Gisella terbangun dalam tubuh seorang wanita figuran dengan nama yang sama di dalam sebuah novel roman. Sialnya, momen transmigrasinya terjadi tepat saat sang suami, Adrian Arthur—seorang profesor riset jenius berusia 27 tahun yang dingin dan kaku—menyodorkan surat cerai di atas meja.
Mampukah Gisella mengubah takdir kematian tragisnya dan bertahan di samping sang profesor jenius, ataukah waktu satu bulan itu akan tetap menjadi akhir dari kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 21: Jebakan Masa Lalu yang Mengintai
Kehangatan melodi Clair de Lune dan getaran manis dari ucapan Adrian di dekat piano malam itu perlahan memudar, digantikan oleh realitas pagi yang selalu membawa tantangan baru.
Sabtu pagi di kediaman Arthur dimulai dengan ketenangan yang semu.
Sesuai dengan aturan baru yang kian merekatkan hubungan mereka, Adrian melewatkan sarapan paginya di konter dapur dengan tatapan yang jauh lebih melunak, sementara Valerie bahkan sempat memuji teh herbal buatan Gisella sebelum berangkat ke perpustakaan kota.
Namun, bagi Gisella, ketenangan ini justru terasa seperti ketenangan di dalam mata badai.
Di dunia aslinya, sebagai seorang manajer humas yang terbiasa menganalisis risiko, dia tahu betul bahwa sebuah narasi novel tidak akan membiarkan karakter utamanya bahagia begitu saja tanpa ada konflik yang menguji pertahanan.
Dan firasat buruk itu terbukti tepat pada pukul dua siang.
Saat Gisella sedang berada di taman mawar belakang, memotong beberapa tangkai bunga untuk menghias ruang tengah, Bibi Martha berjalan mendekat dengan wajah yang tampak sangat tegang dan pucat.
Tangan pelayan senior itu sedikit gemetar saat menyodorkan sebuah amplop cokelat kecil tanpa prangko.
"Nyonya Muda... ada seorang pria asing di depan pagar luar. Dia tidak mau menyebutkan namanya, tetapi dia bersikeras meminta saya menyerahkan surat ini langsung ke tangan Anda,"
bisik Bibi Martha, matanya melirik waspada ke sekeliling taman.
"Pria itu... penampilannya agak berantakan, dan dia terus menutupi wajahnya dengan topi."
Jantung Gisella mendadak berdegup kencang, memicu alarm bahaya di kepalanya. Dia meletakkan gunting taman dan menerima amplop tersebut.
Begitu melihat coretan tinta hitam di permukaan amplop yang menuliskan namanya dengan gaya tulisan yang miring dan ceroboh, seberkas memori gelap dari tubuh asli menyengat otaknya seperti sengatan listrik.
Julian.
Gisella menelan ludah dengan susah payah. Dia merobek amplop itu dengan cepat dan menarik selembar kertas lusuh di dalamnya.
> Gisella, manisku,
> Kudengar kau sempat masuk rumah sakit karena benturan kepala? Ah, kasihan sekali. Tapi aku tahu kau wanita yang kuat, dan kau pasti tidak melupakan janji kita, bukan?
> Jangan berlagak menjadi istri saleh di rumah Arthur itu. Aku tahu kau hanya berpura-pura agar suamimu yang kaku itu lengah. Aku butuh sisa uang yang kau janjikan dari brankas Adrian. Utang judi ku di distrik bawah sudah jatuh tempo, dan orang-orang ini akan memotong jariku jika aku tidak membayarnya besok malam.
> Temui aku di kafe tua ujung jalan dermaga malam ini jam delapan. Bawa uangnya. Jika kau tidak datang, atau jika kau mencoba memberi tahu suamimu... aku akan menyebarkan semua surat cinta, foto, dan dokumen perjanjian rahasia kita tentang rencana pencurian riset Adrian ke seluruh surat kabar Aethelgard. Kita lihat apakah suamimu yang jenius itu masih mau menatapmu setelah reputasinya hancur.
> Jangan bermain-main denganku, Gisella. Aku tahu semua rahasiamu.
>
Tangan Gisella bergetar hebat setelah membaca baris terakhir surat tersebut. Wajahnya seketika memucat, sedingin es. Ini dia.
Jebakan masa lalu yang dia takuti akhirnya datang mengetuk pintu.
Dalam plot novel asli Belenggu Cinta di Aethelgard, Julian adalah sosok antagonis picik yang memanfaatkan kenaifan Gisella asli untuk menguras finansial keluarga Arthur.
Dokumen perjanjian rahasia tentang pencurian riset yang di mention oleh Julian dalam surat itu adalah bukti fatal.
Meskipun Gisella yang sekarang tidak pernah melakukan hal itu, bukti fisik masa lalu yang ditinggalkan oleh pemilik tubuh asli bisa dengan mudah menghancurkan semua kepercayaan yang baru saja dia bangun bersama Adrian dalam seminggu terakhir.
"Aku tidak boleh panik,"
batin Gisella, memaksa otak profesionalnya untuk berpikir taktis di bawah tekanan.
"Jika aku memberikan uang itu, dia akan terus memerasku seperti lintah. Tapi jika aku tidak datang, dia benar-benar akan menghancurkan Adrian."
Gisella menatap Bibi Martha yang masih menunggu dengan cemas.
"Bibi, apakah pria yang mengantar surat ini
masih ada di depan?"
"Sudah pergi naik taksi begitu saya menerima suratnya, Nyonya Muda,"
jawab Bibi Martha cemas.
"Apakah... apakah ada masalah? Perlu saya beri tahu Tuan Muda Adrian?"
"Tidak! Jangan beri tahu Adrian,"
potong Gisella cepat, nadanya sedikit terlalu tajam hingga membuat Bibi Martha tersentak. Gisella segera melembutkan suaranya, memegang tangan pelayan itu.
"Maaf, Bibi. Maksudku, ini hanya urusan lama dari keluargaku yang belum selesai. Aku bisa mengatasinya sendiri. Kumohon, jangan buat Adrian cemas di sela-sela riset besarnya hari ini."
Bibi Martha ragu sejenak, namun melihat binar mata Gisella yang begitu tegas dan berwibawa, dia akhirnya mengangguk patuh.
"Baik, Nyonya Muda. Saya mengerti."
Sore harinya, pukul lima tepat.
Adrian kembali ke rumah sesuai dengan protokol mereka.
Langkah kakinya yang panjang membawanya langsung ke ruang tengah.
Namun, sore ini, tidak ada alunan piano yang menyambutnya. Piano hitam besar itu tertutup rapat, dan ruang tengah tampak sepi.
Adrian mengernyitkan dahi, ada rasa kecewa yang samar yang merayapi dadanya ketika rutinitas penenang sarafnya tidak berjalan tepat waktu.
Dia melangkah menaiki tangga menuju lantai dua dan mengetuk pintu kamar nomor dua.
"Tok, tok, tok."
Pintu terbuka, dan Gisella berdiri di sana.
Dia sudah mengenakan gaun beludru hitam formal dengan mantel panjang berwarna abu-abu gelap.
Rambut cokelatnya disanggul rapi, dan bros kunci musik pemberian Adrian semalam tersemat di dadanya.
Namun, Adrian yang jeli langsung menyadari bahwa ada ketegangan yang tertahan di sudut bibir istrinya, serta binar mata yang tampak gelisah.
"Kau mau ke mana, Gisella? Ini sudah jam lima sore, dan kau melanggar Poin Keempat aturan kita,"
ucap Adrian, suaranya terdengar datar namun menuntut penjelasan.
Gisella memaksakan sebuah senyuman tipis, mencoba menyembunyikan badai di dalam dadanya.
"Maaf, Adrian. Sore ini aku ada urusan mendadak di luar. Seorang teman lama dari kota asal mengundangku untuk minum teh dan menyelesaikan beberapa urusan administrasi lama."
Adrian tidak langsung membalas.
Dia memajukan tubuhnya setengah langkah, menatap lurus ke dalam manik mata cokelat Gisella. Insting tajamnya sebagai seorang ilmuwan dan suami menangkap adanya ketidakselarasan informasi.
"Teman lama? Siapa? Perlu kuantar?"
"Tidak perlu!"
seru Gisella, sedikit terlalu cepat. Dia berdeham, mencoba mengontrol suaranya.
"Maksudku... ini hanya urusan wanita, Adrian. Kau baru saja pulang kerja dan pasti lelah. Istirahatlah. Aku berjanji akan membayar utang lagu pianomu dua kali lipat besok sore."
Gisella melangkah melewati Adrian, namun saat posisinya sejajar, Adrian tiba-tiba memegang pergelangan tangannya.
Sentuhan hangat itu seketika memicu debaran yang familiar di dada Gisella, namun kali ini bercampur dengan rasa bersalah yang menusuk.
"Jangan pulang lewat dari jam sembilan malam, Gisella,"
ucap Adrian, suaranya terdengar sangat rendah dan protektif, matanya mengunci pandangan Gisella di bawah temaram koridor.
"Jalanan di luar sana tidak selalu aman, dan ingat... kau masih terikat kontrak aturan denganku di rumah ini."
Gisella menatap mata elang Adrian yang begitu dalam, merasakan kehangatan yang seolah ingin menahannya dari bahaya. Dia mengangguk pelan.
"Aku tahu. Aku akan segera kembali."
Pukul delapan malam, area dermaga tua Aethelgard diselimuti oleh kabut tipis dan aroma air laut yang asin bercampur minyak. Kafe tua di ujung jalan itu tampak remang-remang, hanya diterangi oleh sepasang lampu minyak kuno yang berkedip di dinding kayu yang mulai lapuk.
Gisella mendorong pintu kaca kafe yang berderit.
Suasana di dalam sangat sepi, hanya ada seorang pria yang duduk di sudut paling gelap, mengenakan jaket kulit usang dan topi fedora yang diturunkan rendah.
Gisella melangkah mantap, menekan rasa takutnya, dan duduk di kursi berhadapan dengan pria itu.
Pria itu mendongak, menampilkan wajah tampan namun memiliki guratan lelah akibat gaya hidup yang berantakan.
Sepasang mata julingnya berkilat penuh kemenangan saat melihat Gisella. Itu adalah Julian—sang jebakan masa lalu.
"Ah, manisku... kau benar-benar datang,"
sapa Julian dengan suara yang serak dan senyuman yang membuat Gisella merasa mual.
"Kulihat benturan di kepalamu membuatmu tampak jauh lebih berkelas dan mahal. Pakaian ini... apakah ini dibeli dengan uang suamimu yang bodoh itu?"
"Cukup omong kosongnya, Julian,"
potong Gisella, suaranya sedingin es, memancarkan wibawa manajer humas yang siap mengesekusi negosiasi krisis.
Dia meletakkan sebuah tas tangan kecil di atas meja, namun tidak membukanya.
"Aku datang ke sini bukan untuk bernostalgia. Di mana dokumen dan surat-surat yang kau sebutkan di dalam suratmu?"
Julian terkekeh rendah, bersandar pada kursi kayunya.
"Sabar, Sayang. Di mana uang yang kuminta? Tiga puluh ribu dolar Aethelgard. Bawa uangnya ke sini, baru kita bicara tentang dokumen itu."
"Aku tidak membawa uang tunai sebanyak itu, Julian. Dan aku tidak akan pernah memberikannya kepadamu,"
jawab Gisella tenang, menatap pria di hadapannya dengan pandangan meremehkan yang membuat senyuman Julian perlahan lenyap.
Wajah Julian mendadak berubah menjadi sangat tegang dan beringas.
Dia memajukan tubuhnya, mencengkeram tepi meja dengan kuat.
"Kau berani bermain-main denganku, Gisella?!
Aku bisa menghancurkan reputasi suamimu dalam satu malam! Surat perjanjian yang kau tanda tangani untuk memberikan salinan formula riset Adrian ada di tanganku! Jika media tahu menantu keluarga Arthur adalah seorang mata-mata industri, suamimu akan dipecat dan risetnya akan disita oleh negara!"
Gisella tidak bergeming.
Dia menatap Julian dengan tatapan mata yang tajam, tatapan mata yang sama dengan yang dia gunakan untuk menundukkan kesombongan Nyonya Eleanor dan keraguan Valerie.
"Sebarkan saja, Julian,"
tantang Gisella dengan nada suara yang sangat santai, bahkan cenderung mengejek.
Julian tertegun, tidak menyangka akan mendapatkan reaksi seperti ini dari Gisella yang biasanya selalu menangis ketakutan setiap kali diancam.
"Apa kau bilang?!"
"Aku bilang, sebarkan saja ke seluruh surat kabar,"
ulang Gisella, memajukan tubuhnya, memperkecil jarak di antara mereka di bawah temaram lampu kafe.
"Mari kita gunakan logika hukum sederhana. Surat perjanjian itu ditandatangani enam bulan lalu, sebelum aku mengalami amnesia parsial akibat benturan kepala yang dicatat resmi oleh rumah sakit pusat. Secara hukum, pengacaraku bisa dengan mudah menyatakan bahwa dokumen itu dibuat di bawah tekanan psikologis atau pemalsuan tanda tangan oleh seorang narapidana judi sepertimu."
Gisella mengetukkan jari telunjuknya di atas meja dengan ritme yang teratur.
"Sebaliknya, jika surat itu tersebar, polisi akan mulai menyelidiki aliran dana dan utang judimu di distrik bawah. Dengan koneksi hukum yang dimiliki keluarga Arthur di kota ini, kau akan membusuk di penjara sebelum sempat menikmati satu sen pun dari uang hasil memerasku. Jadi, siapa yang sebenarnya berada di ujung tanduk malam ini, Julian? Aku... atau kau?"
Julian membelalakkan matanya, napasnya memburu frustrasi.
Seluruh gertakannya patah total oleh analisis hukum dan psikologis yang begitu dingin dari Gisella. Wanita di hadapannya ini benar-benar bukan Gisella yang bodoh dan bisa dia kendalikan lagi.
"Kau... kau jalang sialan..."
desis Julian, tangannya bergerak ke dalam saku jaketnya, seolah hendak menarik sesuatu yang berbahaya.
Namun, sebelum situasi di dalam kafe tua itu eskalasi menjadi kekerasan fisik, pintu kaca kafe mendadak didorong terbuka dengan kasar dari luar.
"Brak!"
Suara langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di dalam ruangan yang sunyi.
Sosok tinggi tegap yang mengenakan mantel hitam panjang melangkah masuk dengan aura intimidasi yang begitu pekat hingga membuat udara di dalam kafe mendadak terasa membeku.
Gisella menoleh dengan cepat, dan jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat siapa yang berdiri di ambang pintu di bawah pendar lampu dermaga.
Adrian Arthur.
Pria itu berdiri di sana dengan kemeja hitam yang kerahnya sedikit terbuka, tanpa kacamata peraknya, menampilkan sepasang mata elang yang memancarkan kilat amarah yang teramat dingin dan mematikan.
Di belakangnya, dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam penegak hukum tampak berjaga di luar pintu.
Adrian tidak menatap Julian.
Pandangannya langsung mengunci sosok Gisella yang masih terduduk di kursi kafe.
"Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat empat puluh lima menit malam, Nyonya Arthur,"
ucap Adrian, suaranya terdengar sangat rendah, bergetar oleh kombinasi amarah dan rasa protektif yang masif.
"Dan aku tidak ingat memberi izin kepada istriku untuk menemani seorang lintah darat di tempat sekotor ini."
Jebakan masa lalu telah mengintai, namun malam itu, di ujung dermaga tua yang dingin, sang profesor telah datang bukan sebagai korban yang risetnya terancam, melainkan sebagai predator puncak yang siap menghancurkan siapa pun yang mencoba menyentuh wanita yang kini telah mengacaukan seluruh kompas hidupnya.
ditunggu updatenya
pengen tau pasti tentang cinta Mereka...