Aryo Pradana adalah seorang pengusaha sukses, namun sayang berada di puncak pencapaian dengan bergelimang harta tak lantas membuatnya jadi suami bersyukur. Ia memilih mengkhianati Sekar—istri setianya yang berasal dari garis keturunan dukun terkuat di sebuah desa terpencil asal Banyuwangi.
Demi ambisi dan gairah, Aryo menikah siri dengan Maya, gadis kota, muda, namun ambisius. Alih-alih meratap dan menangisi nasibnya, Sekar yang mengetahui pengkhianatan ini justru memilih mundur dengan keheningan yang mematikan.
Ketika Maya mulai mengandung anak Aryo dan menuntut posisi sebagai istri sah satu-satunya, teror gaib yang legendaris, Santet Pring Sedapur, mulai dikirimkan.
Di balik keputusasaan Aryo untuk menyelamatkan istri mudanya, ia harus berhadapan dengan kenyataan bahwa satu-satunya cara menghentikan teror ini adalah menyerahkan kembali jiwanya pada Sekar—atau mati bersama seluruh keturunannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 - Menyelamatkan Diri
Selagi Aryo berjuang mencari pertolongan untuk Maya, keadaan di rumah mewahnya di Pondok Indah kian mencekam.
Semburat fajar di atas langit Pondok Indah pagi itu tidak membawa kehangatan yang biasa menerangi kawasan elit Jakarta Selatan. Cahaya subuh yang kelabu justru menelanjangi sisa-sisa kehancuran dengan cara yang amat kejam.
Rumah mewah bermaterial marmer dan kaca setinggi tiga lantai itu, yang sebagian dinding sisi baratnya telah menghitam akibat amukan api gaib tempo hari, kini tampak seperti nisan raksasa yang dingin.
Aroma karbol pembersih yang diguyurkan para pelayan untuk menghilangkan bau belerang telah menguap sepenuhnya, berganti menjadi kombinasi yang mengerikan: bau anyir darah segar, karat besi tua, dan wangi busuk bunga kantil yang hangus.
Sisa-sisa energi Pring Sedapur yang merambat dari runtuhnya simpul-simpul saksi pengkhianatan Aryo menyisakan tekanan elektromagnetik negatif yang luar biasa tinggi.
Seluruh jam dinding analog di dalam rumah mati serentak tepat di angka tiga, dan gawai elektronik tidak lagi mampu menangkap sinyal.
Di area dapur kotor yang terletak di bagian belakang rumah, atmosfer ketakutan telah mencapai titik didih. Mbok Minah, kepala pelayan yang telah bekerja belasan tahun sejak Aryo masih merintis bisnis propertinya, berdiri dengan tubuh gemetar hebat di dekat meja konter stainless steel.
Di sekelilingnya, dua orang pembantu rumah tangga yang masih muda dan dua orang satpam penjaga kompleks yang sengaja diminta berjaga di dalam ruangan tampak memegang tas kain dan ransel seadanya. Wajah mereka pucat pasi, kuyu karena tidak tidur semalaman.
Sebelum berangkat, Aryo sengaja menghubungi para pekerjanya untuk menjaga rumah selama ia tak ada.
Namun, mereka tidak lagi mampu menulikan telinga dari apa yang terjadi di ruang tengah sejak pukul satu hingga pukul tiga tadi. Suara jeritan Maya yang robek wajahnya secara misterius, tawa cekikikan gaib yang tumpang tindih dengan lenguhan bapak-bapak tua dari wetan muncul tanpa wujud, serta bunyi klitik ... klitik ... dari belasan paku payung dan jarum jahit kuno yang yang waktu itu keluar dari pori-pori kulit Maya berjatuhan ke atas lantai marmer, telah menghancurkan seluruh benteng psikologis mereka.
"Pak Aryo dan Nyonya belum kembali, tapi kenapa suara-suara menyeramkan itu kembali terdengar? Bulu kudukku berdiri terus sejak tadi. Gak sanggup kalau bertahan nunggu pagi, Mbok!" Salah seorang pembantu membuka obrolan.
"Betul itu, saya juga denger. Hiii, ngeri!" timpal Bang Kipli satpam rumahnya Aryo.
"Pokoknya saya tidak mau mati jadi tumbal di sini, Mbok," bisik Ningsih, salah satu pelayan muda, sambil terisak pelan. Tangannya yang gemetar mencoba mengunci ritsleting tasnya. "Lagipula itu bukan penyakit medis lagi, Mbok. Semuanya tidak masuk akal. Nyonya ... Nyonya sudah bukan manusia. Waktu itu saya lihat sendiri dari celah pintu, kulit pipinya berserat abu-abu seperti pohon jati tua yang kering. Kalau kita tidak pergi sekarang, setan-setan itu pasti akan mengambil nyawa kita juga."
"Astaghfirullahaladzim ... ya Allah ... jaga mulut kamu, Ningsih. Jangan asal bicara. Sudah, sudah, kalau mau pergi ayo cepat bereskan barang-barang kalian," sahut salah seorang satpam bernama Joko, yang seragamnya kini tampak kusut.
Semua pekerja langsung membereskan barang-barang mereka lebih cepat.
"Kalian lihat sendiri kan tanaman hias mahal di pekarangan depan dan samping? Semuanya mati membusuk hitam serentak dalam hitungan menit sejak jam tiga tadi. Pagar besi depan juga mulai dililit akar-akar bambu hitam yang tumbuh entah dari mana. Ini rumah sudah dikutuk. Uang gaji dari Pak Aryo tidak akan bisa dipakai untuk beli nyawa cadangan jalian." Seorang satpam komplek menambahkan.
Mbok Minah hanya bisa mengelus dadanya yang sesak. Sebagai orang lama, ia tahu persis siapa Sekar. Ia ingat bagaimana santunnya istri pertama Aryo itu dulu ketika di Jakarta, sebelum Aryo mencampakkannya demi Maya yang lebih muda dan glamor. Mbok Minah tahu, apa yang terjadi hari ini adalah bayaran dari air mata Sekar yang mengalir belasan tahun lalu.
"Ya sudah ... kalau kalian mau pergi, pergilah lewat pintu belakang," ucap Mbok Minah dengan suara parau menahan tangis. "Soal Pak Aryo, biar Mbok yang tangani. Dia bakal marah kalau tau-tau kalian semua kabur gitu aja dari rumah. Bisa berabe nanti urusannya. Semoga Gusti Allah yang melindungi kita semua."
Tanpa perlu dikomando dua kali, kelima pekerja itu melangkah mengendap-endap, memotong jalur area cuci menuju pintu keluar belakang. Mereka membuka selot besi dengan sangat terburu-buru, lalu berlari tunggang-langgang menembus kabut fajar Jakarta yang dingin, meninggalkan kompleks perumahan elit itu tanpa pernah menoleh ke belakang lagi. Mereka memilih kehilangan pekerjaan daripada harus berurusan dengan entitas Alas Purwo yang sedang menuntut balas.
Sebelum ikut menyusul, Mbok Minah merogoh ponsel di tasnya, lalu mengirimkan pesan dengan cepat kepada sang majikan yang berisi permintaan maaf sekaligus berpamitan.
Sementara itu, di dalam kabin mobil yang dikendarai Danu, Maya terbaring kaku dalam kain mori yang berlumuran darah berwarna kehitaman. Wanita muda yang tiga tahun lalu dipuja-puji di karpet merah gala dinner Sudirman itu, terbiasa dikelilingi oleh para asisten pribadi, penata rias, dan dimanjakan dengan segala fasilitasi materi tak terbatas, kini teronggok sendirian di atas jok mobil bagian belakang dengan kondisi sekarat.
Tidak ada seorang pun pekerja yang tersisa untuk mengambilkannya secangkir air hangat. Tidak ada tangan pelayan yang sudi menyeka lelehan air mata darah murni bercampur lendir hitam yang mengering di sepanjang robekan horizontal wajahnya. Ketika jalinan saraf manusianya perlahan lumpuh akibat okupasi magis Pring Sedapur, ego dan identitas Maya sebagai "nyonya besar PT Artha Raya" runtuh tak bersisa. Ia terasing di dalam rumah yang ia rebut dengan cara menyingkirkan wanita lain.
"Mas ... Mas Aryo ..." Maya merintih, suaranya parau dan terputus-putus, tenggelam oleh bunyi gerisik dedaunan bambu tak kasat mata yang kian bising mengikuti perjalanan mereka.
Aryo tidak menyahut. Tak ada yang menyadari panggilan Maya.
Ia mencoba menggerakkan raga fisiknya, namun tubuhnya terasa seberat kayu jati basah. Perlahan, dengan kesadaran yang timbul tenggelam akibat delusi dan kerusakan saraf, Maya memaksakan dirinya untuk bangkit. Namun, semua hanya sia-sia belaka. Tubuhnya semakin berat seakan ada akar bambu yang melilit kencang tubuhnya.
Deru mesin mobil SUV hitam terus bergerak, membelah kegelapan jalur jalan raya menuju lereng selatan Gunung Salak. Atmosfer di dalam kabin mobil terasa sangat berat, dipenuhi bau amis darah dan kabut tipus.
Aryo duduk menyusut di kursi penumpang depan, memegangi kepalanya dengan tangan yang gemetar hebat. Suara raungan Sekar dan tuduhan atas pengkhianatannya di masa lalu masih bergema konstan di dalam gendang telinganya, meruntuhkan seluruh harga dirinya sebagai pengusaha sukses.
Di sisi lain, Danu mengendalikan kemudi dengan tenang meski dadanya masih terasa nyeri dan remuk akibat hantaman dorongan gaib Pring Sedapur.
"Mbok Minah ... dan para pekerja lainnya di rumah utama sudah pergi. Mereka kabur karena ketakutan, Mas Danu ...." Aryo mengingat kembali isi pesan teks yang diterimanya beberapa saat lalu.
"Mereka kabur karena mereka punya insting bertahan hidup, Pak Aryo," ucap Danu dengan suara baritonnya yang tenang namun menusuk. "Uangmu yang berlimpah di bank tidak lagi memiliki nilai tukar untuk membeli nyawa orang lain saat hukum adat Alas Purwo telah menagih janji."
Aryo menunduk dalam-dalam, air matanya menetes ke atas pangkuannya. "Saya punya uang miliaran, Mas Danu ... saya bisa bayar dukun mana pun, saya bisa beli rumah baru ... saya bisa membayar jasa siapa pun yang mau berkeja dengan saya. Tapi kenapa semuanya terasa sia-sia?"
Danu melirik sekilas melalui kaca spion tengah ke arah Aryo, lalu beralih ke raga Maya yang terbaring kaku, sebelum kembali menatap jalanan yang kian menanjak dan kian sempit.
"Turun," kata Danu datar. Ia tak lagi menggubris keluh-kesah Aryo.
Danu keluar lebih dulu. Angin menjelang subuh seketika menerpa wajahnya. Aroma tanah basah, dedaunan membusuk, serta bau amis darah dari kain mori yang membungkus Maya bercampur jadi satu.
Pria itu menghentikan mobilnya di jalan buntu. Hamparan pesawahan samar-samar terlihat dilapisi kabut tebal.
"Kenapa kita berhenti di sini Mas Danu, di mana petapa itu?" Aryo muncul dari belakang dengan tubuh gemetar. Antara takut dan dingin yang menusuk.
"Kita tidak bisa lanjut menggunakan mobil, jalanan setapak di depan kita ini akan membawa kita ke tempat petapa itu berada, itu artinya ... Anda harus membopong tubuh Maya," jelas Danu.
Aryo tak menjawab, ia terpaku di tempatnya.
"Cepat, Pak Aryo. Tunggu apa lagi!" Danu membentak.
Dengan tubuh yang gemetar karena ketakutan, Aryo memaksakan dirinya untuk mengangkat raga Maya yang kaku bagai pelepah mati, melangkah tergesa-gesa di belakang Danu menuju tempat sang petapa berada.
Aryo terpatri di halaman rumah joglo tua ,sbgai tumbal keserakahan nya
Tidak lagi memakai kebaya beludru hitam dan kain jarik gajah oling.
mau gak percaya tapi ada ...
pasrahkan penjagaan ke illahi dari gangguan makhluk malam ,jin iblis itu nyata.
dan jangan serakah menguasai harta yang bukan milikmu.
lebih baik miskin daripada kaya tapi hidup tidak tenang.
Habis sudah riwayat Aryo.
duh Mbak Sekar terlalu lembut bilangnya
bilang aja untuk mengantar kematianmu Mas
😄😄
tapi
lebih ke tembang pemanggil, pengiring hal hal keghaiban
Sifat kemaruk mu akan menenggelamkan kalian dalam jurang kesedihan
kau lah racun yang sesungguhnya, datang tiba2, disaat Aryo kaya raya ,lalu merayu dan membiusnya dalam keserakahanmu.
ketamakan dan keegoisanmu merenggut kebahagiaan wanita lain.
maka jangan salahkan ,sekar.
maya juga tdk lepas dari kutukan sekar
bagus nya mati menderita seperti maya , mereka berbuat bersama
tapi secara fisik maya yang lebih hancur