NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Pamit di Bawah Gerimis.

Hujan gerimis yang tipis mulai turun membasahi bumi Desa Kaliwungu sore itu. Langit di atas pendopo kademangan perlahan-lahan berubah warna menjadi abu-abu keunguan, digayut oleh sisa-sisa mega mendung yang terbawa angin dari arah Hutan Roban. Suasana yang tadinya penuh tawa dan kebahagiaan atas kesembuhan Ki Demang Wijaya mendadak berubah menjadi agak melankolis.

Di teras samping pendopo yang menghadap langsung ke arah jalan setapak menuju jalur selatan, Erlang tampak sedang merapikan buntalan kain lusuhnya. Ia mengikatkan kembali pikulan bambu tua miliknya ke pundak dengan sangat erat. Ki Demang yang kondisinya sudah sangat bugar sebenarnya sempat memaksa Erlang untuk menginap beberapa malam lagi, namun pemuda itu menolaknya dengan halus.

Roro Wilis berdiri tidak jauh di belakang Erlang. Sepasang mata bulatnya yang biasa berbinar jenaka, sore itu tampak redup dan sayu. Ia meremas-remas saputangan sutra hijau miliknya, menatap punggung tegap Erlang dengan perasaan yang campur aduk.

Erlang membalikkan badannya, lalu melemparkan senyuman khasnya yang santai dan tulus. "Nah, Nimas Wilis, sepertinya semua barang saya sudah rapi. Nasi jagung dan lauk lodeh tadi beneran membuat tenaga saya pulih sepenuhnya. Saya izin pamit sekarang ya, nggih? Takutnya kalau makin malam, jalan setapak di perbukitan selatan sana makin licin terkena air gerimis ini."

Roro Wilis melangkah maju dua langkah, mengabaikan angin malam yang mulai berembus dingin menusuk kemben hijaunya. "Kangmas Erlang... apakah... apakah benar-benar harus berangkat sore ini juga? Mengapa tidak menunggu sampai esok pagi? Hujan gerimis di luar sana bisa membuat Kangmas jatuh sakit."

Erlang tertawa kecil, menepuk dada bidangnya dengan santai. "Ah, tidak apa-apa, Nimas. Tubuh saya ini sudah terbiasa berteman dengan hujan dan angin di dalam hutan Lawu dulu. Malah kalau jalan di bawah gerimis begini rasanya sejuk, tidak bikin cepat gerah."

"Bukan begitu, Kangmas..." Wilis menundukkan kepalanya, suaranya mendadak mengecil dan terdengar agak serak. "Maksud saya... apakah jalan pengembaraanmu ini tidak bisa ditunda sejenak? Desa Kaliwungu ini sangat luas dan damai. Ayahanda bahkan sudah berniat membangunkan sebuah rumah kecil dan pondok pengobatan untukmu jika Kangmas berkenan menetap di sini. Warga desa juga pasti akan sangat senang jika memiliki pelindung sebaik dirimu."

Erlang tertegun sejenak melihat perubahan sikap putri kepala desa itu. Sebagai pemuda polos yang menghabiskan seluruh sisa umurnya di tengah hutan bersama paman gurunya, Erlang agak lambat dalam menangkap isyarat-isyarat asmara. "Waduh, kebaikan Ki Demang dan Nimas Wilis beneran membuat saya terharu. Tapi mohon maaf, Nimas, saya tidak bisa menetap di sini. Ada sebuah amanah dan misi penting dari mendiang paman guru saya yang harus saya tuntaskan di wilayah selatan."

Roro Wilis menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam dadanya. Ia mendongakkan wajah ayunya, menatap langsung ke dalam sepasang mata jernih Erlang yang berkilau di bawah temaramnya lampu minyak pendopo.

"Kangmas Erlang..." bisik Roro Wilis lembut, jemarinya meremas ujung kain kembennya sendiri dengan sangat erat. "Apakah Kangmas beneran tidak menyadari? Sejak pertama kali melihat Kangmas berdiri di tengah pasar, menghalangi gembong penyamun tanpa rasa takut demi menolong seorang kakek tua... lalu menolak tumpukan koin perak dengan keluhuran budi... hingga menyembuhkan penyakit ayahanda tanpa pamrih..." Wilis berhenti sejenak, matanya mulai berkaca-kaca menahan luapan emosi. "Bagi saya, Kangmas bukan sekadar pengembara yang kebetulan lewat. Ada sesuatu di dalam diri Kangmas yang... yang membuat hati saya terasa sangat penuh setiap kali berada di dekatmu. Jika... jika jalur selatan itu terlalu berbahaya, bolehkah saya egois meminta Kangmas untuk tetap tinggal di sini, demi seseorang yang baru saja menemukan arti kekaguman sejati?"

Mendengar kalimat-kalimat yang tersusun indah namun sarat akan makna itu, Erlang terdiam seribu bahasa. Untuk pertama kalinya dalam hidup, jantungnya berdebar dengan irama yang sangat aneh. Ia bukanlah pemuda bodoh, ia tahu betul bahwa Roro Wilis baru saja menyatakan perasaan cintanya secara tidak langsung kepadanya. Gadis secantik, seanggun, dan sehormat Roro Wilis baru saja menjatuhkan hatinya pada seorang musafir miskin berpakaian compang-camping seperti dirinya.

Ada secuil rasa hangat dan bimbang yang sempat melintas di hati Erlang. Menetap di Kaliwungu, hidup nyaman sebagai menantu kepala desa, dan ditemani oleh wanita sejelitanya tentu merupakan impian hampir semua pemuda di tanah Jawa. Namun, bayangan wajah Ki Suro yang bersimbah darah dan kenangan pahit tentang kehancuran keluarganya seketika berkelebat di benak Erlang, menyadarkannya dari lamunan sesaat itu.

Erlang mengembuskan napasnya dengan sangat perlahan, menggunakan pola pernapasan kitab tanpa nama untuk menenangkan gejolak di dadanya. Ia menatap Roro Wilis dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa hormat, rasa bersalah, sekaligus ketegasan seorang laki-laki yang memiliki prinsip hidup.

"Nimas Wilis," panggil Erlang dengan suara yang sangat lembut namun mantap. "Terima kasih banyak atas segala perasaan luhur dan kebaikan yang Nimas berikan kepada saya. Saya... saya merasa sangat terhormat, dan bohong kalau saya bilang tidak tersentuh oleh kata-kata Nimas tadi. Nimas adalah gadis yang sangat cantik, baik, dan sempurna. Pemuda mana pun yang mendapatkan hati Nimas pasti akan menjadi orang paling beruntung di dunia ini."

Erlang menjeda ucapannya, lalu tersenyum tipis bernada masygul. "Namun, jalan hidup saya tidak seindah dan sedamai itu, Nimas. Di pundak saya ini, ada darah dan air mata masa lalu yang belum kering. Ada sebuah misi besar yang harus saya selesaikan demi menuntut keadilan bagi orang-orang yang saya sayangi. Jika saya memilih menetap di sini dan menerima kenyamanan ini, saya hanya akan menjadi seorang pengkhianat bagi ingatan paman guru saya. Jalan yang saya tempuh ke arah selatan nanti adalah jalan yang penuh dengan badai dan pertumpahan darah. Saya tidak ingin membawa mendung hitam dari masa lalu saya untuk merusak langit cerah Desa Kaliwungu yang damai ini, apalagi sampai membahayakan keselamatan Nimas Wilis yang berhati suci."

Mendengar penolakan yang begitu halus namun bermakna sangat dalam tersebut, pertahanan Roro Wilis akhirnya runtuh juga. Setitik air mata lolos dari sudut mata bulatnya, mengalir membasahi pipi langsatnya, lalu jatuh ke atas ubin batu pendopo. Hatinya terasa sangat patah dan perih, menyadari bahwa getaran asmara pertamanya harus berujung pada perpisahan bahkan sebelum sempat berkembang lebih jauh.

Namun, sebagai putri seorang pemimpin, Roro Wilis tidak membiarkan dirinya larut dalam tangisan yang merengek-rengek. Ia menghapus air matanya dengan ujung saputangan sutranya, lalu memaksakan sebuah senyuman tulus di bibirnya yang merekah, menunjukkan kedewasaan hatinya yang luar biasa.

"Saya paham, Kangmas Erlang," ujar Roro Wilis dengan suara yang meski bergetar, namun terdengar sangat ikhlas. "Seorang elang sejati memang tempatnya adalah terbang bebas menjelajahi langit luas untuk menuntaskan takdirnya, bukan dikurung di dalam sangkar emas sebuah desa kecil seperti Kaliwungu ini. Maafkan saya yang sempat berpikiran egois ingin menahan langkahmu."

Erlang menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan berkata begitu, Nimas. Nimas tidak salah sama sekali. Justru saya yang harus meminta maaf karena tidak bisa membalas kebaikan Nimas dengan cara yang Nimas harapkan."

Roro Wilis melangkah mendekati pembatas teras pendopo, menatap butiran air gerimis yang kian rapat turun dari langit. "Jika memang perpisahan ini adalah jalan terbaik, maka pergilah, Kangmas. Tuntaskan misi dan amanah dari paman gurumu itu dengan gagah berani. Saya... Roro Wilis, putri Kaliwungu, tidak akan pernah berhenti mendoakan keselamatanmu di setiap sujud saya. Semoga Gusti Yang Maha Kuasa selalu melindungi setiap jengkal langkah kakimu dari mara bahaya, dan semoga keadilan yang Kangmas cari segera berpihak kepadamu."

Erlang membungkukkan badannya dalam-dalam, memberikan penghormatan tertinggi yang bisa ia berikan kepada gadis itu. "Maturnuwun sanget atas doanya, Nimas Wilis. Doa dari orang berhati mulia seperti Nimas pasti akan menjadi tameng terbaik bagi saya di sepanjang jalan nanti. Sampaikan salam hormat dan pamit saya juga untuk Ki Demang Wijaya."

"Nggih, Kangmas. Pasti saya sampaikan kepada Ayahanda," sahut Roro Wilis, matanya mengunci lekat-lekat wajah Erlang untuk terakhir kalinya, merekam setiap detail ketampanan dan ketulusan pemuda itu ke dalam relung memorinya yang paling dalam.

"Kalau begitu, saya berangkat sekarang, Nimas. Rahayu," pamit Erlang santai sembari memutar tubuhnya.

"Rahayu, Kangmas Erlang... Selamat jalan," bisik Roro Wilis lirih.

Erlang melangkah turun dari anak tangga pendopo kademangan, berjalan menembus tirai gerimis sore yang kian dingin. Langkah kakinya terasa begitu mantap dan stabil, didorong oleh aliran pernapasan sejati yang bergerak teratur di dalam dadanya. Di bawah rintik hujan yang membasahi bumi Kaliwungu, sosok pemuda lima belas tahun itu berjalan menjauh menyusuri jalan setapak lurus menuju arah selatan, membiarkan kenangan manis tentang pesona pertama dan patah hati sang putri desa tertinggal di belakangnya bersama jatuhnya malam.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!