebebasan. Punya helipad, tetapi bukan jalan pulang. Punya kamar tidur, tetapi tidak pernah punya rumah.

Kalau setelah mati ada kehidupan lain, ia ingin yang biasa saja.

Tidak perlu nama besar.

Tidak perlu peringkat pertama.

Tidak perlu bangun setiap pagi dengan perintah membunuh.

Cukup hidup.

Sekali saja.

00:10.

Direktur melihat pemicu di tangannya dan mulai menggeleng. "Jangan. Blood Shadow, jangan. Kau masih bisa hidup."

Blood Shadow tersenyum.

Kali ini, senyumnya hampir lembut.

"Aku memang ingin hidup."

Jempolnya menekan tombol.

Detik berikutnya, seluruh pulau seperti menahan napas.

Lalu api lahir dari bawah tanah.

Ledakan pertama menghantam reaktor. Gelombang panas menerobos lorong, memecahkan kaca, menelan ruang kontrol dalam cahaya putih. Ledakan kedua menyambar gudang amunisi. Helipad di permukaan terangkat seperti kertas dibakar. Laut di sekitar pulau berguncang, memuntahkan ombak hitam ke dinding beton.

Dari jauh, pulau itu terlihat seperti luka merah di tengah laut malam.

Beberapa kapal pengawas Shadow yang berpatroli di perairan sekitar sempat mengirim sinyal darurat. Setelah itu, komunikasi putus.

Di ruang kontrol yang runtuh, Blood Shadow jatuh di antara pecahan kaca dan kabel menyala. Rantai besi di pergelangan kirinya akhirnya patah, tetapi terlalu terlambat untuk disebut bebas.

Langit-langit terbuka di atasnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, ia melihat langit tanpa kaca.

Gelap. Luas. Jauh.

Indah juga.

Suara laut masuk bersama angin panas. Tubuhnya terasa ringan, seolah rasa sakit tertinggal di tempat lain. Di antara dengung terakhir sirene, ia mendengar suara Wind Shadow dari ingatan yang sudah lama ia kunci rapat.

Kalau suatu hari kau keluar dari sini, jangan menoleh.

Blood Shadow tidak tahu apakah ia tertawa atau hanya bernapas.

Api turun.

Laut naik.

Dan sebelum fajar menyentuh garis timur, pulau rahasia milik Shadow tenggelam bersama semua data, semua eksperimen, semua kebohongan, dan gadis yang pernah mereka sebut senjata terbaik.

Dunia bawah menerima kabar itu beberapa jam kemudian.

Blood Shadow, pembunuh nomor satu dunia, mati bersama pulau yang membesarkannya.

Setidaknya, itulah yang mereka percaya.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bayu sama kakak nya ini seumuran apa gmna dia anak kandung bu Sri apa anak angkat
falea sezi
bagus
falea sezi
ini novel al kah
Erna Fkpg
makin misterius dan menegangkan
Erna Fkpg
ceritanya menarik dan menegakkan
Erna Fkpg
wah makin mantap ceritanya 💪💪💪
Erna Fkpg
pada akhirnya tetap ditakdirkan pd jalan yg selalu dihindari untuk mencari kenyamanan
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
ni sebenarnya Bu Sri orang kaya bukan sih kok selalu memerintah dengan uang
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
nah Lo malu sendiri GK tu Bu Sri ngomongnya ngurusin keyra padahal dijadikan babu
Erna Fkpg
harusnya Laras dapat nilai dibawah Bayu biar kalah telak dan mati kutu dengan kesombongannya 💪💪💪
Cty Badria
👍👍👍
Erna Fkpg
secangkir kopi untuk semangat up💪💪💪
Cty Badria
ayo semangat up lg ni hadiah /Rose/
Cty Badria
jgn lm2 up nya thor ni hadiah biar semangat /Rose/
Erna Fkpg
GK sabar nunggu hasilnya 💪💪💪🙏🙏🙏
Anne Soraya
lanjut 👍
Erna Fkpg
lanjut thor tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!