NovelToon NovelToon
The System'S Guide To Ruining The Villainess

The System'S Guide To Ruining The Villainess

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Transmigrasi / CEO
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: DinaRyu

Up setiap hari

Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.

Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.

Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.

Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.

Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 7: Nona Cegil dan Rencana Gila

System Glitch

Waktu: 10:30 AM

Taksi hitam khas London itu berhenti di depan sebuah kompleks apartemen tua bergaya Victoria di pinggiran kota yang sepi.

Stella turun dengan langkah terburu-buru, membayar supir dengan selembar uang pecahan besar dari amplop cokelatnya tanpa meminta kembalian.

Hujan sudah berhenti, menyisakan udara dingin yang menusuk tulang dan aroma petrichor yang pekat.

Ia berjalan cepat menyusuri lorong berlantai kayu yang berderit di lantai tiga, berhenti di depan pintu bernomor 302.

Stella merogoh saku celana kebesarannya, mengeluarkan sebuah kunci kuningan usang, dan memasukkannya ke lubang kunci.

Terdengar bunyi klik yang berat, lalu pintu itu terbuka.

Ini adalah safe house miliknya. Atau lebih tepatnya, tempat persembunyian rahasia yang dibeli mendiang ibu kandungnya bertahun-tahun lalu dengan menggunakan identitas palsu bernama Madeline Claire.

Sebuah identitas pelindung yang sengaja disiapkan sang ibu jika suatu saat keluarga Rosewood membuang Stella.

Sayangnya, Stella yang asli terlalu sibuk membuat skandal dan mengejar cinta Neo Hayes Blake sampai membiarkan tempat ini berdebu.

Begitu pintu tertutup dan terkunci rapat dari dalam, Stella menyandarkan tubuhnya ke pintu dan merosot turun hingga terduduk di lantai berdebu.

Ia membuang topi visor hitam dan masker kainnya ke sembarang arah. Kemeja putih pelayan yang kebesaran itu kotor oleh cipratan lumpur. Stella menatap langit-langit apartemen yang catnya mulai mengelupas.

Hening.

Satu detik. Dua detik.

Tiba-tiba, Stella memukul lantai kayu itu dengan kedua tangannya dan tertawa.

Bukan tawa anggun khas sosialita, melainkan tawa keras, melengking, dan nyaris terdengar seperti orang yang kehilangan kewarasannya.

Tawanya menggema di ruangan kosong itu, bercampur dengan napasnya yang terengah-engah.

"Ahahaha! Gila! Ini benar-benar gila!" Stella mengacak-acak rambutnya sendiri hingga makin terlihat seperti sarang burung.

Ia menunjuk udara kosong di depannya. "Hei, Vix! Kau lihat wajah pria tua di toko gadai tadi?! Dia pucat pasi seperti baru melihat hantu saat aku mengancamnya dengan jam tangan selundupan! Astaga, aku ini berbakat jadi mafia!"

Poof! Asap biru tipis mengepul, dan Vix muncul.

Rubah ekor sembilan mini itu melayang turun, menatap host-nya dengan pandangan luar biasa ngeri. Telinga putihnya terlipat ke belakang.

"Kau... kau ini sebenarnya sakit jiwa atau apa?" Vix menjaga jarak aman sekitar satu meter dari wajah Stella.

"Kau baru saja diracun, nyaris mati, reputasimu di ujung tanduk, dan sekarang kau tertawa seperti penyihir jahat di film kartun anak-anak? Host, tolong katakan padaku kau tidak mengalami kerusakan otak permanen akibat racun itu."

Stella menghentikan tawanya perlahan, menyeka setitik air mata di sudut matanya yang monolid.

Ia berdiri, meregangkan tubuhnya hingga tulang-tulangnya berbunyi krek, lalu berjalan santai menuju ruang tengah apartemen yang hanya diisi satu sofa kulit yang ditutupi kain putih.

"Vix, dengar ya," Stella menuding rubah kecil itu dengan jari telunjuknya, matanya berkilat penuh semangat yang berbahaya.

"Di kehidupanku yang sebelumnya, aku mati-matian menahan diri. Aku selalu menjaga tata krama, selalu menelan ludah kalau ditindas, selalu berusaha jadi anak baik yang berkelas. Dan apa hasilnya? Aku mati juga! Jadi, kalau di dunia aneh ini aku ditakdirkan menjadi villainess, maka aku akan menjadi orang gila sungguhan! Aku tidak akan menangis di pojokan meratapi nasib. Kalau mereka mau bermain api, aku akan datang membawa bensin sekalian!"

Vix terdiam.

Mulut rubah itu sedikit terbuka. Ia pernah mendampingi beberapa host di berbagai dimensi sebelumnya, kebanyakan dari mereka akan menangis ketakutan atau memohon perlindungan sistem di hari pertama.

Tapi wanita ini? Wanita ini jelas-jelas punya sekrup yang longgar di kepalanya. Cegil tingkat dewa.

[ Ding! ]

[ Hadiah Misi Diaktifkan: Paket Pakaian Hangat Kasual. ]

Sebuah kotak berbungkus kertas cokelat tebal tiba-tiba jatuh dari udara kosong, mendarat dengan bunyi buk! di atas meja kopi yang berdebu.

Stella langsung menyambar kotak itu dan merobek bungkusnya tanpa basa-basi.

Di dalamnya terdapat satu set pakaian yang sangat nyaman: sweater turtleneck rajut tebal berwarna broken white, celana jeans high-waist biru pudar yang pas badan, mantel panjang musim gugur berwarna beige, set pakaian dalam bersih yang ukurannya ajaibnya sangat pas, dan sepasang sepatu boots kulit setinggi mata kaki.

"Sistem yang bagus," Stella menyeringai puas, memeluk sweater itu.

"Tunggu di sini, Rubah cerewet. Aku mau mandi air panas dan membilas tubuhku. Kalau aku mencium satu sentuhan wangi alkohol atau parfum menor di rambut ini, aku akan mencukur habis kepalaku."

Vix hanya memutar bola matanya melihat Stella yang ngeloyor masuk ke kamar mandi sambil bersenandung riang. "Gila. Benar-benar gila."

Waktu: 11:45 AM

Ruang Tengah Apartemen Madeline Claire

Stella keluar dari kamar mandi dengan wujud yang seratus persen berbeda. Tubuhnya terasa hangat dan segar.

Pakaian kasual yang diberikan sistem memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan modis tapi tanpa usaha yang berlebihan.

Rambut gelapnya yang masih setengah basah dibiarkan tergerai natural, membingkai wajah campuran Asia-Amerikanya yang tegas.

Kini, aroma yang menguar darinya hanyalah wangi White Tea yang menenangkan dipadu dengan Peony yang elegan. Wangi miliknya sendiri.

Ia menyalakan televisi tabung tua yang anehnya masih berfungsi di sudut ruangan. Saluran berita lokal London langsung menyala, menampilkan Breaking News dengan headline yang ditulis dengan huruf kapital berwarna merah.

"PEWARIS ROSEWOOD HILANG! DUGAAN SKANDAL DAN DEPRESI BERAT."

Stella melipat kedua tangannya di depan dada, tersenyum miring melihat layar. Di sana, tampak adiknya tirinya Chloe Rosewood sedang berdiri di depan lobi The Grand Savoy London, dikelilingi wartawan.

Chloe terlihat luar biasa cantik bagai malaikat yang terluka. Rambut pirangnya diikat setengah, matanya merah dan sembab karena menangis. Ia memegang sapu tangan, terlihat sangat terpukul.

"K-kami sangat mengkhawatirkan Stella..." suara Chloe bergetar sempurna di depan mikrofon, akting yang layak diganjar piala Oscar.

"Kakakku memang sedang mengalami tekanan berat akhir-akhir ini. Semalam ia memaksakan diri datang ke kelab malam, minum terlalu banyak, dan pagi ini kami mendapat kabar dia menyewa hotel dengan... dengan pria asing. T-tapi saat kami ke sana, kamarnya kosong! Tolong, siapa pun yang melihat kakakku, bawa dia pulang. Kami tidak peduli dengan skandalnya, kami hanya ingin dia selamat!"

"Cih," Stella berdecih jijik, nyaris meludah ke arah televisi.

"Pria asing apanya. Dia sendiri yang menyewa pria bayaran untuk menjebakku. Dan lihatlah air mata buaya itu! Ugh, aku butuh kantong muntah."

"Aktingnya memang sangat natural, kau harus mengakuinya," komentar Vix sambil melayang memakan keripik kentang imajiner.

"Semua orang di luar sana sekarang mengira kau kabur karena malu setelah ketahuan menyewa pria bayaran. Reputasimu sudah menyentuh dasar Palung Mariana, Host. Jadi, nona cegil, apa rencana balas dendammu hari ini?"

Stella berjalan ke arah jendela, menatap jalanan kota yang mulai ramai. "Kalau aku muncul dan mengklarifikasi sambil menangis, tidak ada yang akan percaya padaku. Chloe sudah memonopoli narasi 'adik tersakiti yang peduli'. Jadi..."

Mata monolid Stella menyipit tajam. "Aku tidak akan pulang ke rumah keluarga Rosewood. Belum saatnya. Aku akan membiarkan Chloe menikmati panggungnya beberapa hari ini sambil terus menyebar kebohongan. Semakin tinggi dia terbang membangun image malaikatnya, semakin hancur tulang-tulangnya saat aku memotong sayapnya nanti."

"Lalu apa rencanamu sekarang? Membusuk di apartemen berdebu ini?"

"Tentu saja tidak. Aku lapar setengah mati," Stella menepuk perutnya yang berbunyi nyaring.

"Aku akan pergi ke pusat kota, membeli ponsel baru, makan siang porsi besar, dan mulai meretas akses anak perusahaan keluarga Rosewood yang sedang sekarat itu. Aku dengar kakekku dulu meninggalkan saham minoritas atas namaku. Sudah saatnya Nona Pembuat Onar ini mengambil alih meja permainan."

To be Continued

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!