Karakter Utama:
Arga: Cowok yang biasanya tenang, rapi, dan selalu jadi "penjaga" kalau mereka nongkrong. Tapi malam itu, dia sama mabuknya.
Kinar: Cewek ceplas-ceplos, panikan, dan tipe sahabat yang tahu semua aib Arga dari zaman masih ngompol sampai sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Tamu Tak Diundang dan Benteng yang Merapat
Atmosfer di teras depan rumah kontrakan itu mendadak turun hingga ke titik beku. Suara bising kendaraan yang melintas di jalan raya depan gang seolah meredup, tergantikan oleh tatapan tajam dan penuh permusuhan yang terpancar dari mata Selin. Gadis itu berdiri dengan angkuh, melipat kedua tangannya di depan dada sembari memandang merendah ke arah Kinar dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Kinar yang merasa ditunjuk-tunjuk sebagai "cewek udik" merasakan darahnya mendadak berdesir panas. Jiwa reognya yang sempat jinak gara-gara momen baper semalam, kini langsung bangkit berdiri di garis depan. Namun, sebelum Kinar sempat membuka mulutnya untuk membalas makian itu, sebuah lengan kokoh tiba-tiba bergeser, berdiri tegap tepat di depannya.
Arga melangkah satu babak ke depan, dengan sengaja memblokade pandangan Selin agar tidak bisa menatap Kinar lagi. Punggung lebar Arga kini menjadi tameng penuh bagi Kinar.
"Jaga mulut lo, Selin," ucap Arga dengan suara bariton yang sangat rendah dan dingin. Tidak ada lagi nada santai atau jenaka yang biasa ia gunakan. Sorot mata elangnya menajam, menatap mantan kekasihnya itu tanpa ada sedikit pun rasa rindu atau penyesalan masa lalu. "Lo gak punya hak buat dateng ke sini pagi-pagi, gedor-gedor pintu rumah gue kayak penagih utang, apalagi sampai ngehina istri gue di depan muka gue sendiri."
Selin tertegun sejenak, sedikit tersentak mendengar penekanan kata 'istri gue' yang keluar begitu lancar dan tegas dari bibir Arga. Dada Selin naik turun menahan emosi. Rasa tidak terima dan ego sebagai cewek yang dulu selalu dipuja oleh Arga membuatnya semakin meradang.
"Istri? Kamu serius, Ga?!" Selin tertawa hambar, sebuah tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa syoknya. "Kamu nikah sama cewek modelan kayak gini? Selera kamu beneran jatuh bebas setelah putus dari aku? Dia bahkan gak ada potongan sebagai istri kamu, Arga! Liat tuh, rambut berantakan, baju kusut, jidatnya benjol lagi. Kamu pasti cuma mau balas dendam kan sama aku? Kamu sengaja bikin gosip konyol ini biar aku cemburu?"
Mendengar tuduhan yang tingkat kepercayaan dirinya sudah menembus langit itu, Kinar yang berada di balik punggung Arga tidak bisa lagi menahan diri. Dia menggeser tubuhnya ke samping, menyejajarkan posisinya dengan Arga lalu menatap Selin dengan senyum miring yang sangat meremehkan.
"Heh, Mbak Cantik yang modisnya kelewatan," potong Kinar dengan nada suara yang dibuat seanggun mungkin namun sarat akan sindiran mematikan. "Sebelum Mbak ngomongin soal selera, mending Mbak ngaca dulu deh. Datang ke rumah tangga orang lain tanpa diundang, teriak-teriak kayak orang gak berpendidikan, itu yang Mbak sebut selera kelas atas? Dan satu lagi, Mas Arga gak perlu repot-repot bikin gosip demi bikin Mbak cemburu. Kita berdua terlalu sibuk bahagia sampai gak ada waktu buat nginget nama mantan yang udah lama dibuang ke tempat sampah."
"Kamu...!" Wajah Selin memerah padam, jarinya gemetar menunjuk Kinar. "Arga! Liat tuh kelakuan istri kamu! Kurang ajar banget ya!"
Arga tidak menanggapi amukan Selin. Dia justru menoleh ke arah Kinar, lalu sebuah senyuman miring yang sangat tipis terukir di bibirnya. Ada rasa bangga yang terselip di hatinya melihat bagaimana Kinar dengan berani mencabik-cabik ego Selin tanpa ragu. Arga kemudian sengaja mengulurkan tangan kanannya, merangkul pundak Kinar dengan erat, menarik tubuh gadis itu agar menempel dekat ke dadanya.
Skinship dadakan itu sukses membuat Kinar sedikit tersentak, namun dia langsung menguasai diri dan ikut menyandarkan tubuhnya dengan rileks ke dada Arga, memasang mode akting pasutri paling harmonis sedunia.
"Apa yang dibilang istri gue bener, Lin," sambung Arga kembali menatap Selin dengan tatapan datar. "Gue gak punya waktu buat main-main. Pernikahan gue sama Kinar itu nyata, dan gue sangat bahagia sama dia. Sifat dia yang lo bilang kayak reog atau udik itu, justru yang bikin gue gak bisa berpaling ke cewek lain—termasuk ke masa lalu yang udah gak berharga kayak lo."
Kalimat telak dari Arga seperti sebuah tamparan keras yang mendarat tepat di wajah Selin. Air mata yang tadi hanya hiasan di pelupuk mata Selin, kini benar-benar runtuh karena rasa malu yang luar biasa. Dia tidak menyangka bahwa Arga—cowok yang dulu rela melakukan apa saja demi dirinya—kini menatapnya dengan pandangan sedingin es dan lebih memilih membela cewek lain di depannya.
"Oke! Bagus ya, Arga! Kamu beneran udah berubah!" jerit Selin histeris, menahan tangisnya yang hampir pecah. "Aku benci sama kamu! Jangan pernah nyesel ya kalau suatu saat nanti kamu tahu siapa cewek ini sebenarnya!"
Tanpa menunggu balasan lagi, Selin berbalik dengan sentakan kasar, berjalan setengah berlari meninggalkan teras kontrakan menuju mobil merah mewahnya yang terparkir di ujung gang dengan suara derap langkah high heels yang menghentak emosi.
Setelah mobil Selin melesat pergi membelah jalanan, keheningan kembali menguasai kontrakan kecil itu.
Arga perlahan melepaskan rangkulannya di pundak Kinar. Kesadaran pasca-akting maut itu kembali menghantam mereka berdua. Kehangatan dari rangkulan tangan Arga tadi seolah-olah masih tertinggal di bahu Kinar, meninggalkan sensasi menggelitik yang membuat dadanya kembali berdegup kencang di luar kendali.
Kinar melangkah mundur satu babak, berdeham canggung sambil merapikan kemeja putihnya yang sebenarnya tidak apa-apa. "Ehem... akting lo... lumayan juga tadi, Ga. Dapat nilai sembilan dari sepuluh lah dari gue."
Arga membuang muka ke arah lain, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana pendeknya demi menyembunyikan jemarinya yang mendadak sedikit gemetar akibat kedekatan fisik mereka yang terlalu intens tadi. Semburat merah tipis kembali muncul di ujung telinganya.
"Gue... gue cuma menjalankan tugas sesuai kontrak. Lagian gue gak suka ada nenek sihir yang ganggu ketenangan rumah kita pagi-pagi," kilah Arga dengan suara yang agak kaku, berusaha keras kembali ke mode dinginnya.
Kinar tidak membalas. Dia berjalan kembali masuk ke dalam rumah, mendudukkan dirinya di atas sofa ruang tengah dengan perasaan yang campur aduk. Konflik eksternal dengan Selin hari ini memang berhasil mereka lewati dengan kemenangan mutlak, namun Kinar tahu betul ada satu konflik internal yang jauh lebih berbahaya yang sedang tumbuh subur di dalam rumah ini.
Dinding persahabatan belasan tahun yang mereka agungkan, hari ini terasa semakin tipis dan rapuh, menyisakan sepasang hati yang mulai kebingungan menentukan arah: apakah mereka harus tetap bertahan di balik batasan kontrak konyol itu, ataukah membiarkan perasaan baru yang mendebarkan ini meruntuhkannya sekalian.
Tetap kawal perjalanan sandiwara pasutri gadungan ini sampai akhir! Jangan lupa buat terus tinggalin jejak berupa komentar atau dukungan kalian di bab selanjutnya, karena satu komen dari kalian itu berharga banget buat kelangsungan jari-jariku ngetik, hehe.
Kalian semua luar biasa! Happy reading, and see you in the next chapter! ❤️
btw, saya pun baru mula menulis novel. kalau ada masa boleh tinggalkan komen di novel saya juga ya. tinggal tekan profile, terima kasih /Smirk//Rose/