NovelToon NovelToon
Joni Fighter

Joni Fighter

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Game
Popularitas:951
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia telah berubah sejak terbukanya Arcane Nexus—sebuah celah dimensi misterius yang menghubungkan bumi dengan dunia monster yang ganas. Demi bertahan hidup, umat manusia mendirikan tiga akademi elit untuk melatih para petarung faksi (Brawler, Swordsman, Archer, dan Shaman) agar mampu menyelaraskan getaran energi Ki mereka, yang dikenal sebagai sistem RAN (Resonance of Arcane Nexus).
​Joni, seorang mahasiswa baru faksi Brawler di Kampus Sacred Gate, awalnya hanya ingin fokus berlatih demi meneruskan jejak mendiang ayahnya. Namun, ia justru terseret ke dalam pusaran konspirasi gelap yang melibatkan kekuatan korporasi raksasa, militer kampus saingan, hingga ambisi berbahaya yang mengancam kestabilan dinding dimensi. Di tengah ancaman duel hidup-mati melawan rivalnya yang menggunakan kekuatan terlarang, Joni harus menjalani penempaan ekstrem di kedalaman wilayah tak bertuan untuk membangkitkan resonansi murni tubuhnya dan mengungkap kebusukan yang terstruktur di puncak kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Akhirnya Joni pulang ke rumah dengan langkah gontai.

Perutnya masih terasa nyeri akibat pukulan tadi sore. Wajahnya dipenuhi lebam, sementara kedua lengannya mulai membiru karena memar.

Begitu membuka pintu rumah, emaknya langsung menoleh.

Bukannya panik...

Malah tersenyum lebar.

"Nah, gitu dong! Baru anak Mami!" serunya bangga. "Namanya juga laki-laki, pulang harus benjol. Emak dulu waktu masih aktif jadi brawler, pulang latihan juga pasti benjol-benjol. Masa anak emak malah pengen masuk Jurusan Qigong? Tiap pulang mukanya mulus terus."

"Iya, Mak..." jawab Joni lesu.

"Nah, sekarang mandi dulu sana. Habis itu makan. Emak udah bikinin nasi goreng kesukaan lo."

"Iya, Mak."

Jawabannya tetap datar.

Biasanya aroma nasi goreng buatan emaknya langsung membuat semangatnya kembali. Kali ini berbeda.

Pikirannya masih tertinggal di kejadian sore tadi.

Pukulan ninja itu masih terasa menghantam perutnya. Rasa sakitnya luar biasa. Namun yang lebih menyakitkan justru harga dirinya.

Selama ini Joni memang sudah terbiasa diejek sebagai mahasiswa paling malas di Jurusan Brawler. Dibully? Sudah biasa.

Tapi kali ini rasanya berbeda.

Ini bukan sekadar dihina.

Ia dipermalukan di depan Gondrong. Diancam agar menjauhi Laras. Bahkan sama sekali tidak diberi kesempatan melawan.

"Hmm... emang gue pemalas."

"Mau ngelawan mahasiswa level tinggi? Jelas nggak bakal menang."

"Begini jadinya kalau hidup cuma rebahan sama nyari alasan."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak masuk Sacred Gate, Joni sulit tidur.

Bayangan senyum Laras terus terlintas di kepalanya.

Lalu berganti dengan wajah sinis ninja yang mengancamnya.

Kedua bayangan itu terus berputar hingga menjelang fajar.

...

Keesokan harinya...

Bahkan azan Subuh pun belum berkumandang.

Pintu rumah sudah terbuka perlahan.

Dengan mengenakan pakaian olahraga sederhana, Joni keluar rumah lalu mulai berlari mengelilingi kampung.

Satu putaran.

Dua putaran.

Tiga putaran.

Keringat membasahi seluruh tubuhnya, tetapi ia sama sekali tidak berhenti.

Emaknya yang baru bangun dan hendak membuka jendela langsung melongo.

"Hah?"

Matanya sampai digosok beberapa kali.

"Itu... Joni?"

Dilihatnya lagi anaknya sedang berlari sambil terengah-engah.

Emaknya mengernyit.

"Kesambet setan apa nih bocah? Tumben amat subuh-subuh udah olahraga."

Joni terus berlari tanpa menoleh sedikit pun.

Di dalam hatinya hanya ada satu tekad.

"Gue nggak mau diremehin lagi."

"Kalau mau berdiri di samping Laras... gue harus jadi lebih kuat."

Keringat membasahi kaus Joni bahkan sebelum matahari menampakkan sinarnya. Napasnya sudah terengah-engah, sementara kedua kakinya mulai terasa berat karena sudah lama tidak dipakai berlari sejauh ini.

Baru dua putaran mengelilingi kampung, dadanya sudah terasa seperti mau meledak. Meski begitu, setiap kali ingin berhenti, bayangan ninja yang menghajarnya kembali terlintas di kepalanya. Rahangnya langsung mengeras, lalu ia memaksa kedua kakinya terus melangkah.

"Capek... gila juga lari begini," gumamnya sambil mengusap keringat di dahi. "Pantes aja level gue nggak naik-naik. Lari dua putaran aja udah kayak mau mati." Ia tertawa kecil mengejek dirinya sendiri, lalu kembali mempercepat langkah. Untuk pertama kalinya, rasa malas yang selama ini selalu menang mulai kalah oleh tekadnya sendiri.

Dari balik pagar rumah, beberapa tetangga mulai memperhatikan tingkah Joni yang tidak biasanya. Ada yang sampai melongok dari jendela, ada pula yang sedang menyapu halaman sambil mengernyit heran.

Selama ini mereka mengenal Joni sebagai pemuda yang bangunnya paling siang di kampung. Melihatnya berlari sebelum azan Subuh terdengar jelas merupakan pemandangan yang terasa aneh.

"Bu, itu bener Joni, kan?" tanya salah seorang tetangga kepada emak Joni yang sedang menyiram tanaman. "Bukannya biasanya jam segini dia masih ngorok?" Emaknya hanya mengangkat bahu sambil tersenyum geli. "Makanya, saya juga bingung. Kayaknya semalam ada yang nendang otaknya sampai balik normal."

Joni sama sekali tidak mendengar obrolan mereka. Fokusnya hanya tertuju pada jalan di depan dan bunyi jam tangan pintarnya yang terus menghitung jarak tempuh.

Sesekali layar kecil itu menampilkan data detak jantung dan jumlah kalori yang terbakar. Sayangnya, tidak ada sedikit pun tambahan EXP yang muncul. Hal itu membuatnya sedikit kecewa, tetapi ia memilih mengabaikannya.

"Kalau latihan biasa nggak nambah EXP, ya udah. Anggap aja lagi bangun pondasi," gumamnya pelan. "Gue emang telat mulai. Teman-teman udah jauh di depan. Tapi selama gue masih mau jalan, pasti ada saatnya gue bisa nyusul mereka." Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi untuk Joni yang selama ini selalu mencari alasan untuk bermalas-malasan, itu adalah perubahan yang sangat besar.

Hari-hari pun berlalu. Perubahan pada diri Joni mulai terlihat jelas. Tubuhnya yang dulu terlihat biasa saja kini perlahan menjadi lebih atletis. Otot-otot di lengan dan bahunya mulai terbentuk, napasnya jauh lebih stabil, dan gerakannya saat bertarung tidak lagi selelet dulu.

Memang, hampir setiap pulang kuliah wajahnya tetap penuh lebam dan tubuhnya dipenuhi memar. Bedanya, sekarang semua itu bukan karena menjadi bulan-bulanan lawan, melainkan hasil latihan keras yang ia jalani tanpa pernah mengeluh.

Bahkan Instruktur Johan sampai beberapa kali mengamati Joni dengan tatapan heran. Mahasiswa yang dulu selalu mencari alasan untuk menghindari latihan kini justru menjadi salah satu yang paling rajin datang ke arena sparing.

Hampir setiap hari ia meminta tambahan latihan, bahkan rela menjadi pasangan sparing siapa saja. Perubahan itu membuat Johan diam-diam mengangguk puas, meski mulutnya tetap pelit memberi pujian.

Yang paling merasakan perubahan itu tentu saja Gondrong. Sebagai partner sparing tetap, dialah yang hampir setiap hari menerima bogem Joni.

Walaupun sarung tinju Joni masih sering belepotan oleh ingus Gondrong, pukulan-pukulan yang mendarat kini terasa jauh lebih berat dibanding beberapa minggu sebelumnya. Beberapa kali Gondrong sampai terpental karena tidak kuat menahan serangan sahabatnya.

"Hehehe... gila lu, Jon. Muka gue sampe benjol begini." Gondrong mengusap pipinya yang mulai membiru. "Tenaga lo sekarang gede banget. Makan apaan sih tiap hari?"

Joni menyeringai tipis.

"Makan batu."

Gondrong melongo.

"Bujug..."

Joni langsung tertawa.

"Ya enggaklah. Makan nasi goreng buatan emak."

Di saat yang sama, jam tangan pintar di pergelangan tangan Joni tiba-tiba bergetar.

JRENGG!!

Sebuah layar hologram biru muncul di hadapannya.

Selamat!

Level Up!

Level 5 → Level 6

Bonus Status Point: +10

Senyum Joni langsung mengembang.

"Akhirnya..."

Tanpa berpikir lama, ia membuka menu atribut. Di sana terpampang beberapa pilihan statistik dasar.

Power

Defense

Speed

Stamina

Seluruh 10 poin yang baru diperolehnya langsung ia masukkan ke atribut Defense.

Sejak awal, Joni memang sudah menentukan jalur bertarungnya. Ia tidak tertarik menjadi Brawler tipe Power yang mengandalkan pukulan penghancur. Menurutnya, gaya bertarung seperti itu terlalu menguras tenaga.

Ia lebih memilih menjadi Brawler tipe Defense, petarung yang mengutamakan ketahanan tubuh, kelincahan bergerak, dan kemampuan bertahan dalam pertarungan panjang.

Mungkin daya hancur pukulannya tidak akan sehebat tipe Power, tetapi sebagai gantinya ia bisa terus berdiri dan bertarung bahkan ketika lawannya mulai kehabisan tenaga. Menurut Joni, itulah gaya bertarung yang paling cocok dengan dirinya.

1
Semoli Ginon
eh asa bruise jr. 👍
Semoli Ginon
wkwkwkw keluarga koplak🤣
Semoli Ginon
wahahah. ngenes amat nasib lo jon😄
Semoli Ginon
oke seru juga lanjut👍
Semoli Ginon
uhuyy 😄
Semoli Ginon
ini kan faksi2 di game ran online jadul ya?
Semoli Ginon
🤭🤭🤭
Semoli Ginon
adub baru mulai udah mirip gua 🤭
Boqin Changing
jelek. masa MC nya namnya , joni
👁Zigur👁: lah ya suka2 ku lah..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!