Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 33
Lama sudah terasa perjalanan yang mereka tempuh. Selama lebih dari tujuh jam terbang melintasi samudra dan awan, rasanya tubuh terasa kaku dan mata pun mulai terasa berat. Namun begitu suara kapten pesawat memberitahukan bahwa mereka akan segera mendarat di Bandar Udara Internasional Tokyo, rasa lelah itu perlahan berubah menjadi rasa gembira dan penasaran yang tak tertahankan.
Alena yang sejak tadi sesekali melirik ke luar jendela, kini menempelkan wajahnya pada kaca untuk melihat pemandangan yang mulai terlihat jelas di bawah sana. Langit Jepang sore itu tampak bersih dan cerah, dengan awan putih yang terhampar lembut seperti kapas. Jauh di bawah, terlihat kota yang tertata rapi, jalan‑jalan yang berkelok, dan atap‑atap rumah yang berjejer rapi bak kotak‑kotak kecil yang tersusun rapi.
“Kita sudah sampai,” bisik Elio dari samping, tangannya secara otomatis meraih tangan Alena untuk digenggamnya erat. “Sudah sabar menunggu sejak semalam, kan?”
Alena menoleh sambil tersenyum malu. “Siapa yang tidak sabar? Ini pertama kalinya aku menginjakkan kaki di negara ini. Rasanya seperti mimpi saja.”
Tak lama kemudian, pesawat pun mendarat dengan mulus dan perlahan berhenti di tempat yang ditentukan. Setelah melewati serangkaian prosedur kedatangan, mulai dari pemeriksaan paspor hingga mengambil barang bawaan, mereka segera disambut oleh seorang pria paruh baya yang diperkenalkan sebagai pemandu lokal yang sudah diatur oleh Kakek Baskara.
“Selamat datang di Jepang, Tuan dan Nyonya. Silakan ikuti saya, kendaraan sudah menunggu di luar,” ujar pria itu dengan bahasa Inggris yang lancar.
Mereka pun melangkah keluar dari gedung bandara, dan udara yang menyapa wajah mereka terasa lebih sejuk dan segar dibandingkan udara di tanah air. Suhu di sini memang lebih rendah, membuat Alena segera merapatkan ujung jaket yang ia kenakan. Elio melihat hal itu dan segera melingkarkan satu lengannya di bahu gadis itu, memberikan kehangatan tambahan secara alami.
Perjalanan dari bandara menuju tempat tinggal yang telah disiapkan memakan waktu sekitar satu setengah jam. Selama di perjalanan, Kakek Baskara menceritakan bahwa ia sudah memesan satu unit apartemen lengkap di kawasan yang tenang, tidak terlalu jauh dari keramaian namun tetap memberikan pemandangan yang sangat istimewa.
“Tempat ini aku pilih khusus. Tidak hanya nyaman, tapi juga memiliki pemandangan yang tidak bisa didapatkan sembarangan tempat,” ujar Kakek Baskara sambil tersenyum penuh rahasia.
Benar saja, begitu kendaraan membelok masuk ke kawasan perumahan yang asri dan dipenuhi pepohonan rindang, mereka tiba di sebuah bangunan apartemen bertingkat yang terlihat bersih, rapi, dan memiliki desain yang sederhana namun elegan. Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan yang sudah disiapkan, mata Alena langsung terbelalak kagum. Ruangannya luas, lantainya terbuat dari kayu yang hangat, dan jendela‑jendela besar membuat cahaya matahari sore masuk dengan leluasa menerangi setiap sudut ruangan.
“Mari, aku tunjukkan kamar untuk kalian masing‑masing,” ajak Kakek Wijaya.
Mereka berjalan menyusuri lorong menuju bagian dalam. Kakek Wijaya membuka satu pintu kayu yang cantik dan menoleh ke arah Alena. “Ini kamarmu, Nak.”
Begitu pintu terbuka, Alena melangkah masuk dan langsung tertegun. Namun yang paling membuatnya terpesona bukan hanya keindahan tata ruang kamar itu, melainkan adanya sebuah pintu kaca besar yang mengarah ke balkon pribadi. Begitu ia membuka pintu itu dan melangkah keluar, pandangannya terbentang luas—dan di sana, berdiri megah dan gagah adalah Gunung Fuji, dengan puncaknya yang tertutup salju putih bersih, tampak jelas meski jaraknya masih cukup jauh.
“Wah…” gumam Alena tak mampu berkata‑kata.
“Kamar Elio ada tepat di sebelahmu, jadi jangan khawatir merasa sendirian,” kata Kakek Baskara yang berdiri di ambang pintu sambil tertawa melihat reaksi gadis itu.
Elio yang segera melangkah masuk ke kamar sebelah pun keluar dan berdiri di balkonnya sendiri yang juga menghadap ke arah yang sama. Ia menoleh ke Alena dengan senyum lebar. “Bagus bukan? Jadi setiap pagi dan malam, pemandangan ini bisa kita nikmati bersama tanpa harus berjalan ke mana pun.”
“Kalian pasti lelah setelah perjalanan panjang. Saran kami, istirahatlah dulu sampai sore atau malam. Sesuaikan diri dengan perbedaan waktu di sini. Nanti malam kita berkumpul lagi untuk makan malam bersama,” pesan Kakek Wijaya sebelum mereka berdua masuk ke kamar masing‑masing.
Alena pun menuruti saran itu. Setelah membereskan barang bawaannya seperlunya dan membersihkan diri, ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan wangi. Rasa lelah yang tadinya tertutup oleh rasa penasaran kini mulai merayap masuk ke seluruh tubuhnya. Ia memejamkan mata, dan sebelum sempat berpikir panjang, ia pun terlelap dalam tidur yang sangat nyenyak.
Sementara itu, Elio juga beristirahat di kamarnya, namun ia tidak tidur terlalu lama. Sesekali ia melangkah ke balkonnya, memandangi puncak Gunung Fuji yang tampak berubah warna seiring berjalannya waktu—dari putih keemasan terkena sinar matahari sore, perlahan berubah menjadi warna keabu‑abuan saat langit mulai gelap. Ia membayangkan betapa indahnya pemandangan itu saat malam tiba dan diterangi cahaya bulan.
Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Langit yang tadinya terang kini sudah berubah menjadi gelap, dihiasi kerlap‑kerlip bintang yang terlihat sangat jelas karena udara di sini sangat bersih. Sekitar pukul tujuh malam, suara ketukan lembut terdengar di pintu kamar Alena.
“Alena, sudah bangun? Waktunya makan malam,” suara Elio terdengar dari luar.
Alena terbangun dengan perasaan segar kembali. Ia mengucek matanya, merapikan rambut dan pakaiannya, lalu membuka pintu. “Sudah bangun. Maaf, tadi tidur sampai lupa waktu.”
“Tidak apa‑apa, itu justru bagus agar tenaganya pulih kembali,” jawab Elio sambil tersenyum, lalu mengajaknya berjalan menuju ruang makan.
Di meja makan sudah tersaji berbagai hidangan yang harum dan menggugah selera. Ada sup miso yang mengepulkan uap hangat, ikan bakar dengan bumbu khas, nasi putih pulen, serta berbagai lauk pendamping lainnya. Meskipun rasanya berbeda dari makanan di rumah, namun tetap terasa lezat dan cocok di lidah mereka.
Selama makan malam, suasana terasa sangat hangat dan akrab. Kedua kakek bercerita tentang pengalaman mereka saat pertama kali datang ke Jepang puluhan tahun lalu, menceritakan keunikan budaya dan tempat‑tempat indah yang akan mereka kunjungi selama liburan ini. Alena mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tertawa mendengar cerita lucu dari masa muda Kakek Baskara.
“Besok kita akan mulai berkeliling. Kita akan pergi ke danau yang ada di kaki Gunung Fuji, mengunjungi kuil bersejarah, dan tentu saja mencoba berbagai jajanan khas yang terkenal di sini,” jelas Kakek Baskara sambil meminum teh hangatnya.
Setelah makan malam selesai dan meja dibersihkan, kedua kakek menguap lebar tanda mulai mengantuk. “Kami sudah mulai mengantuk, lebih baik segera masuk kamar. Kalian juga jangan begadang terlalu larut ya,” pesan Kakek Wijaya sebelum berjalan menuju kamarnya.
Tinggallah Alena dan Elio yang masih duduk santai di ruang tamu, menikmati sisa teh hangat di cangkir masing‑masing. Suasana menjadi hening namun terasa nyaman, hanya terdengar suara angin yang berhembus pelan di luar jendela.
“Malam masih terasa cukup panjang, dan udara di luar terasa sangat segar. Bagaimana kalau kita berjalan‑jalan sebentar di sekitar kawasan ini saja? Tidak akan pergi jauh, hanya berputar sebentar,” ajak Elio tiba‑tiba sambil menatap Alena dengan pandangan penuh harap.
Alena melirik ke arah jendela yang memperlihatkan langit malam yang bertabur bintang. “Tidak ada yang melarang, kan? Aku juga belum merasa mengantuk sama sekali.”
“Tentu saja tidak. Ayo, tapi pakailah jaket tebal lagi. Malam di sini jauh lebih dingin dibandingkan sore tadi,” ingat Elio, lalu segera mengambilkan jaket tambahan untuk Alena dan memakaikannya dengan hati‑hati.
Mereka pun melangkah keluar dari apartemen. Begitu membuka pintu, angin malam yang sejuk langsung menyapa wajah mereka, membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang wangi. Lampu‑lampu taman yang dipasang di sepanjang jalan memancarkan cahaya kuning lembut, menciptakan suasana yang sangat tenang, sunyi, namun terasa sangat romantis.
Mereka berjalan berdampingan di jalan setapak yang dikelilingi pohon‑pohon pinus yang tinggi dan rindang. Di kejauhan, siluet Gunung Fuji terlihat semakin jelas dan megah, kini diterangi cahaya remang bulan yang mulai terbit perlahan. Pemandangan itu membuat Alena terus melangkah sambil menengadah, tak puas memandang keindahan alam yang terbentang di hadapannya.
“Indah sekali ya…” gumam Alena pelan, matanya tak lepas memandang puncak gunung yang gagah itu.
Elio melangkah mendekat, lalu melingkarkan lengannya erat di pinggang Alena agar gadis itu terasa lebih hangat dan aman. “Benar sekali. Tapi percayalah, keindahan tempat ini terasa jauh lebih sempurna hanya karena kamu ada di sampingku. Kalau aku berjalan sendirian, rasanya pasti tidak akan terasa seindah ini.”
Alena menoleh dan tersenyum malu, lalu membalas genggaman tangan Elio yang ada di pinggangnya. “Kamu ini pandai sekali mengucapkan kata‑kata manis, ya. Padahal baru beberapa jam kita sampai di sini.”
“Bukan kata‑kata manis semata, tapi itu kenyataan yang aku rasakan sendiri,” jawab Elio sambil tertawa kecil. “Lihat saja nanti, setiap tempat yang kita kunjungi ke depannya akan terasa lebih istimewa hanya karena kita melakukannya bersama.”
Mereka melanjutkan perjalanan berjalan‑jalan itu dengan santai, sesekali berhenti sejenak hanya untuk menikmati hembusan angin atau sekadar mendengarkan suara alam di sekitar. Suasana yang sunyi itu justru membuat mereka bisa mengobrol banyak hal, mulai dari hal‑hal sepele hingga rencana‑rencana yang ingin dilakukan di masa depan. Tak jarang juga Elio melontarkan candaan yang membuat Alena tertawa terbahak‑bahak, memecah kesunyian malam dengan tawa yang renyah dan menyenangkan.
Pada suatu titik, mereka berhenti di sebuah bangku kayu yang terletak di tepi taman, tepatnya di tempat yang memberikan pemandangan paling jelas ke arah Gunung Fuji. Mereka duduk berdampingan, bahu saling bersentuhan, menikmati keindahan malam yang terbentang luas di depan mata.
“Tahu tidak, Alena,” bisik Elio tiba‑tiba, suaranya menjadi lebih lembut dan serius. “Dulu saat kita baru dijodohkan, aku tidak pernah membayangkan bahwa kita akan sampai pada momen seperti ini. Duduk berdampingan, melihat pemandangan seindah ini, dan merasa sangat bahagia hanya dengan kehadiran satu sama lain.”
Alena menoleh menatap wajah Elio yang terlihat lebih tenang dan tulus di bawah cahaya remang bulan. “Aku juga merasakan hal yang sama. Dulu aku mengira ini hanya kewajiban yang harus dipenuhi, tapi ternyata… kamu berhasil mengubah segalanya menjadi sesuatu yang indah dan tidak ingin aku lewatkan.”
Mendengar jawaban itu, senyum Elio mengembang lebar. Ia mendekatkan wajahnya sedikit, lalu mencium kening Alena dengan lembut dan penuh rasa sayang. “Terima kasih sudah mau menerimaku apa adanya. Dan terima kasih sudah membuat setiap hariku terasa lebih berwarna.”
Mereka pun duduk berdiam diri sejenak, menikmati kedamaian yang melingkupi hati mereka masing‑masing. Angin malam terus berhembus lembut, bintang‑bintang bersinar terang, dan Gunung Fuji berdiri gagah sebagai saksi bisu atas kebahagiaan yang tengah mereka rasakan.
Setelah merasa cukup dan mulai merasakan rasa dingin yang semakin menusuk, mereka memutuskan untuk berjalan pulang kembali ke apartemen. Langkah kaki mereka terasa lebih ringan dan hati terasa lebih hangat dibandingkan saat baru keluar tadi.
Sesampainya di depan pintu kamar masing‑masing, Elio menatap Alena dengan pandangan yang lembut. “Istirahatlah yang nyenyak malam ini. Besok hari yang panjang dan penuh petualangan menanti kita. Kalau kamu terbangun di tengah malam dan merasa ingin melihat pemandangan lagi, cukup ketuk tembok kamarku saja. Aku akan segera datang menemanimu.”
Alena mengangguk sambil tersenyum, pipinya terasa sedikit merona. “Baiklah. Selamat malam, Elio. Terima kasih sudah mengajakku berjalan‑jalan tadi, rasanya sangat menyenangkan.”
“Selamat malam juga, sayang. Sampai bertemu di pagi hari yang cerah,” jawab Elio sambil melambaikan tangan.