NovelToon NovelToon
Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Dinikahi Pria Asing Yang Mengubah Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: fhadilah

Saat semua jalan terasa tertutup, sebuah tawaran pernikahan dari pria asing menjadi satu-satunya harapan Felisyah untuk menyelamatkan ayahnya. Akankah keputusan itu menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya, atau justru awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fhadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

makan malam

Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka.

Felisyah keluar dengan rambut yang masih basah. Kimono mandi berwarna putih membungkus tubuhnya, sementara beberapa tetes air masih mengalir dari ujung rambutnya.

Ia mengembuskan napas pelan, lalu melangkah menuju lemari besar yang berdiri di sudut kamar.

Tatapannya berhenti sejenak.

"Garendra... ternyata kamu benar-benar sudah menyiapkan semuanya untukku," gumamnya lirih.

Perlahan ia membuka pintu lemari.

Klik...

Kedua matanya langsung membulat.

Di dalamnya tersusun rapi berbagai pakaian dengan beragam model dan warna. Semuanya masih terlihat baru, lengkap dengan tas dan kotak belanja yang belum sempat dibuang.

Felisyah menelan ludah.

"Sebanyak ini...?"

Tangannya perlahan menyentuh salah satu gaun yang tergantung rapi.

Bahan kainnya begitu lembut, jauh berbeda dengan pakaian yang biasa ia kenakan.

Rasa penasaran membuatnya membuka laci besar yang berada di bagian bawah lemari.

Namun...

Begitu laci itu terbuka, Felisyah langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.

"Astaga..."

Wajahnya seketika memerah.

Di dalam laci itu tersusun rapi berbagai pakaian dalam wanita dengan berbagai model dan ukuran, semuanya masih baru.

Felisyah buru-buru menutup kembali laci tersebut.

Jantungnya kembali berdegup tak karuan.

"Ke-kenapa... sampai yang seperti ini juga disiapkan?" bisiknya malu.

Tanpa sadar, kedua pipinya semakin memanas.

Ia benar-benar tidak menyangka perhatian Garendra sampai sedetail itu.

Felisyah segera memalingkan wajah.

Dengan wajah yang masih memerah karena malu, ia buru-buru mengambil satu dres secara asal, lalu menutup kembali pintu lemari itu.

Klik...

Ia mengembuskan napas panjang.

Entah mengapa, jantungnya masih berdebar mengingat isi lemari yang baru saja dilihatnya.

Tanpa membuang waktu, ia mengenakan pakaian itu.

Setelah selesai, Felisyah mengeringkan rambutnya perlahan dengan handuk kecil. Rambutnya yang masih lembap dibiarkan tergerai di bahunya.

Felisyah berdiri mematung di depan cermin.

Gaun merah muda yang dikenakannya jatuh pas hingga selutut, membuat penampilannya terlihat begitu anggun. Namun, di balik pakaian indah itu, tatapannya tetap dipenuhi keraguan.

Perlahan ia menatap pantulan dirinya sendiri.

"Benarkah... itu aku?" bisiknya lirih.

Untuk beberapa saat...

Ia hanya diam.

"Felisyah..." bisiknya lirih.

"Coba lihat dirimu."

"Kamu hanyalah gadis miskin yang tidak memiliki apa-apa."

"Beberapa hari yang lalu, kamu bahkan masih kebingungan mencari biaya untuk pengobatan Ayah."

"Tapi sekarang..."

"Kamu tinggal di rumah semewah ini... menjadi istri seorang pria yang bahkan baru kamu kenal."

Air matanya perlahan menggenang.

"Semua ini terasa seperti mimpi."

"Tapi... mimpi ini pasti tidak akan berlangsung lama."

Ia menundukkan kepala.

"Kalau nanti keluarga Garendra tidak menerimaku... mungkin aku harus pergi."

"Butuh atau tidak, aku memang bukan bagian dari dunia ini."

Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.

Pikirannya kembali melayang pada satu sosok yang paling ia rindukan.

"Ayah..."

Suaranya bergetar.

"Felisyah kangen Ayah."

"Kalau Ayah ada di sini, mungkin Felisyah nggak akan merasa setakut ini."

Ia tersenyum tipis di balik air mata yang terus mengalir.

"Yah... sekarang Felisyah memang tinggal di rumah yang sangat mewah."

"Semua yang dulu hanya bisa Felisyah lihat di televisi, sekarang ada di depan mata."

"Tapi... kenapa rasanya justru sepi?"

"Felisyah lebih rindu rumah kecil kita."

"Rumah yang bocor saat hujan."

"Rumah yang sederhana."

"Tapi penuh dengan tawa... dan kehangatan Ayah."

Perlahan Felisyah memejamkan mata.

Air matanya kembali jatuh.

Kemewahan ternyata tidak mampu menghilangkan rasa sepi yang memenuhi hatinya.

Perlahan, tatapan Felisyah beralih ke deretan produk perawatan wajah yang tersusun rapi di atas meja rias.

Botol-botol dengan berbagai ukuran dan merek itu tampak masih baru, seolah memang sengaja disiapkan untuknya.

Tanpa sadar, sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang segera menghilang.

"Kenapa kamu begitu perhatian padaku, Garendra?" bisiknya lirih.

"Padahal... aku sendiri belum yakin bisa menerima semua ini."

Ia menundukkan kepala.

"Aku juga nggak tahu... sampai kapan aku akan terus seperti ini."

Perlahan jemarinya menyentuh satu per satu produk di hadapannya.

Semua benda itu terasa begitu asing.

Selama hidupnya, ia bahkan tidak pernah membayangkan bisa memiliki barang-barang semahal ini.

Namun, ia hanya menyentuhnya pelan.

Ia tidak berani membuka, apalagi menggunakannya.

"Aku nggak cocok memakai barang-barang seperti ini," gumamnya sambil menggeleng pelan.

"Pasti harganya mahal sekali."

Felisyah kembali mengangkat wajahnya, menatap bayangannya di cermin.

Entah mengapa...

Semua kemewahan yang kini berada di sekelilingnya sama sekali tidak membuatnya terlena.

Justru sebaliknya.

Ia semakin merasa asing.

Seolah dirinya hanyalah tamu yang untuk sementara dipersilakan singgah di tempat yang bukan miliknya.

Tok... Tok... Tok...

Suara ketukan di balik pintu membuat Felisyah tersentak kecil.

Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.

Dengan napas yang belum sepenuhnya tenang, ia melangkah menuju pintu.

Tangannya menggenggam gagang pintu beberapa saat sebelum akhirnya memutarnya.

Klik...

Pintu terbuka.

Felisyah seketika terdiam.

Di hadapannya telah berdiri Garendra.

Pria itu menatapnya dengan sorot mata yang begitu lembut, tanpa sedikit pun menunjukkan kemarahan atas kejadian siang tadi.

"K-kamu..." suara Felisyah terdengar pelan. "Ada apa?"

Ia spontan menundukkan kepala.

Entah mengapa, rasa malu kembali menyelimutinya.

Gaun yang kini ia kenakan adalah pemberian Garendra.

Sementara beberapa jam yang lalu...

Ia justru mengusir pria itu dari kamarnya.

Jemarinya saling meremas gelisah.

Ia bahkan tidak berani menatap wajah Garendra.

Garendra hanya tersenyum tipis.

Tatapannya mengamati Felisyah dari ujung kepala hingga kaki, bukan dengan tatapan yang mengganggu, melainkan penuh kekaguman.

"Gaun itu sangat cocok untukmu," ucapnya pelan.

"Kamu terlihat cantik."

Seketika tubuh Felisyah menegang.

Jantungnya kembali berdetak tak beraturan.

Pipinya memanas.

Belum pernah ada seorang pria yang memujinya seperti itu.

Namun, ia segera mengingatkan dirinya sendiri agar tidak larut dalam perasaan yang belum seharusnya hadir.

Dengan kepala yang masih tertunduk, ia menarik napas pelan.

"Ada perlu apa?" tanyanya singkat, tetap menghindari tatapan Garendra.

"Makan malam..." ucap Garendra pelan.

"Kamu pasti lapar, kan? Atau... kalau kamu masih belum nyaman keluar, biar aku minta Mbak Lala mengantarkan makanan ke kamarmu."

Nada suaranya terdengar begitu lembut, seolah tidak ingin memaksa.

Felisyah terdiam.

Baru saat itu ia menyadari bahwa sejak siang tadi ia belum makan apa pun.

Perutnya memang sudah mulai terasa lapar.

Namun...

Makan bersama Garendra membuatnya merasa canggung.

Di sisi lain, jika meminta makanan diantar ke kamar, ia merasa tidak enak. Bagaimanapun juga, ia hanyalah orang yang baru datang ke rumah itu.

Dengan ragu, ia mengangkat kepalanya.

"N-nggak usah..."

"Aku ikut saja."

Mendengar jawaban itu, senyum tipis kembali menghiasi wajah Garendra.

"Baik."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Garendra berjalan lebih dulu.

Felisyah mengikutinya dari belakang dengan langkah kecil.

Suasana di antara mereka terasa canggung, tetapi tidak lagi mencekam seperti siang tadi.

Tak lama kemudian, mereka tiba di ruang makan.

Begitu memasuki ruangan itu, kedua mata Felisyah langsung membulat.

Di atas meja makan yang panjang, telah tersaji begitu banyak hidangan. Beragam masakan tertata rapi, lengkap dengan buah-buahan dan berbagai makanan penutup.

Pemandangan itu membuat Felisyah menelan ludah.

"Kenapa makanannya sebanyak ini?" batinnya.

Tatapannya perlahan menyapu seluruh ruangan.

"Apa... orang tua Garendra sudah pulang?"

Jantung Felisyah kembali berdebar kencang.

Entah mengapa, sejak menginjakkan kaki di rumah itu, rasa gugup tak pernah benar-benar menghilang.

Tatapannya terus menyapu ruang makan yang masih terasa sepi.

Namun, firasatnya mengatakan...

Malam ini, ia tidak akan bisa lagi menghindari pertemuan dengan keluarga Garendra.

1
Alia Chans
Hadir thor, like + bunga🌹
semangat✍️😉
fhadilah: Masha Allah, makasih 😍😍komentar pertama.. bkn hsru😍🙏🙏makasih sayang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!