Sebuah cerita tentang kehidupan dua manusia yang dijodohkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aiza-ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — Waktu yang Hanya Milik Kita
Pagi di Bali terasa lebih cerah dibanding hari-hari sebelumnya.
Sinar matahari masuk melalui celah tirai kamar hotel, memantulkan warna keemasan lembut ke seluruh ruangan.
Diara membuka matanya perlahan.
Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar.
Lalu ia tersenyum kecil.
Semalam terasa seperti mimpi.
Mimpi yang terlalu indah untuk seseorang yang dulu merasa pernikahannya hanya akan menjadi hubungan formal tanpa rasa.
Namun sekarang semuanya mulai berubah.
Pelan.
Sangat pelan.
Tapi nyata.
Di sampingnya, Jifan sudah tidak ada.
Ranjang di sisi kanan kosong.
Namun aroma parfum pria itu masih tertinggal samar di bantal.
Diara langsung merasa pipinya menghangat.
Ia buru-buru duduk.
"Astaghfirullah..."
Gumamnya pelan sambil memegang wajah sendiri.
Entah kenapa setiap mengingat semalam, jantungnya selalu berdetak lebih cepat.
Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi setelah bersiap.
Saat pintu terbuka, Jifan sudah duduk di meja dekat jendela.
Kemeja putihnya rapi.
Rambutnya sedikit basah setelah mandi.
Dan seperti biasa...
Tampan.
Jifan menoleh.
"Pagi."
Diara langsung salah tingkah.
"P-pagi, Mas."
Sudut bibir Jifan bergerak tipis.
Ia menikmati reaksi itu.
Sarapan mereka berlangsung lebih santai dibanding biasanya.
Tidak banyak diam yang canggung.
Tidak banyak jarak yang memaksa.
Sesekali mereka berbicara tentang jadwal hari itu.
Sesekali Jifan menanyakan apakah Diara sudah mengambil dokumen yang diperlukan.
Dan sesekali Diara memperhatikan pria di depannya tanpa sadar.
Setelah sarapan selesai, mereka menuju ruang meeting.
Hari itu adalah hari terakhir proyek Villa Sagara.
Meeting berlangsung cukup panjang.
Presentasi akhir.
Finalisasi desain.
Persetujuan material.
Penandatanganan beberapa dokumen.
Semua berjalan lancar.
Menjelang waktu Dzuhur akhirnya rapat ditutup.
Beberapa peserta mulai berpamitan.
Arkan sibuk mengurus laporan.
Hara membantu tim interior membereskan dokumen.
Sedangkan Diara sedang memasukkan tablet ke dalam tas ketika suara Jifan terdengar di sampingnya.
"Sudah selesai."
Diara mengangguk.
"Alhamdulillah."
Jifan memperhatikannya sebentar.
Lalu berkata santai.
"Jalan-jalan dulu."
Diara berkedip.
"Jalan-jalan?"
"Hm."
"Ke mana?"
"Mall."
Diara hampir tertawa.
Kalau ada orang yang mengatakan satu bulan lalu bahwa Jifan Artha Syahrezan akan mengajaknya jalan-jalan ke mall hanya untuk menghabiskan waktu bersama...
Diara pasti tidak akan percaya.
Namun kenyataannya sekarang mereka benar-benar berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Bali.
Mall itu ramai.
Dipenuhi wisatawan.
Lampu-lampu terang dan etalase toko yang tertata rapi.
Diara berjalan di samping Jifan.
Sementara Jifan sesekali memperhatikan sekeliling.
Mereka masuk ke beberapa toko.
Tidak ada tujuan khusus.
Hanya berjalan.
Berbicara ringan.
Menikmati waktu bersama.
Sampai akhirnya Diara berhenti di depan sebuah butik muslimah.
Matanya tertuju pada satu abaya yang dipajang di etalase.
Warna biru denim lembut.
Potongannya sederhana.
Elegan.
Tidak terlalu mencolok.
Tepat seperti yang ia sukai.
Diara berdiri beberapa detik memperhatikannya.
Sungguh hanya melihat.
Tidak berniat meminta.
Tidak berniat membeli.
Namun ternyata Jifan memperhatikan sejak tadi.
"Apa?"
Diara sedikit terkejut.
"Hm?"
"Kamu lihat dari tadi."
Diara tersenyum kecil.
"Bagus."
"Yang mana?"
"Itu."
Diara menunjuk abaya biru denim tersebut.
Jifan melihat ke arah yang ditunjuk.
Lalu kembali menatap Diara.
"Kalau mau ambil saja."
Diara langsung menggeleng.
"Tidak perlu."
"Kenapa?"
"Aku cuma lihat."
Jifan memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Tatapannya tenang.
Namun kalimat berikutnya membuat Diara terdiam.
"Kalau suka, ambil."
"Nanti aku belikan."
Diara langsung membeku.
Jantungnya kembali membuat masalah.
"Mas..."
"Hm?"
"Tidak perlu."
"Kenapa tidak perlu?"
Diara tidak tahu harus menjawab apa.
Karena sebenarnya...
Ia senang.
Sangat senang.
Jifan menghela napas kecil.
Lalu berjalan masuk ke toko.
"Mas!"
Diara langsung mengejarnya.
Beberapa menit kemudian mereka keluar dari butik itu.
Dengan satu paper bag di tangan Diara.
Dan satu senyum kecil yang terus berusaha ia sembunyikan.
Setelah itu mereka melanjutkan berjalan-jalan.
Masuk ke beberapa toko.
Membeli beberapa oleh-oleh untuk keluarga.
Membeli camilan untuk perjalanan pulang.
Dan sesekali berhenti hanya untuk melihat-lihat.
Untuk pertama kalinya sejak menikah...
Mereka benar-benar menikmati waktu bersama tanpa pekerjaan.
Tanpa keluarga.
Tanpa tekanan.
Hanya mereka berdua.
Menjelang sore mereka kembali ke hotel.
Keduanya mulai lelah.
Sesampainya di kamar, Diara langsung duduk di sofa sambil menghela napas panjang.
"Capek?"
Tanya Jifan.
Diara mengangguk.
"Sedikit."
Jifan melepas jam tangannya.
"Aku juga."
Diara tertawa kecil.
"Baru tahu CEO bisa capek jalan-jalan."
Jifan menatapnya.
"Lain kali coba ajak CEO itu masuk sepuluh toko dalam dua jam."
Diara langsung tertawa.
Benar-benar tertawa.
Dan Jifan memperhatikannya beberapa detik.
Lalu ikut tersenyum.
Malam mulai turun.
Mereka memutuskan tidak keluar lagi.
"Pesan makan saja?" tanya Diara.
Jifan mengangguk.
"Setuju."
Akhirnya mereka memesan makanan dari restoran hotel.
Tidak mewah.
Tidak terlalu banyak.
Hanya beberapa menu favorit yang terlihat menarik.
Sambil menunggu pesanan datang, Diara membuka paper bag yang berisi abaya biru denim tadi.
Ia mengeluarkannya perlahan.
Matanya langsung berbinar.
Jifan yang sedang membaca email memperhatikan itu.
"Kamu suka?"
Diara mengangguk cepat.
"Suka."
Entah kenapa jawaban itu membuat Jifan merasa puas.
Lebih puas daripada saat menandatangani kontrak miliaran rupiah.
Tak lama kemudian makanan datang.
Mereka makan bersama di ruang duduk kamar hotel.
Sesekali berbicara ringan.
Sesekali saling menggoda kecil.
Dan sesekali hanya menikmati suasana tanpa perlu mengatakan apa pun.
Di luar jendela, lampu-lampu Bali mulai menyala.
Menandakan malam telah datang.
Namun malam itu terasa berbeda.
Karena untuk pertama kalinya...
Jifan dan Diara tidak lagi menghabiskan waktu bersama karena kewajiban.
Bukan karena perjodohan.
Bukan karena keluarga.
Bukan karena proyek.
Mereka melakukannya karena ingin.
Dan tanpa mereka sadari...
Perasaan yang dulu tumbuh perlahan kini mulai mengambil tempat yang lebih besar di hati masing-masing.
Perasaan yang tidak lagi bisa disebut sekadar nyaman.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Sesuatu yang perlahan berubah menjadi cinta.